tirto.id - Kalau ada presiden yang kegigihannya mirip Prabowo Subianto, dia adalah Salvador Allende. Akan tetapi, kemiripan keduanya hanya sebatas upaya pencalonan presiden. Mirip, sebab sama-sama pernah tersungkur tiga kali dalam pemilihan umum.
Prabowo gagal pada Pemilu 2009, 2014, dan 2019, dan baru meraih kemenangan pada Pemilu 2024. Sementara Allende juga gagal beruntun, dimulai dari pemilu 1952, 1958, dan 1964. Usahanya baru membuahkan hasil pada 1970.
Allende berhasil menaiki kursi presiden setelah mendapat sokongan koalisi Popular Unity, persekutuan partai-partai sayap kiri. Di antaranya Partai Sosialis, Partai Komunis, Partai Radikal, Partai Sosial Demokrat, Aksi Populer Independen, dan Gerakan Aksi Uniter Populer (MAPU).
Allende diriwayatkan "berdarah merah", bahkan sekaligus Marxis pertama yang terpilih sebagai presiden dalam demokrasi liberal di Amerika Selatan. Sebuah perbedaan kontras dengan Prabowo Subianto yang mewarisi darah aristokrat dari mendiang ayahnya Soemitro Djojohadikoesoemo. Lain itu, Koalisi Indonesia Maju yang mendukung pasangan Prabowo-Gibran, sulit didefinisikan berideologi sama dengan para rekanan Allende.
Pantas saja Amerika Serikat dongkol ketika Allende memerintah. Cile dianggap terlalu merah. Paranoia Barat jadi kambuh, karena AS meyakini sungguh-sungguh efek domino. Ialah sebuah gagasan bahwa jika suatu negara jatuh dalam dogma komunisme, maka tetangganya sangat mungkin bisa tertular.
Paling nahas, nasib Prabowo dan Allende bertolak belakang, bagai langit dan bumi. Allende mati mengenaskan, sementara Prabowo hari ini relatif sentosa, menikmati usaha menahun kampanye kemenangannya.
Kala Kudeta Santiago 11 September 1973, AS nyenyat laksana logam talium: senyawa tak memiliki rasa dan bau, tetapi sedikit saja terhirup, racunnya sangat mematikan.
Usai kemenangan junta militer Cile dalam kudeta penggulingan Allende, sosok yang beroleh promosi presiden adalah Augusto Pinochet, panglima tertinggi militer sekaligus mandataris dukungan finansial AS. Tak ayal kematian Allende dipertentangkan berbagai pihak. Namun versi resmi keluaran pemerintah junta militer Pinochet mengklaim Allende tewas bunuh diri dengan senjata api.
Yang terjadi setelahnya lebih bengis lagi. Puluhan ribu pendukung Allende dibunuh dan dihilangkan. Di hari yang sama, Stadion Santiago disulap menjadi kuburan massal, sedikitnya 5.000 orang dikumpulkan di sana lalu dieksekusi.
Kejam. Serupa intrik kelam Peristiwa 1965 di Indonesia.

Lalu sekali lagi, CIA sebagai perpanjangan tangan AS ditugaskan menggerus ideologi komunisme di Cile. Selayaknya yang pernah mereka lakukan di Indonesia lewat Mafia Berkeley. Bradley R. Simpson dalam Economists with Guns (2008: 20) mengupas detail deretan sosok ekonom yang dicap olehnya sebagai Mafia Berkeley. Lewat broker-broker anti-komunis, mereka mendulang gratifikasi pendidikan di Universitas California. Di bawah panji komando Presiden Soeharto, mereka diberi mandat pengabdian pekerjaan.
Pola strategis serupa juga menggentayangi Kudeta Brasilia 1964. AS berada di balik konspirasi propaganda pendanaan Instituto de Pesquisas e Estudos Sociais (IPES), yang terus beroperasi di bawah rezim diktator hingga 1972. Produksi pemikir anti-komunis terus digalakkan, guna mendongkel Juscelino Kubitschek dari takhtanya.
Kampanye Anti-Allende
Lebih spesifik, kampanye pendanaan filantropi AS bertujuan menyebar ketakutan. Misi mereka jelas dan tandas: komunisme. Henry Kissinger, penasihat keamanan nasional Presiden Richard Nixon, menyetujui penggunaan dana 300.000 dolar untuk misi konfrontasi politik anti-Allende.
"Saya tidak melihat alasan mengapa kita harus berdiam diri dan menyaksikan sebuah negara menjadi komunis akibat ketidakbertanggungjawaban rakyatnya sendiri," ujar Kissinger dalam "Memorandum for the Record" (Washington, 27 Juni 1970).
Laporan reporter dan penulis Tim Weiner lewat bukunya Legacy of Ashes: The History of the CIA (2008: 308-310) mengungkap, komplotan intelijen Kissinger menyuplai propaganda kepada sejumlah wartawan terkemuka. Mereka bahkan berhasil memuat berita di sampul majalah Time penuh dengan aura arogansi komunisme. Bahan beritanya kuat dipengaruhi oleh metanarasi anti-komunis.
Sementara di Cile, CIA sangat mengandalkan El Mercurio—surat kabar sayap kanan yang meraup fulus dari badan tersebut—serta mendanai pembuatan poster, pamflet, dan pesan-pesan yang dilukis di dinding-dinding penjuru kota.
Namun, upaya-upaya tersebut gagal. Koalisi Popular Unity pimpinan Allende menang dengan selisih suara tipis. Beberapa waktu kemudian, El Mercurio menerbitkan laporan khusus yang besar mengenai Brasil. Salah satu judul beritanya berbunyi:
"Brazil—Tomorrow Is Today."
Itu bukan judul sembarangan. Tafsirannya bernuansa simbolis, mematikan, jika ditelisik lebih dalam. Sebuah perang ideologis untuk menantang kedigdayaan komunisme Cile, mengutuk mereka serupa hantu. Hantu yang terlampau ngeri, tak pantas untuk hari esok.
Tulisan itu seolah menunjukkan optimisme kampanye simpatisan anti-komunis, dengan menyirat lantang bahwa, "Hari ini, kapitalisme menang. Besok, Brasil adalah Cile."
Selama beberapa bulan berikutnya, militer Brasil mulai merancang cara untuk membendung sosialisme di Cile atau "la via Chilena". Bahkan pada saat-saat tertentu, Brasil tampak menentang Allende lebih keras dibanding Amerika Serikat.
Vincent Bevins dalam The Jakarta Method (2020: 177) menjelaskan, Brasil mendesak AS untuk lebih terlibat dalam urusan Amerika Selatan. Itu karena Brasil menginginkan Cile "berkiblat sama" seperti mereka. Emílio Garrastazu Médici, diktator yang menduduki Brasil atas bantuan CIA dalam Kudeta Brasilia 1964 telah melakukan aksi militer lainnya di negara tetangga mereka guna menyokong diktator kanan.
"Rezim diktator Médici turut membantu menggulingkan pemerintahan di Bolivia dan menempatkan Jenderal Hugo Banzer yang berhaluan kanan sebagai diktator. Bukti menunjukkan bahwa Brasilia dan Washington sama-sama memberikan dana serta bantuan untuk kudeta bulan Agustus tersebut," tulis Bevins.
Brasil juga terlibat dalam mengintervensi elektoral Uruguay. Mereka tak sudi melihat koalisi Frente Amplio yang berhaluan kiri berpeluang menang. Oleh karenanya, Brasil mengirimkan operasi intelijen ke perbatasan Uruguay, dan diam-diam mengotori jalannya pemungutan suara. Walhasil, kemenangan kembali diraih petahana, Partai Colorado yang berhaluan kanan.
Setelah kemenangan elektoral Allende, tuan filantropis militer Brasil, Nixon memerintahkan intelijen CIA Richard Helms dengan sepucuk surat bertuliskan, "Mungkin peluangnya 1 dibanding 10, tetapi selamatkan Cile!... Dana $10.000.000 tersedia, tambah jika perlu… [carilah] orang terbaik yang kita miliki, buat ekonomi mereka menjerit," dikutip dari The Pinochet File: A Declassified Dossier on Atrocity and Accountability (2003: 36).

Tim Weiner menyatakan (hlm. 310) bahwa AS menghendaki kejatuhan Allende lewat dua jalur. Pertama, perang politik, tekanan ekonomi, propaganda, dan manuver diplomatik. Agen intelijen CIA menggunakan taktik licik dengan menyuap para politisi Cile serta menebar ketakutan di kalangan penduduk. Jika gagal, mereka akan menjerumuskan Cile ke jurang kemiskinan ekstrem.
Kedua, cara kekerasan: kudeta militer. CIA mulai bersekongkol dengan para perwira militer sayap kanan serta mendanai kelompok radikal yang kelak berkembang menjadi Pátria y Libertad. Organisasi ini merupakan kelompok teror anti-komunis yang santer dengan logo laba-laba geometrisnya yang mengerikan. Mereka juga diduga kuat berafiliasi dengan ideologi fasisme.
Lain itu, Nixon juga menunjukkan impresi puas terhadap kinerja Médici. Menjelang akhir tahun 1971, diktator Brasil itu sempat bertemu Nixon dan mengabarkan bahwa rezimnya siap mengupayakan penggulingan Allende.
Dikutip dari "Brazil’s cold war in the southern Cone, 1970-1975" (2012: 660) oleh Tanya Harmer, Médici mengatakan kepada Nixon, "Kita tidak boleh lengah terhadap situasi di Amerika Latin yang bisa meledak kapan saja." Dalam jamuan perpisahannya, sembari mengangkat segelas anggur, dia juga menegaskan, "Ke mana pun Brasil melangkah, Amerika Latin akan mengikuti."
Médici siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Komitmennya mengerahkan jutaan orang buangan melawan Fidel Castro sudah cukup memuaskan. Orang sepertinya tahu betul pola strategi ekspansi komunisme Soviet dan Tiongkok yang terus bermigrasi di Amerika Selatan. Komunisme kerap merayap dalam senyap, dan biasanya diam-diam menjangkiti rakyat yang hidup dalam kemiskinan.
Operação Jacarta
Ada berbagai laporan amatir yang secara ragu-ragu menyatakan bahwa Gerakan 30 September (G30S) atau Gerakan 1 Oktober (Gestok) 1965 merupakan upaya kudeta militer terstruktur. Ciri menonjolnya kerap beriringan dengan kata "konspirasi". Misalnya Kudeta 1 Oktober 1965 Sebuah Studi tentang Konspirasi (2005) oleh Victor M. Fic. Alih-alih membicarakan soal campur tangan militerisme, pelaku kudeta justru dibebankan kepada orang-orang sipil di Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sangat kontras jika membandingkannya dengan tulisan berani Jess Melvin, "G30S/Militer: Bagaimana Soeharto Mendalangi Pembantaian 1965?". Tulisan itu bukan hanya menjustifikasi militer maupun Soeharto, tetapi juga simbolisme kontra metanarasi Orde Baru yang santer mencap kudeta ini dengan tajuk "G30S/PKI". Jess Melvin meyakini bahwa dalang sesungguhnya kudeta dan pembantaian adalah militer, utamanya Jenderal Soeharto.
Analisisnya, kudeta militer ini bukanlah operasi tunggal. Bila melihat pola yang terjadi di Brasilia 1964, tentu upaya praksis genosida komunis di Kudeta Jakarta 1965 sudah bukan barang asing. Pemenangnya konkret: militer.
Saat Pemerintah Brasil bekerja sama dengan kekuatan sayap kanan Pátria y Libertad di Cile, istilah "Jakarta" mulai dimaknai dengan maksud yang berbeda. Operação Jacarta atau "Operasi Jakarta", adalah proyek rahasia yang meliputi rencana pemusnahan, menurut keterangan yang disampaikan Komisi Kebenaran Brasil.
Pada laporan itu, kediktatoran Brasil punya andil dalam gerilya penghilangan dan pembantaian massal yang dituduh sebagai komunis. Akan tetapi, pembunuhan jurnalis Vladimir Herzog pada 1975 disinyalisasi "mencegah" rencana tersebut terlaksana. Hubungan antardua kasus ini terkuak ketika klaim Operação Jacarta muncul dalam kesaksian sidang Majelis Legislatif Negara Bagian Sao Paulo.
