tirto.id - AI mampu meniru sejumlah kemampuan manusia bahkan lebih unggul dalam hal kecepatan serta volume ide. Namun, kreativitas sejati, empati, kesadaran diri, dan tanggung jawab moral jadi domain manusia yang belum bisa digantikan oleh AI.
Di tengah maraknya penggunaan AI untuk membantu pekerjaan sehari-hari, salah satu pertanyaan yang muncul yakni apakah teknologi ini bisa bekerja sepenuhnya seperti manusia?
AI bekerja dengan cara mempelajari pola kumpulan data untuk menghasilkan keluaran berdasar pola. Manusia, sementara itu, membangun pemahaman melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, serta proses belajar sepanjang hidup. Perbedaan cara kerja ini turut menentukan kemampuan dan batas penggunaan AI dalam berbagai bidang.
Sebagaimana dijelaskan oleh Seth dan kolega dalamNature (2026), "Kesadaran berbeda dengan kecerdasan. Kesadaran adalah tentang keberadaan dan perasaan; kecerdasan secara garis besar adalah tentang melakukan sesuatu atau menjalankan fungsi. Hanya karena sesuatu itu cerdas, bukan berarti ia memiliki kesadaran."

AI Mampu Meniru Kemampuan Manusia
AI generatif bisa menghasilkan ragam konten dengan mengenali dan menggabungkan pola data pelatihan. Kemampuan terlihat dalam pekerjaan kreatif, seperti menulis, membuat ilustrasi, menyusun musik, dan mengembangkan konsep desain.
Dalam AI: Facts and Myths, lembaga think tank Bipartisan Policy Center menjelaskan bahwa kreativitas AI berasal dari "pengenalan pola tingkat lanjut", sebuah proses yang berbeda dari kesadaran manusia.
Lembaga yang berbasis di Amerika Serikat itu menyebut, kreativitas manusia tumbuh dari rasa ingin tahu, riwayat hidup, pengalaman fisik, dan perasaan subjektif. Maka, perbedaan terlihat dari cara manusia dan AI menghasilkan karya.
Seseorang bisa menulis cerita berdasar kenangan masa kecil, pengalaman kehilangan, atau pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Di sisi lain, AI menghasilkan teks dengan mempelajari hubungan antarkata dan pola cerita yang bersumber dari data tersedia. Hasilnya memang bisa terasa kreatif bagi pembaca, tetapi proses garapan tetap bertumpu pada pengolahan pola.

Adapun kemampuan AI juga memengaruhi pembagian tugas di tempat kerja. Teknologi ini bisa membantu pekerjaan administratif, seperti mengolah dokumen, merangkum laporan, mengolah data, dan menyusun draf surat. Dampaknya, pekerja bisa mengalokasikan lebih banyak waktu untuk hal lain, seperti pemeriksaan, komunikasi, dan pengambilan keputusan.
Dampak tersebut terlihat dalam laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO) berjudul Generative AI and Jobs: A Refined Global Index of Occupational Exposure (2025) yang menganalisis hampir 30.000 tugas pekerjaan.
Hasilnya, pekerjaan sekitar satu dari empat pekerja di dunia diketahui sudah terpapar AI generatif. Pekerjaan administratif tercatat sebagai sektor dengan tingkat paparan tertinggi. Kemampuan ini memperlihatkan bahwa AI bisa mengambil alih sebagian tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia.
Adapun penerapannya memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana teknologi ini bisa menjalankan pekerjaan secara mandiri. Sebab, menyelesaikan tugas dengan cepat dan menghasilkan keluaran yang tepat belum cukup untuk menangani setiap situasi yang butuh pertimbangan manusia.

Apakah AI Tidak Bisa Bekerja Seperti Manusia Sepenuhnya?
Sejumlah pekerjaan masih butuh kemampuan manusia dalam memahami situasi, berinteraksi secara langsung, dan mengambil keputusan. AI bisa membantu dokter menganalisis hasil pemeriksaan, tetapi tenaga medis tetap perlu menimbang kondisi pasien sebelum menentukan tindakan.
Hal serupa berlaku bagi guru, psikolog, dan konselor. Pekerjaan ini melibatkan pemahaman terhadap kondisi emosional, kebutuhan individu, serta interaksi sosial. AI membantu menyediakan informasi dan bahan pembelajaran, tetapi penilaian profesional tetap butuh keterlibatan manusia.
UNESCO melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence menegaskan bahwa tanggung jawab akhir atas penggunaan AI tetap berada pada manusia. Prinsip ini terutama penting dalam keputusan yang menyangkut keselamatan dan kehidupan seseorang.
"Individu bisa berinteraksi dengan sistem kecerdasan buatan (AI) sepanjang siklus hidup mereka dan menerima bantuan darinya, seperti dalam bentuk perawatan bagi kelompok rentan atau mereka yang berada dalam situasi rentan, namun tidak terbatas pada, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, atau orang yang sakit," terang UNESCO. (hal. 18)
"Dalam interaksi semacam itu, individu tidak boleh diperlakukan sebagai objek, martabat mereka tidak boleh direndahkan, serta hak asasi manusia dan kebebasan mendasar tidak boleh dilanggar atau disalahgunakan," demikian lanjutannya.
Prinsip tersebut jadi semakin penting seiring meningkatnya kemampuan AI dalam menyelesaikan pekerjaan.

PengujianMETR, misalnya, menunjukkan bahwa Gemini 3.1 Pro sudah bisa menyelesaikan separuh tugas pemrograman yang butuh waktu sekitar 6,4 jam bagi seorang ahli. Kemampuan tersebut memperlihatkan bahwa AI mulai menangani pekerjaan dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.
Dampaknya terhadap lapangan kerja sudah terlihat. Analisis Stanford Digital Economy Lab menemukan penurunan tingkat pekerjaan sekitar 2,7 persen pada kelompok usia 22-25 tahun di Amerika Serikat. Angkanya mencapai sekitar 12,8 persen pada sektor yang paling terpapar AI, termasuk sektor keuangan dan perangkat lunak.
Adapun ancaman otomatisasi juga bisa menjangkau pekerjaan fisik melalui robot berbasis AI. World Economic Forum (WEF) memprediksi kebutuhan terhadap skill ketangkasan manual, daya tahan fisik, dan presisi, akan menurun pada sebagian perusahaan hingga 2030.
"Perubahan teknologi, fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografi, dan transisi hijau jadi pendorong utama yang berpotensi membentuk dan mengubah pasar tenaga kerja global pada tahun 2030," demikian terang WEF.

Terkait hal ini, ILO memprediksi perubahan tugas jadi dampak yang lebih mungkin terjadi dibanding hilangnya semua pekerjaan. Paweł Gmyrek selaku peneliti senior ILO menggambarkan sebagai transformasi pekerjaan alih-alih kiamat pekerjaan.
"Jika diadopsi dengan cara yang berpusat pada manusia, AI bisa membentuk ulang pekerjaan, menambah nilai, dan meningkatkan kualitas pekerjaan," tulis Gmyrek di laman resmi ILO.
"Namun jika hanya dipakai untuk memangkas biaya, meningkatkan pengawasan, atau mengurangi otonomi pekerja, risiko pengucilan dan ketidaksetaraan akan meningkat," tegasnya.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id

































