Menuju konten utama

Bahaya Tersembunyi Anemia pada Anak, Orang Tua Harus Bagaimana?

Kelompok usia bayi hingga remaja rentan mengalami anemia. Ketahui gejala, penyebab, dan peran orang tua dalam menangani anemia pada anak.

Bahaya Tersembunyi Anemia pada Anak, Orang Tua Harus Bagaimana?
Zat Besi untuk Anak. tirto.id/Quita
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan penyakit anemia masih banyak dijumpai pada kelompok usia bayi hingga remaja. Salah satu penyebab utamanya adalah kekurangan zat besi.

Mengacu data IDAI yang dipaparkan dalam konferensi pers daring, Selasa (6/10/2026), anemia anak di wilayah Jakarta dan Bekasi sudah terjadi pada usia 4 bulan, dengan persentase sekitar 20-30 persen. Pada kelompok usia 9 bulan, kasus anemia tercatat sekitar 30-40 persen. Sementara usia 1 tahun, jumlah penderita anemia tercatat sekitar 40 persen.

Selain bayi, anak sekolah juga mencatatkan kasus anemia dan defisiensi zat besi yang tinggi di wilayah Jakarta dan Bekasi. Tercatat kelompok anak usia 6-12 tahun berjumlah 14 persen. Pengidap anemia kelompok usia 10-21 tahun sebanyak 10 persen, dan kelompok usia 10-21 tahun defisiensi besi sebesar 20 persen.

Kekurangan zat besi sebenarnya kondisi umum pada anak-anak, namun jika tidak ditangani dengan tepat dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi (ADB). Anemia juga dapat memicu gangguan kesehatan lainnya.

Anemia dan Risiko Dampaknya pada Anak-anak

Anak-anak membutuhkan pasokan zat besi yang stabil seiring pertumbuhan, terutama selama periode perkembangan pesat di masa bayi dan remaja. Tanpa zat besi yang cukup, anak berisiko mengidap anemia.

Anemia adalah penyakit yang muncul akibat tubuh kekurangan zat besi. Akibatnya, jumlah sel darah merah mengalami penurunan. Bagi tubuh, zat besi penting untuk menghasilkan hemoglobin, protein yang berfungsi mengangkut dan mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Apabila zat besi tidak tercukupi, maka tidak dapat memenuhi jumlah hemoglobin yang dibutuhkan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh kekurangan oksigen. Saat anak kekurangan oksigen atau kualitasnya jelek, maka organ-organ tubuh dapat mengalami gangguan fungsi jaringan.

Melansir laman resmi idai.or.id, kekurangan zat besi umumnya terjadi pada fase akhir masa bayi dan awal masa kanak-kanak. Hal ini dipengaruhi oleh defisiensi besi saat kehamilan dan percepatan tumbuh masa kanak-kanak, tanpa dibarengi asupan zat besi dari makanan atau susu formula yang mencukupi.

Zat besi juga berperan penting dalam mendukung perkembangan sistem saraf, khususnya mielinisasi, neurotransmitter, dendritogenesis, dan metabolisme saraf. Apabila kebutuhan zat besi pada bayi tidak terpenuhi, maka berpeluang berdampak signifikan pada fungsi kognitif, tingkah laku, dan pertumbuhan anak.

Distribusi pil tambah darah untuk remaja putri

Remaja putri (rematri) siswa SMP Negeri 4 memperlihatkan pil penambah darah yang didistribusikan dinas kesehatan di Banda Aceh, Aceh, Senin (20/1/2025). ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/tom.

Anak dengan kondisi anemia defisiensi besi beresiko mengalami masalah kognitif. Hal ini berdampak pada perkembangan kecerdasan, pertumbuhan, dan fungsi otot. Anak cenderung lemas, cepat merasa lelah, dan sulit berkonsentrasi.

Selain itu, sistem kekebalan tubuh pada anak mudah menurun yang berakibat meningkatkan risiko infeksi. Dalam dunia kedokteran, anemia defisiensi besi termasuk dalam stadium III kekurangan zat besi.

Masa remaja juga rentan kekurangan asupan besi akibat percepatan tumbuh. Pada remaja perempuan, hal ini diperberat dengan hilangnya darah saat menstruasi. Sementara, bagi ibu hamil, kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko perinatal serta mortalitas bayi.

Gejala Anemia pada Anak dan Pemicunya

Gejala anemia pada anak kerap dinggap sebagai keluhan capek biasa. Banyak orang tua yang lantas mengabaikan kondisi tersebut tanpa penangan optimal. Padahal, anemia yang berkepanjangan dapat membahayakan kesehatan tubuh.

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan, gejala anemia secara umum dapat dideteksi dengan perubahan mata atau kulit yang menguning. Berikutnya, bibir terlihat pucat dan garis kelopak mata cenderung sayu dari biasanya.

Gejala anemia juga dapat diamati dari warna urine yang lebih gelap seperti teh. Lalu warna kuku yang lebih pucat, juga bisa mengindikasi adanya gejala anemia. Penyakit ini dapat diamati dari badan yang mudah lelah dan lemas.

Apabila anak cenderung rewel dan tidur siang lebih lama dari biasanya, maka jangan anggap sepele hal ini. Bisa jadi pasokan zat besi dalam tubuh memang sedang kurang. Pada tingkat yang lebih parah, gejala anemia dapat berbentuk napas terengah-engah dan jantung berdebar.

