tirto.id - Dominasi China sebagai juara umum Asian Games sejak 1982 masih terus berlanjut hingga 2026. Tahun ini, bahkan sebelum kejuaraan berakhir selisih dari runner-up, Jepang, sangat masif. Koleksi emas China hingga Minggu (4/10/2026) pukul 05.00 WIB adalah 169 emas atau 2 kali lipat dari Jepang yang 83 emas.
Di antara cabang olahraga (cabor) yang paling menonjol untuk perolehan medali China adalah renang. Untuk cabor ini saja, China mengoleksi total 54 medali dengan rincian 30 emas, 13 perak, dan 11 perunggu.
Cabor atletik menyumbangkan total 39 medali, dengan rincian 17 emas, 14 perak, dan 8 perunggu. Olahraga menembak punya 28 medali, 16 di antara emas, diikuti 8 perak dan 4 perunggu.
China juga menorehkan lebih dari 10 medali untuk cabor diving (16 medali), cycling track (14 medali), senam artistik (13 medali), hingga tenis meja (11 medali).
Di cabor badminton, China memang harus kalah di nomor beregu putra lawan Indonesia. Namun, secara keseluruhan, China tetap keluar sebagai juara umum dengan 2 emas, 3 perak, dan 3 perunggu.
Dominasi China di Asian Games bukan hanya terjadi sekali ini saja. Total sudah 12 edisi beruntun kontingen negara tersebut keluar sebagai juara umum Asian Games sejak 1982. Edisi terakhir kala China tak menempati peringkat pertama adalah Asian Games 1978 di Bangkok, Thailand, kala Jepang jadi yang terdepan.
Sejarah Dominasi China di Asian Games, Tak Terbendung Sejak 1982
Mengutip laman Olympic Council of Asia (OCA), China pertama kali mengikuti ajang Asian Games pada 1974 silam. Dalam kompetisi multi cabor yang berlangsung di Teheran, Iran itu, mereka meraup 105 medali dan duduk di peringkat ketiga.
Performa China meningkat di Asian Games 1978 Bangkok. Mereka berhasil mengambil alih posisi nomor kedua dengan memegang 151 medali di bawah Jepang.
China pertama kali jadi juara umum Asian Games kala ajang tersebut digelar di New Delhi, India, pada 19 November-4 Desember 1982. Ketika itu, China memiliki 61 emas, 51 perak, dan 41 perunggu. Jika melihat jumlah medali secara keseluruhan, China sejajar dengan Jepang yang sama-sama 153 medali. Namun, China unggul 4 emas dari saingannya sesama negara Asia Timur.

Tradisi juara umum China mulai terukir di Asian Games 1986 Seoul, Korea Selatan. Mereka memperoleh 222 medali dengan rincian 94 medali emas, 82 medali perak, dan 46 medali perunggu.
Tanda dominasi China di Asian Games mulai terlihat di edisi 1990 dengan perolehan 183 emas dan total 341 medali. Mengutip laman Hangzhou 2022, China yang kala itu untuk pertama kali menjadi tuan rumah Asian Games, berhasil mencatatkan rekor baru dengan melewati ambang batas 100 emas dan 300 medali total dalam satu edisi.
Dalam edisi-edisi berikutnya, China semakin tidak terbendung. Di Asian Games 1994, mereka mendapatkan 126 emas dan total 266 medali. Ini dilanjutkan dengan Asian Games 1998 dengan perolehan 129 emas dan total 274 medali.
Di Asian Games 2002 dan 2006, China mengumpulkan lebih dari 300 medali dengan rincian 308 medali saat di Busan (150 emas) dan 316 medali (165 emas) di Doha.
Prestasi negeri tirai bambu tidak menyurutm malah lebih tinggi lagi pada Asian Games 2010. China kembali mencatatkan rekor baru lantaran melewati ambang batas 400 medali, tepatnya 416 medali, di antaranya terdapat 199 emas, 119 perak, serta 98 perunggu. Dominasi ini terus berlanjut di Asian Games 2014 alias edisi ke-17 berkat perolehan total 345 medali.
Kekuatan China terletak di menembak, renang, atletik, senam (gymnastic), dan dayung (rowing). Sebagai contoh, di Asian Games 2018, mereka berhasil mengantongi 50 medali dari renang dan 33 dari atletik, atau 83 dari total 289 medali.
Hal yang sama berlaku pula dalam Asian Games 2022, yang dihelat telat pada 2023 lantaran adanya masalah pandemi. Dari total 383 perolehan medali China, 58 medali di antaranya datang melalui renang ditambah 39 medali atletik.
Dalam Asian Games XX atau edisi ke-20 di Nagoya, Jepang, keperkasaaan itu berlanjut. Ini melengkapi sejarah 42 tahun China tidak pernah terkalahkan dari posisi juara umum Asian Games atau merentang dalam 12 edisi.
China Selalu Juara Umum Asian Games di 12 Edisi
Salah satu pencapaian China yang paling mencolok di Asian Games 2026 adalah di cabor diving. Cabor ini memiliki 10 nomor, yaitu 1 m springboard, 3 m springboard, 10 m platform, synchronized 3 m springboard, dan synchronized 10 m platform kategori putra dan putri. Total 10 nomor itu dimenangi oleh atlet China. Dan, ini bukan kali pertama terjadi.
Tercatat sudah 52 tahun beruntun China tidak pernah kalah barang satu nomor pun di cabor diving sejak penampilan pertama pada 1974 lalu.
Chen Yiwen, yang memenangi nomor 3 m springboard individual dan synchronized 3 m springboard bersama Chen Jia, menyebut disiplin dan latihan tanpa henti jadi kunci utama.
"Atlet putri sama mampunya dengan atlet putra. Kami juga terus memacu diri untuk melakukan gerakan dive yang lebih sulit. Porsi latihan kami tidak kalah berat dibandingkan atlet putra," papar Chen dikutip Al Jazeera.
Kegigihan dan keuletan atlet China tidak terlepas pula dari sistem yang dibangun oleh negara mereka yang dikenal dengan istilah Juguo Tizhi, atau sistem seluruh bangsa. Melalui kebijakan ini China memobilisasi sumber daya negara secara terpusat demi sasaran tunggal. Dalam konteks olahraga, tujuannya adalah memupuk kejayaan olahraga di panggung internasional.
Sebagaimana dijelaskan Ma dan Kurscheidt (2021), struktur pembinaan prestasi olahraga Tiongkok bertumpu pada tiga tingkatan utama. Sekolah olahraga khusus pemuda di tingkat dasar bertindak sebagai fondasi awal untuk menjaring dan membina bakat. Ini dilanjutkan dengan tim tingkat provinsi yang menjadi tulang punggung utama, serta tim nasional yang berfungsi sebagai puncak performa di panggung kejuaraan internasional.
Melalui fondasi pembinaan berjenjang inilah mesin olahraga China secara konsisten menyetor atlet-atlet bertalenta di berbagai cabor. Skema pembinaan yang terstruktur dan didukung penuh oleh negara tersebut menjamin regenerasi atlet terus berjalan tanpa putus. Dengan talenta yang terus bermunculan, China tidak kesulitan untuk mempertahankan dominasi mereka di ajang seperti Asian Games.

Tidak mengherankan jika Yu Zidi, atlet muda berusia 13 tahun, berhasil meraup 3 medali emas cabor renang di Asian Games 2026. Selain gaya kupu-kupu jarak 200 meter, ia juga jadi yang pertama untuk individual medley nomor 200 meter dan 400 meter.
China juga melakukan pendekatan alokasi sumber daya yang terarah. Di satu sisi, negara secara konsisten menjaga dominasi di level Asia untuk cabor tradisional berbasis ketangkasan teknik seperti diving, senam artistik, dan tenis meja. Di sisi lain, China menjalankan Project 119 guna mendongkrak performa cabor penyumbang medali terbanyak seperti atletik, renang, dan dayung untuk level Olimpiade.
Sistem Juguo Tizhi memang tidak luput dari kritik internasional terkait tekanan fisik dan mental pada atlet muda. Namun, sistem ini ampuh dalam membangun kekuatan olahraga China. Porsi latihan yang intensif dan penyaringan bakat dari skala terkecil bertahun-tahun menghasilkan pasokan atlet berprestasi yang berkesinambungan.
Rekor China mempertahankan gelar juara umum Asian Games selama 12 edisi beruntun sejak New Delhi 1982 hingga Nagoya 2026 menjadi bukti nyata keberhasilan perencanaan olahraga terpusat negara tersebut.
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id

































