tirto.id - Struktur gambut berasal dari material organik yang terdekomposisi selama bertahun-tahun. Kebakaran lahan gambut pun dapat menyebar perlahan selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan bahkan berbulan-bulan.
Kebakaran lahan gambut cenderung menyimpan bara di bawah permukaan serta menghasilkan banyak asap. Asap yang tebal muncul karena lahan gambut menyimpan lebih banyak karbon daripada gabungan semua jenis vegetasi lainnya di dunia.
Apabila tidak ditangani secara tepat, maka lahan gambut dapat terbakar kembali meskipun telah dilakukan operasi pemadaman. Bara api yang masih ada di bawah permukaan tanah perlu ditangani secara khusus, termasuk dilakukan pendinginan.
Cara ini dilakukan guna memastikan bara api di lahan gambut benar-benar padam. Selain itu, diperlukan upaya-upaya preventif agar kelembapan lahan gambut tetap terjaga.

Karakteristik & Misteri Bara Api di Bawah Permukaan
Gambut memiliki karakteristik yang unik dibanding tanah mineral. Secara struktur, lahan gambut terdiri dari material organik tumbuhan yang terdekomposisi dalam kondisi tergenang atau jenuh air. Material organik dapat menjadi bahan bakar ketika kondisinya cukup kering dan kaya karbon.
Apabila muka air turun karena drainase berlebihan, maka gambut menjadi lebih kering. Tak hanya itu, musim kemarau juga memicu kerentanan karena tidak ada pasokan air yang cukup. Hal ini menyebabkan lapisan gambut kehilangan kelembapan.
Dalam kondisi kering, gambut sangat mudah terbakar jika terkena sumber penyulutan yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen. Apabila gambut terbakar dan kondisi vegetasi sangat kering, maka sangat mungkin terjadi pembakaran di bawah permukaan.

Pada tahap awal, api membakar bagian permukaan terlebih dahulu selayaknya kebakaran yang dialami vegetasi biasa. Setelah itu, api masuk ke lapisan organik melalui pori-pori material gambut. Sebagaimana dikutip dari laman DPI Pemadam, saat api berhasil masuk di bawah permukaan, tidak menghasilkan nyala api yang besar
Namun, pembakaran membara telah terjadi di bawah permukaan gambut. Fenomena ini sering disebut dengan Subsurface Smouldering. Saat api di permukaan lahan gambut mulai dipadamkan, bukan berarti bara yang di bawah permukaan juga ikut padam.
Sering kali, tanah gambut masih menyimpan bara atau panas. Jika bara api di bawah permukaan tidak segera didinginkan, maka berpotensi memicu kebakaran di permukaan atau lokasi lainnya. Hal inilah yang menjadi alasan kebakaran di tanah gambut lebih sulit dipadamkan karena sumber bara tidak selalu terlihat secara langsung.

Sebab itu, pemadam perlu memastikan bahwa bara api yang berada di bawah permukaan benar-benar telah padam. Meski begitu, kebakaran di bawah permukaan tanah dapat diidentifikasi dengan beberapa cara, mulai dari kondisi vegetasi, bentuk daun, dan asap yang masih mengepul.
“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” ujar Fiqri Ardiansyah, pakar bidang kebakaran hutan dan lahan, Fakultas Kehutanan UGM, dikutip dari ugm.ac.id, Rabu (14/10).
Kenapa Lahan Gambut Mudah Terbakar & Sulit Padam?
Ekosistem gambut tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia yang mencakup Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Secara ekologis, keberadaan hutan gambut penting untuk menyimpan karbon dalam jumlah besar, menjaga tata air, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Hutan gambut yang mudah terbakar tak lepas dari susunan yang membentuk. Lahan ini berasal dari tumbuhan dan dedaunan yang membusuk selama waktu yang sangat panjang dalam kondisi minim oksigen dan jenuh air. Adapun kedalaman hutan gambut di Indonesia bisa mencapai 10 meter.

