Menuju konten utama

Paradoks VAR, Alat Bantu Wasit yang Dianggap Merusak Sepak Bola?

Teknologi VAR yang diciptakan untuk membantu kinerja wasit justru dianggap merusak sepak bola. Walau dibantu VAR beragam kontroversi wasit tetap ada.

Paradoks VAR, Alat Bantu Wasit yang Dianggap Merusak Sepak Bola?
Ilustrasi VAR Sepak Bola. wikimedia/SounderBruce
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam pertandingan Manchester United vs Manchester City di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (13/9), Video Assistant Referee melakukan kesalahan yang membuat The Red Devils kalah 0-1 dari The Citizens. Hal itu bahkan membuat Professional Game Referee (Pro Reff), meminta maaf langsung kepada Manchester United.

Kontroversi keputusan VAR pun menjadi perdebatan, karena awalnya asisten wasit sudah menganulir gol Erling Haaland, yang dinilai offside. Namun, intervensi dari ruang VAR mengubah keputusan Michael Oliver, hingga akhirnya mengesahkan satu-satunya gol dalam Derby Manchester tersebut.

VAR yang semula diciptakan untuk membantu wasit untuk mengambil keputusan lebih presisi, justru membuat wasit mengambil keputusan salah. Lebih dari itu, keputusan kontroversial itu juga membuat Manchester United dirugikan karena kalah di kandang sendiri.

Sejarah Diciptakannya VAR dan Kontroversinya

Ide penciptaan teknologi yang dapat membantu wasit dalam memimpin pertandingan sepak bola digagas pada akhir tahun 2010. Tepatnya, setelah kontroversi yang terjadi di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Sejumlah kontroversi terjadi, terutama di momen penting sepeti gol Frank Lampard ke gawang Jerman yang tidak disahkan. Ada juga laga final Spanyol vs Belanda yang berlangsung sangat keras, tetapi minim kartu yang diberikan oleh wasit Howard Webb.

Setelah digodok selama beberapa tahun, sejumlah federasi sepak bola, terutama di Eropa mulai memperkenalkan penemuannya masing-masing. Mulai dari "Goal Line Teknologi", hingga "Video Asistant Referee (VAR)".

Goal Line Teknologi diperkenalkan lebih dulu pada 2012, dan dipakai untuk laga Piala Dunia AntarKlub 2012. Sementara VAR mulai digunakan di sejumlah liga-liga top Eropa pada 2016, lalu debut di Piala Dunia 2018.

Wasit Melakukan Pengecekan VAR

Video Assistant Referee (VAR) yang digunakan pada laga Grup A Piala Dunia U-17 2023 antara timnas Indonesia melawan timnas Ekuador di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (10/11/2023). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.

Kendati sudah digunakan cukup lama, kontroversi penggunaan VAR masih terus terjadi. Teranyar adalah gol Erling Haaland dalam lanjutan Liga Inggris 2026/2027 antara Manchester United vs Manchester City.

Sebelum kontroversi gol Erling Haaland terjadi, kehadiran VAR sudah mendapat banyak kritikan dari pengamat. Pasalnya, proses peninjauan yang dilakukan kerap memakan banyak waktu, sehingga membuat ritme permainan terhenti.

Belum lagi pelanggaran offside yang dianggap terlalu kejam, sehingga membuat sepak bola tidak lagi seperti dimainkan oleh manusia. Alih-alih memberi kepastian, keputusan di ruang VOR (Video Operation Room) tak jarang merusak momen dan membuat bingung pemain maupun suporter di tribun.

Bukan hanya klub yang dirugikan, tetapi Direktur Wasit UEFA, Roberto Rosetti juga mengkritik penggunaan teknologi yang berlebihan di sepak bola. Kepada BBC, Rosetti menyebut VAR sudah melenceng terlalu jauh dari tujuan awalnya.

“Kami menyadari saat ini banyak yang tidak puas mengenai penggunaan VAR. Jadi kami ingin menghindari situasi mikroskopis. Konteksnya sangat penting. Ini sepak bola, bukan PlayStation,” ujar Rosetti.

VAR yang tidak lepas dari kontroversi pun membuat penggunaannya kian dipertanyakan. Apalagi, di laga Manchester United vs Manchester City, keputusan awal dari pengamatan manusia yang benar, justru dibuat salah gara-gara VAR.

Deretan Kontroversi Sepak Bola Sebelum Era VAR

VAR mulanya diciptakan untuk meminimalisir kontroversi yang disebabkan oleh manusia. Sebelum era VAR, ada banyak keputusan wasit yang dianggap salah dan merugikan salah satu tim yang bertanding.

Salah satu yang tidak bisa dilupakan, terutama oleh publik Inggris adalah "Gol Tangan Tuhan" Diego Maradona di babak perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Kontroversi itu membuat Inggris, tersingkir dari Piala Dunia 1986, dan Argentina pada akhirnya keluar sebagai juara.

1. Gol Tangan Tuhan Diego Maradona

Maradona mencetak gol pembuka Timnas Argentina atas Inggris di perempat final Piala Dunia 1986 dengan cara yang kontroversial. Alih-alih menyundul bola dengan kepala ke gawang Peter Shilton, Maradona menggunakan tangannya untuk mengarahkan bola masuk ke gawang Inggris.

