tirto.id - Timnas Voli Putra Indonesia sempat merajai bola voli Asia Tenggara saat meraih medali emas SEA Games 3 edisi berturut-turut pada 2019, 2021, dan 2023. Pada edisi 2025, tim yang kembali dilatih Jeff Jiang Jie bahkan jadi unggulan teratas untuk kembali membawa medali emas usai mencatat hasil sempurna sebelum final menghadapi Thailand.
Sayang, saat segalanya berjalan begitu mulus, medali emas yang sudah di depan mata justru gagal digenggam. Farhan Halim dan kawan-kawan kalah dari Thailand di final SEA Games 2025 yang berlangsung di Bangkok, Thailand. Itu juga mengakhiri dominasi Indonesia di Asia Tenggara.
Kegagalan mempertahankan medali emas membuat Jeff Jiang Jie dicopot dari jabatan pelatih kepala Timnas Voli Putra Indonesia pada Desember 2025. Imam Sudjarwo selaku Ketua Umum PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia), kemudian menyebut penggantinya merupakan pelatih dari Brasil.
Tapi, pernyataan Imam tidak kunjung menjadi kenyataan. Timnas Voli Putra Indonesia bahkan tidak memiliki pelatih selama berbulan-bulan, ketika mereka sedang disiapkan mengikuti sejumlah kejuaraan dari AVC Nations Cup, SEA V-Cup hingga Asian Games 2026. Walau skuad sementara sudah diumumkan, tetapi tidak dengan pelatihnya.
Pada 7 Mei 2026, PB PBVSI akhirnya mengumumkan Sergio Veloso, bekas pelatih Filipina yang dianggap gagal kala membesut Alas Pilipinas. Walau begitu, Veloso dipercaya memimpin Timnas Indonesia. Tugas pertamanya adalah AVC Cup 2026 di Ahmedabad, India, pada 20-28 Juni 2026.
Para pemain sudah berkumpul untuk persiapan untuk AVC Cup 2026. Namun, ada yang berbeda selama beberapa hari, karena Farhan Halim dan kawan-kawan melakukan pemusatan latihan, tanpa didampingi pelatih.
Usut punya usut, Sergio Veloso tidak bisa datang ke Indonesia karena visa kerja yang tak kunjung terbit. Rupanya PB PBVSI sudah mengumumkan namanya lebih dulu sebelum administrasi selesai. Alih-alih melengkapi berkas yang dibutuhkan, organisasi tertinggi dalam bola voli tanah air itu mengambil langkah tak terduga, mengganti pelatih kepala dari Sergio Veloso kepada Reidel Toiran yang sudah puluhan tahun bekerja di Indonesia.

Juara AVC Volleyball Cup Kala Tak Diperhitungkan
Setelah diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia, Reidel Toiran langsung menjalankan tugas dalam tempo singkat. Oleh karena berpengalaman di kancah bola voli Indonesia, terutama menukangi Jakarta Bhayangkara Presisi membuat Toiran tak banyak beradaptasi. Apalagi, sebelum menekuni dunia kepelatihan, dia cukup lama memperkuat tim Surabaya Samator di Proliga semasa jadi pemain.
Pengalaman di dunia bola voli nasional pun memudahkan Reidel Toiran dalam meramu tim. Walau pemain-pemain senior macam Rivan Nurmulki, Nizar Julfikar hingga Rendi Tamamilang tak lagi di Timnas Indonesia, tetapi pemain seperti Farhan Halim, Alfin Daniel, dan Raden Ahmad Gumilar merupakan anak asuhnya di Bhayangkara Presisi.
AVC Cup 2026 sendiri bukan turnamen utama dalam bola voli Asia. Negara-negara kuat seperti Iran, Jepang dan Cina yang tampil di Volleyball Nations League, tidak ambil bagian. Begitu pula dengan kekuatan baru seperti Afghanistan yang memilih tidak ambil bagian.
Walau begitu, ada tuan rumah India, Thailand, Korea Selatan hingga Qatar yang memiliki kekuatan setara bahkan di atas Indonesia. Situasi itu membuat Farhan Halim dan kawan-kawan tidak diunggulkan. Terlebih di laga pertama Garuda digebuk Korea Selatan 3 set langsung 22-25, 22-25, 21-25.
Ekspektasi terhadap kiprah Timnas Indonesia di AVC Volleyball Cup 2026 pun turun. Lolos ke semifinal rasanya mustahil setelah kekalahan dari Korea Selatan, apalagi bermimpi mengangkat gelar.
Namun, ketika mencapai titik nadir Timnas Indonesia justru menemukan cara ajaib untuk menyemai harapan. Farhan Halim dan kawan-kawan secara dramatis menang 5 set melawan Qatar 3-2, kemudian Thailand 3-2. Garuda lantas menutup fase grup dengan mengalahkan Oman 3-1 untuk lolos ke semifinal sebagai runner-up grup.
Kejutan Indonesia rupanya belum berhenti di situ. Menghadapi tuan rumah India di semifinal, Indonesia kembali menggebrak dengan kemenangan 3-2. Sempat kesulitan di set pertama dan kalah 15-25, Farhan Halim dan kawan-kawan kemudian bangkit untuk membalikkan keadaan 26-24, 25-20, 19-25 dan 15-13. Padahal, sepanjang AVC Volleyball Cup 2026, India selalu mencatat kemenangan di fase grup dan hanya kehilangan 1 set.

Puncaknya adalah laga final yang mempertemukan Indonesia dengan Korea Selatan lagi. Kalah 3 set langsung pada pertemuan pertama, ketika mengawali turnamen, Farhan Halim dan kawan-kawan kemudian melakukan revans dengan pembalasan yang setimpal. Korea Selatan digebuk 3 set langsung 34-32, 25-16 dan 25-23 untuk memastikan Garuda juara AVC Volleyball Cup untuk pertama kali.
Gelar AVC Volleyball Cup 2026 lantas membuat pengurus PB PBVSI senang bukan kepalang. Sergio Veloso yang semula diupayakan tetap bisa bekerja di Indonesia, tidak dihiraukan lagi. Imam Sudjarwo kemudian menegaskan Reidel Toiran bakal memimpin Timnas Indonesia di beberapa ajang bola voli berikutnya seperti SEA V-Cup dan Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya.
Reidel Toiran yang tidak pernah masuk rencana PB PBVSI justru jadi sosok paling berjasa dalam kebangkitan Timnas Voli Putra Indonesia di AVC Volleyball Cup 2026. Walau begitu, dia tetap menegaskan bahwa pemainlah yang memiliki andil besar dalam sukses yang dibuat Indonesia.
"Semua menjalankan tanggung jawabnya dengan sangat baik. Kalau ada pemain yang kondisinya kurang fit, kami mencoba melakukan pergantian. Baik pemain muda maupun senior sama-sama memberikan kontribusi sehingga akhirnya kami bisa menjadi juara Asia," kata Reidel Toiran.
Gagal Memenuhi Ekspektasi di SEA V-Cup
Setelah mendapatkan perpanjangan kontrak, tugas pertama Toiran adalah membawa Indonesia berprestasi di SEA V Cup, turnamen bola voli antarnegara Asia Tenggara. Indonesia menjadi tuan rumah leg 2 pada 22-26 Juli, sedangkan leg 1 digelar di Filipina pada 15-19 Juli.
Di SEA V Cup, Indonesia merupakan salah satu negara tersukses dengan 3 gelar juara bersama Thailand. Indonesia juga merupakan juara bertahan berkat keberhasilan menjadi yang terbaik di leg 2 tahun 2025.
Rekor mentereng di ASEAN dan baru saja juara AVC Volleyball Cup membuat ekspektasi kepada Timnas Indonesia melambung tinggi. Terlebih, sejumlah pemain kunci termasuk pemain muda macam Putra Bagus dan Fauzan Nibras juga tetap ada dalam skuad.
Namun, anak-anak muda yang jadi tumpuan di AVC Volleyball Cup rupanya belum mampu memikul ekspektasi. Fauzan Nibras yang tampil presisi ketika menjadi pelapis Rama Fazza Fauzan di AVC Cup gagal menunjukkan performa terbaiknya saat diplot sebagai hitter utama. Begitu pula dengan Putra Bagus.
Indonesia sebetulnya memulai SEA V-Cup 2026 leg 1 cukup bagus di fase grup. Bahkan, hingga semifinal Farhan Halim dan kawan-kawan tidak pernah kalah, bahkan belum kehilangan 1 set pun.
Ketika semua mengira gelar juara sudah di tangan, karena lawan yang dihadapi di final adalah Kamboja, nasib seolah berbalik menghantam Indonesia. Di final leg 1, menghadapi Kamboja yang bahkan tidak punya ranking FIVB, Indonesia kalah dramatis 23-25, 26-28, 25-23, 25-22 dan 11-15.
Walau gagal juara, Indonesia belum patah arang. Di leg 2 yang digelar di kandang sendiri, optimisme juara SEA-V Cup 2026 lebih tinggi lagi. Indonesia pun menunjukkannya di fase grup dengan mengalahkan Kamboja 3-0 dan Filipina 3-1. Namun, plot twist kembali terjadi.
Di babak semifinal, menghadapi Vietnam yang tidak pernah menang atas Indonesia, Farhan Halim dan kawan-kawan justru kedodoran. Permainan alot anak asuh Federico Rampazzo membuat Indonesia frustrasi. Hasilnya, Indonesia kalah dan untuk pertama kalinya dalam sejarah gagal melaju ke final SEA V-Cup.
"Kami tidak mau kalah apalagi di hadapan pendukung sendiri. Mau gimana lagi, kami sudah berjuang sebisa mungkin. Kami sudah mencoba berbagai hal tapi hasilnya belum rezeki," kata outside hitter Farhan Halim dilansir dari Antara.

Gagal Dramatis di Asian Games 2026
Keberhasilan di AVC Cup dan kegagalan di SEA V Cup menjadi pelajaran penting Timnas Voli Putra Indonesia jelang Asian Games 2026. Tidak mudah karena Indonesia berada satu pool dengan Iran, Thailand, dan Kirgistan.
Sejak awal, rasanya para pemain dan pelatih sepakat bahwa laga melawan Thailand akan menjadi kunci berhasil atau tidaknya Indonesia lolos ke perempat final. Sebab di laga lainnya, Indonesia dan Thailand diprediksi menang dari Kirgistan, tapi juga diprediksi sama-sama kalah dari Iran.
Laga pertama melawan Thailand pun seolah penentuan Timnas Indonesia lolos ke babak 8 besar bola voli putra Asian Games 2026, atau gugur. Hasilnya, Farhan Halim dan kawan-kawan kalah dengan cara dramatis. Di set 5, Indonesia sempat menang 17-15, tetapi challenge sukses yang dilakukan Thailand membuat laga berlanjut. Sampai akhirnya, Thailand yang berhasil menang usai menutup set 5 dengan 23-25.
Benar saja, kekalahan dramatis dari Thailand 2-3 menjadi penentunya. Pada laga berikutnya, Indonesia menang dari Kirgistan 3-0 dan Thailand kalah dari Iran 0-3. Di laga terakhir, Thailand bermain lebih dulu dan menang mudah atas Kirgistan 3 set langsung, sehingga satu-satunya pilihan Indonesia adalah mengalahkan Iran.
Di atas kertas, Indonesia mengalahkan Iran adalah hasil yang mustahil. Namun, keajaiban sepertinya akan berpihak kepada Indonesia ketika mampu menang di 2 set awal. Indonesia butuh 1 kemenangan set lagi untuk lolos, ketika permainan dan percaya diri pemain sedang bagus-bagusnya.
Namun, harapan itu perlahan menguap. Iran bangkit untuk menang di set ketiga 25-21, kemudian 25-19 di set keempat. Di set kelima, Indonesia sempat memiliki harapan lagi ketika mencapai match poin lebih dulu 14-13. Namun, Iran segera mengembalikan harapan yang membumbung tinggi, jatuh ke bumi. Iran menang 17-15 di set kelima sekaligus memastikan Indonesia gagal melaju ke babak 8 besar.
Pada akhirnya, Indonesia berjuang di babak klasifikasi peringkat dan menutup turnamen di posisi 15. Hasil yang jauh dari harapan federasi dan penggemar bola voli Indonesia yang semula mengira bola voli putra Indonesia telah bangkit setelah juara AVC Volleyball Cup 2026.
Reidel Toiran yang semula dianggap pahlawan, tidak lagi menukangi Timnas Bola Voli Putra Indonesia. Dia kembali ke Bhayangkara Presisi untuk persiapan FIVB Club World Championship 2026 atau Kejuaraan Dunia Antarklub FIVB 2026. Sementara itu, Timnas Indonesia untuk kesekian kalinya tidak memiliki pelatih.
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id


































