Menuju konten utama

Manis Getir Senyum Messi & Amarah Ronaldo di Pengujung Karier

Messi pensiun dengan manis di Argentina, sedangkan Ronaldo menjalani takdir penuh liku di sisa karier bersama Portugal. Dua GOAT dengan dua takdir berbeda.

Manis Getir Senyum Messi & Amarah Ronaldo di Pengujung Karier
Seorang seniman memberikan sentuhan akhir pada lukisan yang menampilkan pemain sepak bola Lionel Messi dari Argentina dan Cristiano Ronaldo dari Portugal di Amritsar pada 11 Juni 2026, menjelang turnamen Piala Dunia FIFA 2026. AFP/Narinder NANU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lionel Messi menutup lembar karier internasionalnya dengan mencetak 1 gol dan 2 assist dalam laga persahabatan Argentina kontra Benin di Buenos Aires pada Rabu (7/10/2026). Pada pekan yang sama, Cristiano Ronaldo pergi dari kamp latihan Timnas Portugal untuk UEFA Nations League 2026/27 setelah silang pendapat dengan pelatih Jorge Jesus.

Messi dan Ronaldo yang total punya koleksi 13 Ballon d'Or sepanjang kariernya, berada di titik-titik terakhir karier gemilang mereka. La Pulga yang sudah selesai dengan mimpinya meraih Piala Dunia, merayakan laga terakhirnya bersama Argentina dengan tawa. Sebaliknya, Ronaldo yang masih mengejar rekor 1.000 gol, belum pasti bakal melanjutkan perburuannya di level internasional.

Dua pemain yang disebut sebagai Greatest of All Time (GOAT) ini memang tengah menjalani dua takdir yang bertolak belakang. Mungkinkah perjalanan panjang CR7 di Timnas Portugal yang penuh liku, pada akhirnya juga berbuah senyuman seperti yang dirasakan oleh La Pulga?

Messi di Argentina: Dibuka dengan Luka, Ditutup dengan Tawa

Lionel Messi menutup karier internasionalnya bersama Timnas Argentina dengan catatan emas. La Pulga meraih 4 gelar beruntun, sejak Copa America 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan dipungkasi Copa America 2024.

Untuk rekor individual, Messi mencetak total 126 gol dan 70 assist dalam 208 laga untuk La Albiceleste. Ia adalah pencetak gol terbanyak Argentina sepanjang sejarah. Ia juga jadi satu-satunya nama yang bisa meraih Golden Ball, gelar pemain terbaik, dalam 2 edisi Piala Dunia.

Namun, perjalanan Lionel Messi bersama Argentina bukanlah dongeng indah yang mulus sejak awal. Jika dirunut ke belakang, takdir La Pulga dengan seragam putih-biru muda justru diawali oleh drama yang tragis.

Timnas Argentina

Pemain Argentina Lionel Messi (10) dan rekan satu timnya merayakan setelah mengalahkan Kroasia 3-0 dalam pertandingan sepak bola semifinal Piala Dunia di Stadion Lusail di Lusail, Qatar, Selasa, 13 Desember 2022. (Foto AP / Natacha Pisarenko)

Pada 17 Agustus 2005, Messi yang saat itu masih pemuda pemalu berusia 18 tahun masuk sebagai pemain pengganti dalam laga Argentina kontra Hungaria sejak menit 63. Kurang dari dua menit kemudian, sikutnya mengenai pemain lawan saat berusaha lepas dari pitingan. Kartu merah langsung melayang buat sosok yang digadang-gadang jadi penerus Diego Maradona.

Luka dalam laga debut itu rupanya menjadi awal dari penantian panjang yang melelahkan. Selama lebih dari satu dekade kemudian, pundak Messi menanggung beban berat dari publik Argentina yang menginginkan dia sehebat Maradona: meraih Piala Dunia, membawa La Albiceleste juara.

