tirto.id - Peta satelit National Aeronautics and Space Administration (NASA) milik Amerika Serikat pada 13-15 Oktober 2026 memperlihatkan sebaran intensitas gan karbon monoksida (CO) di langit hampir seluruh wilayah Indonesia. Apakah potret NASA tersebut menandakan bahwa udara yang kita hirup beracun?
Karbon monoksida termasuk zat yang bersifat racun sekaligus jadi penanda salah satu jenis polusi udara. Dari sisi struktur, karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, serta tidak teramati dengan mata telanjang. Zat ini berbahaya bagi tubuh jika terhirup melebihi jumlah ambang batas.
Menanggapi peta satelit NASA yang ramai diperbincangkan masyarakat, pakar lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Chandra Wahyu menjelaskan bahwa pengamatan satelit perlu dibedakan dengan pengukuran kualitas udara pada ketinggian yang langsung bersinggungan dengan manusia.
“Jadi harus diukur di permukaan tanah ataupun di lapisan yang paling bawah, yang langsung kita hirup sehari-hari begitu. Jadi data NASA itu adalah (atmosfer) lapisan atas, yang memang kita tidak berkontak dengannya, karena kan dari satelit ya citranya begitu,” ujar Prof. Chandra, dikutip dari RRI PRO3, Sabtu (17/10/2026).
Potret Satelit NASA saat Karhutla & Cara Membacanya
Satelit NASA memantau sebaran gas karbon monoksida (CO) dari angkasa melalui Measurements of Pollution in the Troposphere (MOPITT) atau Pengukuran Polusi di Troposfer.
Platform yang diluncurkan pada Desember 1999 tersebut digunakan untuk melacak polutan udara karbon monoksida dari wahana antariksa Terra milik NASA, yang mengelilingi Bumi dari kutub ke kutub sebanyak 16 kali tiap hari.
Perangkat ini dirancang untuk melacak sumber karbon monoksida dari luar angkasa, serta memantau tingkat konsentrasinya di seluruh dunia. Oleh karenanya NASA dapat melakukan pengamatan global terhadap karbon monoksida yang menjadi isu global.
Penyusunan peta karbon monoksida global dari MOPITT menggabungkan antara informasi dari pengukuran satelit serta keluaran model kimia atmosfer yang dikembangkan di National Center for Atmospheric Research (NCAR). Teknik penggabungan ini memungkinkan para ilmuwan melacak balik dari hasil observasi, untuk menentukan lokasi sumber polusi.

MOPITT bisa memetakan wilayah seluas beberapa ratus mil persegi. Hasilnya cukup akurat untuk membedakan polusi udara muncul dari kawasan metropolitan luas, dengan polusi yang diakibatkan oleh kebakaran besar di hutan.
MOPITT mengamati karbon monoksida di atmosfer pada ketinggian 2 mil di atas permukaan tanah. Pada ketinggian ini karbon monoksida juga berinteraksi dengan gas lain. Data yang ditangkap oleh instrumen MOPITT kemudian diolah oleh ilmuwan NASA. Lalu data visualnya dapat ditampilkan dan diakses oleh publik melalui aplikasi NASA's Eyes on the Earth.
Di tengah ramainya perbincangan peta satelit NASA pada 13-15 Oktober 2026 yang memperlihatkan sebaran gas karbon monoksida di Indonesia, BMKG menjelaskan cara membaca potret tersebut. Dalam gambar tersebut, tampak jelas warna merah pekat hingga oranye menyelimuti wilayah Indonesia.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, memaparkan bahwa citra NASA menampilkan sebaran karbon monoksida yang berada di lapisan atmosfer sekitar 500 milibar atau 5-6 kilometer di atas permukaan bumi.
Warna merah hingga jingga pada citra tersebut menurut Marjuki menunjukkan jumlah karbon monoksida di lapisan atmosfer. Namun warna tersebut bukan berarti menunjukkan kadar udara yang dihirup manusia.
Menurut Marjuki, sebaran karbon monoksida yang terlihat luas pada citra satelit tidak selalu berarti konsentrasi tinggi. Gas tersebut bisa menyebar ke wilayah yang jauh dari sumber emisi tanpa menunjukkan tingkat pencemaran yang sama pada tiap wilayah.
Apakah Karbon Monoksida Berbahaya Bagi Kesehatan?
Melansir laman resmi NASA, karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, yang dapat muncul dari kebakaran hutan, knalpot kendaraan, dan berbagai sumber aktivitas manusia lainnya. Karbon monoksida tidak dapat terdeteksi dengan mata telanjang.
Keberadan gas ini sering kali tidak disadari oleh orang yang berada di sekitar area kebakaran. Apabila karbon monoksida terhirup dalam konsentrasi tinggi dapat memicu gejala keracunan, seperti pusing, mual, lemas, hingga kehilangan kesadaran.
Pada kejadian kebakaran hutan dan lahan, karbon monoksida dihasilkan melalui pembakaran materi organik alami yang tidak sempurna seperti kayu dan gambut. Kebakaran bawah tanah di lahan gambut menghasilkan gas karbon monoksida yang tinggi, mengingat pembakaran material organik yang terpendam berjalan lambat dan minim oksigen.

