tirto.id - Saat memilih pakaian untuk beraktivitas, sebagian orang akan memperhatikan secara cermat warna yang dipilih. Sebab, warna bisa menjadi bentuk ekspresi yang melambangkan emosi, memicu ingatan, hingga alasan tren berpakaian.
Salah satu warna yang tengah tren yaitu warna burgundy. Warna ini sering diasosiasikan seperti anggur merah premium. Di berbagai negara, warna burgundy dikaitkan dengan gaya busana musim gugur.
Warna ini juga dilirik untuk keperluan desain interior dan furniture. Warna burgundy diperkirakan mendominasi tren mode dan desain interior di tahun 2026. Tapi pernahkah Anda mengetahui asal usul warna Burgundy? Simak ulasan lengkapnya.
Lahir dari Kebun Anggur Prancis
Kata Burgundy berasal dari bahasa Prancis, Bourgogne. Nama itu juga melekat pada sebuah wilayah penghasil anggur merah berkualitas tinggi.
Burgundy dikenal sebagai wilayah penghasil beragam jenis anggur, bukan hanya satu tipe spesifik. Anggur putihnya biasanya memiliki karakter tidak manis. Sedangkan anggur merahnya terasa lembut dan memiliki karakter pekat dan kaya rasa.
Laporan Britannica menyebut anggur Burgundy terbaik diklasifikasikan di bawah sistem Appellations d’Origine. Penggunaan nama distrik, serta nama komune, desa, dan kebun anggur spesifik, diatur secara ketat.
Distrik Yonne misalnya, dikenal sebagai penghasil anggur putih bernama Chablis. Jenis anggur putih yang sangat ringan, dan memiliki aroma yang lembut. Kebun-kebun anggur spesifik inilah yang menghasilkan anggur berkualitas terbaik. Dalam sejarahnya, anggur lezat ini umumnya dikonsumsi oleh keluarga bangsawan atau kerajaan.
Perkebunan anggur di Burgundy umumnya berskala kecil. Hingga abad ke-20, para petani anggur cenderung menyerahkan hasil panen mereka kepada pihak distributor atau pengirim untuk dibotolkan.

Ancestry.com dalam laporannya menyebut wilayah ini memiliki sejarah yang kaya dan berpengaruh, bahkan sejak zaman Romawi. Kebun-kebun anggurnya yang menghasilkan beberapa jenis anggur premium di dunia.
Di abad Pertengahan, wilayah Burgundy muncul sebagai negara yang kuat dan berpengaruh, serta memainkan peran penting dalam membentuk politik dan budaya Eropa. Istilah ini semakin populer di tahun 1800an saat anggur Prancis mulai masuk ke negara-negara berbahasa Inggris.
Selain wilayah, di masa inilah Burgundy merujuk pada warna merah yang sangat gelap dengan sentuhan warna ungu (undertone ungu) yang dihasilkan dari campuran warna merah dan sedikit biru.
Era 1920-an, warna Burgundy mulai populer di industri kosmetik khususnya untuk produk pewarna rambut. Perempuan kalangan atas atau aktris teater sering mewarnai rambut mereka dengan warna yang kaya dimensi ini untuk menampilkan kesan kemewahan, modernitas, dan daya tarik.
Pada tahun 1990-an, popularitasnya merambah industri kosmetik. Permintaan yang tinggi mendorong pabrik-pabrik untuk memproduksi lipstik berwarna burgundy. Warna ini menjadi salah satu warna lipstik paling populer dan paling diminati pada masa itu. Warna ini juga telah digunakan selama beberapa dekade untuk paspor yang diterbitkan oleh Uni Eropa.
Mengapa Burgundy Berkesan Mewah?
Dalam budaya Amerika modern, warna Burgundy diasosiasikan sebagai lambang kecanggihan, kepercayaan diri, dan kemewahan yang bersahaja. Tren busana di Amerika Serikat menjadi andalan terutama karena fungsinya yang menyerupai warna netral gelap namun tetap memberikan kesan warna yang nyata.
Kesan mewah Burgundy juga tak lepas dari hubungannya dengan wilayah penghasil anggur merah tua. Kesan awal warna Burgundy merujuk pada kebun anggur premium yang diakui secara internasional, termasuk klasifikasi Premier Cru dan Grand Cru yang terkenal.
Terlepas dari itu, warna Burgundy jauh lebih gelap dan lebih kalem daripada warna merah standar. Bobot visual ini membentuk cara orang menafsirkannya sebagai sesuatu yang dewasa, formal, atau mewah. Warna ini berbeda dengan maroon yang cenderung lebih coklat. Burgundy memiliki nuansa merah anggur atau ungu yang lebih kuat.
Daya tariknya terletak pada kemampuannya menghadirkan kesan klasik sekaligus trendi dan inovatif. Di dunia yang penuh dengan perubahan konstan, orang-orang cenderung menyukai warna yang memberikan kesan membumi namun tetap ekspresif.
Burgundy menghadirkan keduanya: kedalaman warna yang familier dan menenangkan, namun dengan sentuhan kontemporer. Warna ini menjadi tren karena memiliki fleksibilitas yang tinggi baik dalam dunia mode, desain interior, desain produk, maupun tekstil.
Dalam catatan koleksi Metropolitan Museum of Art (The Met) menunjukkan bahwa perempuan Palestina di Ramallah banyak menggunakan sulaman berwarna burgundy tua pada awal abad ke-20, sebelum beralih menggunakan benang berwarna merah lebih terang dan hitam.
Simbol Kemewahan yang Tak Lekang Waktu
Warna burgundy selalu mengingatkan jenis anggur merah tua yang lezat dari suatu wilayah di Prancis. Warna ini menawarkan nuansa merah pekat dengan sentuhan warna ungu. Jika dipadukan dengan warna abu-abu, charcoal, kuning keemasan, atau biru kehijauan karakteristik unik burgundy akan semakin menonjol.
Mengutip laporan thepamplermag.com, rona burgundy memadukan spektrum warna yang dapat beralih mulus dari siang ke malam, memberikan kemungkinan padu padan tanpa batas bagi individu yang mengikuti tren mode terkini.
Para desainer di seluruh dunia telah mengadopsi warna ini, memadukannya ke dalam koleksi mereka, dan mendefinisikan ulang perannya dalam dunia mode kontemporer.
Dari Gucci dan Ferragamo hingga desainer pendatang baru, burgundy telah menjadi elemen utama di runway dan mencuri perhatian dengan kehadirannya yang begitu kuat. Gucci Rosso memulai koleksi perdananya dengan warna khas burgundy pada setiap aspek desain, mulai dari pakaian hingga aksesori.
Hailey Bieber juga turut mengadopsi pesona burgundy dengan mengenakan sweater kasmir Khaite Nalani yang dipadukan dengan mantel The Attico serta spatu Mary Jane pumps berbahan kulit dari Proenza Schouler. Penampilannya memadukan sentuhan warna burgundy secara harmonis.

Selain itu, Kendall Jenner melengkapi penampilannya dengan kacamata hitam Gucci dan tas kulit The Row Park berwarna burgundy. Ia tampil dengan gaya santai namun berkelas casual chic saat memilih sepatu kets Onitsuka Tiger.
Pada peragaan busana Hermes musim gugur/dingin 2026, Nadège Vanhée memadukan warna oxblood dan burgundy yang berkilau ke dalam koleksi bernuansa temaram ala senja, seperti dikutip dari Vogue Arabia. Sementara itu, koleksi couture musim gugur 2026 karya Zuhair Murad mengusung warna burgundy pekat sebagai bagian dari palet bernuansa kelam yang terdiri atas rona-rona gelap nan kaya.
Di peragaan busana musim semi 2026, warna ini tampil dengan sentuhan baru. COS menghadirkan warna oxblood yang dipadukan dengan biru kobalt dalam koleksi peragaannya di Seoul. Hal ini membuktikan bahwa burgundy tidak harus terbatas hanya untuk musim gugur.
Popularitas dan tren warna burgundy diprediksi akan terus digemari tanpa mengenal musim. Warna yang terinspirasi dari wine ini menjadi jawaban dunia mode untuk tampil memukau tanpa harus mengandalkan warna-warna cerah yang mencolok.
Terbaru, beberapa jenama dunia memasukan warna burgundy dalam deretan produknya. Misalnya Apple yang merilis iPhone 18 Pro dan Pro Max dengana aksen warna burgundy. Sementara di dunia otomotif, Mazda mengeluarkan Mazda 3 Hatchback dengan seri warna burgundy.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































