tirto.id - Kementerian Kehutanan menyampaikan bahwa pihaknya terus mengintensifkan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lewat pemantauan ketat, verifikasi lapangan, serta pengerahan operasi darat maupun udara.
Fokus pengawasan saat ini kian diperketat menyusul lonjakan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah, khususnya di Provinsi Kalimantan Tengah.
Berdasarkan laporan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (10/10/2026 ) pukul 21.00 WIB, tercatat ada sebanyak 793 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional yang terpantau melalui satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Angka tersebut mengalami peningkatan sebanyak 356 titik apabila dibandingkan dengan data hari Jumat (9/10/2026) sebelumnya yang mencatat 437 titik panas.
Sebarannya bervariasi. Kalimantan Tengah mencatatkan lonjakan paling signifikan menjadi 288 titik dari sebelumnya 122 titik, yang sekaligus menjadikannya penyumbang lebih dari separuh total hotspot di kawasan prioritas.
Peningkatan serupa juga terjadi di Kalimantan Barat yang naik menjadi 44 titik dari 13 titik, serta Kalimantan Selatan yang meningkat menjadi 28 titik dari 13 titik sebelumnya.
Sebaliknya, penurunan terpantau di Sumatera Selatan dengan 60 titik dan Jambi yang hanya mencatat 1 titik, sementara Riau terpantau nihil. Secara keseluruhan, keenam wilayah prioritas tersebut menyumbangkan 421 titik panas, naik dari 270 titik pada hari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa kemunculan titik panas pada dasarnya merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang ditangkap oleh satelit, sehingga tidak bisa langsung disetarakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas wilayah yang terbakar.
“Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan tindakan penanganan yang diperlukan,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Kemenhut, Ristianto Pribadi dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Upaya mitigasi karhutla ini dijalankan secara terpadu oleh Manggala Agni bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, serta unsur relawan dan dunia usaha. Pemerintah sendiri telah menyiagakan 61 unit armada udara yang terdiri dari 17 unit untuk patroli serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan 44 unit khusus untuk operasi pemboman air.
Operasi udara tersebut berjalan beriringan dengan operasi darat yang mencakup patroli rutin, pengecekan lokasi, pemadaman langsung, penyekatan api, pembasahan, hingga proses pendinginan yang difokuskan pada kawasan gambut agar bara api di bawah permukaan benar-benar padam.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id

































