tirto.id - Perdebatan boleh atau tidak membawa stroller di event lari mewarnai di linimasa media sosial. Salah seorang peserta Isoplus Run Series 2026 kategori 5K yang digelar di Surabaya, Minggu (4/10) membagikan pengalaman yang tidak mengenakkan di akun Threads _sherlyps.
Saat start, ia telah menyiapkan stroller untuk anaknya yang hendak diajak mengikuti event lari. Namun, panitia menyita stroller tersebut dan akan diberikan kembali saat melewati garis finish. Alhasil, ia menjalani event ini dengan menggendong anak hingga garis finis.
Pengguna akun tersebut semakin geram saat mengetahui influencer yang justru diberi karpet merah membawa stroller dari mulai start hingga finish. Kekesalan tersebut ia sampaikan di media sosial dan memicu perbincangan hangat warganet.
Lantas, bagaimana sebenarnya aturan event lari jika hendak membawa stroller? Apakah stroller diperbolehkan di event lari atau dilarang?
Aturan Umum Bawa Stroller dalam Event Lari
Di tengah antusiasme masyarakat untuk berolahraga dan menjaga kebugaran tubuh, event lari kini telah terjadwal di berbagai daerah dengan jarak yang beragam. Mulai dari fun run, jarak 3 km, 5 km, half marathon, hingga marathon.
Guna menyukseskan ajang tersebut, panitia penyelenggara biasanya menerapkan aturan khusus untuk memberikan pedoman bagi para peserta. Salah satunya soal penggunaan baby jogger atau kereta dorong bayi (stroller).
Tidak ada aturan paten terkait penggunaan kereta dorong di event lari. Pada umumnya, aturan soal kereta dorong ini diatur oleh masing-masing penyelenggara. Ada yang mengizinkan dan ada juga yang melarang. Mereka yang mengizinkan umumnya menyediakan skema fun run, family run, atau 3km dengan rute yang ramah anak dengan berbagai aturan ketat.
Misalnya, melansir pada event The World Athletics Road Running Championships Copenhagen. Peserta diperbolehkan membawa stroller dalam dua kategori lari yaitu satu mil dan 5 km. Sementara, panitia tidak menyarankan penggunaan stroller untuk kategori Half marathon mengingat jarak tempuh yang panjang dan cuaca panas.
Sesuai aturan, panitia mengimbau kepada peserta yang membawa stroller kategori 5 km dan satu mil untuk memulai lomba dari posisi belakang kelompok peserta terkait. Selain itu, peserta juga diimbau untuk memperhatikan pelari lain dan mematuhi semua instruksi dari petugas lomba.

Sementara itu, event Milo Activ Indonesia Race 2025 yang diadakan oleh Milo Indonesia melarang peserta membawa hewan peliharaan, stroller, hingga barang berbahaya. Aturan ini berlaku untuk memberi keamanan dan rasa nyaman bagi seluruh peserta.
Lain halnya dengan event Garmin Run Martahon Series yang berlangsung Minggu, 20 September 2026 di ICE BSD, Tangerang. Event lari ini memperbolehkan peserta berlari dengan stroller. Kendati begitu, peserta diimbau untuk tetap mengikuti ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan oleh penyelenggara.
Di event Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), pelari diperbolehkan menggunakan stroller pada kategori 3K. Dalam ajang Adhyaksa Night Run 10 Juli 2026, terdapat kategori run fun yang dapat diikuti oleh grup keluarga berisi 4 orang, yaitu 1 ayah, 1 Ibu, dan 2 anak usia 3 - 12 tahun.
Berdasarkan uraian di atas, penyelenggara memiliki otoritas untuk menetapkan aturan boleh tidaknya membawa stroller bagi pelari. Kategori fun run dan event lari 5k ke bawah biasanya memperbolehkan penggunaan stroller.
Jika tidak diperbolehkan, aturan ini perlu diumumkan secara terbuka agar semua pihak memahami regulasi. Tak hanya itu, aturan ini harus dijalankan secara fair kepada seluruh peserta lari, tanpa terkecuali.
Risiko Berlari Sembari Mendorong Stroller
Allison Altman Singles dan Joe Mahoney, profesor dan peneliti biomekanik melakukan penelitian bagaimana berlari dengan kereta bayi memengaruhi gaya berjalan dan risiko cedera akibat penggunaan berlebihan. Penelitian ini telah diteliti kurang lebih empat tahun.
Penelitian tersebut menemukan, sebagaimana dimuat dalam laporan independent.co.uk bahwa mendorong kereta bayi membuat pelari lebih condong ke depan dan pada titik tertentu dapat mengubah postur pinggul mereka. Tercatat, pelari akan condong enam derajat lebih jauh ke depan yang memengaruhi posisi kaki. Pergeseran condong ke depan ini dapat meningkatkan risiko cedera.

Meski aktivitas ini dapat menimbulkan cedera, Allison Altman Singles dan Joe Mahoney menemukan kalau penggunaan stroller juga mengurangi cedera di sisi lainnya.
Pelari yang menggunakan stroller umumnya cenderung lebih lambat dan mengambil langkah lebih panjang. Pelari yang menggunakan kereta bayi mengalami gaya benturan antara kaki dan tanah 16% lebih rendah.
Saat berlari menggunakan stroller, pelari akan menekan pegangan kereta dorong dan mengalihkan sebagian benturan melalui roda kereta dorong. Kondisi ini dapat mengurangi risiko cedera umum seperti nyeri tulang kering, nyeri lutut pelari, dan fraktur stres.
Hasil penelitian juga menemukan peningkatan torsi atau beban puntir yang dihasilkan antara kaki dan tanah sebesar 36%. Peningkatan memicu fraktur stres di tungkai bawah, dan mengkhawatirkan terjadinya cedera umum akibat penggunaan berlebihan di antara pelari jarak jauh. Saat memegang stroller, pelari semakin jarang mengayun lengan dan memutar dada.
Meski begitu, pelari dapat meminimalisir risiko cedera dengan tetap mempertahankan postur netral, tanpa perlu membungkuk terlalu jauh ke depan. Selain itu, pilihlah stroller yang model tinggi pegangnnya dapat disesuaikan dan rangka yang lebih ringan.
Tips Agar Aman Berlari dengan Stroller
Berolahraga dengan anak di waktu libur dapat meningkatkan bonding emosional. Hal ini umum terjadi di berbagai wilayah, khususnya saat akhir pekan. Dalam momen ini, keselamatan juga menjadi prioritas utama di samping kebugaran tubuh.
Saat berlari menggunakan stroller, keamanan kereta bayi, strategi berlari, dan menjaga pengalaman ini menyenangkan dan aman bagi semua pihak perlu diperhatikan dengan matang.
Pastikan anak telah berusia dia tas enam bulan. Di usia tersebut, bayi telah memiliki kemampuan untuk menopang kepalanya secara mandiri dan stabil. Jika berlari menggunakan stroller dengan usia anak di bawah enam bulan, maka hal ini sangat berisiko dan tidak dianjurkan.
"Bayi harus memiliki kendali penuh atas kepala dan lehernya sebelum diajak berlari menggunakan kereta dorong," demikian bunyi panduan American Academy of Pediatrics (AAP), dikutip dari runnersworld.com (22/7/2025).

Selain itu, pastikan sabuk pengaman stroller terpasang sempurna dan hindari jalanan yang tidak rata. Sebab, bayi akan masih rentan cedera jika terkena hentakan mendadak. Lalu perhatikan batasan berat dan tinggi badan yang ditetapkan oleh produsen stroller. Dengan mematuhi petunjuk penggunaan secara cermat, maka posisi anak di stroller akan lebih aman.
Berikutnya, hindari penggunaan aksesoris tambahan yang tidak perlu, kecuali disarankan untuk kondisi medis tertentu. Sebab, fitur tambahan seperti helm atau bantal dapat mengganggu fitur keselamatan stroller.
Sebelum berlari, luangkan waktu untuk memastikan dan memeriksa sabuk pengaman stroller secara lengkap. Beberapa model kereta dorong yang tidak menggunakan sistem sabuk tanpa pengaturan ulang membuat sabuk cenderung terlepas.
Pastikan rem tangan atau tali pengaman pergelangan tangan berfungsi dengan baik serta ban stroller terisi untuk menjaga stabilitas dan peredaman guncangan. Selanjutnya, pastikan semua roda terkunci dengan kuat di tempatnya dengan cara menariknya dengan mantap.
Terakhir, jangan lupa cek kanopi terpasang sempurna dengan kancing atau ritsleting, dan tidak ada kawat penyangga yang mencuat keluar. Kanopi ini sebagai pelindung dari sinar matahari dan angin.
Setelah memastikan semua fitur stroller berfungsi aman, mulailah berlari di jalan yang mulus dan datar. Perhatikan kondisi cuaca dan pakaikan yang sesuai untuk anak. Bawalah perlengkapan seminimal mungkin, namun pastikan selalu membawa air minum, camilan, dan ponsel dengan daya baterai cukup untuk keadaan darurat.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id
































