tirto.id - Timnas Indonesia beruntung tidak kalah dari Malaysia di matchday 2 Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 Divisi 1. Bermain di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (28/9/2026), tim besutan John Herdman bisa memaksa laga berakhir imbang tanpa gol.
Timnas Indonesia memang beruntung tidak kalah dari Malaysia karena bermain dengan 10 orang sejak menit 37. Thom Haye yang kesulitan menunjukkan performa terbaik sejak awal laga, melakukan takel keras kepada pemain Malaysia hingga diganjar kartu merah.
Tampil dengan 10 pemain lantas membuat Garuda digempur habis-habisan oleh Malaysia hingga peluit akhir. Beruntung, penampilan heroik Maarten Paes, di bawah mistar gawang mampu menjaga gawang Indonesia tidak kebobolan.
Walau begitu, hasil itu dirasa tidak cukup. Pasalnya, Indonesia tampil dengan skuad terbaiknya. Pemain-pemain diaspora yang sempat absen membela Garuda hadir di FIFA ASEAN Cup 2026. Tapi, John Herdman dianggap gagal memaksimalkan potensi pemain.
Janji Manis Lolos Piala Dunia 2030
John Herdman diperkenalkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 3 Januari 2026. Dia didapuk menggantikan Patrick Kluivert yang gagal membawa Garuda lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Targetnya pun tidak main-main yakni membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030.
Latar belakang Herdman tidak buruk. Ia sukses membawa Timnas Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar. Kala itu, Kanada sudah lama absen di Piala Dunia sejak berpartisipasi di Piala Dunia 1986 di Meksiko, alias 32 tahun sebelum Piala Dunia 2022.
Walaupun di putaran final Kanada langsung gugur di fase grup, pencapaiannya dianggap luar biasa. Apalagi, dia melakukan regenerasi pemain dan menyisakan Atiba Hutchinson, sebagai satu-satunya pemain yang berusia di atas 30 tahun dalam skuadnya.

Sebelum membawa Timnas Putra Kanada ke Piala Dunia 2022, Herdman juga membawa Timnas Putri Les Rouges ke Piala Dunia Wanita 2015. Tak ayal, nama John Herdman pun harum di Kanada sebagai pelatih yang punya reputasi bagus.
Cerita sukses John Herdman bersama Timnas Kanada, kemudian coba diambil PSSI untuk mengembalikan kepercayaan publik sepak bola tanah air. Apalagi, kala itu PSSI tengah mendapat banyak kritikan karena mengganti Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert dalam upaya lolos Piala Dunia 2026.
Dalam sebuah artikel di laman Kita Garuda, portal berita resmi Timnas Indonesia, John Herdman digambarkan sebagai pelatih level Piala Dunia. Organisasi pimpinan Erick Thohir itu pun bekerja keras membangun kembali kepercayaan publik, agar percaya kepada John Herdman.
"Herdman bukan sekadar pelatih, melainkan arsitek berpengalaman membawa team ke Piala Dunia. PSSI menyambut antusias kehadiran pelatih berusia 50 tahun tersebut. Ragam rekam jejak Herdman menjadi alasan utama penunjukan ini. Ia tercatat sebagai satu-satunya pelatih di dunia yang berhasil membawa tim nasional putra dan putri dari satu negara lolos ke Piala Dunia FIFA," demikian kutipan artikel di laman Kita Garuda.
Saat diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia, John Herdman pun coba mengambil hati penggemar sepak bola Indonesia dengan kata-kata manis. Menurutnya, negara seperti Indonesia yang memiliki penggemar sepak bola fanatik pantas tampil di Piala Dunia.
"Saya melihat peluang di Indonesia dan saya merasa sangat yakin bahwa kelompok penggemar dan masyarakat di sini pantas berada di panggung tertinggi sepak bola dunia. Pengalaman beradaptasi dengan budaya yang berbeda adalah bagian dari memahami dan menghayati sepak bola di sebuah negara, menjadi faktor besar dalam upaya meloloskan tim ini ke Piala Dunia 2030," tutur John Herdman.
Ucapannya pun jadi harapan baru, dan seperti yang diharapkan, John Herdman mulai mendapat dukungan suporter. Debutnya pun cukup menjanjikan karena mampu membawa Indonesia menang 3-0 atas Oman, tim yang memiliki ranking FIFA di atas Indonesia.
Kini setelah 10 pertandingan berlalu di bawah komando John Herdman, performa Timnas Indonesia cenderung stagnan. Walau 6 kali meraih kemenangan, 2 hasil imbang dan baru 2 kali kalah, tetapi Garuda di bawah John Herdman kerap gagal menang di laga-laga krusial.

Indonesia tercatat menang dari St. Kitts & Nevis 4-0 (FIFA Series), Oman 3-0 dan Mozambik 1-0 (friendly match). Kemudian Kamboja 5-1 dan Timor Leste 3-0 (Piala AFF), serta Singapura 2-0 (FIFA Asean Cup). Dua hasil imbang diraih dari Singapura 1-1 (Piala AFF) dan Malaysia 0-0 (FIFA ASEAN Cup). Sedangkan dua kekalahan diderita dari Bulgaria 0-1 (FIFA Series) dan Vietnam 0-3 (Piala AFF).
Bila melihat hasil akhir, performa Timnas Indonesia di bawah John Herdman tidaklah buruk. Masalahnya adalah performa tim dari laga ke laga cenderung merosot. Padahal, dia diharapkan mampu memberikan progres yang lebih baik kepada Garuda.
Dalam 4 laga awal melawan St. Kitts & Nevis, Bulgaria, Oman, dan Mozambik, Herdman bisa menumbuhkan keyakinan suporter dengan permainan yang apik. Begitu juga di dua laga pertama Piala AFF melawan Kamboja dan Timor Leste.
Namun, saat menghadapi tim yang memiliki kualitas sepadan, performa jauh dari harapan. Timnas Indonesia kalah dari Vietnam 0-3 di kandang sendiri, kemudian ditahan imbang Singapura saat dituntut wajib menang agar bisa lolos ke semifinal Piala AFF 2026.
Sontak saja, tekanan hebat tertuju kepada Herdman, para pemain, dan tidak lupa Ketum PSSI, Erick Thohir atas hasil buruk yang diperoleh Timnas Indonesia. Tapi, saat itu Herdman berjanji akan memperbaiki semuanya di FIFA ASEAN Cup 2026.
"Kami akan membenahi semua itu dan kembali dengan semangat baru, benar-benar semangat yang baru," kata Herdman dikutip dari Antara seusai gagal di Piala AFF 2026.
Sayangnya, belum ada perubahan signifikan yang ditunjukkan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 sejak Piala AFF 2026. Walau menang dari Singapura 2-0, permainan timnas dinilai belum memuaskan.
Kritik pun semakin kencang setelah Indonesia gagal mengalahkan Malaysia. Herdman dinilai belum bisa memaksimalkan potensi skuadnya dan timnya terancam gagal lolos ke final. Padahal, Indonesia mendapatkan target juara di FIFA ASEAN Cup 2026.

Gagal di Piala AFF, Bisa Juara FIFA ASEAN Cup?
Timnas Indonesia saat ini berada di peringkat 2 klasemen Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 Divisi 1 dengan koleksi 4 poin. Malaysia ada di peringkat pertama dengan 4 poin juga, namun unggul selisih gol dari Ole Romeny dan kawan-kawan.
Regulasi FIFA ASEAN Cup 2026 hanya memberikan tiket ke babak final bagi juara grup. Artinya jika ingin mewujudkan target juara turnamen, Indonesia harus menjadi juara grup lebih dulu. Syaratnya, Indonesia harus menang saat menghadapi Bangladesh dengan mencetak gol sebanyak-banyaknya.
Saat ini, Indonesia punya selisih gol +2 (2-0) sedangkan Malaysia +3 (3-0). Sebagai informasi bahwa aturan head to head tidak bisa diterapkan untuk Indonesia dan Malaysia karena hasil imbang 0-0 di matchday 2.
Beban itu tentu akan tertumpah ke pundak para pemain dan Herdman sebagai pelatih. Apalagi Herdman dihantui bayang-bayang kegagalan di Piala AFF 2026. Menjadi salah satu favorit, Indonesia kala itu justru gugur di babak grup dengan performa tidak meyakinkan.
Performa yang kurang maksimal juga terjadi di laga pertama FIFA ASEAN Cup 2026 kontra Singapura. Kendati menang 2-0 melalui gol Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny, tapi secara statistik Indonesia masih tidak dalam performa terbaiknya.
Indonesia mendominasi laga dengan catatan 57 persen ball possession saat berjumpa Singapura. Total ada 11 tembakan dari Indonesia, namun hanya menorehkan 2 shots on target walau selalu terkonversi menjadi gol.
Begitu pula saat melawan Malaysia, laga yang dilabeli oleh suporter dengan status wajib menang karena rivalitas yang ada. Kecuali fakta Indonesia harus bermain dengan 10 orang sejak babak pertama, tidak ada hal lain yang bisa dijadikan alasan Indonesia gagal mengalahkan Malaysia.
Malaysia mendominasi laga dengan 63 persen ball possession. Anak asuh Tan Cheng Hoe juga bisa melepaskan 18 tembakan dengan 8 shots on target yang bisa diamankan Maarten Paes. Sebaliknya dengan 37 persen ball possession, Indonesia melepaskan 4 tembakan tanpa ada yang mengarah ke gawang.
Herdman jelas harus memperbaiki banyak aspek dalam laga penentuan melawan Bangladesh nanti. Tanpa kemenangan telak, nama Herdman akan semakin dianggap remeh dalam hal menangani Timnas Indonesia.
"Secara keseluruhan, setidaknya para suporter masih memiliki pertandingan ketiga yang bisa mereka nantikan dan datang untuk mendukung kami. Kami membutuhkan dukungan itu lagi," kata Herdman di laman Antara.
Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, yang dianggap fans sebagai orang paling bertanggung jawab atas performa Timnas Indonesia, juga menyampaikan rasa optimismenya. Thohir merasa senang dengan perjuangan pemain dan masih yakin Indonesia bisa memanfaatkan peluang melawan Bangladesh.
"Terima kasih kepada para ofisial dan para pemain yang sudah memberikan seluruh kemampuannya sehingga bisa menahan Malaysia dengan bermain 10 pemain selama kurang lebih 70 menit dan terus memberikan perlawanan hingga menit akhir. Fokus ke pertandingan selanjutnya melawan Bangladesh. Kesempatan masih ada," kata Thohir di akun @erickthohir.
Rapor John Herdman dan Seruan STY dari Suporter di GBK
Hasil 6 kemenangan, 2 imbang, dan 2 kekalahan menjadi rapor Herdman dalam 10 laga pertamanya melatih Timnas Indonesia. Tapi, kandas di babak grup Piala AFF 2026 dan tampil kurang meyakinkan di FIFA ASEAN Cup 2026 membuat suporter Timnas Indonesia belum puas.
Contoh nyata rasa tidak puas itu tergambar usai laga imbang lawan Malaysia. Nama Shin Tae-yong, pelatih yang dipecat awal Januari 2025 lalu, masih diteriakkan dengan lantang oleh suporter Timnas Indonesia. Bukan di media sosial, tapi lantang terdengar di Stadion Gelora Bung Karno.
Shin Tae-yong mulai melatih Timnas Indonesia pada akhir 2019. Ia memiliki statistik berupa hasil 26 kemenangan, 14 imbang, dan 18 kekalahan dari 58 pertandingan. Statistik itu hanya bersama timnas senior, mengingat STY juga sempat ditugaskan melatih timnas kelompok umur.
Dibandingkan dengan Herdman, 10 laga pertama era Shin Tae-yong memang tidak lebih bagus. Ia hanya meraih 5 kemenangan, 1 imbang, dan 4 kekalahan. Tapi, saat itu Shin Tae-yong memulai tim dari nol, tanpa pemain naturalisasi. Berbeda jauh dengan materi pemain di era Herdman saat ini.
Kevin Diks, kapten Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, menyerukan rasa kecewanya saat interview usai laga melawan Malaysia. Menurut pemain Borussia Monchengladbach itu, meneriakkan nama mantan pelatih bisa memberikan efek tidak bagus bagi tim saat ini.
"Saya rasa ini tidak benar. Saya merasa ini tidak baik bagi para pemain, tidak baik bagi pelatih. Berjuang dengan 10 orang sangat sulit, dan saya sangat kecewa dengan ini," ujar Diks saat suporter meneriakkan nama Shin Tae-yong.
Ucapan Diks memang salah. Namun, suporter yang melewati pahit dan getirnya dinamika sepak bola Indonesia juga pantas kecewa. Mereka telah merasakan berbagai era kepelatihan Timnas Indonesia sejak lama.
Bukan hanya Shin Tae-yong, Patrick Kluivert, atau John Herdman. Namun, lebih dari itu ada Ivan Kolev, Benny Dollo, Alfred Riedl, Luis Milla, Simon McMenemy, bahkan nama tak biasa macam Bima Sakti, Nil Maizar dan masih banyak lagi.
Di antara mereka semua, Shin Tae-yong membuka harapan suporter dengan permainan meyakinkan dan hasil apik. Timnas Indonesia ia bawa mengalahkan Arab Saudi di Jakarta, menahan imbang Arab Saudi di Jeddah, dan menahan imbang Australia di Jakarta, serta performa apik di Piala AFF 2021.
Di level Timnas U23, Shin Tae-yong membawa Indonesia mengalahkan Korea Selatan dan menjadi juara 4 Piala Asia U23 2024, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Juga, nyaris membawa Timnas U23 lolos ke Olimpiade 2024 jika saja tidak kalah kontroversial dari Guinea.
Harapan lolos ke Piala Dunia 2026 bersama timnas senior masih on track pada tahun 2024. Tapi, pada awal 2025 keputusan Erick Thohir dan jajaran PSSI membuat Shin Tae-yong dipecat. Sejak itu, Piala Dunia seolah jadi mimpi yang kembali jauh untuk penggemar sepak bola Indonesia.
Penyebabnya, STY gagal membawa Indonesia lolos dari babak grup Piala AFF 2024. Padahal, sebelum turnamen STY disebut tidak diberi target karena membawa pemain muda. Pun dengan Timnas yang berisi sekumpulan bocah, Indonesia kala itu mampu membuat Vietnam ketar ketir di Hanoi, menang 0-1 dari Myanmar, imbang 3-3 dengan Laos, dan kalah 1-0 dari Vietnam, juga Filipina.
Romantisme yang masih terjalin antara STY dengan suporter dipaksa selesai oleh Erick Thohir dan PSSI pada Januari 2025. Hal itu pun membuat nama Shin Tae-yong, suka atau tidak bakal terus didengungkan, sampai ada pelatih yang bisa melampaui prestasinya bersama Timnas Indonesia.
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id


