Namun, sejarah seolah gemar mempermainkan La Pulga. Ia memang berhasil membawa Argentina ke partai final dalam 3 tahun beruntun: Piala Dunia 2014, Copa America 2015, dan Copa America Centenario. Namun, dari 3 final itu, tidak ada satu pun gelar yang mampir untuk Argentina. Semuanya berujung dengan kekalahan.

Tuntutan publik yang membabi buta serta rasa frustrasi yang memuncak sempat membuat Messi menyerah. Ia mengumumkan pensiun dari Timnas Argentina setelah final Copa America Centenario pada 2016. Namun, itu hanya istirahat singkat. Messi tak kuasa menolak panggilan jiwanya untuk mempersembahkan sesuatu kepada negaranya.

Keteguhan hati mengubah luka Messi menjadi mahakarya. Periode akhir karier sang nomor 10 bersama Argentina justru berubah menjadi episode paling manis dalam sejarah sepak bola modern. Dimulai dari Copa América 2021, trofi demi trofi mulai berdatangan seolah menembus kutukan panjang.

WCup Argentina France Soccer

Lionel Messi dari Argentina mencium trofi saat ia merayakan bersama timnya pada akhir pertandingan sepak bola final Piala Dunia antara Argentina dan Prancis di Stadion Lusail di Lusail, Qatar, Minggu, 18 Desember 2022. Argentina menang 4-2 dalam pertandingan a adu penalti setelah pertandingan berakhir imbang 3-3. (AP Photo/Hassan Ammar)

Puncaknya, dalam usia yang tak lagi muda, 35 tahun, Messi memimpin Argentina menggenggam mahkota tertinggi, Piala Dunia 2022. Bukan cuma itu, La Pulga juga menyandang gelar pemain terbaik di turnamen yang digelar di Qatar tersebut.

Musim panas ini, dalam usia 39 tahun, Messi masih menjadi roh permainan yang membawa Argentina melangkah ke partai puncak Piala Dunia 2026. Namun, memang tidak semua hal akan menyenangkan. Tidak ada pula yang sempurna. La Pulga berderai air mata memahami laga kontra Spanyol yang berakhir 0-1 di Stadion MetLife, New York, adalah partai kompetitif terakhirnya bersama Argentina.

Hari ini Rabu (7/10), Lionel Messi mengakhiri kariernya di level internasional dengan mencetak satu penalti dan mengirim 2 assist dalam kemenangan Argentina 3-0 atas Benin. Dalam laga penghabisannya, La Pulga tetap jadi pemain terbaik di lapangan. Soccerway dan FlashScore memberikan rapor 8,9 untuknya

"Merupakan kehormatan besar bisa mengenakan seragam ini selama lebih dari 20 tahun. Saya tidak pernah berhenti berjuang dan selalu mengerahkan segalanya. Bermain untuk Timnas Argentina adalah hal terindah yang bisa dialami seseorang. Saya merasa inilah saat yang tepat [untuk pensiun]," kata Messi sebagai ucapan pemungkasnya seperti dikutip MARCA.

Jalan Terjal Ronaldo Jelang Pengujung Karier di Portugal

Sebaliknya, kisah Cristiano Ronaldo bersama Timnas Portugal menyajikan romantika yang berbeda. Urusan gelar internasional, CR7 lebih dahulu meraih trofi daripada Messi. Ini terjadi dalam EURO 2016. Meski hanya bermain 25 menit karena mengalami cedera, spirit Ronaldo punya andil untuk gelar kontinental pertama negaranya sepanjang sejarah.

Portugal memang bukan negara elite urusan sepak bola jika dibandingkan dengan Brasil, Argentina, Jerman, atau Italia. Mereka pernah mencetak bintang seperti Eusebio hingga generasi emas yang dihuni Rui Costa dan Luis Figo. Namun, total 3 trofi Selecao das Quinas semuanya datang pada era Ronaldo: 1 EURO dan 2 trofi UEFA Nations League.

