tirto.id - Kabut asap yang dihasilkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada seluruh sendi kehidupan masyarakat di Sumatra Selatan. Selama berbulan-bulan, asap beracun menghantui setiap aktivitas warga.
Belasan hingga puluhan penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang terganggu setiap hari. Pelajar terpaksa sekolah secara daring sementara waktu. Belum lagi penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terus bertambah setiap harinya imbas terpapar asap.
Asap karhutla juga mengancam keselamatan pengguna transportasi antar daerah yang melintasi Sungai Musi. Sejak dua bulan terakhir, para pelaku usah mengeluhkan penurunan omzet.
Sungai Musi adalah akses andalan warga untuk mobilitas antardaerah di Sumsel. Namun, Sungai Musi kini diselimuti kabut asap pekat yang menyebabkan jarak pandang berkurang.
Dodi (49), pengemudi speedboat rute Makarti Jaya (Banyuasin)-Palembang, misalnya. Dia mengaku mesti bersusah payah menembus kabut setiap hari demi menjalankan jasa antar-jemput penumpang dan barang.
Dodi bersama puluhan pengemudi atau yang dikenal dengan istilah serang speedboad biasa mangkal di Dermaga 16 Ilir Palembang. Dermaga yang persis berada di bawah Jembatan Ampera itu melayani mobilitas harian ke berbagai wilayah di provinsi itu.
Banyak rute yang tersedia di sana. Rute Palembang-Banyuasin, misalnya, ada tujuan Makarti Jaya, Air Saleh, Sungsang, Air Sugihan, Muara Padang, Muara Kelang, dan beberapa daerah lain hingga Jalur 18 Banyuasin.
Ada juga rute Palembang-Ogan Komering Ilir (OKI) hingga ke Sei Baung. Juga rute Palembang-Musi Banyuasin. Semua rute itu melewati Sungau Musi dan anak sungainya.

Dodi mengaku cukup kewalahan menghadapi kabut asap yang makin hari makin pekat. Bahkan, pada pagi hari, alur Sungai Musi tidak terlihat sama sekali karena dipenuhi asap putih.
Pada saat cuaca normal, jadwal keberangkatan speedboat Dodi dimulai pukul 06.30 WIB dan pulang pukul 16.00 WIB. Namun, dia harus menunda berangkat hingga pukul 09.00 WIB dan pulang dari Palembang lebih cepat pukul 15.00 WIB.
"Kalau berangkat pagi sekarang tidak bisa karena penuh asap, penglihatan terbatas, makanya agak siangan narik penumpang ke Palembang," ungkap Dodi kepada Tirto belum lama ini.
Dodi juga harus melaju lebih lambat sehingga waktu tempuh pun jadi lebih lama. Rute Palembang-Makarti Jaya yang biasanya bisa ditempuh dalam 1,5 jam, sekarang bisa di atas 2 jam.
"Mau tak mau harus agak lambat sedikit biar aman, penumpang selamat. Tarikan speedboat ini kan sampai lima, sekarang paling mentok tarikan keempat. Bahaya kalo ngebut maksimal seperti biasa," kata bapak tiga anak ini.
Kabut asap tebal juga menyebabkan penurunan omzet lantaran warga lebih memilih menunda bepergian jika tak terlalu mendesak.
Speedboat dengan mesin 200 PK yang dikemudikan Dodi berkapasitas 25 penumpang. Sebelum bencana asap melanda, penumpang dan barang muatan penuh hingga ke atas kapal. Namun, kini tersisa paling banyak 15 orang untuk sekali perjalanan.
Pendapatan Dodi pun berkurang hingga 50 persen. Ongkos Rp110 ribu per penumpang tak mampu menutupi biaya operasional, terutama bahan bakar.
Sejauh ini, belum ada pengemudi speedboat yang istirahat sembil menunggu keadaan membaik. Mereka tetap menarik penumpang meski risiko besar mengancam.
"Karena mau tak mau harus dapat duit buat makan keluarga. Belum lagi setoran ke bos (pemilik speedboat)," kata dia.
Trauma Kecelakaan Speedboat 2014
Kabut asap tebal yang memangkas jarak pandang secara drastis membuat pengemudi speedboat harus memperlambat laju. Mereka tak ingin peristiwa kecelakaan akibat kabut pada pertengahan September 2014 kembali terulang.
Tragedi itu masih jelas dalam ingatan Karnain (55). Dia menyaksikan speedboat merek Rizky terlempar jauh ke daratan karena menabrak balok kayu mengapung di Sungai Musi, tepatnya di Muara Sujian, Desa Bintaran, Jalur 8 Air Saleh, Banyuasin.
Pengemudi saat itu tidak melihat adanya kayu apung karena jarak pandang tertutup kabut asap karhutla. Kebetulan, speedboat tersebut melaju dalam kecepatan tinggi sehingga terjadi hantaman kencang yang menyebabkan lambung kapal pecah.
Dari 40 penumpang, satu orang di antaranya meninggal dunia dan 17 lainnya luka berat. Karnain mengetahui kejadian ini bukan dari cerita orang, tetapi menyaksikannya secara langsung.
"Saya masih ingat ceritanya sampai sekarang karena saya ikut gotong para penumpang ke speedboat saya menuju rumah sakit di Palembang. Kejadiannya luar biasa waktu itu," kata Karnain.
Sejak kejadian itu, Karnain lebih berhati-hati saat mengemudikan speedboat, apalagi saat kabut asap mengepung langit Sumsel. Dia tak ingin membahayakan nyawa penumpangnya.
"Kalau cuaca bagus ya narik (mengemudi) normal, tapi masa sekarang tidak berani saya ngebut-ngebut, saya trauma saksikan kecelakaan waktu itu," kata dia.
Karnain sudah puluhan tahun menjadi pengemudi speedboat rute Jalur 19, Muara Padang, Banyuasin-Palembang. Meski berpengalaman di sungai, bagi Karnain, musibah tak kenal waktu. Paling tidak, hal-hal macam itu bisa mencegah.
"Kata memang pengalaman, sudah hafal situasi di sungai, tapi kan hari nahas siapa yang tahu. Lambat bisa tabrakan, apalagi ngebut. Bisa-bisa mengantar nyawa, musim asap lagi," kata dia.
Ancaman kecelakaan dalam angkutan sungai akibat asap memang terus mengintai. Pada 30 September 2026, kapal motor sungai Arpin Jaya mengalami kandas dan tenggelam di anak Sungai Musi di Jalur 21 Muara Padang, Banyuasin.
Jarak pandang minim menyebabkan pengemudi kapal yang bermuatan sembako dari Palembang menuju Sei Baung, OKI, itu tak menyadari melewati jalur dangkal hingga kandas. Seluruh muatan nyemplung ke sungai dan hanya sebagian yang dapat diselamatkan.
"Sudah banyak contoh, jadi pelajaran saja. Kalau ingat anak istri di rumah, insyaallah kita bisa lebih hati-hati," kata dia.

