Menuju konten utama

Berapa Luas Hutan Kalimantan yang Terdampak Karhutla Tahun 2026?

Berapa luas hutan terdampak karhutla di Kalimantan? Berapa kerugian dari kebakaran hutan ini? Baca selengkapnya di bawah ini.

Berapa Luas Hutan Kalimantan yang Terdampak Karhutla Tahun 2026?
ilustrasi karhutla. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SIPONGI KEMENHUT) periode Januari - Juli 2026 melaporkan jumlah area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia periode Januari - Juli 2026 yaitu sebanyak 202.004,30 hektare (ha). Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 47% atau sekitar 64.996,88 ha dibandingkan tahun 2019.

Jika disandingkan dengan data karhutla tahun 2023, jumlah ini meningkat 80% atau sekitar 109.080,25 ha. Paling dekat, angka terbaru ini jika dibandingkan tahun 2025, luas area karhutla tahun 2026 naik sebesar 69 persen atau setara 82.791,04 ha.

Angka fantastis ini tidak hanya berhenti pada kalkulasi luas wilayah saja. Melainkan berdampak serius pada keseimbangan kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Apabila tidak ditangani secara serius, karhutla memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, terancamnya flora fauna endemik Kalimantan, dan kerugian ekonomi yang nyata.

Luas Hutan yang Terbakar di Kalimantan

Kebakaran hutan di wilayah Kalimantan belum juga mereda hingga Senin (12/10). Menurut data SiPongi Kemenhut periode Januari – Juli 2026 wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) menempati peringkat pertama sebagai wilayah dengan luas kebakaran tertinggi di seluruh Indonesia.

Tercatat sebanyak 38.310,86 ha lahan dilalap si jago merah di kawasan Kalimantan Barat. Jumlah ini belum termasuk luas lahan karhutla pada periode Agustus, September, dan Oktober. Itu artinya, angka tersebut akan terus bertambah jika data telah diperbarui.

Yang menyedihkan, 38.310,86 ha tersebut telah melampaui jumlah wilayah karhutla pada tahun 2025 secara keseluruhan di Kalimantan Barat yakni 26.702,81 ha.

Sementara itu, karhutla di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) periode Januari - Juli 2026 mencakup 8.019,63 ha. Jumlah tersebut hanya selisih tipis dengan data karhutla periode tahun sebelumnya yang berada di angka 11.896,38 ha sepanjang tahun.

Karhutla di Palangka Raya meluas

Petugas menarik selang saat memadamkan kebakaran lahan yang mendekati kawasan permukiman warga di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (9/10/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya menyebutkan sejak penetapan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 1 Juni hingga 8 Oktober 2026 total luas karhutla telah mencapai 1407,75 hektare dalam 832 kejadian kebakaran. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj.

Lalu karhutla di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) periode Januari – Juli 2026 seluas 7.634,46 ha, jauh mengalami peningkatan dibanding karhutla sepanjang tahun 2025 yang berada di angka 4.803,97 ha.

Berikutnya, karhutla di Kalimantan Timur (Kaltim) periode Januari - Juli 2026 tercatat seluas 2.715,76 ha. Selanjutnya, luas area karhutla di Kalimantan Utara sebanyak 400,62 ha, paling kecil dibanding beberapa provinsi Kalimantan lainnya.

Jumlah ini tentunya akan meningkat seiring diperbaruinya data terbaru periode Agustus-Oktober yang belum masuk dalam total rekapitulasi SiPongi Kemenhut. Di tambah lagi, hingga hari ini Senin (12/10) sejumlah titip api masih terpantau di berbagai wilayah.

Melansir laman Dashboard Informasi Penanganan Karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tanggal update per 11 Oktober 2026, sebaran luas lahan terbakar yaitu 35,1 ha di wilayah Kalteng, tercatat 64,8 ha terbakar di hari yang sama dan 69,1 ha di provinsi Kalsel.

Peta Kebakaran Hutan di Kalimantan

Berdasarkan laporan SiPongi Kementerian Kehutanan Senin (12/10) pukul 10.00 WIB, tercatat ada sebanyak 1.210 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional yang terpantau melalui satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.

Dari total tersebut, terdapat 224 hotspot dengan level bahaya di provinsi Kaltel, 69 hotspot level bahaya di Kalbar, dan 33 hotspot level bahaya di Kaltim. Berikutnya, 16 hotspot level bahaya di Kalsel dan hotspot di Kalimantan Utara terpantau nihil.

Menukil Dashboard Informasi Penanganan Karhutla BNPB tanggal update per 11 Oktober 2026, tercatat luas terbakar 24 jam terakhir di 6 provinsi yaitu 549,09 ha dengan 6.811 titik hitspot dan 177 titik di antaranya termasuk fire spot.

Enam provinsi tersebut mencakup Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Tercatat, fire spot atau titik api yang telah dikonfirmasi sebagai kebakaran aktif di Kalbar sebanyak 11 titik. Berikutnya fire spot di Kalteng cenderung lebih banyak yaitu 74 titik dan Kalsel 18 titik.

