tirto.id - Studi terbaru dari Neurology Journal menunjukkan penyakit stroke atau cerebrovascular accident (CVA) justru meningkat pada orang dewasa muda. Data ini mematahkan stigma bahwa penderita stroke tak selalu hanya terkait usia lanjut.
Secara umum, stroke merupakan kondisi medis ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang secara drastis. Akibatnya, jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi yang berperan penting menjalankan fungsinya. Dalam hitungan menit, sel-sel otak mulai mati, yang dapat berujung pada kerusakan permanen, kecacatan, hingga kematian.
Meski tampak mengerikan, penyakit ini sejatinya dapat dilakukan pencegahan sejak dini, dengan menerapkan pola hidup sehat. Caranya dengan mengonsumsi makanan sehat, aktivitas fisik yang cukup, hingga pengelolaan stres. Tak ada jaminan bahwa usia muda bakal terbebas dari serangan stroke.
Realita, Stroke Tak Lagi Mengenal Usia
Stroke adalah gangguan fungsi otak mendadak yang disebabkan oleh penurunan aliran darah yang signifikan ke sebagian otak atau pendarahan intrakranial. Apabila tidak ditangani secara tepat bahkan terlambat, hal ini dapat menyebabkan kematian jaringan otak.
Melansir laman Britannica, stroke paling umum disebabkan oleh penggumpalan darah di otak (trombosis), emboli, atau spasme arteri, yang mengakibatkan berkurangnya pasokan darah ke otak. Dalam istilah medis jenis ini dinamai stroke iskemia. Gumpalan darah kemudian mengurangi atau menghentikan aliran darah ke sel-sel otak.
Selain itu, stroke juga dapat terjadi akibat aterosklerosis, yaitu penumpukan endapan lemak atau plak pada dinding arteri yang menyebabkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri.
Dalam struktur tubuh, arteri berperan membawa oksigen serta nutrisi dari dan ke jantung, juga ke seluruh organ lain. Apabila arteri tersumbat, maka akan menghambat aliran darah ke organ-organ tubuh.

Jaringan yang kehilangan suplai oksigen kemudian bakal layu dan menciptakan lubang-lubang kecil, yang disebut lakuna. Jika tak tertangani, kondisi ini dapat menyebabkan stroke ringan yang dalam jangka panjang akan merusak otak dan menyebabkan demensia.
Stroke juga dapat disebabkan oleh pendarahan (hemoragi) yang dapat mengancam nyawa. Stroke hemoragik umumnya terjadi karena hipertensi. Dampak stroke dapat berbeda-beda tergantung pada lokasi kejadian di otak, misalnya afasia, ataksia, kelumpuhan lokal, atau gangguan pada satu atau lebih indra.
Salah satu faktor risiko stroke adalah penuaan, khususnya di atas usia 55 tahun. Akan tetapi studi Emily R. Fisher dan tim yang dimuat di Neurology Journals, menemukan fakta lain bahwa kasus stroke pada usia dewasa muda mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir.
Penelitian yang dilakukan oleh Emily R. Fisher dan tim mengkaji kasus stroke yang dirawat di rumah sakit di 5 wilayah. Rentan waktu yang dipilih yaitu periode Juli 1993–Juni 1994, 1999, 2005, 2010, 2015, dan 2020.
Hasilnya menunjukkan orang dewasa muda berusia 20-54 tahun, yang mengidap penyakit stroke pada periode tersebut sebanyak 2.076 kasus. Di tengah tren kasus stroke dari berbagai kelompok usia yang menurun, stroke orang dewasa muda justru meningkat.
Periode 1993-1994, tingkat kejadian stroke pada orang dewasa muda tercatat 33,90 kasus dari 100.000 orang. Data tingkat kejadian stroke pada orang dewasa muda ini meningkat pada tahun 2020, yang berada di angka 62,18 kasus dari 100.000.
Sementara itu, kejadian pada orang dewasa yang lebih tua cenderung menurun dari 618,78 kasus/100.000 periode 1993-1994, menjadi 453,04 kasus/100.000 orang tahun 2020.
Data di atas menunjukkan bahwa penyakit stroke tak lagi mengenal usia. Oleh karena itu penting mengetahui risiko dan langkah-langkah preventif menjaga kesehatan tubuh agar tetap prima.
Risiko Tersembunyi dari Gaya Hidup Modern
Jenis stroke pada usia dewasa muda yang kerap terjadi adalah stroke iskemik, penyumbatan pada pembuluh darah arteri dalam otak. Hal ini bukan serta merta datang begitu saja, melainkan dari gaya hidup tidak sehat yang terakumulasi.
Sebuah penelitian berjudul Trends in Unhealthy Lifestyle Factors among Adults with Stroke in the United States between 1999 and 2018karya Yuting Liu dan tim, turut mendefinisikan gaya hidup tidak sehat.
Gaya hidup tidak sehat yaitu merokok, konsumsi alkohol, depresi, pola makan tidak sehat, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan perilaku sedenter. Faktor-faktor ini dianggap paling berkaitan dengan kejadian, perkembangan, serta prognosis stroke atau penyakit kardio-serebral.
Perokok merujuk pada seseorang yang sudah merokok lebih dari 100 batang sepanjang hidupnya. Merokok meningkatkan risiko stroke melalui hubungan dosis-respons. Artinya, semakin banyak seseorang merokok, semakin tinggi pula risiko strokenya.

Sementara konsumen alkohol aktif didefinisikan sebagai individu yang telah mengonsumsi lebih dari 1 minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir. Seseorang yang terlalu banyak merokok, vape, dan mengonsumsi alkohol berdampak pada rusaknya dinding pembuluh darah, serta memicu peradangan sistemik pada tubuh.
Faktor risiko lainnya adalah kurang aktivitas fisik yang didefinisikan sebagai aktivitas intensitas sedang kurang dari 150 menit per pekan, atau aktivitas intensitas tinggi kurang dari 75 menit per pekan. Berikutnya perilaku sedenter atau kebiasaan duduk selama lebih dari 6 jam perhari pada saat terjaga. Kebiasaan ini dapat mengganggu sirkulasi darah dan metabolisme tubuh.
Di tengah padatnya aktivitas harian, banyak orang memilih junk food dan minuman kemasan demi alasan kepraktisan, tanpa menghiraukan kandungan di dalamnya. Banyak junk food mengandung tinggi garam, gula berlebih, dan lemak jenuh, yang memicu hipertensi hingga aterosklerosis.
Terakhir ada stres, tekanan pekerjaan, dan paparan layar secara terus-menerus memicu hormon kortisol dan adrenalin, yang menyebabkan tekanan darah tinggi secara persisten.
Langkah Preventif, Apa yang Mesti Dilakukan?
Penyakit stroke dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup sehat. Melansir laman National Institute of Neurological Disorders and Stroke, hidup sehat dapat dimulai dengan memilih makanan dan minuman yang masuk dalam tubuh.
Kurangi makanan yang menyebabkan kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi. Jangan lupa konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, serta protein dan lemak sehat, yang dapat membantu Anda menjaga berat badan ideal dan memperoleh nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Kurangi asupan garam dan mencukupi kebutuhan kalium untuk membantu mengendalikan tekanan darah tinggi. Berikutnya, lakukan aktivitas fisik secara rutin untuk menjaga berat badan yang sehat dan menurunkan kadar kolesterol.
Bagi orang dewasa, lakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang dengan durasi 2 jam 30 menit per pekan. Khusus anak-anak dan remaja, lakukan aktivitas fisik selama 1 jam tiap hari.
Berikutnya, hindari merokok dan minum terlalu banyak alkohol. Pria sebaiknya tidak minum lebih dari 2 gelas per hari, dan perempuan sebaiknya tidak lebih dari 1 gelas per hari.
Lakukan pengecekan berkala kadar kolesterol dan tekanan darah untuk mengontrolnya. Jika diperlukan, jadwalkan secara rutin pengecekan di layanan kesehatan terdekat, sebagaimana dikutip dari Center for Disease Control and Prevention.
Di tengah kebutuhan manusia untuk aktualisasi diri, pastikan mencapai keseimbangan kehidupan dan kerja. Prinsip work life balance ini memungkinkan seseorang untuk memiliki tingkat kepuasaan pekerjaan, menurunnya tingkat stres, serta menurunnya konflik pekerjaan dan keluarga.
Gabungan antara tercapainya pemenuhan tugas pekerjaan dan kenikmatan dalam melakukan peran tersebut bakal menghasilkan keadaan emosi yang positif.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id


































