Menuju konten utama

Kasus Christa Pike, Kenapa Sudah Disuntik Mati Bisa Tetap Hidup?

Suntikan yang tidak masuk pembuluh darah vena karena posisi jarum yang tidak tepat bisa menjadi penyebab kegagalan selama proses suntik mati.

Kasus Christa Pike, Kenapa Sudah Disuntik Mati Bisa Tetap Hidup?
Terpidana mati Christa Pike. Reuters/ J. Miles Cary/Knoxville News Sentinel
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Christa Pike, terpidana mati asal Tennessee, Amerika Serikat (AS), tetap hidup meskipun dua kali disuntik pentobarbital. Zat mematikan ini ternyata gagal membuat Pike meninggal dunia.

Eksekusi dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Keamanan Maksimum Riverbend di Nashville, pada Rabu (30/9), pukul 20.00 waktu setempat. Menurut pengacara Pike pada Selasa (6/10), kliennya telah sadar dan menerima perawatan medis yang intens.

Christa Pike, yang kala itu berusia 18 tahun, dinyatakan bersalah setelah terbukti membunuh seorang teman sekolahnya. Tangan terpidana vonis mati tahun 1996 itu dalam kondisi diborgol selama menjalani perawatan usai eksekusi mati yang gagal.

Kegagalan eksekusi mati terhadap Pike menuai perhatian banyak pihak. Gubernur Tennessee Bill Lee menangguhkan semua rencana eksekusi yang terjadwal sepanjang 2026. Tak hanya itu, prosedur eksekusi mati juga akan ditinjau ulang oleh Jaksa Agung AS Ed Stanton.

suntik mati

Ilustrasi suntik mati atau Euthanasia. FOTO/istock

Sebagaimana dikutip dari Death Penalty Information Center,Hakim Pengadilan Chancery Wilayah Davidson, I’Ashea Myles, memerintahkan negara bagian untuk menyimpan semua bukti dari upaya eksekusi yang gagal terhadap Christa Pike.

Selama ini, suntuk mati banyak digunakan di berbagai negara. Akan tetapi, metode suntik mati diwarnai masalah serta berbagai kontroversi. Lantas, bagaimana sebenarnya metode suntik mati di AS dan mengapa Christa Pike tetap hidup?

Metode Suntik Mati di AS

Suntik mati adalah metode eksekusi terhadap terpidana mati melalui pemberian satu atau lebih zat kimia. Tujuannya membuat kehilangan kesadaran, menghentikan pernapasan, dan akhirnya menghentikan detak jantung.

Protokol pasti bervariasi, tergantung aturan negara bagian dan negara itu sendiri. Namun, praktik umum mengikuti urutan tiga jenis obat atau obat tunggal di beberapa wilayah hukum.

Alasan masih diterapkan metode suntuk mati di AS adalah dianggap lebih murah dan lebih manusiawi dibandingkan metode kursi listrik maupun gas mematikan. Seperti dikutip dari The Legal Guide, metode eksekusi ini kerap menimbulkan pertanyaan mengenai rasa sakit, penderitaan, dan kemungkinan terjadi kesalahan.

Metode suntik mati pertama kali diadopsi oleh negara bagian Oklahoma pada 1977. Beberapa pemerintahan secara resmi mengizinkan penggunaan metode tersebut. Tahun 2026, hukuman mati masih tercatat dalam kebijakan di 27 negara Amerika Serikat.

Beberapa negara bagian AS yang masih menerapkan hukuman mati meliputi Florida, Texas, Oklahoma, Alabama, Tennessee, dan Arizona. Sementara, 23 negara bagian dan Washington, D.C telah meninggalkan metode yang sama. Sederet negara bagian lainnya juga melakukan moratorium secara de facto alias penghentian pelaksanaan.

Peta Amerika Serikat

Peta Amerika Serikat. foto/Google Maps

Melansir laman resmi Death Penalty Information Center, yuridiksi telah menetapkan protokol eksekusi, termasuk jenis obat yang digunakan. Sebagian besar obat suntik mati menggunakan satu hingga tiga tahap.

Obat pertama yang disuntikkan adalah anestesi atau obat penenang. Kedua, diikuti oleh obat pelumpuh otot. Lalu diakhiri obat penghenti detak jantung. Protokol penggunaan satu obat atau lebih umumnya menggunakan dosis berlebih, seperti pentobarbital. Gunanya menghentikan fungsi-fungsi vital tubuh yang menopang kehidupan.

Ada pula yang menggunakan obat penghambat neuromuskular. Contohnya pankuronium bromida, vekuronium, rokuronium. Fungsinya menghentikan pernapasan dan gerakan. Berikutnya, kalium klorida atau agen penghenti jantung lain yang dapat menyebabkan henti jantung.

Melansir laman Lethal Injection Information Center, terdapat 15 jenis obat yang digunakan untuk suntik mati di seluruh negara bagian AS. Obat suntik mati itu mencakup Alfentanil, Cisatracurium Besylate, Diazepam, Etomidate, dan Fentanyl. Lantas Hydromorphone, Ketamine, dan Midazolam.

Obat lainnya adalah Pancuronium Bromide, Pentobarbital, Potassium Acetate, Potassium Chloride, Rocuronium Bromide, Sodium Thiopental, hingga Vecuronium Bromide.

Tennessee menerapkan protokol satu jenis obat (pentobarbital) dan berlaku sejak tahun 2024 setelah dilakukan tinjauan ulang. Protokol yang sama juga disahkan di 14 negara bagian lainnya di AS.

Ilustrasi Obat

Ilustrasi Obat. FOTO/iStockphoto

Pentobarbital tergolong obat penenang yang dapat membuat seseorang cepat kehilangan kesadaran. Jika diminum, efeknya menghentikan kerja bagian otak yang mengendalikan pernapasan dan detak jantung. Pada akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Meski secara konstitusi suntikan mematikan telah ditegaskan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, langkah ini terbilang problematik. Metode suntik mati juga dinilai rentan gagal.

Tercatat, sekitar 7 persen percobaan eksekusi dinilai bermasalah dan komplikasi serius terjadi berulang kali. Angka ini terbilang paling tinggi dibandingkan metode lain dan lebih dari dua kali lipat rata-rata tingkat kegagalan seluruh metode eksekusi.

Beberapa negara bagian memilih untuk tidak mempublikasikan aksesibilitas informasi mengenai sumber obat, dosis, dan hingga prosedur pelaksanaan. Kerahasiaan mempertimbangkan faktor keamanan dan hukum. Padahal, keterbukaan dinilai sangat penting demi menjawab kekhawatiran mengenai kekejaman dan kesewenang-wenangan dalam praktik hukuman mati.

Ilustrasi Hukuman Mati

Ilustrasi Hukuman Mati. FOTO/iStockphoto

Alasan Christa Pike Tetap Hidup

Kegagalan suntuk mati terhadap Christa Pike kini kembali menuai sorotan banyak pihak untuk mengkaji ulang protokol yang berlaku. Joel Zivot, seorang profesor anestesiologi di Emory University sekaligus ahli medis yang ditunjuk oleh tim hukum Pike menjelaskan alasan kegagalan.

Zivot mengamati ucapan Pike yang mengeluhkan rasa terbakar di bagian lengan. Ia menilai suntikan tersebut tidak masuk dalam pembuluh darah vena.

"Bagi saya, semua itu mengindikasikan bahwa jarum infus tidak lagi berada di dalam pembuluh darah vena, jika memang sebelumnya sempat berada di sana. Sebaliknya, zat kimia tersebut justru merembes masuk ke dalam kulit dan jaringan lengannya," ujar Joel Zivot, dikutip dari ABC News, Jumat (2/10).

"Kemungkinan hanya sebagian kecil obat yang masuk ke dalam tubuhnya, sehingga ia tidak sampai meninggal dunia. Jadi, protokol tersebut mengharuskan adanya upaya kedua. Entah upaya pemasangan infus kedua dilakukan pada lengan yang sama atau lengan sebaliknya, saya tidak tahu, namun upaya kedua itu tampaknya berujung pada hasil yang sama," lanjutnya.

Ilustrasi Hukuman Mati

Ilustrasi Hukuman Mati. FOTO/iStockphoto

Dalam eksekusi suntik mati, tenaga medis profesional tidak terlibat, termasuk Asosiasi Medis Amerika. Organisasi profesi ini melarang keterlibatan perawat, dokter, atau tenaga profesional dengan pelatihan medis, karena alasan etis dan hukum.

Guna menuntaskan tugas suntik mati, penyuntikan diserahkan kepada staf yang tidak terlatih. Akibatnya, kerap terjadi kegagalan akses intravena (IV), karena posisi jarum yang tidak tepat. Hal ini memicu kerusakan pembuluh darah, menyebabkan obat masuk ke bawah kulit atau ke dalam otot.

Saat obat tidak masuk ke vena, terjadi luka bakar kimiawi yang dapat menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan. Dalam beberapa kasus, sejumlah negara bagian ternyata menghadapi kekurangan pasokan obat, sementara suntik mati harus tetap dilakukan. Alhasil, penggantian dan modifikasi obat berdampak pada efektivitas prosedur yang berkurang.

Ilustrasi Jarum

Ilustrasi Jarum. foto/istockphoto

Editorial jurnal PLoS Medicine menganalisis data dari dua negara bagian AS yang memublikasikan informasi mengenai eksekusi, yaitu North Carolina dan California. Mereka memadukan data tersebut dengan data klinis, laboratorium, dan pengalaman pada hewan yang telah dipublikasikan.

PLoS Medicine mengindikasikan bahwa dalam praktik suntik mati di North Carolina dan California, kemungkinan tidak bersifat mematikan dan bisa jadi tidak cukup kuat untuk menginduksi anestesi bedah selama proses eksekusi berlangsung.

Ilustrasi hukuman mati

Ilustrasi hukuman mati. FOTO/IStockphoto

Selain itu, bukti dari North Carolina, California, dan Virginia menunjukkan bahwa kalium klorida dalam prosedur suntik mati tidak secara konsisten menyebabkan berhentinya fungsi jantung. Akibatnya, protokol suntik mati menunjukkan adanya kegagalan dalam perancangan maupun pelaksanaan.

Mengingat banyaknya perdebatan publik tentang suntik mati, beberapa negara bagian di AS menetapkan undang-undang yang melarang publik mengetahui asal-usul obat-obatan mematikan tersebut. Dengan begitu, sulit untuk menilai keandalan dan efektivitasnya.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo