tirto.id - Seiring pesatnya perkembangan teknologi drone, perangkat ini terus memperlihatkan progres pesat. Dalam medan perang modern, drone menjadi satu alutsista paling penting yang dapat mempengaruhi jalannya pertempuran. Kecanggihan drone saat ini juga memungkinkannya tetap bisa menyerang ke titik musuh meski komunikasi terputus dengan pusat kendali.
Pada awal perkembangannya di dunia militer, teknologi drone belum mengambil peran sebagai senjata utama untuk penyerangan. Mengutip Zena Tech, drone awalnya berfungsi sebagai alat pengintaian, tapi lantas berkembang untuk membawa peledak besar untuk menghantam target.
Tahun 2023 boleh dibilang menjadi penanda era baru peperangan modern. Ketika itu Rusia secara masif mulai menggunakan drone tipe First Person View (FPV), yang diubah menjadi senjata kamikaze berbahan murah.
Kini drone tidak hanya menjadi alat pengintaian, tetapi juga punya tujuan menyerang dengan daya hancur signifikan. Terbaru, militer Rusia memamerkan drone Geran 5 dalam perang melawan Ukraina.
Kehadiran Geran 5 disebut-sebut sebagai salah satu drone paling mematikan. Tipe drone kamikaze ini memiliki daya hancur besar namun tetap berbiaya murah. Masifnya penggunaan drone, secara tidak langsung turut mengubah medan perang modern.

Selain menjadi senjata mematikan, drone juga memiliki fungsi pengintaian. Tak hanya itu, drone dapat digunakan sebagai media pengirim logistik, namun dalam jumlah kecil. Pesawat nirawak mulai mengambil alih peran vital dalam medan pertempuran, serta dapat meminimalisir korban dari sisi penyerang.
Akan tetapi teknologi drone tetap memiliki titik lemah. Drone konvensional masih bergantung kepada sinyal, kinerjanya dapat diganggu jika dikacaukan oleh Jamming Drone System.
Namun demikian saat ini ada pula beberapa jenis drone yang tetap bisa melanjutkan misi penyerangan, meski sinyal atau sambungan komunikasi terputus dengan pengendali. Serangan drone bakal tetap presisi sesuai target awal.
Sinyal Drone Bisa Dikacaukan (Jamming Drone System)
Mengacu UAV Defence, sistem pengacau sinyal drone (Jamming Drone System) merupakan teknologi yang berfungsi memancarkan gelombang elektromagnetik, untuk mengganggu frekuensi komunikasi antara drone dengan pengendali.
Teknologi anti-drone bertujuan untuk menjatuhkan drone, mencegahnya memasuki area tertentu, atau mengacaukan target serangan. Dalam praktiknya, drone jammer bakal mengacaukan frekuensi baik 2,4 GHz atau 5,8 GHz, yang umum digunakan drone untuk berkomunikasi dengan stasiun pengendalinya.
Saat drone terdeteksi mendekat, maka teknologi anti-drone bakal mengirim sinyal elektromagnetik pada frekuensi yang sama saat sudah memasuki radius jangkauan. Dalam kebanyakan kasus, langkah tersebut dapat memicu drone komersial untuk mengaktifkan fungsi Kembali ke Pangkalan (Return to Home).