Fokus Tangani Sumber Asap
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, mengatakan penanganan karhutla saat ini tersebar di OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Karhutla di OKI menjadi sorotan karena menyebar di banyak titik.
Bahkan, beberapa titik karhutla di kabupaten itu telah berlangsung selama lebih dari sebulan. Seperti di Riding Area yang terbakar sejak 36 hari lalu, Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang berlangsung selama 40 hari terakhir, Jalur 21 Pusat Konservasi Gajah (PKG), dan Pulu Beruang yang menghanguskan ribuan hektare lahan.
Titik-titik ini berada tak jauh dari anak Sungai Musi yang menjadi satu-satunya jalur transportasi sungai menuju daerah pedalaman Sumsel, seperti Banyuasin dan OKI.
Karhutla di OKI juga terjadi di Tulung Selapan dan sekitar Tol Terpeka KM 309—tepatnya di kawasan Menang Raya. Asap jadi makin pekat menutup alur sungai karena ada pula kebakaran di lahan wilayah Banyuasin.
Belum lagi karhutla di wilayah Karang Agung dan Muara Medak, Banyuasin, yang juga bergambut tebal.
"Itu titik-titik sumber asap yang kami kerjakan saat ini," kata Ferdian.
Dalam operasi pemadaman, tim memgalami banyak kendala. Kekeringan di lahan gambut menyebabkan ketersediaan air di sekitar lokasi karhutla sangat terbatas.
Medan yang berat juga menyebabkan tim darat kesulitan menjangkau titik api. Pengangkutan armada darat membutuhkan waktu yang lebih kama karena akses sulit ditembus.
Sifat lahan gambut yang kering juga makin menyulitkan pemadaman. Bagian permukaan padam, sementara mawa api masih menyebar di bagian bawah gambut sedalam satu meter.
"Banyak kendala dalam operasi, tapi kami berupaya sekuat tenaga untuk memadamkan api," kata Ferdian.

BMKG Imbau Hindari Pelayaran Pagi Hari
Pada waktu tertentu, asap karhulta membuat jarak pandang memendek hingga hanya 50 meter di jalur perairan Sugai Musi. Kondisi tersebut harus diwaspadai oleh pengemudi angkutan sungai, apalagi kapal cepat atau speedboat.
Dalam kondisi ini, pengemudi wajib memperlambat laju untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang membahayakan jiwa dan menimbulkan kerugian materil. Kecakapan dalam mengemudi dan penglihatan lebih awas diperlukan agar aman beraktivitas saat dikepung asap.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengungkapkan waktu yang paling berbahaya bagi aktivitas transportasi sungai akibat jarak pandang terbatas utamanya pada pagi hari. Konsentrasi sebaran asap karhutla berada pada lapisan permukaan dan cenderung menjadi lebih pekat.
"Jarak pandang mendatar di wilayah sungai mengalami penurunan akibat sebaran asap," kata Siswanto.
Menurut dia, faktor ini disebabkan karena pada pagi hari angin permukaan cukup tenang sehingga pergeseran sebaran asap menjadi lebih lama. Kondisi ini diperparah jika di sekitar sungai terdapat kejadian karhutla.
"Karena itu, perlu kewaspadaan ekstra. Sama halnya juga dengan transportasi darat," kata Siswanto.
Berdasarkan pola pergerakan angin, aliran massa udara di wilayah Sumsel saat ini secara dominan bergerak dari arah tenggara menuju barat laut dan melintssi wilayah selatan ekuator Indonesia. Akibatnya, Palembang diselimuti kabut asap karena secara geografis berada di sebelah barat laut OKI yang merupakan salah satu daerah dengan konsentrasi karhutla tertinggi.
"Meski karhutla di Palembang tidak terlalu banyak, tapi tetap diselimuti asap karena pengaruh pergerakan angin dari titik karhutla di daerah sekitar," kata dia.
Sementara itu, pelayaran laut rute Sumsel-Bangka Belitung terbilang masih aman. Berdasarkan prakiraan BMKG pada Jumat (9/10/2026), cuaca di Pelabuhan TAA Banyuasin, Sumsel, cerah dengan tinggi gelombang 0,45 meter, angin 4 knot timur, dan jarak pandang 5 kilometer. Sementara itu, cuaca di Pelabuhan Tanjung Kalian, Bangka Belitung, cerah, tinggi gelombang 0,29 meter, kecepatan angin 4 knot timur, dan jarak pandang 6 km.
Masuk tirto.id
