Asap kebakaran hutan bisa terbawa hingga ratusan bahkan ribuan kilometer. Tanpa disadari asap ini dapat menurunkan kualitas udara di tempat yang sangat jauh dari lokasi kebakaran. Asap kebakaran hutan membawa polutan beracun, partikel halus, dan berbagai gas, termasuk karbon monoksida.
“Partikel-partikel kecil dan halus ini dapat menembus dari paru-paru ke dalam aliran darah, memicu respons dalam tubuh kita, mengaktifkan sistem kekebalan, serta menyebabkan peradangan,” ujar Dorota Jarosinska, Manajer Program di Pusat Perubahan Iklim, Lingkungan, dan Kesehatan Eropa milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dikutip dari Euronews pada 29/07/2026.
Paparan karbon monoksida yang diperbolehkan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA) adalah 35 ppm untuk waktu 8 jam/hari. Sementara kadar membahayakan bagi kesehatan adalah 1500 ppm (0,15%). Paparan 1000 ppm (0,1%) selama beberapa menit bisa menyebabkan hingga 50% kejenuhan karboksi hemoglobin dan bisa berakibat fatal.
Menurut Pedoman Kualitas Udara WHO yang diperbarui pada 2021. Konsentrasi batas paparan karbon monoksida adalah 100 mg/m³ (15 menit), 35 mg/m³ (1 jam), 10 mg/m³ (8 jam), dan 4 mg/m³ (24 jam).
Apabila terhirup melebihi batas, karbon monoksida sangat berbahaya bagi tubuh. Gas ini dapat menggeser oksigen dalam darah, lalu mengurangi pasokan oksigen yang dibutuhkan jantung, otak, dan organ vital lain, dikutip dari Department of Health and Human Services Iowa.
Menghirup karbon monoksida dalam jumlah besar bisa membuat seseorang pingsan dalam hitungan menit, menyebabkan kehilangan kesadaran, serta sesak napas.
Apabila tidak ditangani secara tepat, keracunan karbon monoksida akut dapat mengakibatkan kerusakan permanen organ tubuh, seperti jantung dan otak.
Risiko keracunan karbon monoksida paling rentan terjadi pada anak-anak, lanjut usia, penderita penyakit paru-paru dan jantung, orang di dataran tinggi, atau mereka yang sudah memiliki kadar karbon monoksida dalam darah yang tinggi seperti perokok.
Gejala keracunan karbon monoksida yang paling umum terjadi adalah sakit kepala, pusing, lemas, mual, muntah, sesak dan nyeri dada, serta kebingungan.
Langkah Praktis Lindungi Diri dari Asap Karhutla
Kementerian Kesehatan menerapkan 3 tingkatan strategi pelindungan masyarakat. Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan, tutup rapat sirkulasi udara luar, menggunakan penyaring udara di dalam ruangan, memakai masker respirator, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kedua, selalu sedia obat esensial yang dibutuhkan. Jika terjadi gejala awal keracunan gas, segera datang ke layanan kesehatan terdekat dan lakukan skrining kesehatan berkala. Ketiga, apabila sudah terinfeksi karbon monoksida, segera lakukan perawatan di rumah sakituntuk menghindari komplikasi berat atau kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia juga menerbitkan berbagai panduan saat terjadi kebakaran hutan, sebagaimana dimuat dalam laman publikasi WHO Int.
Mereka juga menyarankan untuk mengikuti informasi terkini dari otoritas setempat, termasuk peringatan mengenai polusi udara dan rekomendasi langkah-langkah perlindungan. Pantau terus jika ada instruksi untuk berpindah tempat atau melakukan evakuasi.
Jika tingkat polusi udara akibat asap tergolong tinggi, tetap berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup. Jika otoritas terkait sudah mengimbau untuk mengevakuasi diri, maka segera lakukan.
Apabila beraktivitas di tempat berpolusi, kenakan masker yang pas di wajah. Dalam kondisi cuaca panas, atur tempo aktivitas luar ruangan dan beristirahat secara berkala. Kurangi perjalanan yang tidak mendesak.

Jika asap kebakaran hutan terjadi bersamaan dengan gelombang panas, gunakan kipas angin hanya untuk sirkulasi udara di dalam rumah. Atur AC ke mode resirkulasi, dan hindari ventilasi langsung dari udara luar. Tutup jendela dan tirai atau penutup jendela.
Pindah ke ruangan yang paling sejuk di dalam rumah, terutama pada malam hari. Kurangi sumber polusi udara lain di dalam ruangan, seperti merokok, penggunaan gas propana atau tungku kayu, penyemprotan produk aerosol, serta menggoreng atau memanggang makanan.
Perhatikan gejala kesehatan apapun jika memiliki penyakit pernapasan atau kardiovaskular, atau untuk ibu hamil. Terakhir, segera cari bantuan medis jika mengalami gejala keracunan gas.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id
