Laporan healthychildren.org menyebut anemia yang cukup parah dapat menyebabkan tubuh sakit kepala, lidah bengkak, hingga kehilangan kesadaran. Remaja yang sudah menstruasi sangat mungkin siklus mestruasinya terlambat saat anemia makin parah.

Sejumlah hal menjadi pemicu anemia pada anak. Pertama, kurangnya asupan makan bergizi yang mengandung zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein. Bayi kurang dari 1 tahun yang mengidap anemia biasanya lahir prematur, lahir kembar, atau mengonsumsi susu formula rendah besi.

Masa kehamilan juga dapat memicu terjadinya anemia pada bayi. Oleh karenanya, beberapa layanan kesehatan biasa memberikan vitamin besi untuk ibu hamil. Selain itu, siklus pertumbuhan juga memegang peranan besar. Periode pertumbuhan yang sangat pesat terutama pada tahun pertama kehidupan bayi, membutuhkan banyak zat besi.

Penyebab anemia defisiensi besi bagi bayi kurang 1 tahun biasanya karena berat lahir rendah, prematur, atau lahir kembar. Selain itu, bayi dengan susu formula yang rendah besi juga dapat memicu terjadinya anemia defisiensi besi.

Distribusi pil tambah darah untuk remaja putri

Petugas puskesmas menyiapkan pil penambah darah untuk remaja putri (rematri) di SMP Negeri 4 Banda Aceh, Aceh, Senin (20/1/2025). ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/tom.

Anemia defisiensi besi pada anak umur 2-5 tahun dapat terjadi karena obesitas, minum susu berlebih atau adanya pendarahan. Bagi anak umur 5 tahun hingga remaja yang mengalami anemia, defisiensi besi terjadi karena menstruasi berlebihan dan pendarahan lainnya.

Lonjakan pertumbuhan dari masa kanak-kanak awal hingga akhir masa remaja, juga memerlukan zat besi yang relatif banyak. Apabila tidak terpenuhi, maka berpeluang terjadi anemia. Selain itu, penyakit kronis juga dapat memicu terjadinya anemia. Beberapa jenis anemia bersifat keturunan dan tidak dapat dicegah.

Secara umum, pemicu terjadinya anemia pada anak adalah ketidakmampuan tubuh memproduksi cukup sel darah merah, kelainan sel darah merah bawaan, serta kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah.

Cara Mengatasi dan Mencegah Anemia pada Anak

Kekurangan zat besi dapat dicegah dengan beberapa langkah sederhana. Bagi bayi yang baru lahir, penjepitan tali pusar 30 hingga 60 detik lebih lama memungkinkan lebih banyak darah plasenta yang kaya zat besi mengalir dari ibunya.

Berikutnya, siapkan makanan yang kaya zat besi kepada bayi yang berusia lebih dari 6 bulan. Meski ASI makanan paling sehat bagi bayi, tetapi ASI mungkin tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan zat besi anak, terutama pada tahun pertama kehidupan. Hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan awal.

Berikutnya, hindari pemberian susu sapi pada anak yang belum genap 1 tahun. Pasalnya susu sapi dapat menyebabkan kehilangan darah melalui tinja dan menghambat penyerapan zat besi di usus.

Melansir laman Standford Medicine, pencegahan anemia dapat dilakukan dengan memberikan ASI kepada bayi hingga usia sekitar 4 bulan. Jika ASI tak mencukupi, berikan susu formula yang mengandung zat besi.

Pada usia 4 bulan, berikan suplemen zat besi tambahan. Saat anak mulai mengonsumsi makanan, pilihlah makanan sumber zat besi yang baik. Contohnya sereal, biji-bijian, kuning telur, daging merah, kentang, tomat, dan kismis. Hindari daging olahan atau makanan kemasan yang tidak sehat.

Penanganan anemia tergantung pada gejala, usia, hingga tingkat keparahan. Beberapa jenis anemia tidak memerlukan penanganan khusus. Tapi penderita yang mengalami anemia parah, mungkin memerlukan obat-obatan, transfusi darah, pembedahan, atau transplantasi sel punca.

Jika anak terlihat lebih rewel, lemas, dan banyak tertidur dari biasanya, orang tua dapat segera menghubungi layanan kesehatan terdekat. Tenaga medis biasanya melakukan pemeriksaan skrining untuk mengukur jumlah kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah dalam darah.

Makanan sumber zat besi

Makanan sumber zat besi. FOTO/iStockphoto

Bagi anak yang mengalami anemia ringan, dapat melakukan pengobatan dengan berobat jalan. Berobat jalan dapat dilakukan dengan meningkatkan asupan makanan kaya besi dan mengonsumsi suplementasi besi oral, misalnya ferrous sulfate, ferrous fumarate, atau ferrous glukonat.

Jika diperlukan, tenaga medis memberikan besi elemental sesuai dosis yang diperlukan. Suplemen ini diberikan kurang lebih 2-3 bulan. Berikutnya, dokter bakal memberikan vitamin C 2X50 mg/hari untuk meningkatkan absorbsi besi dan asam folat untuk meningkatkan aktivitas eritropoiesis.

Sebab itu orang tua perlu mengamati tanda-tanda kelelahan, lemas, pucat pada telapak tangan dan bibir, atau penurunan konsentrasi pada anak. Pastikan asupan gizi dan pola makan terpenuhi dengan baik.

Dokter juga menganjurkan perubahan pola makan jika diperlukan. Pada tingkat yang lebih parah, dokter mungkin saja melakukan tindakan parenteral jika anak membutuhkan kenaikan kadar besi yang cepat.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - GWS
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama