tirto.id - Rencana konser Israel Houghton di Indonesia dan Malaysia yang semula dijadwalkan pada Oktober 2026 menuai penolakan. Pemerintah Indonesia sudah berujar tidak akan memberi izin konser, sementara pihak berwenang dan organisasi masyarakat di Sabah, Malaysia, juga bersikap serupa.
Sikap Houghton terhadap Israel menjadi salah satu hal yang memantik polemik tersebut. Reverse Canary Mission, kelompok advokasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS), mengaitkan sikap Houghton terhadap Israel dengan lingkungan evangelical yang mereka nilai punya kedekatan dengan Christian Zionism.
Sebenarnya siapa Israel Houghton? Bagaimana rekam jejak sang musisi dari AS itu terkait zionisme, dan bagaimana polemiknya menyangkut rencana konser di Indonesia dan Malaysia?
Profil Israel Houghton
Israel Houghton merupakan penyanyi, penulis lagu, produser, dan pemimpin pujian atau worship leader dalam genre musik Kristen kontemporer. Ia juga dikenal melalui kelompok musik Israel & New Breed. Houghton diketahui bermusik sejak 1997 dan membangun karier sebagai salah satu nama penting dalam musik gospel AS.
Dalam wawancara dengan Christian Broadcasting Network, Houghton pernah bercerita pengalaman awalnya dengan musik ibadah. Saat berusia 19 tahun, ia bermain drum untuk grup musik gereja. Setelah itu, musik berkembang jadi bagian penting dari perjalanan hidup dan kariernya.
Karier Houghton mendapat pengakuan dari industri musik di Negeri Paman Sam. Laman resmi Grammy mencatat ia sudah memperoleh 19 nominasi Grammy Awards dan memenangkan 8 penghargaan sejak 2010-2026. Penghargaan terbaru yang ia raih yakni Best Contemporary Christian Music Album pada Grammy Awards 2026 untuk Coritos Vol. 1.

Kehidupan Houghton juga banyak disorot karena hubungannya dengan Adrienne Bailon, penyanyi dan presenter televisi AS. Berawal dari berteman, keduanya mulai berpacaran pada 2016, lalu bertunangan di Paris pada tahun yang sama, sampai menikah di kota tersebut pada 2019. Houghton memiliki lima anak, empat dari pernikahan sebelumnya dan satu anak bersama Bailon.
Agama juga memiliki peran penting dalam kehidupan Houghton. Kepada CBN, ia menceritakan masa kecilnya di Iowa yang tidak mudah. Houghton merupakan anak dari ibu berkulit putih dan ayah berkulit hitam. Ia mengatakan latar belakang ras campurannya itu membuatnya sulit diterima oleh keluarga dari pihak ibunya di lingkungan tempat ia tumbuh. Dalam situasi tersebut, ia menemukan penghiburan melalui keyakinannya dalam beragama.
Jejak Israel Houghton terkait Zionisme
Salah satu pernyataan Israel Houghton yang jadi polemik muncul pada 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan 7 Oktober. Melalui Instagram, Houghton menulis, "I pray for the peace of Jerusalem. I stand with Israel" dan menyertakan emoji bendera Israel serta simbol hati berwarna biru.
Unggahan tersebut dicatat oleh Reverse Canary Mission dalam profil Houghton. Kelompok advokasi berbasis Amerika Serikat itu menempatkan Houghton dalam daftar profil mereka, lalu mengaitkan sikapnya terhadap Israel dengan dukungan terhadap narasi Zionis.
Adapun Reverse Canary Mission juga mengaitkan hubungan Houghton dengan lingkungan evangelical yang mereka nilai memiliki kedekatan dengan Christian Zionism.
Dalam profilnya, Reverse Canary Mission mencatat kunjungan Houghton ke Yerusalem pada Maret 2017. Selama perjalanan tersebut, Houghton disebut membagikan pengalaman positif, termasuk memakai ucapan "Shabbat Shalom" serta menceritakan malam yang ia habiskan di rumah seorang rabi bersama kelompok yang ia sebut sebagai "Jerusalem Crew".
Bagi Reverse Canary Mission, kunjungan dan pernyataan itu jadi bagian dari rekam jejak Houghton dalam menunjukkan dukungannya terhadap Israel. Kelompok tersebut kemudian menggunakan rekam jejak itu untuk menggambarkan Houghton sebagai musisi yang turut mendukung narasi Zionis dan lingkungan Christian Zionism.
Penolakan Konser di Indonesia dan Malaysia
Pemerintah Indonesia dan Malaysia bersikap tegas menolak rencana tur konser Israel Houghton, bersama grup musiknya, Israel & New Breed. Penolakan serentak di dua negara tetangga ini menyangkut sensitivitas politik terkait sikap publik sang musisi yang pernah mendukung Israel.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham-Impas), Yusril Ihza Mahendra, sudah berujar bahwa pemerintah Indonesia tidak akan memberi izin konser bertajuk "Til The Whole World Knows Tour 2026" yang sedianya dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 24 Oktober 2026.
Keputusan ini diambil setelah Yusril menggelar koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk bersama Kemenko Polkam, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kebudayaan, dan Polri.
"Kami berpandangan bahwa kegiatan apa pun yang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk merugikan perjuangan rakyat Palestina, tidak akan diperkenankan diselenggarakan di Indonesia," ujar Yusril, dikutip dari laman resmi Kumham-Impas.

Yusril menjelaskan, penilaian terhadap sensitivitas konser ini dipengaruhi oleh jejak peryataan sang musisi di media sosial. Namun, ia menggarisbawahi bahwa tindakan tegas ini murni didasari alasan keamanan umum dan sikap politik luar negeri, tanpa memandang atau menghakimi latar belakang keagamaan maupun karya seni karya peraih delapan penghargaan Grammy Awards tersebut.
Adapun pemerintah juga menyoroti kejanggalan penyelenggara acara yang sudah mempromosikan dan menjual tiket konser secara daring sebelum mengantongi izin resmi.
Sejalan dengan ketiadaan izin keramaian dari Polda Metro Jaya, pihak keimigrasian Indonesia dipastikan bakal menolak permohonan visa bagi Israel Houghton dan rombongannya. Yusril menegaskan, visa kunjungan wisata atau visa on arrival tidak bisa disalahgunakan untuk kegiatan pertunjukan panggung.
Gelombang penolakan serupa terjadi di Malaysia, khususnya di Negara Bagian Sabah yang awalnya dijadwalkan menjadi salah satu titik singgah tur internasional sang penyanyi pada 22 sampai 25 Oktober 2026. Kepolisian Kerajaan Malaysia (PDRM) merekomendasikan penangguhan acara konser tersebut setelah menerima berbagai laporan keberatan dari masyarakat setempat.
Pesuruhjaya Polis Sabah, Datuk Jauteh Dikun, menyampaikan bahwa otoritas kepolisian sudah mengambil langkah antisipatif dengan terus memantau reaksi publik, dan meminta keterangan dari pihak-pihak terkait.
Sama halnya dengan penanganan di Jakarta, PDRM menemukan penyelenggara di Sabah sudah mempublikasikan jadwal, lokasi, sampai harga tiket, tetapi permohonan izin resmi belum masuk.
"Dua laporan polisi sudah dibuat dengan alasan bahwa acara ini tidak cocok diselenggarakan pada saat ini. Jika pemerintah negara bagian meminta pandangan dari PDRM, kami akan menyarankan agar konser tersebut tidak diselenggarakan untuk saat ini," ujar Jauteh, dikutip dari Bernama.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






