Bersama Portugal, Cristiano Ronaldo memecahkan rekor gol terbanyak di level internasional yang nyaris tidak mungkin disalip siapa pun: 146 gol dari 234 laga. CR7 juga jadi satu-satunya pemain yang bisa mencetak gol di enam edisi Piala Dunia beruntun, sejak 2006 hingga 2026.

Timnas Portugal

Penyerang Portugal 07 Cristiano Ronaldo mengontrol bola selama pertandingan sepak bola perempat final UEFA Euro 2024 antara Portugal dan Prancis di Volksparkstadion di Hamburg pada 5 Juli 2024. FRANCK FIFE / AFP

Namun, roda berputar keras saat waktu mulai mengikis fisik sang megabintang. Sejak Piala Dunia 2022, relasi Ronaldo dengan skuad Selecao diwarnai gesekan. Di Qatar, dalam laga terakhir fase grup, CR7 dikritik oleh pelatih saat itu, Fernando Santos, karena reaksi berlebihan saat diganti. Dalam laga 16 besar kontra Swiss, namanya tidak ada dalam starting XI Selecao, pertama kalinya terjadi sejak 2006.

Penampilan Ronaldo di EURO 2024 semakin menegaskan jarak antara keinginan keras dan kenyataan fisik. Untuk pertama kalinya sepanjang karier internasional, CR7 gagal menyarangkan satu gol pun di fase grup.

Ronaldo masuk dalam skuad Portugal di UEFA Nations League 2026/27. Namun, ia bersengketa dengan Jorge Jesus, juru taktik Selecao. Sang bintang ditarik keluar dalam laga Portugal kontra Wales pada menit 67. Ia lantas tak tampil di partai berikutnya lawan Norwegia.

Ronaldo memilih pergi kembali ke Arab Saudi, dan menulis di akun Instagramnya, "Setelah konferensi pers timnas (Portugal) dan pembicaraan dengan presiden Federasi Sepak Bola Portugal (FPF), saya memutuskan untuk meninggalkan pemusatan latihan timnas."

Freekick Cristiano Ronaldo

Kapten tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo, yang bersiap mengambil tendangan bebas dalam laga melawan Jerman di ajang UEFA Nations League. (IMAGO/MIS via Reuters Connect)

Rabu (7/10) dini hari, pada masa ketika penggemar Argentina menunggu laga terakhir Lionel Messi, Ronaldo membuat pernyataan panjang di akun IG miliknya soal sengketa dengan Jorge Jesus. Ia merasa dibohongi oleh sang pelatih, tetapi menegaskan dirinya masih tersedia untuk Timnas Portugal.

"Jadi, jika saya bugar secara fisik, (masih bisa) bermain dengan tim saya (di level klub, Al Nassr) dan semoga masih bisa mencetak gol, setelah masa skorsing saya (yang mungkin diberikan oleh Timnas Portugal) berakhir, saya akan tersedia, seperti yang selalu saya lakukan, untuk bertanding dan menang dengan Timnas," tulisnya.

Bagi Ronaldo, sepak bola adalah pertempuran tanpa henti melawan angka dan rekor. Ia sudah membawa Portugal jadi kampiun 3 trofi, sesuatu yang belum terjadi di negara tersebut sebelumnya. Di samping itu, ia sudah mengukir 979 gol yang tinggal seujung lagi untuk mencapai rekor 1.000 gol.

Ronaldo adalah seorang pemenang. Oleh karenanya, yang ia lakukan adalah menantang takdir meski harus melangkah di atas jalanan yang terjal nan penuh liku. Meski pergi dari kamp latihan Selecao, ia masih ingin kembali: membuktikan hingga detik terakhirnya, sang penyerang ulung memang tidak pernah menyerah pada apa pun jua.

Baca juga artikel terkait SC BOLD atau tulisan lainnya dari Fitra Firdaus

tirto.id - Olahraga
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Iswara N Raditya