Menuju konten utama

Misteri Kulit Gatal, Kenapa Makin Digaruk Makin Nikmat?

Menggaruk kulit gatal dapat menciptakan siklus gatal–garuk atau The Itch–Scratch Cycle. Ketahui alasan kenikmatan menggaruk yang memicu iritasi.

Misteri Kulit Gatal, Kenapa Makin Digaruk Makin Nikmat?
Ilustrasi Gatal. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saat kulit terasa gatal, hal apa yang Anda lakukan? Sebagian orang memilih untuk menggaruknya. Namun, hal ini tidak serta merta meredakan gatal dan justru menciptakan rasa gatal yang lebih parah sehingga memicu respons menggaruk yang terus-menerus,

Secara medis, fenomena ini disebut dengan siklus gatal-garuk atau The Itch-Scratch Cycle. Menggaruk bagian kulit gatal akan mengirimkan sinyal ke otak yang untuk sementara waktu menutupi sensasi gatal. Namun, dorongan untuk menggaruk akan segera muncul kembali.

Pada tahap tertentu, menggaruk dapat memicu respons peradangan di area garukan sebagai bentuk pertahanan imunologis endogen bagi inang. Pada kondisi metabolik, dermatologis, atau neurologis tertentu, rasa gatal dapat menjadi kondisi yang sangat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup secara drastis.

Mengapa Garukan Terasa Nikmat, Padahal Kulit Makin Iritasi?

Rasa gatal atau pruritus adalah sensasi tidak nyaman pada kulit karena muncul sensasi terbakar, sensasi berkala yang tidak menyakitkan, atau seperti ada sesuatu yang merayap di permukaan kulit. Saat gatal mulai muncul, seseorang cenderung ingin menggaruknya.

Menurut penelitian berjudul Neural Mechanisms of Itch karya Mark Lay dan Xinzhong Dong, tindakan menggaruk memicu respons imun yang dapat berkontribusi pada peningkatan rasa gatal. Rasa gatal dipicu secara kimiawi dalam sistem saraf tepi melalui berbagai jenis reseptor.

Mengingat letak ujung neuron gatal yang dangkal, sel-sel yang berada di dekat permukaan kulit berperan signifikan dalam timbulnya rasa gatal berikutnya. Pada akhirnya, di dalam sumsum tulang belakang dan kemungkinan juga di otak, akan memperantarai sentuhan, nyeri, dan rasa gatal saling berinteraksi dan memodulasi satu sama lain.

Saat gatal muncul, sistem imun dan sistem saraf saling berinteraksi dalam merespons rangsangan pada kulit. Gangguan pada interaksi ini dapat berkontribusi terhadap gatal kronis.

Ilustrasi Gatal digigit kamitetep

Ilustrasi Gatal digigit kamitetep. foto/istockphoto

Perilaku menggaruk memang tampak melegakan untuk sementara waktu. Pada momen ini, sel kulit mengirimkan sinyal rasa sakit intensitas rendah ke otak. Sinyal rasa sakit ini untuk sementara mengalihkan perhatian otak dari rasa gatal tersebut.

Sinyal rasa sakit atau nyeri ringan ini juga memicu pelepasan serotonin (perasaan bahagia) di otak, yang menurutnya memberikan sensasi yang sangat menyenangkan.

Namun, serotonin juga memicu kembali sinyal rasa gatal. Dalam beberapa kasus, hal ini dapat menciptakan siklus gatal-garuk yang tiada akhir. Melalui aktivasi serabut saraf sensorik, nyeri mampu menghambat sementara sensasi gatal di tingkat sumsum tulang belakang.

"Rasa gatal disebabkan oleh interaksi kompleks antara sel-sel kulit dan sistem saraf kita. Zat kimia yang dilepaskan di kulit mengirimkan pesan ke tulang belakang melalui saraf-saraf kulit. Kemudian, tulang belakang berkomunikasi dengan otak, dan kita pun merasakan gatal," ujar Dr. Adarsh ​​Vijay Mudgil, pendiri Mudgil Dermatology, dikutip dari healthline.com.

Namun, sensasi gatal dapat memicu respons menggaruk yang terus-menerus, yang menyebabkan kerusakan mekanis pada kulit dan memicu pelepasan sel kekebalan tubuh. Akibatnya, terjadi peradangan kulit hingga iritasi.

Dorongan untuk menggaruk terus menerus dapat memicu rasa gatal kronis hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Pada titik tertentu, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Lingkaran Setan Gatal dan Garukan: Kenapa Sulit Berhenti?

Kondisi rasa gatal yang digaruk akan menimbulkan gatal yang lebih intens ini disebut dengan fenomena siklus gatal–garuk atau The Itch–Scratch Cycle. Menggaruk mengirimkan sinyal ke otak yang untuk sementara waktu menutupi sensasi gatal. Namun, dorongan untuk menggaruk akan segera muncul kembali.

Sebuah studi berjudul Scratching Promotes Allergic Inflammation and Host Defense via Neurogenic Mast cell Activationkarya Andrew W. Liu yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2025, mengungkap salah satu mekanisme di balik siklus tersebut.

Peneliti menemukan bahwa menggaruk kulit mengaktifkan neuron sensorik yang melepaskan substance P. Zat ini kemudian berinteraksi dengan sel mast, yaitu sel kekebalan tubuh yang berperan dalam respons alergi dan peradangan. Aktivasi sel mast tersebut dapat memperburuk peradangan kulit.

Menggaruk menyebabkan luka-luka kecil pada kulit. Kondisi ini segera direspons oleh sistem kekebalan tubuh untuk diperbaiki. Namun, dalam proses perbaikan tersebut, tubuh melepaskan zat kimia peradangan yang justru memperparah keadaan. Sel-sel saraf inilah yang memicu sensasi gatal sekaligus peradangan yang timbul akibat menggaruk.

Ilustrasi Leher Gatal

Ilustrasi Leher Gatal. foto/IStockphoto

Selain substance P, sejumlah sitokin, termasuk interleukin-4 (IL-4), interleukin-13 (IL-13), dan interleukin-31 (IL-31), diketahui berperan dalam mekanisme gatal, terutama pada kondisi peradangan kulit tertentu.

Sitokin-sitokin ini dapat memengaruhi komunikasi antara sistem imun dan saraf sensorik, sehingga turut mempertahankan sensasi gatal. Namun, peran masing-masing zat tidak selalu sama dan tidak semuanya terbukti dilepaskan secara langsung akibat tindakan menggaruk.

Dalam artikel HealthCentral yang diperbarui pada 7 April 2025, Dr. Martin Smith, seorang ahli alergi dan imunologi di Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa interleukin-4 dan interleukin-13 dapat meningkatkan sensitivitas ujung saraf terhadap rangsangan gatal. Penjelasan tersebut membantu menggambarkan mengapa peradangan kulit dapat membuat rasa gatal terus berulang.

Sementara itu, IL-31 dikenal sebagai salah satu sitokin yang berperan penting dalam sensasi gatal. Meski demikian, klaim bahwa menggaruk secara langsung melepaskan IL-31 ke dalam aliran darah hingga memicu gatal di bagian tubuh lain masih memerlukan dukungan bukti yang lebih spesifik.

Kapan Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Rasa gatal disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari kulit kering, gigitan serangga, reaksi alergi, kondisi kulit, bahkan dari pakaian. Pada umumnya, kondisi tersebut bukan pertanda bahaya.

Apabila tubuh terasa gatal, maka pastikan Anda tidak perlu menggaruknya. Tepuk-tepuk bagian kulit yang gatal secara perlahan. Setelah itu, kompres atau tempelkan benda bersuhu sejuk pada kulit.

Berikutnya, mandi dengan air dingin atau hangat lalu gunakan pelembap atau emolien tanpa pewangi secara rutin. Pastikan kuku tetap pendek dan bersih supaya terhindar dari kuman. Saat beraktivitas, gunakan pakaian longgar berbahan katun. Selanjutnya, gunakan detergen cair atau bubuk yang diformulasikan untuk kulit sensitif.

Ilustrasi Konsultasi Dokter Dengan Pasien

Ilustrasi Konsultasi Dokter Dengan Pasien. foto/istockphoto

Melansir laman American Academy of Dermatology Association, Rasa gatal yang berkepanjangan bisa menjadi tanda dari beberapa penyakit. Misalnya penyakit darah, diabetes, penyakit ginjal, penyakit hati, HIV, hingga kelenjar tiroid yang terlalu aktif atau hipertiroidisme.

Selain itu, gatal juga dapat terjadi karena reaksi alergi pada kulit. Kulit dapat mengalami reaksi alergi terhadap berbagai zat. Salah satu zat paling umum yang dapat memicu reaksi alergi kulit adalah nikel, yang terkandung dalam banyak produk yang kita sentuh sehari-hari.

Produk yang mengandung nikel antara lain ponsel, perhiasan, bingkai kacamata, ritsleting, dan gesper ikat pinggang. Zat lain yang dapat menyebabkan reaksi alergi kulit meliputi cat kuku, wewangian, sampo, lateks, dan semen.

Di beberapa kasus, rasa gatal kronis yang terjadi hingga berminggu-minggu bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang serius seperti penyakit ginjal.

"Jika ginjal, hati, atau sumsum tulang Anda mengalami kegagalan fungsi sering kali rasa gatal menjadi salah satu gejalanya," ujar Brian S. Kim, seorang profesor dermatologi di Mount Sinai, dikutip dari slate.com.

Apabila rasa gatal berlangsung lebih lama, maka penderita perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada dokter, khususnya dokter spesialis kulit. Melalui tenaga profesional, rasa gatal yang berlangsung lama akan mudah didiagnosis untuk mendapat perawatan yang tepat.

Baca juga artikel terkait GATAL atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - GWS
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora