tirto.id - Saat semester akhir kuliah, Vidya, bukan nama sebenarnya, terbiasa menginap di kontrakan temannya. Suatu malam, ia dan sang teman pergi keluar untuk membeli es krim. Namun, semua toko di dekat kontrakan itu sudah tutup karena waktu sudah hampir pukul 11 malam. Mereka berdua bingung mencari, hingga menemukan sebuah toko es krim di sudut jalan. Entah mengapa, saat itu juga, Vidya merasakan pernah mengalami kejadian serupa dalam mimpinya, entah kapan.
Sementara itu, Edward, pada usia 18 tahun untuk pertama kalinya pergi mendaki gunung seumur hidupnya. Namun, entah mengapa, ia merasa pernah berkunjung ke tempat itu pada masa lalu. Edward menduga, jangan-jangan ia dalam kehidupan sebelumnya pernah tinggal di wilayah tersebut. Namun, sebenarnya tidak demikian. Pengalaman Vidya dan Edward itu dikenal dengan istilah “déjà vu”.
Istilah “déjà vu” berasal dari bahasa Prancis, yang secara harfiah berarti "sudah pernah dilihat". Istilah ini pertama kali digunakan pada 1876 oleh Émile Boirac, seorang filsuf Prancis, dalam bukunya, L'avenir des sciences psychiques.
Déjà vu sekilas terkesan ajaib. Ada sensasi tersendiri ketika seseorang mengalaminya, seakan ia memiliki kemampuan memprediksi masa depan atau telah melintasi dimensi waktu yang berbeda. Namun, sebenarnya déjà vu tidaklah ajaib. Ia hanyalah kekeliruan kecil saat otak mengolah ingatan, dan ini bisa terjadi pada siapa saja.
Déjà vu Bukan Keajaiban, Siapa pun Bisa Mengalaminya
Rasa "pernah mengalami" yang dirasakan Vidya maupun Edward memang terasa sangat nyata, sekaligus membingungkan. Mereka sadar ada yang aneh, karena secara logika momen yang "dialami" itu belum pernah terjadi sebelumnya.
Meski terkesan magis, sensasi déjà vu sebenarnya sangat umum.
Pasic, dkk. (2018) memperkirakan bahwa 97 persen orang di dunia mengalami déjà vu setidaknya sekali seumur hidup, dan 67 persen di antaranya merasakan déjà vu secara berkala. Di samping itu, déjà vu lumrahnya dialami oleh individu dalam rentang usia muda, sekitar 15 hingga 25 tahun.
Fenomena déjà vu ini biasanya terjadi dalam hitungan detik, membuat seseorang terdiam merasakan kebingungan sesaat, sebelum kesadarannya kembali normal.
Bagaimana sains menjelaskan sensasi aneh déjà vu ini?

Seorang dokter spesialis neurologi epilepsi, Jean Khoury, menjelaskan bahwa déjà vu sebenarnya dipicu oleh "miskomunikasi" atau gangguan sinyal singkat di dalam otak. Secara khusus, gangguan ini terjadi pada koneksi di area lobus temporal, bagian otak yang bertugas mengolah ingatan masa lalu sekaligus mengenali informasi baru yang sedang kita lihat.
Ketika sinyal di lobus temporal sedikit lambat atau tidak sinkron, otak secara keliru memproses pengalaman yang baru saja terjadi seolah-olah merupakan ingatan masa lalu. Akibatnya, batas antara memori lama dan persepsi baru menjadi kabur.
Namun, déjà vu bukan sekadar perasaan familiar biasa. Akira O'Connor, dikutip dari Psychology Today, menekankan bahwa keunikan déjà vu justru terletak pada kesadaran kita bahwa perasaan familiar tersebut adalah sebuah kekeliruan.
Secara teknis, déjà vu adalah bentuk konflik kognitif: otak merasakan sensasi sangat kenal pada suatu situasi, tetapi logika kita sadar penuh bahwa keakraban itu tidak masuk akal.
Hal inilah yang membedakan déjà vu dari gangguan persepsi lain seperti delusi atau ilusi murni. Pada delusi, seseorang akan meyakini hal yang salah secara buta tanpa bisa dibantah fakta. Sebaliknya, saat mengalami déjà vu, kita tahu persis bahwa otak kita sedang "menipu" kita.
O'Connor menambahkan bahwa fenomena ini bukanlah tanda kerusakan memori, melainkan bukti bahwa sistem pengawas otak kita bekerja dengan baik.
Saat area lobus temporal secara tidak sengaja mengirimkan sinyal palsu bahwa suatu kejadian sedang berulang, sinyal tersebut akan langsung dikirim ke area otak bagian depan (korteks frontal) yang berfungsi sebagai pembuat keputusan dan pemeriksa fakta.
Lobus frontal akan dengan cepat mengevaluasi rekam jejak memori masa lalu. Ketika lobus frontal tidak menemukan bukti bahwa kita pernah mengalami kejadian tersebut, di sinilah sensasi déjà vu yang membingungkan itu tercipta.
Adakah pemicu fisik di dunia nyata yang sering memancing miskomunikasi otak ini?

Salah satu penjelasan ilmiah terkuat adalah faktor kemiripan spasial atau Gestalt Familiarity. Otak manusia sangat mahir mengenali pola dan tata letak ruang, seperti susunan bangunan, posisi furnitur, hingga kontur jalanan.
Ketika kita mendatangi sebuah tempat baru yang memiliki struktur geometri mirip dengan tempat yang pernah dikunjungi pada masa lalu, otak akan mengenali pola tata letak tersebut secara tidak sadar. Sensasi "pernah ke sini" pun langsung terpicu, meskipun logika kita sadar betul bahwa kita belum pernah menginjakkan kaki di lokasi tersebut.
Inilah yang kemungkinan besar dialami Edward saat mendaki gunung atau Vidya ketika berada di sudut toko es krim: otak mereka mengenali pola tata letak lingkungan sekitar yang mirip dengan memori lama yang tersimpan di dalam memori bawah sadar.
Kenapa Déjà vu Muncul saat Kita Lelah dan Justru Tanda Otak Sehat?
Selain faktor kemiripan tempat, munculnya déjà vu juga sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh kita sehari-hari. Penelitian Ziqin Xu (2025) menemukan bahwa ketika tubuh kita lelah atau pikiran sedang jenuh, fokus otak akan menurun sejenak. Pada momen lengah inilah, memori bawah sadar kita tiba-tiba mengambil alih dan salah mengartikan suasana, sehingga memicu "salah kirim" sinyal di otak.
Temuan ini sejalan dengan catatan Cleveland Clinic, yang menyebutkan bahwa kelelahan fisik maupun kurang tidur nyenyak dapat mengganggu kemampuan otak dalam memproses informasi visual dan ingatan baru secara akurat. Gangguan pemrosesan inilah yang menjelaskan alasan déjà vu lebih sering menghampiri seseorang pada malam hari atau saat kondisi fisik sangat menurun.
Selain itu, tingkat stres dan kecemasan yang tinggi, serangan migrain, hingga kondisi medis spesifik seperti kejang singkat pada epilepsi lobus temporal juga dapat mengganggu kestabilan sinyal saraf, sehingga memicu timbulnya sensasi kenal yang palsu secara mendadak.

Meski sering timbul saat tubuh lelah atau stres, mengalami déjà vu pada dasarnya bukanlah pertanda kelainan mental atau penyakit berbahaya. Sebaliknya, ini adalah bukti bahwa otak kita berada dalam kondisi yang sangat prima.
“Mengalami déjà vu justru bisa menjadi pertanda baik bagi kebanyakan orang. Ini adalah bukti bahwa bagian otak yang bertugas melakukan 'pemeriksaan fakta' bekerja dengan sangat baik untuk mencegah Anda salah mengingat suatu peristiwa,” papar O'Connor, dikutip dari Psychology Today.
Ketika déjà vu terjadi, lobus frontal di bagian depan otak berhasil mendeteksi adanya sinyal palsu dari lobus temporal, lalu dengan cepat mengoreksinya. Kesadaran bahwa perasaan familiar itu salah justru membuktikan bahwa sistem pemantauan memori manusia berfungsi dengan sempurna.
Sistem pengolahan memori manusia memang sangat kompleks. Sekelebatan ingatan bisa tiba-tiba muncul, lalu secara otomatis dikelompokkan sebagai memori murni atau ingatan palsu. Oleh karena itu, saat mengalami déjà vu, kita tidak perlu buru-buru mengaitkannya dengan firasat atau fenomena magis.
Ambil napas sejenak, nikmati sensasi unik tersebut, dan kagumi betapa canggihnya cara kerja otak manusia dalam menjaga kebenaran ingatan kita.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id





































