tirto.id - Sekilas mendengar kata “kamera jalanan”, boleh jadi minim rasa aneh tentang itu. Hampir di tiap sudut kota, lampu lalu lintas, atau depan gerai toko, kamera yang menyorot jalanan acap kali dijumpai. Fungsi utamanya sebagai pengawas atau proteksi keamanan tambahan.
Kamera-kamera itu merekam setiap detail aktivitas yang dapat dipantau sewaktu-waktu demi kebutuhan tertentu. Salah satu kamera jalanan yang paling akrab diandalkan adalah CCTV.
Namun akhir-akhir ini, frasa kamera jalanan cukup sensitif bagi warga Amerika Serikat. Pemicunya adalah Flock, kamera keselamatan yang kerap dipasang pihak kepolisian AS di area publik. Pembuatnya adalah Flock Safety, perusahaan asal Atlanta, AS, yang memiliki valuasi nilai menyentuh 8,4 miliar dolar AS.
Survei menunjukkan, 75 persen warga AS menentang pembangunan pusat data baru Flock Safety di wilayahnya. Reaksi itu mirip dengan kemarahan nasional terhadap pembangunan pusat data besar yang mendukung teknologi Akal Imitasi (AI).
Problematika Mekanisme Flock
Setidak-tidaknya, lebih dari 120.000 unit Flock telah terpasang di AS, tersebar di 6.000-an titik kota di 49 negara bagian. Mulanya, kamera tersebut bertugas sebagai pembaca pelat nomor otomatis atau Automated License Plate Readers (ALPR). Teknologi yang memanfaatkan AI itu telah berhasil menghimpun sekitar 20 miliar pemindaian ALPR per bulan.
Namun masalahnya, penggunaannya melebihi batas wajar. Fitur Flock telah disulap menjadi senjata penguntit massal yang tak hanya memindai pelat nomor kendaraan, melainkan juga pendeteksi fisik mobil, hingga pola aktivitas warga secara real-time.
Kamera Flock tentu berbeda dari kamera CCTV biasa. Tak semua CCTV beroperasi otomatis dengan bantuan kecerdasan buatan macam Flock. Namun, ada pula CCTV yang dirancang otomatis memotret hanya ketika pengguna jalan kedapatan melanggar lalu lintas. Contohnya kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), yang, menurut klaim Kepolisian RI, hanya akan menjepret ketika terjadi pelanggaran, ditandai dengan flash 'nyala kilat'.
Sementara itu Flock, yang dilengkapi teknologi ALPR, bakal terus-menerus merekam sepanjang waktu. Lebih canggihnya lagi, ALPR dapat menganalisis setiap karakteristik unit kendaraan yang terekam, mulai dari merek, model, dan warna cat mobil, hingga detail kecil seperti stiker serta penyok pada bodi kendaraan.
Jadi, selain pelat nomor, ALPR dapat mengidentifikasi pertanda khusus seluruh unit kendaraan yang melintas. Ciri-ciri itu diklasifikasikan Flock sebagai vehicle fingerprint 'sidik jari kendaraan'. Fitur sakti tersebut dapat mendeteksi penyalahgunaan kendaraan, misalnya modifikasi mobil tak lazim untuk mengakali kepolisian AS guna menghindari pelanggaran beruntun.
Flock mengklaim teknologinya telah membantu 10.000 lebih pencarian orang hilang pada 2025. Sebanyak 42 persen dari jumlah pelanggan Flock yang kehilangan kendaraan berhasil dipulihkan lewat bantuan yuridis. Selain itu, 1 dari 5 kasus di AS melibatkan kamera tersebut sebagai penunjang barang bukti.
Itu berarti seluruh foto dan video yang terekam oleh Flock, di mana pun penempatannya, bisa diakses siapa pun selama terbuka untuk publik. Estimasi teranyar menyatakan sekitar 70 persen populasi AS telah dijangkau oleh Flock.
Masalah muncul di sini, sebab lebih dari 5.000 klien Flock adalah aparat penegak hukum. Bahkan, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) telah mengantongi akses lebih dari 80.000 jaringan kamera Flock berdasarkan kontrak dengan departemen kepolisian.
Permisalannya begini. Katakanlah seorang polisi New York hendak menangkap pencuri mobil di wilayah yurisdiksinya. Namun, pelaku itu telah kabur ke Alaska. Untuk melakukan tugasnya, polisi tinggal meminta akses data Flock dari Kepolisian Alaska. Masalah bisa beres dengan cepat, tanpa perlu surat izin ataupun terbang melintas negara. Tinggal “klik”, sang pencuri pun dapat diringkus.

Kontroversi Flock Merenggut Privasi
Selama bertahun-tahun, Marci Bakely, ibu tunggal berusia 50 tahun, tak habis pikir dengan cara mantan pacarnya, Michael Steffman, yang selalu tahu posisinya berada. Saat Bakely pergi belanja, mengunjungi dokter, sampai kencan bersama pacar baru, sang mantan akan selalu menerornya dengan hunjaman pesan hanya dalam hitungan menit. Padahal, Steffman bekerja jauh 15 mil dari rumahnya sebagai Kepala Departemen Kepolisian Braselton, kota kecil di pinggiran Atlanta.
Kecurigaan Bakely memuncak pada 2024. Sebagaimana diceritakan kepada The Washington Post, kala itu mantan pacarnya keliru menduga dirinya menemui pria lain tanpa seizinnya. Dia lantas mendapatkan pesan yang berbunyi, “Aku tidak menyangka kau akan berbuat ceroboh.” Sejak itu, ia mencurigai sang mantan sebagai penguntit.
Hidup dalam pengawasan tak henti membuat Bakely tertekan. Dia mengaku memasang tiga kamera di sekeliling rumah dan teras supaya bisa berjaga-jaga bila mantannya menguntit di jalan buntu tempat tinggalnya. Dia juga membeli alat pendeteksi kamera tersembunyi, dan mengaku menyelipkannya di dinding dengan perasaan cemas.
Putus asa kian menjadi. Tiga kali Bakely membawa mobilnya ke bengkel, meminta mekanik memeriksa kemungkinan adanya alat pelacak.
Keresahannya tercerahkan ketika Steffman mengaku menggunakan Flock. Dia tepergok berulang kali mencari Bakely dari pusat data Flock Safety hingga lebih dari 500 kali.
Atas perbuatannya, Steffman ditangkap dengan tuduhan penguntitan, pelecehan, dan penyalahgunaan ALPR. Sayangnya, sebelum pengadilan menjatuhkan putusan, ia ditemukan tewas bunuh diri pada April 2026.
Kasus itu memperlihatkan jurang antara slogan dan kenyataan. Flock Safety menjual moto “better tools for safer communities”, tetapi kameranya justru kerap dipakai untuk urusan pribadi, jauh dari kepentingan tugas penegakan hukum.
Michael Steffman pun bukan satu-satunya. Dari 50 kasus tuduhan penguntitan yang melibatkan polisi, sedikitnya 46 kasus berkaitan dengan Flock, sedangkan sisanya menyangkut produk pesaing, yaitu Axon dan Motorola. Dalam 26 kasus, penyidik dan jaksa menemukan bahwa polisi memakai ALPR untuk memata-matai istri, pacar, mantan pacar, gebetan, atau perempuan yang hendak mereka temui.
Salah satu kasus terpanas lainnya diungkapkan lewat laporan mendalam 404 Media. Berdasarkan warta tersebut, kantor Kepolisian Johnson County telah menggunakan Flock di seluruh jaringan nasional sebanyak 80.000 kali untuk melacak lokasi seorang wanita yang mencari layanan kesehatan reproduksi dan aborsi. Seorang petugas, Sersan Damien Bethel, menggunakan kamera Draft One milik Axon untuk merangkai laporan naratif kasus tersebut. Dalihnya, alat itu digunakan untuk merangkum bukti konsekuensi hukum dari aborsi.
“Para deputi membahas implikasi hukum dari situasi tersebut, mencatat bahwa meskipun pacar korban mengonsumsi pil aborsi sendiri, tidak ada tuntutan pidana yang berlaku berdasarkan hukum di Texas saat ini,” demikian pernyataan dalam laporan Bethel, dikutip dari The Times of India.
Menanggapi kasus tersebut, CEO Flock, Garret Langley berulang kali membantah penggeledahan dilakukan tanpa alasan. Ia mengklaim, keluarga wanita yang bersangkutan khawatir akan keselamatannya. ”Mereka mencoba menemukannya karena khawatir nyawanya terancam,” katanya.
Padahal, laporan kepolisian yang dipublikasikan Bethel tak menyiratkan kekhawatiran pihak keluarga. Justru yang diidentifikasi sebagai korban adalah pasangannya yang kasar, pihak pelapor kasus tersebut. Kejanggalan dan berita miring pun berhamburan.
Selain kasus itu, investigasi mengungkap Flock melakukan kesalahan pengidentifikasian 'misread license plates' dalam 71 persen (1.427 kali) alarm peringatan yang terhubung ke jaringan Kepolisian Roseville, California, sepanjang 2023 dan 2024. Alarm itu membunyikan berbagai peringatan, misalnya pencurian kendaraan atau penggantian pelat nomor.
Usai ditelusuri, Flock rupanya keliru membaca karakter tertentu. Di Toledo, Ohio, seorang pengemudi Brandon Upchurch sampai diserang anjing polisi setelah kamera Flock salah membaca angka 7 pada pelat nomornya sebagai angka 2. Akibat penyerangan itu, ia dikabarkan kehilangan pekerjaan dan diusir dari rumah. Upchurch lalu menggugat kepolisian dan menuntut ganti rugi sebesar 35.000 dolar AS.
Tak sampai di situ, kamera tersebut juga menjadi senjata ampuh meringkus para demonstran dan aktivis. Investigasi EFF melaporkan, lebih dari 12 juta pencarian yang dicatat oleh sekitar 3.900 lembaga kepolisian sejak Desember 2024 sampai Oktober 2025 menunjukkan tanda-tanda "pengontrolan" aktivis.
“Protes 50501” pada Februari, “Hands Off” di bulan April, dan “No Kings” pada Juni dan Oktober, merupakan sampelnya. Lembaga kepolisian menggunakan Flock untuk mendiskriminasi demonstran dan menyeret mereka ke jeruji.
Analisis EFF mengungkapkan pola yang sangat mengkhawatirkan. Lebih dari 80 lembaga penegak hukum menjustifikasi stereotipe berbahaya terhadap orang Romani ketika menguntit mereka lewat jaringan Flock. Ratusan penggeledahan paksa menggunakan istilah roma mencuat, diikuti hinaan rasial, yang mayoritas di antaranya berlangsung tanpa surat resmi.
Menurut survei Universitas Harvard pada 2020, empat dari sepuluh orang Amerika-Romani mengaku mengalami diskriminasi pemrofilan rasial oleh polisi.

Berduyun-duyun Menolak Flock
Agustus 2026, protes anti-Flock bertajuk “Deflock” menjadi aksi nasional. Ribuan warga turun ke jalan, mendesak agar Flock segera dinonaktifkan.
Agaknya, aksi protes ini merupakan akumulasi reaksi negatif yang tertimbun menahun. Sejak 2021, 214 kota di AS telah memboikot Flock. Sebanyak 90 di antaranya telah membatalkan kerja sama bisnis dengan Flock hanya pada kurun Agustus 2026. Para pelanggan menganggap kamera pengawas Flock telah menginfeksi sembarang tempat, dan itu sudah cukup.
Sebanyak 485 komunitas yang tersebar di 43 negara bagian menghelat aksi protes. Bahkan di Atlanta, demonstrasi tak hanya dilakoni sebatas aksi simbolik maupun pernyataan pers. Mereka turut merusak, memotong, mencuri, atau menutupi kamera dengan sampah dan kain, agar kamera tersebut tak berfungsi lagi.
Berang amarah merajalela. Lebih dari 33 negara bagian melaporkan perusakan terhadap banyak kamera Flock. Awal Agustus di Winona, Minnesota, polisi mengumumkan bahwa semua kamera mereka telah dicuri. Beberapa tiang penyangga kamera milik polisi tampak memiliki bekas potongan gerinda, dan orang-orang yang melintasinya terus saja mengumpati bekas itu—meski kameranya telah raib.
Meski telah dibombardir berbagai protes, Langley (CEO Flock) cenderung tetap membela kamera "buatannya". Dalam wawancaranya dengan Fox News, ia menekankan:
“Ketika orang hanya membicarakan salah satu dari hal ini, privasi atau keamanan, mereka memprioritaskan hal yang keliru; yang harus kita prioritaskan sebagai sebuah negara adalah kompromi,” kata Langley. “Bagaimana kita menjaga keamanan, sekaligus menyeimbangkannya dengan privasi?”
Tanggapan ini tentu tak diterima dengan baik oleh seluruh pihak. Kebanyakan pihak justru mengkritiknya habis-habisan.
Substansi gelombang protes itu sebetulnya tidak hanya mengarah pada satu perusahaan khusus, Flock Safety, melainkan penguatan hak privasi di atas dalih kepentingan keamanan. Warga hanya ingin segala prahara ini berhenti, tanpa kompromi, dan hak-hak mereka kembali dipenuhi.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































