tirto.id - Musim hujan yang terjadi di wilayah Indonesia turut dipengaruhi oleh adanya angin monsun barat. Selain pergerakan monsun barat yang menyebabkan datangnya musim hujan, angin ini juga bisa berdampak pada aktivitas pelayaran.
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan, musim hujan akhir tahun ini bakal diawali dari wilayah Sumatra bagian utara, kemudian secara bertahap meluas ke wilayah Indonesia lainnya.
Di Indonesia angin monsun turut menentukan datangnya musim hujan dan kemarau. Mengutip artikel yang dirilis BMKG berjudul Angin: Nafas Bumi yang Menggerakkan Dunia, angin monsun memiliki jadwal rutin dan berpengaruh besar terhadap pergantian cuaca di wilayah khatulistiwa.
Sejatinya ada 2 jenis angin monsun yang turut memengaruhi pergantian musim di Indonesia, yakni angin monsun barat atau monsun Asia, serta angin monsun timur atau monsun Australia. Keduanya memiliki arah berbeda dan menyebabkan musim yang berbeda.
Angin Monsun Barat dan Musim Hujan di Indonesia
Angin monsun barat atau monsun Asia merupakan angin yang bertiup dari arah barat menuju timur, dari benua Asia bertekanan tinggi ke wilayah benua Australia yang bertekanan rendah. Angin monsun barat membawa uap air hingga dapat memicu terjadinya musim hujan.
Mengutip pamflet yang diterbitkan BMKG, berjudul Variabilitas Iklim di Indonesia, ketika musim hujan angin monsun bertiup dari Asia ke Australia. Ini menghasilkan lebih banyak uap air yang kemudian turun menjadi hujan di wilayah Indonesia.
Musim hujan di Indonesia biasa terjadi pada bulan Oktober hingga Maret. Pola angin monsun termasuk dalam sistem monsunal yang dikenal sebagai Sistem Sirkulasi Monsun Asia-Australia.
Lebih lanjut, jika merujuk pada laman Australia Indonesia Youth Association, dari bulan Oktober hingga April, angin monsun Asia bertiup dari kawasan Asia, melewati Samudra Hindia, lalu menuju benua Australia.

Dalam kondisi tersebut, matahari berada di belahan bumi selatan hingga dapat menyebabkan tekanan tinggi di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Sedangkan tekanan akan lebih rendah terjadi di kawasan Australia.
Mengacu pada Hukum Buys Ballot, angin bertiup dari tekanan tinggi (dingin) ke tekanan rendah (panas). Ketika bergerak menuju khatulistiwa, gaya Coriolis menyebabkan angin berbelok.
Angin yang melewati samudra luas mengandung banyak uap air, sehingga menyebabkan musim hujan di Indonesia dari bulan Oktober sampai April. Oleh karenanya wilayah yang dilewati mengalami curah hujan tinggi.
Tantangan Navigasi dan Gelombang Laut
Angin monsun barat yang menyebabkan musim hujan di wilayah Indonesia turut membawa dampak positif maupun negatif terhadap kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang pelayaran.
Dampak positif angin monsun barat antara lain menyebabkan tanaman lebih subur dan hijau. Karena datangnya curah hujan, petani tidak perlu menggunakan perairan buatan untuk mengairi sawah.
Hujan yang turun juga bisa mengurangi polusi udara. Lebih lanjut, musim hujan bisa mengurangi risiko kebakaran hutan, selepas kekeringan melanda selama musim kemarau.
Udara selama musim hujan juga terasa lebih sejuk dan tidak panas. Kekhawatiran dehidrasi dan kekurangan cairan yang sebelumnya dirasakan saat musim kemarau turut menurun.
Di sisi lain, jika merujuk artikel BMKG berjudul Angin: Nafas Bumi yang Menggerakkan Dunia, nelayan tradisional memanfaatkan angin monsun barat untuk melaut. Akan tetapi tantangan cuaca buruk pada umumnya justru lebih sering membatasi kesempatan melaut, hingga menurunkan jumlah tangkapan itu sendiri.
Monsun barat tidak lepas dengan tantangan gelombang laut tinggi, hingga menyebabkan terganggunya jadwal pelayaran.
Kerap terjadi jadwal pelayaran antarpulau terpaksa mengalami penundaan atau pembatalan karena cuaca buruk. Sirkulasi kapal angkut antarpelabuhan penyeberangan yang tidak lancar, juga berpeluang mengakibatkan terganggunya jalur logistik antarpulau.
Berdasar temuan Kurniawan (2012) yang dikutip oleh artikel Purwanto, dkk. (2021), selama musim angin munson yang melewati Indonesia, rata-rata tingkat gelombang laut lebih tinggi daripada selama periode transisi.
Selama musim transisi, daerah rawan gelombang tinggi di perairan Indonesia hanya teridentifikasi di sebagian Laut Cina Selatan, Samudra Pasifik, dan Samudra Hindia, khususnya bagian selatan Jawa juga Bengkulu.
Selain itu, melansir laman Ilmu Geografi, hujan yang datang terus-menerus dan cuaca buruk juga menyebabkan nelayan sulit melaut. Melaut ketika cuaca buruk jelas meningkatkan risiko keselamatan.
Mitigasi Risiko Keselamatan dan Peran Vital BMKG
Mengacu laman Britannica, curah hujan di wilayah Indonesia sangat bervariasi. Sebagian besar wilayah Indonesia menerima curah hujan lebat sepanjang tahun, dengan jumlah terbesar terjadi pada Desember hingga Maret.
Adapun curah hujan tertinggi terjadi di daerah pegunungan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Barat. Sementara itu, Kepulauan Sunda Kecil yang paling dekat dengan Australia merupakan wilayah dengan curah hujan rendah.
Sebagai tindakan mitigasi, BMKG tiap pekan menginformasikan prakiraan cuaca Indonesia untuk sepekan berikutnya. Hal ini dapat membantu masyarakat merencanakan kegiatan harian, serta mempertimbangkan potensi panas atau hujan.

Ketika periode cuaca buruk, rilis BMKG sangat membantu sebagai acuan masyarakat, termasuk untuk kegiatan pelayaran. Tak hanya prakiraan cuaca tiap pekan, BMKG melalui Direktorat Meteorologi Maritim juga memiliki Layanan Informasi Cuaca Meteorologi Maritim.
Masyarakat dapat mengakses informasi peta gelombang dengan model Inawaves untuk mengetahui kondisi perairan di Indonesia.
Selain itu, ada pula citra satelit menggunakan Himawari-9 Enhanced IR untuk mengetahui temperatur atau suhu pada tiap wilayah perairan Indonesia dan sekitarnya, beserta citra radar melalui Komposit Radar Cuaca.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id





