Peta Karhutla Kalimantan

Peta Karhutla Kalimantan. Foto/SiPongi

Data fire spot ini dapat berubah, baik bertambah maupun berkurang per harinya. Guna menangani titik api yang ada di enam provinsi, otoritas terkait telah menugaskan 53.848 personel gabungan. dengan 143,94 ha yang akan dipadamkan.

Akibat kebakaran tersebut, tingkat kualitas udara di Kalteng berada di tingkat berbahaya dengan jarak pandang kurang dari 200 meter. Sementara kualitas udara di Kalsel juga terdeteksi membahayakan dengan jarak pandang yang lebih jauh yakni kurang dari 6 km.

Sementara, kualitas udara di Kalbar berada di kategori tidak sehat dengan jarak pandang hingga 8 km. Mengingat jumlah hotspot yang bervariatif dan sangat dinamis, masyarakat diimabu untuk tetap waspada dan menjauh dari garis api yang ada.

Kerugian Akibat Karhutla

Kebakaran hutan berpotensi mengganggu berbagai macam sektor kehidupan, mulai dari dampak ekonomi, kelangsungan hidup flora dan fauna, hingga kesehatan masyarakat. Sebab, hutan memiliki peran sentral bagi kehidupan manusia dan merenggut habitat alam entitas di dalamnya.

Melansir laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup, ketidakseimbangan akibat karhutla dapat menggagung rantai makanan dan stabilitas ekosistem hutan. Hutan merupakan sumber air dan penyaring alami polutan udara. Tanpa hutan, bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor semakin mengancam.

Kerusahan hutan berdampak signifikan pada fungsinya sebagai penyerap karbon dioksida dari atmosfer. Saat hutan tidak lagi mampu menyerap karbon dioksida, maka emisi karbon akan meningkat dan mempercepat pemanasan global. Hal ini berdampak pada suhu ekstrem dan ketidakstabilan pola cuaca, yang dalam jangka panjang mengganggu keseimbangan siklus air di alam.

Menurut studi yang diterbitkan oleh Center of Economic and Law Studies (Celios), dampak ekonomi dan kesehatan akibat karhutla di Indonesia sepanjang periode Januari-Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp39,29–123,1 triliun.

Estimasi batas atas sebesar Rp123,1 triliun setara dengan 49,1 persen dari proyeksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah pada tahun 2026.

Celios menaksir biaya ekonomi akibat hilangnya aset fisik dan terhentinya aktivitas ekonomi akibat karhutla diperkirakan sebesar Rp29,54 triliun. Tak hanya itu, karhutla juga berpotensi menyebabkan hilangnya pendapatan pajak daerah senilai Rp269,86 miliar.

Karhutla juga memicu gangguan kesehatan masyarakat yang biayanya ditaksir mencapai Rp9,75 triliun, baik biaya kesehatan langsung maupun tidak langsung.

Selain dampak ekonomi di atas, karhutla juga mengancam flora fauni endemik Kalimantan yang hibitatnya berada di hutan. Melansir laman orangutan.or.id, satwa endemik yang hidup di hutan Kalimantan yaitu orangutan dan berbagai jenis burung.

 Orangutan Kalimantan

BKSDA dan YIARI Kalbar melakukan translokasi terhadap delapan Orangutan Kalimantan yang kehilangan habitat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. (ANTARA/HO : YIARI Kalbar)

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar baru saja melakukan translokasi terhadap 8 orangutan yang terdampak karhutla.

"Translokasi pada 9 Oktober 2026 itu menjadi pemindahan pertama orangutan terdampak karhutla ke habitat yang dinilai sesuai dan relatif aman dari risiko kebakaran," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Murlan Dameria Pane, dikutip dari Antara News, Minggu (11/10).

Delapan orangutan tersebut terdiri atas tiga pasangan induk dan anak serta dua individu jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sepanjang Agustus hingga September 2026.

Laporan Mongabay pada 23 September 2026 menyebut karhutla juga mengancam keberadaan hewan bekantan. Per Minggu, 13 September 2026, 11 bekantan mati, terdiri dari sepuluh dewasa dan satu anakan akibat karhutla.

Endik Kalimantan lainnya yaitu burung Bondol Kalimantan (Lonchura fuscans), burung kecil pemakan biji-bijian yang hanya hidup di hutan Kalimantan dataran rendah. Berikutnya burung Pentis Kalimantan (Proinochilus xanthopygius). Burung pemakan buah-buah kecil dan serangga ini familiar disebut burung cabai.

Selanjutnya, Lutung dahi putih (Presbytis frontata) atau masyarakat Dayak sering menyebutnya puan. Satwa ini tergolong rentan menghadapi risiko kepunahan dan ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi.

Berikutnya satwa terancam punah lainnya yaitu Owa Kalawat. Hewan ini termasuk satwa frugivore atau pemakan buah-buahan, namun juga memakan daun muda dan serangga. Selain itu, ada pula jenis reptil endemik Kalimantan yaitu Ular Kepala Nasi (Amphiesma flavifrons). Reptil ini memakan telur, kecebong, dan katak.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN HUTAN KALIMANTAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora