tirto.id - Kebiasaan mengecek HP berulang kali meski tidak ada notifikasi tampak jadi perilaku yang cukup umum terjadi. Meski sekilas tampak wajar, dalam sudut pandang psikologis fenomena tersebut justru bukan suatu yang wajar. Kebiasaan tersebut berisiko pada kesehatan mental.
Sesuai studi di The University of Texas berjudul "Thriving in the Digital Age: How Technology Influences Our Behavior", pesatnya perkembangan teknologi dari waktu ke waktu sangat berpengaruh pada kebiasaan manusia karena teknologi dapat mengubah cara otak dan tubuh untuk mencari kemudahan, kecepatan, serta kepuasan.
Secara tidak langsung, ketergantungan pada perangkat elektronik seperti Handphone (HP) juga berkontribusi pada meningkatnya masalah kesehatan mental, hingga memicu persoalan baru yang lebih serius.
Dengan begitu, tak heran jika pada akhirnya era digital ini melahirkan banyak fenomena baru, salah satunya mengecek HP secara berkala meskipun tidak ada notifikasi masuk yang sudah jadi kebiasaan umum.
Lantas, apakah sebenarnya kebiasaan cek HP meski tak ada notifikasi harus diwaspadai? Apa saja penyebab utamanya? Simak penjelasan lengkapnya berdasarkan sudut pandang psikologis berikut.
Kebiasaan, Rasa Bosan, hingga FOMO Bisa Jadi Penyebab
Kebiasaan mengecek ponsel tanpa notifikasi dapat terbentuk melalui rutinitas yang dilakukan berulang kali. Sebagaimana dikutip Banner Health, kebiasaan mengecek ponsel meski tidak ada notifikasi dapat dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya rasa bosan.
Ketika tidak memiliki aktivitas yang menarik perhatian, seseorang mungkin mengambil ponsel untuk mencari hiburan atau informasi baru.
Selain itu, kebiasaan ini dapat terbentuk karena seseorang menganggap notifikasi sebagai sesuatu yang penting atau berharap ada informasi baru setiap kali membuka ponsel. Pikiran tersebut dapat mendorong seseorang untuk memeriksa ponsel secara berkala, meskipun tidak ada notifikasi yang masuk.
Dalam beberapa kasus, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan rasa bosan, stres, kecemasan, kesepian, atau kebingungan ketika menghadapi jeda aktivitas.
Dalam artikel Verywell Mind berjudul "The Stress of Constantly Checking Your Phone", kebiasaan memeriksa ponsel secara terus-menerus dibahas dalam kaitannya dengan stres akibat penggunaan teknologi. Seiring meningkatnya penggunaan ponsel pintar, sebagian orang cenderung lebih sering memeriksa perangkatnya, baik untuk mengecek notifikasi maupun mencari informasi lainnya.
Meski tampak seperti kebiasaan umum, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan tekanan psikologis. Paparan informasi yang memicu kekhawatiran, seperti berita negatif, konflik sosial, dan gejolak politik, dapat menambah beban pikiran. Jika berlangsung terus-menerus, stres juga dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, termasuk mengganggu pola tidur.
Dalam survei yang dipublikasikan oleh American Psychiatric Association (APA) di Amerika Serikat pada 2024 mengungkapkan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan memeriksa ponsel terus-menerus cenderung merasa paling tidak terhubung atau kurang bertemu di lingkungan sosialnya, baik dari keluarga maupun pertemanan.
Asosiasi Psikiatri Amerika melaporkan bahwa sepertiga warga Amerika mengaku menghabiskan empat jam atau lebih per hari dengan mengecek media sosial. Akibatnya, sekitar 64% di antaranya mengaku merasa agak atau sangat cemas ketika mereka tidak dapat mengaksesnya.
Dengan kata lain, kondisi tersebut berkaitan juga dengan "kesepian", yang secara tidak disadari bahwa hal tersebut memiliki dampak buruk terhadap kesehatan dan kebahagiaan, bahkan merubah kebiasaan.

Selain itu, kebiasaan mengecek ponsel pintar secara berkala dapat jadi kebiasaan otomatis yang dilakukan orang hampir tanpa sadar. Sebagaimana dikutip di The Economic Times, peneliti London School of Economics (LSE) Dr. Maxi Heitmayer dan Saadi Lahlou, dalam penelitiannya mereka menemukan bahwa sekitar 89 persen interaksi ponsel pintar dimulai oleh pengguna sendiri, sedangkan 11 persen lainnya terjadi karena pemberitahuan atau peringatan dari perangkat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa interaksi dengan ponsel tidak selalu berawal dari notifikasi yang masuk. Sebagian pengguna justru mengambil dan memeriksa ponsel atas inisiatif sendiri, bahkan tanpa mengetahui alasan yang jelas. Heitmayer menjelaskan bahwa seseorang sering kali tidak menyadari mengapa dirinya mengambil ponsel.
Heitmayer juga menemukan bahwa orang cenderung membuka kunci ponsel mereka saat beralih antar aktivitas, seperti memeriksa perangkat sebelum memulai aktivitas berikutnya, menunggu sesuatu dimuat, selama perjalanan, atau di tengah pekerjaan yang menegangkan sebagai istirahat mental singkat.
