tirto.id - Pekan Antariksa Dunia atau World Space Week 2026 berlangsung hingga 10 Oktober 2026 dan turut menjadi perbincangan hangat lantaran mengusung tema "Revolusi Roket". Frekuensi penerbangan antariksa semakin meningkat dan wahana antariksa ke orbit semakin terbuka.
World Space Week dikoordinasikan oleh Kantor Urusan Luar Angkasa PBB dan diselenggarakan di 100 negara dengan berbagai konsep. Dunia antariksa tak pernah sepi dari eksperimen negara-negara maju selama beberapa dekade terakhir guna memanfaatkan dimensi tersebut.
Sains dan teknologi antariksa semakin hari kian dekat dengan kehidupan manusia. Mengutip laman United Netions, Pekan Antariksa Dunia atau World Space Week (WSW) 2026 membuka perspektif baru tentang cara manusia mencapai orbit.

Roket biasanya hanya diluncurkan satu kali dengan biaya operasional fantastis. Seiring berkembangnya industri antariksa, transformasi menuju orbit kini terus dikembangkan.
Misalnya dengan memanfaatkan sebagian roket lama, akses antariksa yang lebih terbuka, hingga mengembangkan cara-cara baru untuk menempatkan satelit, pesawat antariksa, dan muatan lain ke orbit. Pergeseran mengubah siapa saja yang dapat menjangkau antariksa, seberapa sering peluncuran dilakukan, dan tujuan antariksa.
Revolusi Roket, Apa Maksudnya?
Pekan Antariksa Dunia 2026 merupakan forum perayaan global yang mempertemukan badan antariksa, perusahaan, pendidik, pelajar, museum, klub astronomi, dan para penggemar antariksa. Tema yang diusung adalah "Revolusi Roket".
Melansir laman Space.com, tema dipilih dengan menelaah perjalanan panjang upaya manusia menuju orbit. Selama beberapa dekade, roket dirancang hanya untuk satu kali penerbangan. Perusahaan atau institusi yang berkepentingan membutuhkan perangkat keras, bahan bakar, dan infrastruktur dalam jumlah sangat besar, untuk menciptakan kendaraan sekali pakai.
Seiring berkembangnya teknologi baru, roket yang pulang ke Bumi kini dapat terbang kembali. Tak hanya itu, berbagai negara dan perusahaan komersil juga melakukan transformasi yang lebih canggih untuk menempatkan satelit, pesawat antariksa, dan muatan lain ke orbit.

Transformasi roket bukan hanya soal ukuran dan daya orbit. Melainkan juga kemampuan penggunaan kembali (reusability) dan arsitektur peluncuran baru yang lebih terbuka. Hal ini memungkinkan frekuensi penerbangan antariksa semakin meningkat dan wahana antariksa ke orbit semakin terbuka. Cara kerja baru inilah yang dimaksud sebagai "Revolusi Roket".
"Tema ini mengakui bagaimana peningkatan akses ke antariksa dan penurunan biaya peluncuran telah memacu ekosistem antariksa serta memunculkan berbagai aplikasi antariksa baru yang menarik," ujar Dennis Stone, presiden Asosiasi WSW, dikutip dari laman resmi World Space Week, Selasa (6/10/2026).
Tema tersebut memberikan panduan umum bagi para peserta Pekan Antariksa Dunia mengenai materi program. Melalui program antariksa, diharapkan dapat mengedukasi masyarakat mengenai kegiatan antariksa. Perayaan ini diklaim bisa mendorong kerja sama internasional.
Selain itu, tema "Revolusi Roket" dinilai dapat meningkatkan minat siswa terhadap bidang STEM: Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Teknik), dan Mathematics (Matematika). Inovasi peluncuran juga memungkinkan pemanfaatan antariksa dengan cara-cara baru demi kemaslahatan dunia.

Tema Revolusi Roket tahun 2026 juga disertai dengan sumber daya edukasi yang dirancang untuk membawa topik ke ruang kelas dan rumah. European Space Agency menggandeng The Pokémon Company International turut merayakan World Space Week 2026 dengan pameran keluarga berskala Eropa.
NASA Kennedy Space Center Visitor Complex menjadi tuan rumah bagi pameran World Space Week yang menampilkan Pesawat Ulang-alik (Space Shuttle) Atlantis dan menyoroti dampak Revolusi Roket terhadap eksplorasi dan akses ke antariksa.
Kementerian Pendidikan Arab Saudi dan Badan Antariksa Nasional Pakistan memimpin perayaan World Space Week skala nasional yang dihadiri siswa dan masyarakat umum.
Potensi Baik dan Buruk Dampak Revolusi Roket
Revolusi Roket perlu dipandang secara kritis dan komprehensif. Roket dengan teknologi yang dapat diluncurkan ulang memungkinkan peningkatan partisipan dengan cakupan misi yang lebih luas. Misalnya peluncuran satelit komunikasi, pengamatan Bumi, hingga wahana antariksa ilmiah dan penerbangan antariksa berawak.
Akses menuju orbit yang lebih sering juga akan mendorong industri antariksa, ekosistem satelit, serta wahana antariksa yang terus berkembang hingga berperan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan manusia, sistem berbasis antariksa menopang layanan komunikasi, navigasi, informasi cuaca, dan data pengamatan Bumi. Sebagaimana dikutip dari laman The Slate Group, satelit juga semakin banyak digunakan untuk pemantauan lingkungan, penanganan bencana, dan konektivitas.

Revolusi Roket memberikan akses antariksa yang lebih terbuka. Sebelumnya, peluncuran roket atau satelit terbatas oleh sejumlah kecil program pemerintah. Seiring adanya penyedia layanan peluncuran komersial, roket dapat digunakan ulang (reusable rockets). Inovasi ini membuka peluang bagi peneliti universitas, perusahaan startup, serta pelaku antariksa nasional yang baru.
Di sisi lain, peluncuran roket dengan jumlah banyak juga memicu kekhawatiran serius bagi kesehatan atmosfir dan iklim. Laporan Slate.commenjelaskan bahwa peluncuran roket erat kaitannya dengan isu penipisan ozon di stratosfer.
Mesin roket akan melepaskan gas reaktif berupa jelaga dan aluminium oksida yang menyebabkan molekul ozon terurai. Mesin yang sama membuang partikel mikroskopis berupa jelaga dan aluminium oksida, yang dapat mempercepat laju kerusakan ozon. Kerusakan lapisan stratosfer bisa memicu risiko kanker kulit dan katarak.
Jelaga dan aluminium oksida memang tidak bertahan lama di stratosfer. Namun, berdasarkan satuan massa, partikel-partikel ini sangat efektif dalam mengubah keseimbangan radiasi di atmosfer.

Jelaga dapat membantu menghangatkan atau mendinginkan planet, tergantung pada ukuran, jumlah, dan lokasi partikel-partikel tersebut. Sementara, butiran aluminium oksida memantulkan cahaya tampak dari matahari kembali ke angkasa, yang berdampak mendinginkan Bumi.
Para ilmuwan atmosfer sebenarnya memiliki model untuk menghitung dampak iklim secara keseluruhan dari suatu peluncuran. Hanya saja, belum ada data valid semburan gas buang roket.
Kostas Tsigaridis, seorang ilmuwan atmosfer memaparkan, dampak jangka panjang peluncuran roket adalah karbon hitam (black carbon). Karbon ini dapat menyerap radiasi matahari yang dapat memanaskan lingkungan di sekitar. Selanjutnya, mempengaruhi peningkatan kerusakan ozon di wilayah kutub.
Sirkulasi atmosfer normal membawa sebagian besar karbon hitam turun ke dekat wilayah kutub. Di sana, karbon hitam dapat mengendap di atas salju dan es, lalu mempercepat pencairan dengan cara mengurangi daya pantul permukaan.

Sebuah penelitian berjudul "Toward net-zero in space exploration: A review of technological and policy pathways for sustainable space activities" karya David Bamidele Olawade dan tim menyebut roket membakar bahan bakar dalam jumlah besar, melepaskan karbon dioksida (CO2), uap air, karbon hitam (jelaga), dan polutan lainnya ke atmosfer.
Emisi gas buang roket menghasilkan nitrogen oksida termal dan karbon dioksida pada ketinggian hingga 67 km, sehingga berkontribusi terhadap polusi udara.
Hasil penelitian turut menyoroti pentingnya pengelolaan sampah antariksa yang lebih baik, agar tidak mengancam misi masa depan. Selain itu, penggunaan ulang roket diharapkan dapat mengurangi kebutuhan manufaktur, sehingga menurunkan dampak lingkungan secara keseluruhan.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































