tirto.id - Negara Indonesia berada berada di garis Khatulistiwa atau ekuator yang berada di antara dua kutub. Takdir geologis ini menyebabkan Indonesia berada di wilayah tropis dengan intensitas sinar matahari yang relatif stabil.
Kondisi inilah yang menyebabkan Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Peralihan keduanya disebut dengan pancaroba. Secara klimatologis, fase pancaroba ditandai dengan perubahan suhu ekstrem.
Tak hanya itu, peralihan cuaca dengan cepat dan perubahan pola hujan juga turut menyertainya. Guna mempersiapkan kondisi tersebut, masyarakat dapat menelaah secara lengkap ciri-ciri memasuki fase pancaroba. Dinamika iklim yang kompleks ini juga dipengaruhi oleh tipografi Indonesia yang kaya pegunungan, lembah, dataran rendah, kepulauan, dan pantai.
Cuaca Panas pada Pagi Hari, Hujan pada Sore Hari
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada bulan November 2026. Wilayah tersebut terdiri dari 185 Zona Musim (ZOM) di 24,66% luas daratan Indonesia.
Adapun sebaran awal musim hujan di bulan November 2026 mencakup wilayah sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, dan sebagian Bali. Lalu sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan
Sementara, 266 ZOM atau sekitar 17,31% luas daratan Indonesia akan mengawali musim hujan pada bulan Desember 2026. Menelaah data tersebut, maka tak lama lagi bakal masuk ke fase pancaroba.

Salah satu pola cuaca yang umum terjadi pada masa pancaroba adalah kondisi panas atau terik pada pagi hingga siang hari, yang kemudian diikuti pertumbuhan awan dan potensi hujan pada sore hingga malam hari.
Menurut BMKG, pola ini berkaitan dengan pemanasan permukaan bumi akibat radiasi matahari yang memicu proses konveksi atau pengangkatan massa udara ke atmosfer. Variasi arah angin dan kondisi atmosfer lainnya juga dapat menyebabkan cuaca berubah dalam waktu relatif singkat.
Pemanasan permukaan bumi membuat udara di dekatnya menjadi lebih hangat dan naik. Jika kelembapan udara cukup dan kondisi atmosfer mendukung, udara yang naik akan mendingin sehingga uap air mengembun menjadi butiran air yang membentuk awan konvektif.
Awan ini umumnya tampak putih pada bagian yang mendapat banyak cahaya matahari, sedangkan bagian bawahnya dapat terlihat lebih gelap karena cahaya matahari sulit menembus awan yang tebal.
Pada masa pancaroba, pertumbuhan awan konvektif dapat memicu hujan yang tidak merata, dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi relatif singkat. Jika kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan vertikal yang kuat, awan kumulus dapat berkembang menjadi Cumulonimbus (CB).
Awan ini berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, angin kencang, bahkan hujan es. Karena itu, kemunculan awan CB perlu diwaspadai sebagai salah satu tanda potensi cuaca buruk.
Pembentukan Awan Cumulonimbus
Saat atmosfer berada dalam kondisi labil, potensi terbentuknya awan konvektif, seperti Cumulonimbus, meningkat, terutama jika didukung oleh kelembapan udara yang cukup. Dalam kondisi ini, udara hangat dan lembap dapat naik dengan kuat ke atmosfer.
Seiring kenaikan tersebut, udara mendingin sehingga uap air mengembun menjadi butiran air. Pada bagian awan yang bersuhu sangat rendah, butiran air dapat membeku dan membentuk kristal es. Proses ini memungkinkan awan tumbuh secara vertikal hingga membentuk Cumulonimbus.
Secara terminlogi, Cumulonimbus terdiri dari dua kata Bahasa Latin, yaitu Cumulus yang artinya tumpukan dan Nimbus berarti hujan badai. Melansir laman Britannica, struktur Cumulonimbus dapat teramati dari tampilan yang seperti gunung atau menara bergerak di langit hingga menyentuh batas troposfer pada ketinggian 15.000 meter.

Pada bagian atasnya, awan Cumulonimbus dapat memiliki struktur berserat yang tersusun dari kristal es dan menyebar secara horizontal menyerupai landasan (anvil) atau jambul (plume). Sementara itu, bagian bawahnya umumnya tampak gelap dan relatif datar, terkadang disertai gumpalan awan yang tidak beraturan.
Pembentukan awan Cumulonimbus berkaitan erat dengan ketidakstabilan atmosfer yang mendukung gerakan naik udara hangat dan lembap. Awan ini dapat berkembang dari kumulus yang tumbuh semakin tinggi hingga mencapai bagian atas troposfer.
Ketika pertumbuhan vertikalnya terhambat oleh lapisan atmosfer yang lebih stabil, bagian puncak awan dapat melebar secara horizontal membentuk landasan. Cumulonimbus dikenal sebagai awan badai karena dapat menghasilkan hujan lebat, kilat, guntur, dan angin kencang.
“Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es. Bentuknya seperti bunga kol, warnanya ke abu-abuan dengan tepian yang jelas,” papar Dwikorita Karnawati, saat menjabat sebagai Kepala BMKG, Minggu (25/2/2024).
Berdasarkan pantauan BMKG periode 10 - 16 Oktober 2026, awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial lebih dari 75% diperkirakan terjadi di Papua Tengah, Kepulauan Mentawai, dan Sumatera Barat.
Berikutnya, awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial antara 50-75% diprediksi terjadi di Aceh, Bengkulu, Jambi, Kalimantan, Selat Malaka bagian tengah, Selat Malaka bagian utara, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Keberadaan awan Cumulonimbus juga dapat memicu terjadinya hujan es atau angin puting beliung.
Peningkatan Frekuensi Hujan di Banyak Wilayah
Meningkatnya frekuensi hujan di berbagai wilayah dapat menjadi salah satu tanda bahwa Indonesia mulai memasuki musim hujan. Pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, hujan yang semula jarang terjadi mulai turun lebih sering, meskipun waktu dan intensitasnya belum merata di setiap daerah.
Perubahan ini berkaitan dengan pergeseran pola angin dan meningkatnya ketersediaan uap air di atmosfer. Ketika udara lembap bertemu dengan kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan, hujan dapat turun lebih sering.
Pada tahap awal musim hujan, hujan masih dapat bersifat lokal dan diselingi periode panas atau cerah. Seiring perkembangan musim, curah hujan cenderung meningkat dan hujan menjadi lebih konsisten.

Namun, hujan yang semakin sering turun tidak serta-merta menandakan suatu wilayah resmi memasuki musim hujan. BMKG menetapkan awal musim hujan berdasarkan akumulasi curah hujan minimal 50 milimeter dalam satu dasarian, yang diikuti dua dasarian berikutnya.
Dalam kriteria BMKG, jika curah hujan pada salah satu dari dua dasarian berikutnya kurang dari 50 milimeter, awal musim hujan masih dapat ditetapkan apabila total curah hujan selama ketiga dasarian tersebut mencapai minimal 150 milimeter.
Dasarian pertama merupakan periode yang ditetapkan sebagai awal musim hujan. Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian: tanggal 1-10, 11-20, dan tanggal 21 hingga akhir bulan.
Kriteria ini membantu BMKG membedakan hujan sesaat pada masa pancaroba dari pola curah hujan yang menunjukkan dimulainya musim hujan. Penetapannya juga dilakukan berdasarkan zona musim, sehingga awal musim hujan dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id





































