Menuju konten utama

Apakah November 2026 Mulai Musim Hujan & di Wilayah Mana Saja?

Beberapa wilayah diprediksi mengawali musim hujan bulan November 2026, mundur dari rata-rata klimatologis. Ini sebaran musim hujan dan alasan mundur.

Apakah November 2026 Mulai Musim Hujan & di Wilayah Mana Saja?
Ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi masuk musim hujan pada periode bulan November 2026. Sedangkan sisanya baru mulai bulan Desember 2026. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor iklim global maupun regional.

Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Indonesia diprediksi datang terlambat dari rata-rata klimatologis. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yaitu El Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), dan penguatan Monsun Australia.

Beberapa wilayah yang diperkirakan mengawali musim hujan di bulan November 2026 di antaranya adalah Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, dan sebagian NTB. Sementara, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Desember, Januari, dan Februari. Hal ini tergantung sebaran Zona Musim yang ada.

Ilustrasi cuaca ekstrem badai siklon

ilustrasi hujan. Getty Images/iStockphoto

Faktor Penyebab Musim Hujan Diprediksi Mulai November 2026

Musim hujan yang diprediksi baru mulai di bulan November 2026 bukan tanpa alasan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor klimatologis yang mempengaruhi. Pertama, terjadi fase El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang sangat kuat selama periode Juni- Juli Agustus 2026 dengan nilai +2,20.

El Nino adalah fenomena iklim global yang mana suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru lebih panas daripada rata-rata normal. Pada saat yang sama, wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat (warm pool), kini Suhu Permukaan Laut (SPL) menjadi lebih dingin.

Situasi ini menjadi penyebab pertumbuhan awan menjauhi wilayah Indonesia dan bergeser ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah. Akibannya, El Nino memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia.

Fase El Nino yang bersamaan dengan musim kemarau memperparah pertumbuhan awan hujan yang semakin minim. Hal ini memicu musim hujan yang datang terlambat dari biasanya.

Berdasarkan pemutakhiran di Dasarian III sesuai unggahan @infobmkg, Minggu (4/10), nilai anomali suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di region Nino 3.4 pada periode Juli–Agustus–September (JAS) 2026 sebesar +2.70. Angka tersebut menunjukkan bahwa El Nino mengalami intensitas sangat kuat. BMKG memprediksi El Nino 2026 akan bertahan hingga awal 2027.

ilustrasi hujan

ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto

Data terbaru BMKG menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) September 2026 berada di angka +0.782. Angka tersebut bermakna bahwa IOD berada dalam fase positif. Menukil Buletin Meteorologi Oseanografi Indonesia Edisi September 2026, fase positif di akhir menyebabkan suplai uap air dari Samudra Hindia menjadi terhambat.

Akibatnya adalah sebagian wilayah barat dan selatan Indonesia (seperti Sumatra dan Jawa) mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya. Perubahan berkelanjutan pada suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat dan timur wilayah tropis ini berdampak signifikan pada pola musim di Indonesia.

Tak hanya itu, penguatan Monsun Australia masih mendukung kondisi yang relatif lebih kering di Indonesia bagian selatan. Fenomena terjadi karena tekanan udara yang sangat tinggi di benua Australia hingga mendorong massa udara dingin dan kering melintasi samudra menuju wilayah Indonesia.

Curah hujan yang berada di sebagian besar Indonesia pun mengalami penurunan dan memperlambat musim hujan. Berbagai kondisi yang terjadi bersamaan ini memberikan pengaruh terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Ilustrasi Hujan

Ilustrasi Hujan. FOTO/iStockphoto

Menurut Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 09 – 15 Oktober 2026, BMKG mengamati peluang terjadinya hujan dan pertumbuhan awan hujan tetap terbuka di sejumlah wilayah Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala regional dan lokal, seperti aktivitas spasial Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG).

Perlambatan kecepatan angin di beberapa wilayah serta suhu muka laut yang relatif hangat turut mendukung ketersediaan uap air dan proses pembentukan awan hujan. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun fenomena iklim global cenderung mendukung berkurangnya curah hujan, dinamika atmosfer skala regional dan lokal masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan.

Melansir lamanLore Lindu Bariri Global Atmospheric Monitoring Station, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kurang lebih 699 Zona Musim (ZOM) dan tersebar di seluruh wilayah. ZOM merupakan wilayah yang memiliki pola rata-rata curah hujan yang berbeda antara musim kemarau dan musim hujan.

Ilustrasi Cuaca

Ilustrasi Cuaca. foto/istockphoto

Dalam penetapannya, ZOM tidak selalu sama dengan wilayah administrasi pemerintahan. Dengan demikian, satu kabupaten atau kota sangat mungkin memiliki beberapa ZOM yang berbeda.

Menurut prediksi BMKG, sebanyak 185 ZOM (setara 24,66% luas daratan Indonesia) diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026. Musim hujan tersebut diperkirakan dimulai dari wilayah Sumatera bagian utara karena paling dekat terpapar angin monsun barat.

Perkiraan Sebaran Wilayah Musim Hujan November 2026

Mengacu dinamika fenomena iklim global dan regional yang kompleks, BMKG memprediksi awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia datang lebih lambat yang mencakup 529 ZOM atau 61,08% luas daratan Indonesia. Sementara itu, musim hujan di 26 ZOM atau 2,15% luas daratan Indonesia di perkirakan sama.

Dari pengamatan BMKG, 185 ZOM atau 24,66% luas daratan Indonesia diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026. Ssebagaimana dikutip dari unggahan Instagram @infobmkg, Kamis (8/10), cakupan wilayah yang diperkirakan mengawali musim hujan di bulan November adalah sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, dan sebagian NTB.

Berikutnya adalah sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Ilustrasi peta Indonesia

Ilustrasi peta Indonesia. FOTO/Istockphoto

Sementara, 266 ZOM atau 17,31% luas daratan Indonesia lain diprediksi mengawali musim hujan pada bulan Desember 2026. Cakupan wilayah meliputi sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, dan sebagian Kalimantan Selatan.

Lalu sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.

Menurut buku Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Indonesia, akumulasi curah hujan periode musim hujan di 510 ZOM (69,76% luas daratan Indonesia) diprediksi berada pada kategori normal atau mendekati kondisi rata-rata klimatologis.

Lalu sebanyak 147 ZOM yang mencakup 18,55% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan dengan sifat atas normal atau lebih basah dibandingkan rerata klimatologis.

Wilayah ini mencakup Sumatera, Jawa Barat bagian tengah, DI Yogyakarta bagian barat, sebagian kecil Jawa Timur, Bali bagian utara, sebagian besar NTB, sebagian NTT, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan sebagian Maluku Utara.

Sementara itu, 42 ZOM (11,69% luas daratan Indonesia) diprediksi mengalami musim hujan dengan sifat bawah normal atau lebih kering dibandingkan rerata klimatologisnya. Di antaranya Bengkulu bagian barat, sebagian kecil Jawa, dan sebagian kecil NTT.

Berikutnya Kalimantan bagian utara dan timur, sebagian kecil Sulawesi, Maluku bagian selatan, Papua Barat Daya bagian barat, Papua Barat bagian selatan, dan Papua Selatan bagian utara.

Ilustrasi hujan

Ilustrasi hujan. foto/istockphoto

Adapun puncak musim hujan diprediksi terjadi pada bulan Desember 2026 (155 ZOM; 36,94% luas daratan Indonesia) yang mencakup wilayah sebagian besar Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, dan sebagian kecil Sulawesi Tengah.

Lalu sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, dan Papua Selatan bagian barat.

Puncak hujan bulan Januari 2027 diperkirakan terjadi di 162 ZOM yang mencakup 25,68% luas daratan Indonesia terjadi di Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, dan berbagai kota lainnya.

Prakiraan cuaca

Prakiraan cuaca hujan dan berawan. FOTO/istockphoto

Sedangkan wilayah yang diperkirakan mengalami puncak hujan di bulan Februari 2027 (190 ZOM; 16,79% luas daratan Indonesia). Daftarnya Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.

Kendati begitu, 482 ZOM atau 51,90% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan 2026/2027 yang lebih pendek dari normalnya. Dari pengamatan BMKG, durasi musim hujan di Indonesia bervariasi dari 3 hingga lebih dari 33 dasarian. Indonesia bagian selatan diperkirakan memiliki durasi musim hujan yang lebih pendek daripada bagian utara.

Baca juga artikel terkait MUSIM HUJAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo