tirto.id - Bayangkan skenario edan ini: seorang wanita yang dituduh mencuri di pesta pernikahan mantan kekasihnya tetiba menyewa helikopter untuk menyiram gaun pengantin sang rival dengan air putih. Atau, kisah pegawai kantoran biasa yang ujug-ujug harus bertarung dengan naga siber di lorong lift. Kekacauan plot tersebut dijejalkan ke video vertikal berdurasi tak sampai 60 detik, lalu jempol Anda secara ajaib menolak untuk stop mengusap layar.
Selamat datang di era mikrodrama AI. Di sini, konflik dihantamkan langsung ke muka Anda dalam hitungan detik. Di balik itu semua, kecerdasan buatan (AI) membuat produksi drama jenis ini melaju dalam kecepatan penuh, menunjang penciptaan konten yang membakar imajinasi liar tanpa menguras dompet studio film.
Mengapa mikrodrama AI begitu mudah bikin penonton terus menonton? Jawabannya terkait cara cerita memancing rasa penasaran, pengalaman emosional, dan sistem digital yang mendorong orang kembali mengonsumsi konten.
Durasi Singkat, Padat Konflik, dan Memancing Penasaran
Mikrodrama atau duanju merupakan cerita berseri yang dirancang untuk layar ponsel. Episode mikrodrama AI umumnya berdurasi sekitar satu menit, sementara satu musim bisa terdiri atas puluhan episode. Ceritanya kerap mengandalkan romansa, pengkhianatan, balas dendam, dan kejutan status sosial untuk menjaga ketegangan.
Format tersebut menciptakan apa yang bisa disebut sebagai efek "satu episode lagi". Karena tiap episode hanya butuh waktu singkat, keputusan untuk lanjut terasa ringan. Penonton tak perlu berkomitmen menonton film selama dua jam. Mereka cukup meluangkan satu menit lagi untuk mengetahui nasib tokoh yang sedang bermasalah.
Johnny Chan dalam Systems Research and Behavioral Science (2026) menjelaskan bahwa salah satu kunci utamanya terletak pada teknik cliffhanger, yakni adegan yang menggantung untuk menahan jawaban atas konflik utama.
"Seseorang mungkin tidak pernah memutuskan untuk menghabiskan setengah jam menonton, tetapi akhirnya malah membuat serangkaian keputusan kecil untuk menonton satu menit lagi," tulis Johnny Chan di The Conversation.

Di sisi lain, psikolog Hongkong sekaligus pendiri Your Relationship Clinic, Ken Fung, membandingkan mekanisme ini dengan mesin slot.
"Ini mirip dengan cara kerja mesin slot. Anda tahu sesuatu yang menarik akan datang, tetapi Anda tidak tahu persis kapan. Ketidakpastian inilah yang membuat orang kecanduan," ujar Fung via Young Post Club SCMP.
Faktor lainnya, fitur pemutaran otomatis mengurangi jeda yang bisa memberi kesempatan kepada penonton untuk memutuskan apakah akan berhenti. Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan waktu lebih lama dari rencana awal tanpa pernah mengambil keputusan besar untuk nonton dalam durasi panjang.
Sistem rekomendasi platform kemudian memperkuat pola tersebut. Algoritma mampu mempelajari sinyal perilaku, seperti, apakah pengguna menamatkan episode, memutar ulang adegan, atau langsung beralih ke episode berikutnya. Bagi algoritma platform, info tersebut membantu memilih konten yang relevan dengan minat pengguna.
Adapun Johnny Chan menjelaskan, dengan siklus aktivitas menonton yang menghasilkan data, rekomendasi jadi lebih terarah, lalu kreator bisa mengulang teknik cerita yang dianggap berhasil mempertahankan perhatian.
Dalam hal ini, AI juga mempercepat siklus itu karena kreator bisa memproduksi karakter dan variasi cerita dalam waktu lebih singkat, termasuk ketika mereka ingin menghadirkan visual mewah, atau mahal jika hanya mengandalkan teknik produksi konvensional semata.
Visual dan Cerita yang Tak Terbatas
Dalam laporan SCMP ihwal perkembangan mikrodrama AI, Timothy Oh, kepala pemasaran COL Group, menjelaskan bahwa AI membuka kans untuk mengeksplorasi genre fantasi, fiksi ilmiah, animasi, dan cerita supernatural. Kreator bisa menghadirkan dunia yang sebelumnya sulit mereka wujudkan dengan anggaran produksi mikrodrama.
Perubahan tersebut juga memengaruhi skala produksi. Sutradara mikrodrama Paddy Ma Wendi mengatakan bahwa produksi yang dahulu melibatkan puluhan sampai sekitar 100 kru di sejumlah proyek, kini mampu dikerjakan oleh tim yang jauh lebih kecil ketika menggunakan AI.
Namun, teknologi ini belum menghilangkan seluruh tantangan produksi. Ma menjelaskan, kreator perlu berulang kali menghasilkan adegan untuk memperoleh video yang sesuai. Mereka juga harus menjaga konsistensi wajah karakter, detail visual, dan kesinambungan cerita antarepisode.

Dengan kata lain, AI memperluas pilihan kreatif sekaligus mempercepat proses produksi, tetapi manusia tetap berperan menentukan kualitas hasil akhirnya.
"Saya ingin menggunakan akting manusia untuk menggerakkan AI, karena AI sebenarnya sangat bagus dalam mengedit rekaman," ujar Ma. "Misalnya, jika Anda memasukkan rekaman dari film Titanic , lalu Anda memintanya untuk mengubah Jack dan Rose menjadi Spider-Man dan Mary Jane, AI mampu melakukannya dengan sempurna."
Kemampuan memproduksi variasi cerita dengan cepat juga membuat platform lebih mudah menguji konsep baru. Jika sebuah karakter atau jenis konflik menarik perhatian penonton, kreator bakal mengembangkan variasi serupa. Di ekosistem yang mengandalkan cerita bersambung, opsi yang melimpah tersebut membantu platform mempertahankan pasokan tontonan.
Strategi ini bertemu dengan kebiasaan orang mengonsumsi hiburan di sela-sela aktivitas sehari-hari. Mikrodrama AI menawarkan cerita yang bisa dinikmati kilat melalui HP, baik saat bepergian, istirahat dari pekerjaan, maupun menunggu aktivitas berikutnya. Penonton tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk menyelesaikan film panjang.
Hiburan Singkat untuk Orang dengan Waktu Terbatas
Laporan Meta dan Ormax Media tentang mikrodrama di India yang dirilis pada Maret 2026 memberi gambaran mengenai pola tersebut. Survei terhadap 2.000 penonton berusia 18-44 tahun di 14 negara bagian India menemukan, penonton menghabiskan waktu rata-rata median 3,5 jam per minggu untuk menonton mikrodrama. Konsumsi itu tersebar dalam sekitar tujuh sampai delapan sesi singkat.
Sumber yang sama menyebut bahwa 89 persen responden menemukan mikrodrama lewat umpan di media sosial. Adapun sekitar 90 persen aktivitas menonton berlangsung seorang diri.
Di samping itu, format mikrodrama juga tidak selalu menuntut perhatian penuh. Menurut laporan tersebut, 57 persen aktivitas menonton berlangsung dalam ambient mode, yakni saat penonton melakukan kegiatan lain secara bersamaan. Pola ini memperlihatkan bagaimana hiburan singkat bisa masuk ke sela rutinitas sehari-hari warga.

Namun, kemudahan akses juga membuat batas antara istirahat singkat dan kebiasaan menonton berlebihan jadi kabur.
Sebuah penelitian di jurnal Frontiers in Psychology (2026) menemukan bahwa dorongan untuk melarikan diri dari masalah sehari-hari dan perasaan larut dalam cerita terkait erat dengan perilaku menonton mikrodrama AI secara berlebihan.
Ketika penonton terbawa suasana cerita, terus penasaran dengan kelanjutannya, lalu mendapatkan rekomendasi konten sesuai minat, mereka bisa terdorong untuk terus menonton dan kecanduan.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id



