Dengan kata lain gangguan sinyal dari jammer, membuat drone kehilangan arah dan kesulitan untuk tetap berada di jalur yang benar. Alhasil, target serangannya pun akan tampak kabur.
Meski peran utamanya untuk menangkal serangan drone, teknologi jammer tetap memiliki risiko berpotensi turut mengacaukan sinyal perangkat lain di dekatnya.
Lebih buruk lagi, teknologi jammer juga berpotensi mengganggu sistem navigasi udara serta jaringan telekomunikasi di wilayah yang sama. Imbasnya, bisa muncul gangguan sistem penerbangan dan komunikasi di area tersebut.
Drone Tetap Aktif Meski Sinyal Terputus
Beberapa jenis drone dapat dilumpuhkan menggunakan teknologi anti-drone (drone jammer). Sementara sebagian lainnya ada yang memiliki fitur inklusif, yang memungkinkannya tetap aktif beroperasi meski sinyal terputus dengan pengendali.
Pada dasarnya drone modern saat ini sudah dilengkapi dengan kemampuan terbang mandiri atau otonom, termasuk terbang dengan membawa misi yang sudah diprogram sebelum diterbangkan.
Ringkasnya, ketika drone kehilangan tautan radio dengan pusat kendali. Maka alat ini tidak semata-mata akan membuatnya jatuh seketika.
Pada perkembangannya, drone juga sudah menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Komponen ini memungkinka ketika drone kehilangan sinyal akibat gangguan elektronik (jamming) atau kendala jarak, maka drone tidak akan lagi dikendalikan secara manual, melainkan beralih ke mode mandiri.
Berkat bantuan AI, drone yang kehilangan sinyal dengan pusat kendali bakal memindai area pertempuran secara mandiri. Perangkat ini dapat membedakan antara kendaraan militer dengan kendaraan sipil, hingga mengunci target tanpa konfirmasi dari operator.
Beberapa jenis drone kamikaze juga sudah dirancang untuk terbang ke area koordinat, tanpa bertumpu pada kendali alias mode berburu otomatis. Bahkan, jenis drone tertentu juga ada yang bisa mendeteksi gelombang radio atau radar yang dipancarkan oleh musuh.
Program Rapid Experimental Missionized Autonomy (REMA) besutan DARPA, dirancang untuk menjadi solusi saat drone kehilangan koneksi dengan operator akibat gangguan sinyal. Dengan teknologi ini, drone dimungkinkan tetap bisa melanjutkan misi yang telah ditentukan secara otonom sekalipun sinyal perintah terputus.
“Dengan menciptakan adaptor otonomi yang bekerja dengan semua drone komersial, terlepas dari pabrikannya, dan dengan mengembangkan perangkat lunak otonomi khusus misi yang terus diperbarui dan mudah diunggah sebelum misi, kami bertujuan memberikan keuntungan kepada operator drone dalam operasi tempur yang serba cepat. Kecepatan dalam pengembangan teknologi dan di medan perang adalah kuncinya, dan REMA bertujuan untuk mewujudkannya," jelas manajer program DARPA, Lael Rudd, dikutip dari laman resmi.
DARPA menerapkan subsistem berupa perangkat keras atau perangkat lunak yang bertindak sebagai "jembatan". Komponen Drone-Autonomy Adapter Interface biasanya dipasang pada drone komersial biasa. Komponen ini berfungsi mengambil alih kendali penerbangan secara langsung dari sistem kontrol internal, ketika koneksi terputus.

Dalam laporan CSIS, dalam peperangan melawan Rusia, pihak Ukraina memanfaatkan navigasi otonom fase akhir (last-mile navigation) untuk melakukan penguncian target pada drone. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengatasi taktik peperangan elektronik (electronic warfare) pihak Rusia, yang kerap memutus koneksi sinyal drone.
Dalam kasus di medan perang, militer Ukraina turut menanamkan teknologi Automatic Target Recognition berbasis AI pada drone mereka. Berbekal alat tersebut, drone memungkinkan mengunci target dari jarak hingga 2 kilometer. Usai target terkunci, kontrol penuh selanjutnya bakal beralih kepada perangkat lunak internal drone.
Teknologi tersebut memungkinkan drone tidak akan jatuh atau menyimpang, meski sinyal radio atau GPS operator terganggu. Drone bakal tetap melanjutkan penerbangan menuju target menggunakan serangan otonom berbasis AI yang sudah tertanam di chip.
Contoh nyata yang muncul dari medan perang modern, adalah penggunaan modul navigasi otonom seperti TFL-1 dan sistem VGI-9. Teknologi yang terbilang murah dengan kisaran 50-100 dolar per unit, dapat melacak target bergerak dengan kecepatan hingga 80 km/jam secara mandiri.
Menurut laporan Australian Army Research Centre, meski berbasis AI untuk menjalankan misi secara mandiri, drone tetap memiliki batasan secara teknis. Singkatnya ketika drone kehilangan komunikasi, alat tersebut tidak otomatis mengambil alih kendali penuh, lalu memilih dan menyerang target baru secara mandiri.
Drone biasanya bakal mengaktifkan beberapa protokol keselamatan terlebih dahulu, seperti Return to Home (RTH), berputar-putar (Loitering), pendaratan darurat, atau penghancuran diri (crash) di area kosong.
Pada dasarnya drone otonom beroperasi berdasar instruksi kode dan parameter yang kaku. Drone tidak memiliki intuisi manusia, yang memungkinkannya untuk menentukan apakah musuh berniat menyerah atau menyerang.
Kebanyakan sistem otonom sangat bergantung kepada sensor internal dan GPS. Jika musuh memanipulasi titik koordinat, maka sistem drone bisa mengalami disorientasi, sehingga gagal menyelesaikan misi.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id
































