tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan menarik seluruh pesawat pengebom AS, B-1 Lancer, dari pangkalan udara RAF Fairford di Inggris. Tindakan ini menyusul adanya indikasi ancaman yang menargetkan fasilitas tersebut. Pihak Iran dituding berkaitan dengan eskalasi isu keamanan di pangkalan tersebut.
Dikutip dari Wall Street Journal (WSJ), pesawat pengebom milik AS ditarik dari pangkalan udara Inggris hari Minggu (4/10/2026) waktu setempat. Pangkalan terletak di Gloucestershire, barat laut London. Pangkalan udara ini menjadi salah satu titik penting bagi operasi pengeboman militer AS, termasuk digunakan untuk serangan ke Iran.
Menukil Reuters, penarikan pesawat B-1 Lancer dilakukan usai terdapat 5 warga Inggris yang ditangkap dekat pangkalan, dengan dugaan rencana aksi teror.
Terkait hal ini Pentagon juga membenarkan bahwa Trump sudah memerintahkan membawa seluruh pesawat pengebom B-1 Lancer untuk kembali ke pangkalan mereka di Amerika Serikat.
"Meski keamanan operasional tidak memungkinkan kami mengonfirmasi pergerakan aset dan pasukan secara waktu nyata, kini kami dapat menyampaikan bahwa seluruh pesawat pengebom AS yang sebelumnya berlokasi di RAF Fairford, sudh kembali ke pangkalan asal di AS," jelas Pentagon melalui pernyataan resmi.
Alasan Trump Perintahkan Tarik B-1 Lancer dari Inggris
Presiden AS, Donald Trump, secara terang-terangan mengungkapkan bahwa alasan utama ia memerintahkan Pentagon menarik seluruh pesawat pengebom B-1 Lancer, karena alasan keamanan. Hal tersebut menyusul indikasi ancaman teror yang menargetkan pangkalan RAF Fairford di Inggris.
"Kami sudah menduga akan ada ancaman, dan mengapa saya harus membiarkan mereka di sana? Memindahkan mereka hanya membutuhkan biaya yang sangat sedikit," ungkap Donald Trump kepada wartawan pada Senin (5/10/2026) waktu setempat, dikutip dari Reuters.
Trump juga membenarkan bahwa ia mendapatkan ancaman. Bahkan, Presiden AS ini juga menyebut bahwa ia mengenal sosok yang membuat ancaman tersebut, hingga menyebut ada keterkaitan dengan Iran.
"Jadi kami mendapat ancaman, dan jika kami akan diancam, kami tinggal memindahkan mereka, dan itu akan mengurangi kekhawatiran. Dan kami sebenarnya mengenal orang-orang yang membuat ancaman itu. Mereka terkait dengan Iran," imbuh Trump.

Wakil Presiden JD Vance menjelaskan bahwa pemindahan deretan pesawat pembom milik mereka dilakukan sebagai tindakan pencegahan. Ia juga tak segan menyebut bahwa pihak Iran menjadi dalang di balik serangan teror.
"Kami cukup yakin bahwa Iran, Anda tahu, mereka mencoba melakukan apa yang telah dilakukan negara Iran salam 49 tahun, yaitu terlibat dalam aksi terorisme terhadap Amerika Serikat, jadi kami sangat berhati-hati, dan hanya itu yang ingin saya katakan tentang hal itu," ungkap Vance.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, membantah tuduhan keterlibatan negaranya dalam konspirasi maupun eskalasi ancaman serangkaian teror terhadap AS.
"Saya dapat mengkonfirmasi keyakinan Iran bahwa membebaskan orang-orang yang diduga teroris yang bekerja untuk negara asing benar-benar menjelaskan semuanya. Anda salah sasaran," tulis Abbas Araqchi melalui unggahan di akun X (Twitter) miliknya.
Pangkalan RAF Fairford di Inggris menjadi satu-satunya pangkalan militer wilayah Eropa yang menjadi tempat parkirnya pesawat pengebom AS paling strategis. Pangkalan udara tersebut sempat digunakan dalam operasi pengeboman terhadap Irak dan bekas Yugoslavia. Inggris juga mengizinkan AS menggunakan pangkalan itu untuk operasi menyerang Iran.
Spesifikasi dan Rekam Jejak Pesawat Pengebom B-1 Lancer
Mengutip Britanica, pesawat Rockwell B-1 Lancer memiliki julukan "Bone" atau "B-One" merupakan pesawat tipe pengebom berat yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF). Pesawat buatan Rockwell International ini memiliki sayap sapuan variabel supersonik.
Pesawat B-1 Lancer termasuk salah satu dari 3 jenis pengebom strategis milik USAF, bersama B-2 Spirit dan B-52 Stratofortress.