Melansir laman Masoem University, keberadaan air di lahan gambut memiliki peran vital dalam menjaga ekosistem tersebut. Tugasnya menjaga kelembapan lapisan agar. Namun, air yang ada di lahan gambut tidak selalu bertahan sepanjang tahun.
Saat terjadi perubahan tata air akibat drainase, permukaan air akan turun dan gambut kehilangan kelembapan. Keringnya lahan gambut juga dapat disebabkan curah hujan rendah dan kemarau panjang.
Pada fase inilah susunan gambut yang terbuat dari bahan organik seperti sisa akar, daun, batang yang menumpuk bertahun-tahun sangat mudah terbakar jika terkena sumber api.
Melansir laporan Antaranews pada 24 Agustus 2026, kondisi gambut yang sangat kering dapat membuat sifatnya berubah sehingga lebih sulit menyerap air kembali. Namun, saat gambut mengalami kekeringan ekstrem, vegetasi berubah menjadi bahan bakar kering dan mudah terbakar.

Mengingat struktur yang berasal dari tumbuhan yang menumpuk, gambut yang terbakar tidak selalu muncul dengan kobaran api yang besar. Kebakaran yang menjalar di lapisan organik bawah permukaan tanah, umumnya menghasilkan asap yang terus menerus meski api di permukaan telah padam.
Agar api yang di dalam permukaan padam, maka petugas harus memastikan bahwa air benar-benar mencapai titik bara secara menyeluruh.
“Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan. Kondisi gambut yang mengering akan menjadi bahan bakar yang sangat efektif untuk terjadinya kebakaran yang berkesinambungan," ujar Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, Bambang Hero Saharjo, dikutip dari ipb.ac.id, Rabu, (26/8)
Dalam operasi pemadaman lahan gambut, pemadam perlu melakukan cooling dan mopping up untuk memastikan bara di bawah permukaan tidak kembali memicu kebakaran. Tanpa proses pendinginan yang menyeluruh, bara yang berada di bawah permukaan tanah dapat kembali membakar material di sekitar ang memicu kebakaran lahan berulang.
Di beberapa titik tertentu, proses cooling dan mopping up bisa berlangsung hingga sepekan setelah setelah operasi pemadaman. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kebakaran gambut yang terus menerus bisa menghasilkan asap yang mengandung berbagai partikel, polutan, hingga emisi karbon yang berdampak serius pada kesehatan.

Upaya Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut
Kerusakan lahan gambut memiliki dampak krusial bagi kehidupan. Kondisi ini dapat memengaruhi penurunan atau subsidence. Apabila terus berlangsung, sejumlah kawasan berpotensi mengalami genangan atau bahkan banjir permanen.
Sebab itu, diperlukan upaya pencegahan kebakaran lahan gambut yang berkelanjutan dan terorganisir. Salah satu pencegahan adalah restorasi ekosistem gambut berupa pembasahan kembali atau rewetting.
Cara ini penting untuk memastikan ketersediaan air di lahan gambut benar-benar terjaga. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu membangun sekat kanal (canal blocking) untuk menjaga ketersediaan air dan kelembapan di kawasan gambut.

Setidak-tidaknya, tinggi muka air pada lahan gambut berada di angka 40 cm untuk menjaga kelembapan, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.
“Pencegahan harus menjadi prioritas utama dengan menjaga gambut tetap basah, memperkuat deteksi dini, dan memastikan seluruh pihak terlibat dalam pengelolaan gambut secara berkelanjutan,” terang Bambang Hero Saharjo, dikutip dari ipb.ac.id.

Berikutnya, perlu adanya penyesuaian jenis tanaman yang dibudidayakan masyarakat dengan lahan basah yang tersedia atau paludikultur. Beberapa komoditas yang cocok untuk lahan gambut di antaranya adalah jelutung, sagu, dan purun.
Selain menjaga ekosistem gambut, cara ini dinilai dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Dalam waktu yang bersamaan, maka kelembapan gambut tetap terjaga.
“Pengelolaan gambut harus mempertimbangkan kondisi ekologisnya. Aktivitas ekonomi tetap dapat berjalan melalui pilihan-pilihan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan basah,” ungkap Elham Sumarga, pakar ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, dikutip dari laman itb.ac.id, Selasa (8/9).
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