Masalahnya, sampai sekarang, belum cukup bukti yang dapat memberatkan militer Brasil menggunakan istilah Operação Jacarta dalam lingkup internal mereka. Laporan-laporan tersebut hanya muncul sebagai kesaksian langsung yang disadur dari kosakata publik. Karena itu, dalam konstelasi yuridis, militer Brasil belum bisa dikategorikan bersalah.
Salah satu kesaksian yang cukup lengkap adalah kisah pelarian Ing Giok Tan pada Mei 1962. Dia merupakan gadis asal Jakarta yang memutuskan berlayar ke Brasil dengan kapal tua bersama kedua orang tuanya, karena alasan keamanan. Di waktu yang berhimpitan, Indonesia tengah terjerembab ke dalam kemelut Perang Dingin antara kapitalisme dan komunisme. Kondisi itu membuat kedua orang tua Ing Giok Tan ngeri, dan bagi mereka, Brasil menawarkan "kebebasan, kesempatan, dan pelarian dari konflik."
Niat hati lari dari konflik, justru di tahun selanjutnya, keluarga Ing Giok Tan dihadapkan dengan dua polemik sekaligus, Kudeta Brasilia 1964 dan Kudeta Jakarta 1965. Presiden João Goulart digulingkan oleh kudeta militer. Sebagaimana pula insiden di Jakarta yang berjarak ratusan mil, anti-komunisme menjadi faktor sentral dalam wacana para bos baru di Brasilia, dan akan membenarkan gerakan serupa di Amerika Selatan yang juga didompleng AS.

Teror Mural Yakarta Viene
Operação Jacarta merupakan rencana terselubung untuk memperluas teror negara hingga menyasar anggota Partai Komunis. Mereka mantap melayangkan perang terbuka bersama simpatisan sipil atau lewat media.
Masyarakat Brasil baru masif mendengar istilah Operação Jacarta tiga tahun setelah Kudeta Brasilia 1964. Namun di Cile, kata "Jakarta" telah serampangan muncul terbuka laksana pertanda. Di sekitar Santiago, khususnya di bagian timur kota tempat bermukimnya kalangan borjuis, seseorang mulai menempelkan pesan di dinding dan tembok. Bentuknya beragam, tetapi yang paling kerap ditemui adalah mural atau grafiti tak beraturan, yang masih dapat dibaca seksama.
"Yakarta viene."
"Jakarta se acerca."
Artinya: Jakarta telah datang. Kalau ditimbang-timbang, nadanya persis dengan "Brazil—Tomorrow Is Today" di sampul majalah El Mercurio. Pesannya singkat, tetapi lugas dan tandas. Jakarta, bersiaplah dengan kudeta militer.
Mural dan grafiti itu mengarah menjadi wacana agenda anti-komunis bertahun-tahun. Contoh signifikan ditunjukkan Juraj Domic Kuscenic, anti-komunis asal Kroasia yang menulis untuk El Mercurio dan menjalin erat dengan Pátria y Libertad sejak tahun 1970. Dia sudah sering menyinggung Yakarta viene sejak tahun 1960-an.
Tulisan awal Domic tentang Indonesia bisa dilihat di Fundamentos de la Praxis Marxista-Leninista en Chile (1977) yang diterbitkan Editorial Vaitea. Di halaman 33, dia mengulas sebuah artikel tahun 1969 yang menyalahkan kehancuran PKI atas lubang kubur yang mereka gali sendiri.
Pada agenda-agenda selanutnya, Manuel Fuentes Wendling, pentolan Pátria y Libertad bekerja sama dengan Domic untuk menggalakkan vandalisme di dinding kota jadi lebih masif. Mereka siap melancarkan lima ratus ribu graffiti di dinding-dinding Cile sejak tahun 1970. Saat itu, tujuan mereka sederhana, yakni mendukung kandidat presiden, Jorge Alessandri. Kisah ini diceritakan Wendling dalam autobiografinya, Memorias Secretas de Patria y Libertad: y algunas confesiones sobre la Guerra Fría en Chile (1999) berturut di halaman 61-76, kemudian 320-325.
Artikel kedua soal Jakarta terbit pada Februari 1972 dengan judul "La conspiración derechista está tomando vuelo" di majalah Ramona. Majalah ini terafiliasi dengan Partai Komunis. Artikel tersebut menuding kelompok sayap kanan telah mengadopsi proyek yang disebut "Plan Djakarta", dan mencap digagas oleh David Rockefeller atau Agustin Edwards, pemimpin El Mercurio. Keduanya memanfaatkan Ralston Purina, perusahaan makanan hewan di Cile yang dimiliki Rockefeller dan Edwards.
"Kelompok sayap kanan ekstrem Cile ingin mengulangi pembantaian [Operação Jacarta] itu," demikian artikel tersebut menjelaskan. "Apa artinya itu secara konkret? Para teroris memiliki rencana yang mencakup pembunuhan seluruh anggota Komite Sentral Partai Komunis, petinggi Partai Sosialis, para direktur nasional CUT (Central Unitaria de Trabajadores de Chile), para pemimpin gerakan sosial, serta semua tokoh terkemuka di kubu Kiri."
Artikel itu bertanda tangan Carlos Berger, anggota Partai Komunis yang pernah mengurat leher dengan Carmen Hertz mengenai taktik sayap kiri dan makna pembantaian Indonesia saat keduanya berkuliah di University of Chile. Menariknya, meski sempat berdebat dan saling bertolakan, keduanya memutuskan menikah.
Celakanya, strategi mural cukup efektif. Rakyat Cile ketakutan, seolah ditodong moncong senjata yang sudah jauh waktu para komprador anti-komunis persiapkan.
Propaganda ini merupakan sarana politik yang cukup populer di Santiago pada awal 1970-an. Namun kubu kiri juga tak ketinggalan. Ada beberapa sukarelawan mural macam Diego Rivera dari Meksiko yang melukis lanskap rumit nan indah, terinspirasi dari budaya masyarakat adat Mapuche di Cile.
Sementara itu kucuran dana dari Washington mengalir ke pundi-pundi para pelukis profesional sayap kanan. Mereka bekerja dengan giat, tetapi agaknya kurang berbakat lantaran lebih terbiasa mengecat pesan iklan sederhana. Patricio "Pato" Madera, salah satu pendiri Brigade Ramona Parra—komunitas mural Ramona—mengenali grafiti bertuliskan "Jakarta" sebagai karya kelompok bayaran yang sama dengan buruh yang kerap mengerjakan slogan-slogan sayap kanan dalam kampanye teror sejak 1964.
Selain menempuh mural, faksi sayap kanan juga mengirimkan teror kartu pos. Mereka mengirimi rumah pejabat Partai Komunis dengan berbagai ucapan teror. Misalnya pada 1972, Berger dan Hertz pernah disurati kartu pos dengan kop surat "Yakarta se acerca". Di bagian bawah juga tertanda jelas logo laba-laba geometris, khas Pátria y Libertad.
Teror dan sabotase itu membuat pasangan ini merasa tak pernah aman dan nyaman tinggal di lingkungan mereka. Karena waspada, keduanya sering hidup nomaden. Sesekali tidur di tempat kerja, dan hanya sesekali tinggal di rumah, tak pernah menetap beberapa hari berturut-turut.
Di tahun itu, membicarakan "Jakarta" sudah serasa pantangan. Tabu dan sensitif, karena mendekap memori kelam dan suram. Namun situasinya membaik di masa modern. Demi mengenang korban teror, pembantaian massal, serta kebengisan Pinochet, Loreto Garín Guzmán dan Federico Zukerfeld di Buenos Aires dari grup Etcétera membuat pameran instalasi dengan tajuk Yakarta Viene (Jakarta is Coming) (2017).
Mereka juga membuat video kolektif dengan tajuk "Matices Tonos y Semitonos de una orquestación terrorífica". Di pameran ini, Etcétera menampilkan empat karya yang diperoleh dari rangkuman penelitian artistik tentang sejarah yang bertujuan sebagai sumbu alternatif kontra-Pinochet (militer).
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