Mengacu catatan pembuatannya, B-1 Lancer dirancang pertama kali pada dekade 1960-an. Kala itu pesawat ini masih dalam versi prototipe B-1A. Pesawat diproyeksikan dapat menembus pertahanan udara lawan, dengan memadukan kecepatan Mach 2 milik B-58 Hustler dengan jangkauan dan jumlah muatan milik B-52.
Usai melewati rangkaian panjang uji coba, perusahaan North American Rockwell (kini Rockwell International, menjadi bagian Boeing), memenangkan kompetisi desain untuk menghasilkan prototipe B-1A.
Dalam rancangan awal, prototipe B-1A mampu terbang hingga kecepatan Mach 2,2, pada ketinggian jarak jauh, serta Mach 0,85 untuk ketinggian sangat rendah. Akan tetapi program ini lantas dibatalkan pada 1977 karena terkendala biaya.
Tahun 1981, program pembuatan pesaawat pengebom tersebut kembali dihidupkan. Pada titik ini desain B-1A diubah dengan mengurangi kecepatan maksimum menjadi hanya Mach 1,25 untuk ketinggian tinggi, namun meningkatkan kecepatan untuk ketinggian rendah menjadi Mach 0,92. Komponen elektronik pada pesawat juga diperbaiki, hingga mengubah rangka pesawat agar bisa membawa lebih banyak bahan bakar dan senjata.
Versi sempurna dari program ini diberi nama B-1B. Pesawat tersebut resmi bertugas pada 1986 sebagai pengebom nuklir. Tahun 1992, pesawat ini dipindah tugas untuk Air Combat Command, dengan perlengkapan bom konvensional. Dua tahun berselang misi nuklir terkait pesawat ini dihapus.
Spesifikasi akhir, pesawat ini dapat membawa 4 orang (komandan, kopilot, dan 2 petugas sistem persenjataan). Dari sisi desain, B-1B memiliki panjang sekira 44,5 meter, dengan rentang sayap 41,8 meter. Kecepatan maksimum dapat melebihi 900 mill per jam atau Mach 1,2 di permukaan laut.
Ketika terbang di udara, pesawat ini didesain memiliki tipe sayap geometri yang memungkinkan mengubah kemiringan. Sehingga saat melaju dengan kecepatan supersonik, pesawat bakal akan tetap stabil.
Pesawat ditenagai 4 mesin turbofan General Electric F101-GE-102, dengan kapasitas muatan (Payload) mencapai 75.000 pon (34.000 kg), baik di ruang bom internal maupun eksternal. Kemampuan ini membuat pesawat menjelma menjadi pembom dengan kapasitas muat konvensional terberat di angkatan udara AS.
Setiap mesin yang dimiliki pesawat B-1B Lancer mampu menghasilkan daya dorong hingga lebih dari 30.000 pon ketika afterburner aktif. Mesin juga dirancang khusus memberikan efisiensi tinggi, serta daya tahan optimal ketika pesawat melakukan penetrasi ke wilayah target dengan ketinggian rendah.
Pesawat dirancang dengan modifikasi kerangka dan fitur penyerapan radar. Namun demikian B-1 Lancer tidak sepenuhnya senyap jika dibanding B-2 Spirit.

Pesawat B-1 juga mengandalkan sistem pengacau elektronik (jammer) canggih seperti AN/ALQ-161, sebagai pilar utama untuk mengelabui sistem pertahanan udara musuh.
Sejak memperkuat angkatan udara AS, pesawat B-1 kerap menjadi andalan untuk mendukung operasi militer. Pesawat ini pertama kali bertugas ketika pengeboman Irak tahun 1998, dengan tajuk Operasi Desert Fox. Ketika itu pesawat B-1 berhasil menjatuhkan puluhan ribu pon bom unguided Mk-92 ke barak militer Al Kut serta fasilitas kilang minyak Irak.
Setahun berselang, B-1 turut terlibat dalam misi gabungan bersama NATO, yakni Operasi Allied Force bertujuan menghentikan krisis kemanusiaan di Kosovo-Yugoslavia.
Memasuki era awal tahun 2000-an hingga 2011, B-1 mulai menjadi tulang punggung serangan udara jarak jauh guna mendukung pasukan darat AS dan koalisi, selama periode invasi dan pendudukan di Irak, juga mendukung misi di Afghanistan.
Di tahun 2024, pesawat pengebom B-1 juga diterjunkan dalam operasi militer di Timur Tengah, menargetkan pasukan Iran dan kelompok milisi afiliasi mereka di wilayah Irak dan Suriah. Pada Juli 2026, B-1 turut juga terlibat dalam serangan fasilitas militer ketika konflik Timur Tengah.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id
