Saat adanya jeda singkat, hal tersebut menciptakan momen di mana otak mencari sesuatu yang familiar dan mudah dilakukan, salah satunya seperti memeriksa atau mengecek ponsel yang jadi respons otomatis.
Studi ini juga mengungkapkan bahwa sekitar seperempat interaksi ponsel terjadi ketika perangkat digital tersebut tetap berada di layar kunci. Singkatnya, kebanyakan orang hanya mengambil ponsel mereka untuk membuka layar kunci, kemudian memeriksa apakah ada perubahan, lalu meletakkannya kembali.
Dalam beberapa kasus, terdapat juga yang hanya membuka layar, melihat beberapa aplikasi, menutupnya kembali, lalu mengulanginya lagi secara berkala baik di sela-sela jeda waktu atau saat beraktivitas.
Penelitian Heitmayer ini menyimpulkan bahwa rutinitas sehari-hari, momen kebosanan, situasi stres, serta transisi antar tugas kerap jadi pemicu seseorang melakukan tindakan mengecek ponsel pintar secara otomatis dan tidak sadar.
Dalam sudut pandang psikologis, mengutip Fika Mental Health, kebiasaan tersebut dapat terjadi ketika stres, kesepian, kewalahan, atau kelelahan. Dalam kondisi tersebut, otak secara otomatis akan mencari cara untuk meredakan stres secara bertahap atau dopamin yang bisa didapat lewat ponsel.
Pengecekan ponsel secara berulang juga dapat berkaitan dengan keinginan memperoleh kepastian. Misalnya, seseorang terus memeriksa perangkat untuk mengetahui perkembangan informasi terbaru, menunggu balasan pesan, atau memastikan apakah kabar yang dinantikan sudah diterima. Namun, perilaku ini tidak serta-merta menunjukkan adanya respons trauma atau gangguan psikologis tertentu.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa penyebab utama sering cek HP meski tidak ada notifikasi karena sudah jadi kebiasaan otomatis (refleks), ketika otak terbiasa mencari "hadiah kecil" berupa informasi atau hiburan setiap kali layar dibuka.
Selain itu, kebiasaan itu juga bisa muncul akibat FOMO (Fear of Missing Out), yakni timbulnya rasa cemas atau khawatir tertinggal informasi, berita, atau interaksi terbaru dari orang lain di media sosial.
Namun, kebiasaan tersebut kebanyakan disebabkan karena banyak pengguna yang secara tidak sadar menjadikan ponsel sebagai bentuk pelarian ketika tengah mengalami stres, kecemasan, kelelahan mental, atau overthinking.
Kapan Kebiasaan Cek HP Perlu Diwaspadai?
Meskipun sekilas kebiasaan cek HP tampak umum terjadi, siklus tersebut tetap perlu diwaspadai, terlebih jika mulai menimbulkan masalah, seperti sulitnya berkonsentrasi, mengganggu pekerjaan atau aktivitas, pola tidur jadi rusak, atau cemas ketika tidak bisa memeriksa ponsel.
Mengutip Time, kebiasaan mengecek ponsel terus-menerus dapat berdampak negatif tak hanya pada kinerja pekerjaan saja, melainkan juga dapat berpengaruh pada hubungan, bahkan berisiko berdampak pada keselamatan fisik karena mengulang aktivitas tersebut saat berjalan atau berkendara.
Solusi terdekat untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk itu yaitu dengan melatih otak untuk tidak terpaku pada "pengalihan yang konstan", atau tidak membiasakan diri bergantung pada ponsel ketika dihadapkan pada kondisi tertentu.
Akan tetapi, jika menerapkan detoks digital secara mendadak, hal tersebut justru dapat menimbulkan kecemasan. Artinya, untuk meminimalisirnya yakni dengan menerapkan kebiasaan hanya menggunakan ponsel selama periode tertentu saja, seperti ketika mengerjakan proyek penting, atau saat menjalin komunikasi dengan orang terdekat.

Dalam hal ini, peneliti pascadoktoral di Universitas Toronto Scarborough, Katy Tam, menyarankan agar memperhatikan urgensi atau tujuan untuk menggunakan aplikasi maupun platform media sosial yang ada pada ponsel.
Dengan begitu, seseorang dimungkinkan tidak terperangkap dalam dopamin berlebih akibat menggulir atau menggunakan aplikasi tersebut, yang berpotensi berpengaruh pada kebiasaan bahkan kesehatan mental.
Langkah sederhana lainnya yang dapat diterapkan yaitu dengan menetapkan waktu khusus untuk mengecek pesan, mengurangi notifikasi yang tidak penting, atau menjauhkan diri dari HP ketika bekerja dan beraktivitas.
Perlu dipahami juga bahwa kebiasaan mengecek HP terus-menerus tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami gangguan psikologis. Namun, dampak tersebut bisa saja terjadi jika penggunaan ponsel berlebih memicu masalah seperti stres, mudah marah, merusak pola tidur, kecemasan, panik, serta mengganggu produktivitas keseharian.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai pula jika seseorang lebih memilih menatap layar ketika berkumpul bersama keluarga, teman, atau sedang berinteraksi sosial secara langsung. Perilaku tersebut berisiko membuat kecenderungan terhadap perangkat digital jadi lebih masif dan mengabaikan lingkungan sosial sekitar.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