Wasit Ali bin Nasser yang memimpin pertandingan tetap mengesahkan gol tersebut. Dia mengaku tidak melihat pelanggaran handball yang dilakukan oleh Maradona, tetapi mengaku khilaf setelah melihat tayangan ulang seusai pertandingan.

Dalam film dokumenter "Diego Maradona" (2019), yang diproduksi oleh HBO, Maradona dengan sadar menggunakan tangannya untuk mencetak gol. Dia pun masih ingat ekspresi rekan-rekannya yang mengira wasit bakal memberinya kartu, alih-alih mengesahkan gol tersebut. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya.

"Saya menunggu rekan-rekan saya datang untuk memeluk saya, tetapi mereka bingung. Saya berkata kepada mereka, ayo peluk saya [selebrasi] agar wasit tidak menyadari pelanggaran yang saya lakukan," tutur Diego Maradona.

Gol Tangan Tuhan Maradona

Gol Tangan Tuhan Maradona. foto/Dok. FIFA

2. Tendangan Kalajengking Henrikh Mkhitaryan

Henrikh Mkhitaryan mencetak gol spektakuler di laga melawan Sunderland dalam lanjutan Liga Inggris 2016/2017. Walau begitu, gol Mkhitaryan mestinya tidak sah, karena dia sudah berada dalam posisi offside. Namun, wasit tetap mengesahkannya.

Dalam tayangan ulang, Henrikh Mkhitaryan terlihat jelas berada dalam posisi offside. Namun, karena belum adanya teknologi yang membantu wasit kala itu, gol Mkhitaryan tetap disahkan.

“Itu adalah gol terbaik yang pernah saya cetak. Hal pertama yang saya lakukan adalah melihat hakim garis dan saya melihat gol itu tidak dianulir karena offside, jadi saya langsung merayakannya," kata Henrikh Mkhitaryan dikutip dari Sky Sports.

3. Gol Frank Lampard yang Tidak Disahkan

Kontroversi lainnya yang dilakukan wasit terjadi pada babak 16 besar Piala Dunia 2010 antara Jerman vs Inggris. The Three Lions yang tengah tertinggal 2-1 melakukan serangan secara membabi buta ke pertahanan Jerman.

Pada menit ke-39, Frank Lampard melepas sepakan keras dari luar kotak penalti. Bola membentur tiang, kemudian melewati garis gawang, tetapi memantul lagi keluar. Walaupun jelas sudah melewati garis, wasit tidak mengesahkannya sebagai gol. Pertandingan pun terus berlanjut dan Jerman akhirnya menang dengan skor 4-1.

Insiden tersebut lantas menjadi perbincangan, dan membuat FIFA secara serius menggagas teknologi untuk membantu wasit. Dalam artikel The Guardian, "Football has Lampard 'ghost goal' to thank for the Goal Decision System” kesalahan yang dilakukan wasit membuat FIFA sadar, bahwa mereka membutuhkan teknologi.

VAR Hadir, Tapi Kontroversi Terus Ada

6 tahun setelah gol Frank Lampard, International Football Association Board (IFAB), akhirnya menyetujui uji coba penggunaan Video Assistant Referee (VAR). Teknologi yang digadang-gadang membantu wasit mengambil keputusan lebih presisi tersebut pertama digunakan pada laga KNVB Cup 2016/2017, tepatnya dalam laga antara Ajax Amsterdam vs Willem II pada September 2016.

Penggunaa VAR secara masif mulai dilakukan setelah Piala Dunia 2018 di Rusia. Berbagai kompetisi elit, khususnya di Eropa menggunakan VAR sebagai alat bantu wasit dalam mengambil keputusan.

Mulanya, kehadiran VAR disambut baik penikmat sepak bola. Kesalahan wasit mengambil keputusan bisa dikoreksi, dan pertandingan dianggap berjalan lebih adil.

Akan tetapi, saat penggunaannya semakin masif di berbagai kompetisi, kritikan mulai muncul. Banyak waktu pertandingan terbuang karena pengecekan yang lambat. Belum lagi, sejumlah pelanggaran terutama penerapan offside dianggap terlalu kejam. Sebuah gol bisa dibatalkan karena terdapat ujung kuku yang melewati garis, membuat VAR mulai dianggap tidak manusiawi.

Alih-alih membaik seiring berjalannya waktu, VAR justru melhirkan banyak kontroversi. Di Piala Dunia 2026 misalnya, saat laga Argentina vs Mesir di babak 16 besar, Mesir mencetak gol yang dianulir karena dinilai terjadi pelanggaran lebih dulu sebelum terjadinya gol. Ironisnya, saat Argentina mencetak gol dengan proses yang nyaris sama justru disahkan.

Bukan hanya itu, proses peninjauan yang lama juga dianggap mempengaruhi pertandingan. Chief Football Officer Premier League, Tony Scholes, secara terbuka mengakui ketidakpuasannya terhadap kinerja VAR, terutama dampak yang ditimbulkan pada penonton di tribun.

“Pengalaman VAR di stadion untuk para pendukung tergolong buruk. Ini jauh dari kata cukup baik. Kami tahu ini tidak bagus, berpengaruh pada kenikmatan suporter menikmati pertandingan, dan kami tahu ini harus berubah,” ujar Scholes, dikutip dari BBC.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan lainnya dari Satrio Dwi Haryono & Permadi Suntama

tirto.id - Sepakbola
Kontributor: Satrio Dwi Haryono
Penulis: Satrio Dwi Haryono & Permadi Suntama
Editor: Permadi Suntama