Menuju konten utama

Kenapa Hujan Deras Tak Selalu Merata dan Hanya di Area Tertentu?

Kenali awan Cumulonimbus yang menyebabkan hujan lokal beserta perbedaannya dengan hujan lain.

Kenapa Hujan Deras Tak Selalu Merata dan Hanya di Area Tertentu?
ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hujan tidak selalu turun secara merata dan kerap kali hanya di area tertentu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hal ini tidak terlepas dari bentuk awan yang menyebabkan terjadinya hujan.

Awan, sebagaimana dijelaskan di laman NESDIS, terbentuk dari air atau es yang menguap dari permukaan Bumi, atau dari tumbuhan yang melepaskan air dan oksigen sebagai produk fotosintesis.

Saat menguap, air berada dalam bentuk gas atau uap air. Kemudian, uap air tersebut berubah menjadi awan ketika mendingin dan mengembun, kembali menjadi air cair atau es.

Semakin banyak air yang mengembun pada tetesan air lainnya di dalam awan, tetesan air tersebut membesar. Sewaktu tetesan air itu menjadi terlalu berat untuk tetap melayang di dalam awan, tetesan air tersebut jatuh ke Bumi sebagai hujan.

Salah satu awan yang membentuk hujan, termasuk hujan deras di area tertentu, adalah awan Cumulonimbus. Apa itu awan Cumulonimbus dan perbedaannya dengan hujan lainnya?

Apa Itu Awan Cumulonimbus?

Cumulonimbus, mengutip laman Royal Meteorological Society (RMetS), merupakan jenis awan tertinggi dari 10 jenis awan utama. Awan ini juga dikenal sebagai “Raja atau Ratu Awan”.

Awan Cumulonimbus membentang dari ketinggian beberapa ribu kaki hingga ke lapisan atas troposfer, sekitar setinggi 15.000 m (50.000 kaki). Ini termasuk awan badai yang bisa menghasilkan guntur dan kilat serta hujan es.

Dari kejauhan, awan ini cenderung menyebar di bagian atas membentuk kanopi besar. Kemudian, jika dilihat dari bawah, melansir laman World Meteorological Organization, Cumulonimbus umumnya tampak gelap.

Awan Cumulonimbus adalah jenis awan cumulus yang terkait dengan badai petir dan curah hujan lebat. Awan ini juga merupakan variasi dari awan nimbus atau awan pembawa presipitasi.

Awan Cumulonimbus

Awan Cumulonimbus. foto/istockphoto

Gugusan awan Cumulonimbus kerap menghasilkan petir di bagian tengahnya. Ini disebabkan oleh tetesan air yang terionisasi di dalam awan yang saling bergesekan. Muatan statis yang terbentuk menciptakan petir.

Perlu diketahui, awan Cumulonimbus membutuhkan kondisi hangat dan lembap untuk terbentuk. Kondisi tersebut memberikan aliran udara hangat dan lembap yang dibutuhkan untuk pembentukannya.

Kendati menghasilkan curah hujan yang deras, curah hujan biasanya hanya berlangsung sekitar 20 menit. Hal tersebut karena awan-awan Cumulonimbus tidak hanya membutuhkan banyak energi untuk terbentuk, tapi juga menghabiskan banyak energi.

Perbedaan Hujan Cumulonimbus dengan Hujan Lainnya

Perbedaan ketinggian bisa memengaruhi pembentukan awan. Awan Cumulonimbus terbentuk di bagian bawah troposfer, lapisan atmosfer yang paling dekat dengan permukaan bumi.

Penguapan dan efek rumah kaca, menghasilkan banyak arus udara hangat yang memungkinkan pembentukan awan Cumulus dan Cumulonimbus.

Sementara itu, turbulensi yang dihasilkan oleh gesekan antara udara dan permukaan Bumi, dikombinasikan dengan panas yang tersimpan dari matahari, membantu mendorong sebagian besar cuaca.

Awan Cumulonimbus sendiri biasa keliru dikenali sebagai Nimbostratus. Padahal, karakteristik curah hujan keduanya berbeda. Mengutip laman RMetS, Cumulonimbus menghasilkan hujan deras yang tiba-tiba dan umumnya berumur pendek.

Hujan yang dihasilkan awan Cumulonimbus bisa sangat lebat, disertai angin kencang dan berembus, dan cenderung bersifat lokal. Garis-garis hujan dari Cumulonimbus yang jauh dapat muncul hanya di satu wilayah di cakrawala.

Awan Cumulonimbus

Awan Cumulonimbus. foto/istockphoto

Sementara itu, Nimbostratus menghasilkan curah hujan sedang yang membutuhkan waktu cukup lama untuk datang dan waktu cukup lama untuk berlalu. Jenis awan ini juga hanya berupa hamparan awan tebal, basah, dan tak berujung.

Di sisi lain, jenis awan Cumulonimbus juga tampak identik dengan Cumulus congestus. Awan Cumulus congestus diidentifikasi sebagai Cumulonimbus segera setelah setidaknya sebagian dari bagian atasnya kehilangan ketajaman garis luarnya atau menunjukkan tekstur berserat atau bergaris.

Jika tidak memungkinkan untuk mengidentifikasi berdasarkan kriteria tersebut, apakah suatu awan merupakan Cumulus atau Cumulonimbus awan tersebut bisa diidentifikasi sebagai Cumulonimbus jika disertai dengan kilat, guntur, atau hujan es.

Hujan yang terjadi dari awan Cumulonimbus biasanya tidak berlangsung lama, hanya sekitar 20 menit, dan juga disertai dengan petir. Hal ini berbeda dengan jenis hujan lainnya yang bisa berlangsung lebih lama.

Jika merujuk pada penjelasan di laman Gakken, ada 3 kondisi yang memfasilitasi pembentukan dan perkembangan awan Cumulonimbus, yang menyebabkan adanya perbedaan tipe hujan dari bentuk awan lainnya. Ketiga kondisi tersebut sebagai berikut:

Kondisi Atmosfer yang Tidak Stabil

Kondisi atmosfer yang tidak stabil mengacu pada keadaan ketika terdapat lapisan udara dingin di atas dan lapisan udara hangat di permukaan tanah, dan perbedaan suhu antara keduanya cukup besar sehingga menyebabkan terjadinya arus udara naik yang kuat dengan mudah.

Udara Hangat dan Lembap

Sebagaimana diketahui, udara hangat dan lembap merupakan unsur terbentuknya awan. Ini sekaligus menjadi “sumber awan”.

Energi untuk Mengangkat Udara ke Atas

Energi pengangkat ini mengacu pada panas yang disebut dengan “panas kondensasi” yang dihasilkan ketika uap air menjadi air saat awan terbentuk. Panas ini menyebabkan awan mengembang, menciptakan gaya apung yang mengangkat awan lebih tinggi.

Kenapa Hujan Deras Tak Merata & Terjadi di Area Tertentu?

Fenomena hujan deras tidak merata dan terjadi di area tertentu sering disebut sebagai hujan lokal. Biasanya, tipe hujan ini berlangsung dalam waktu singkat, sekitar 15–30 menit.

Hal itu terjadi karena awan pembentuk hujan merupakan awan Cumulonimbus. Bentuk awan ini, melansir laman FMIPA UNESA (8/11/2025), sangat terlokalisasi.

Awan Cumulonimbus terbentuk dari arus udara naik (konveksi) yang hanya terjadi di titik tertentu. Karena itulah daerah yang tertutup awan ini sangat terbatas sehingga wilayah yang berada tepat di bawah awan Cumulonimbus mengalami hujan lebat, sedangkan wilayah lain tidak.

Fenomena unik tersebut bahkan bisa terjadi dalam jarak beberapa ratus meter. Area tertentu di suatu wilayah tampak basah akibat hujan, sementara area lain tetap kering karena tidak tertutup bagian aktif awan.

Potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia

Ilustrasi awal tebal. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.

Tak hanya dipengaruhi oleh awan Cumulonimbus, fenomena hujan lokal ini juga terjadi karena peran angin dan topografi. Saat awan hujan terbentuk, angin bisa mendorong awan ke arah tertentu. Itulah yang menyebabkan butiran hujan turun miring, tidak persis di bawah awan Cumulonimbus.

Kemudian, bentuk permukaan bumi atau topografi juga memengaruhi distribusi hujan. Daerah dengan perbedaan tinggi permukaan, misalnya perdesaan atau perkotaan, bisa menyebabkan aliran udara naik lokal (orografic lift) yang memicu pembentukan awan di satu sisi, sedangkan di sisi lain tetap kering.

Baca juga artikel terkait HUJAN DERAS atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora