tirto.id - Demonstrasi yang diprakarsai oleh Partai Kecoak atau Cockroach Janta Party (CJP) sejak dua minggu yang lalu di ibu kota New Delhi digelar di tengah cuaca panas India. Salah satu tuntutan dalam aksi tersebut adalah pencopotan Menteri Pendidikan, Dharmendra Pradhan.
Sekitar 100 pendukung berkumpul setiap hari di Jantar Mantar untuk melanjutkan aksi duduk (sit-in protest). Massa berasal dari kalangan mahasiswa, lulusan baru (fresh graduate), pekerja muda hingga aktivis yang bertahan di lokasi meski harus menghadapi suhu di atas 40 derajat Celsius.
Mereka tidur di jalan, berorasi, menyanyikan lagu-lagu perlawanan, dan meneriakkan tuntutan agar Menteri Dharmendra Pradhan mengundurkan diri.
Gerakan ini dipimpin oleh kelompok yang menamakan diri Cockroach Janta Party (CJP) atau "Partai Rakyat Kecoak". Meski menggunakan nama yang terdengar satir, CJP bukanlah partai politik melainkan gerakan anak muda yang lahir dari media sosial.
Anggotanya bahkan menyebut diri mereka sebagai "cockroaches" (kecoak) sebagai bentuk sindiran terhadap komentar Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang sebelumnya menyamakan sebagian anak muda yang menganggur dan beralih menjadi jurnalis atau aktivis dengan "kecoak" dan "parasit".
Meskipun Surya Kant kemudian menjelaskan bahwa komentarnya ditujukan kepada orang-orang yang memiliki ijazah palsu, kemarahan publik telanjur meluas dan memicu lahirnya gerakan tersebut.
Tokoh di balik CJP adalah Abhijeet Dipke, mahasiswa pascasarjana kebijakan publik berusia 30 tahun di Boston University. Ia mengaku ide gerakan itu bermula secara spontan ketika sedang bermain gim di rumah dan membaca komentar Ketua Mahkamah Agung di media sosial.
Dipke kemudian mengunggah pertanyaan singkat di platform X, "Bagaimana jika semua kecoak bersatu?". Unggahan tersebut langsung menjadi viral dan mendapat ratusan ribu tanggapan, terutama dari generasi muda.
Banyak warganet mengusulkan agar dibuat sebuah komunitas atau bahkan partai sebagai wadah untuk menyuarakan keresahan anak muda.
Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), Dipke membuat logo berupa kecoak yang mengenakan jas, kemudian menamai gerakan itu Cockroach Janta Party, sebuah permainan kata yang menyindir nama partai berkuasa, Bharatiya Janata Party (BJP).
Apa Penyebab Demo Partai Kecoak di India Saat Ini?
Aksi demonstrasi CJP tersebut dipicu oleh pembatalan ujian masuk fakultas kedokteran nasional National Eligibility cum Entrance Test (Undergraduate) akibat kebocoran soal pada awal Mei 2026. Para demonstran menilai pemerintah gagal menjaga integritas sistem ujian dan meminta menteri bertanggung jawab secara moral atas insiden tersebut.
Aksi pertama mereka digelar pada 6 Juni di Jantar Mantar, sesaat setelah Dipke kembali dari Amerika Serikat. Setelah itu CJP menggelar aksi di sejumlah kota sebelum kembali ke Jantar Mantar dan menyatakan tidak akan membubarkan diri sampai Menteri Pendidikan mengundurkan diri.
Pemerintah India merespons dengan menolak tuntutan tersebut. Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan menolak mundur dan menyebut CJP sebagai tim B dari kelompok-kelompok yang ingin mengganggu stabilitas negara.
"(CJP adalah) Tim B dari elemen-elemen perusak (yang) tidak percaya pada kemajuan negara," ujarnya dikutip BBC (1/7/2026).
Ketua BJP, Nitin Nabin, bahkan menyebut kemunculan kelompok seperti CJP sebagai virus baru yang berusaha memecah belah India.
"Partai-partai virus dan kecoa ini dapat mengikis negara. Orang-orang seperti itu adalah bagian dari geng anti-India dan hanya pekerja BJP yang dapat memberi mereka pelajaran," katanya dalam sebuah pidato dikutip Reuters (30/6/2026).
Pemerintah India sebenarnya telah menggelar ujian ulang NEET-UG pada 21 Juni 2026. Untuk mencegah kebocoran kembali terjadi, pemerintah bahkan menggunakan pesawat militer untuk mendistribusikan naskah ujian dan memblokir sementara aplikasi Telegram yang disebut menjadi salah satu media penyebaran soal yang bocor.
Namun, langkah tersebut belum mampu meredakan kemarahan para peserta ujian, yang menilai pemerintah gagal menjamin integritas sistem seleksi nasional.
"Jika pemerintah keras kepala, kami lebih keras kepala," kata Dipke.
Aksi protes semakin besar setelah Sonam Wangchuk bergabung dengan para demonstran dan memulai aksi mogok makan tanpa batas waktu. Ia seorang aktivis lingkungan sekaligus tokoh pendidikan dari Ladakh yang dikenal luas di India.
"Sistem pendidikan memiliki masalah yang sangat besar, tetapi bahkan ujian pun gagal. Saya di sini untuk mendukung para pemuda ini dalam gerakan mereka untuk membawa akuntabilitas dalam pendidikan kepada menteri pendidikan," tutur Sonam.
Di lokasi demonstrasi, para peserta juga membangun sebuah dinding peringatan yang memuat foto dan nama para siswa yang diduga mengakhiri hidup setelah ujian NEET-UG dibatalkan.
Daftar Tuntutan Demo Partai Kecoak India
Dalam aksi tersebut, para demonstran mengajukan sejumlah tuntutan utama kepada pemerintah India, yaitu:
- Mendesak Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kebocoran soal NEET-UG.
- Menuntut penyelidikan yang transparan dan menyeluruh terhadap kasus kebocoran soal serta penindakan terhadap seluruh pihak yang terlibat.
- Memperbaiki sistem penyelenggaraan ujian nasional, sehingga kebocoran soal tidak terus berulang dan peserta memperoleh kepastian hukum.
- Mewujudkan sistem pendidikan dan seleksi nasional yang transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan, termasuk adanya mekanisme pengawasan yang lebih kuat.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































