tirto.id - Bayi berusia 28 hari bernama Alena dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026) akibat infeksi pencernaan setelah dirawat intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Hingga kini pihak rumah sakit belum mengungkap penyebab pasti kematiannya.
Kabar ini meluas setelah tante dari tersebut yang bernama Calista Arisha mengunggah utas di Threads. Sebelum meninggal, bayi 28 hari tersebut diduga diberi makan telur mentah oleh neneknya.
Menanggapi peristiwa tragis itu, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Aanak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan risiko fatal pemberian makanan sebelum bayi berusia 4-6 bulan.
“Jangan memberikan MPASI sebelum usia 4 bulan, termasuk telur mentah, telur setengah matang, bubur, atau makanan lain yang tidak sesuai dengan usia bayi,” tegas dr Piprim.
Ia memaparkan bayi berusia di bawah 6 bulan direkomendasikan mendapat ASI ekslusif. Jika tidak memungkinkan karena kondisi tertentu, alternatifnya bayi diberikan susu formula sebagai pengganti ASI.
Setelah itu, MPASI dapat diberikan ketika bayi mencapai usia 6 bulan. Dalam kondisi tertentu, pemberian MPASI dapat dilakukan lebih awal sejak usia 4 bulan sesuai dengan pertimbangan medis dan anjuran dokter.
Mitos-mitos yang Salah Terkait Manfaat Telur Mentah
Telur merupakan sumber protein hewani yang murah dan mudah didapat oleh masyarakat. Makanan ini mengandung gizi berupa asam amino esensial lengkap. Melansir laman idai.or.id, satu buah telur rebus mengandung 77 kalori terdiri dari protein sekitar 6 g dan lemak total 5,3 g.
Dalam beberapa dekade lalu, masyarakat Indonesia kerap memberikan telur mentah atau setengah matang pada bayi di bawah 1 tahun. Hal ini dilakukan karena mitos keliru yang berkembang di masyarakat.
Beberapa mitos telur mentah yaitu bisa membuat otot bayi lebih cepat kuat. Ada pula mitos kuning telur mentah lebih bergizi daripada telur matang hingga telur mentah membantu bayi cepat gemuk.
Selain itu, ada juga mitos manfaat telur mentah yakni dapat menurutnkan demam pada bayi. Telur mentah juga diyakini dapat memperindah suara jika diberikan sejak bayi.
Meski ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran semakin berkembang, mitos ini masih saja diyakini oleh sebagian masyarakat, terutama orang-orang yang berusia lanjut. Padahal, secara medis memberikan telur mentah atau telur kurang matang pada bayi yang belum masa MPASI justru dapat membahayakan.

Telur mentah berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi serius, terutama pada bayi. Meski kakek-nenek bermaksud memberikan rasa sayang, namun hal ini perlu dibarengi dengan pemahaman keamanan tindakan.
Pada momen inilah penting memahami perawatan dan pengasuhan bayi bagi seluruh anggota keluarga. Termasuk pentingnya melibatkan kakek nenek untuk memperoleh informasi kesehatan dan pemahaman yang sama dengan orang tua bayi.
“Prinsipnya, tradisi yang baik tentu boleh dipertahankan, tetapi apabila suatu praktik berpotensi membahayakan kesehatan anak, maka keselamatan anak harus didahulukan,” ujar dr. Piprim, dikutip dari Antara News, Senin (12/10).
“Kami di IDAI mengajak seluruh keluarga, termasuk kakek-nenek, untuk bersama-sama merawat anak berdasarkan kasih sayang yang dilandasi ilmu pengetahuan,” lanjutnya.
Kenapa Bayi Tidak Boleh Diberi Makan Telur Mentah?
IDAI secara resmi memberi peringatan keras kepada orang tua agar tidak memberikan telur mentah atau telur setengah matang pada bayi yang belum masuk usia MPASI. Sebab, telur mentah yang mengandung salmonelosis dapat menyebabkan risiko infeksi serius.
"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), dalam pernyataan tertulis yang diterima Antaranews, Senin (12/10).
Menururt penjelasan IDAI, infeksi Salmonella yang terjadi pada bayi cenderung lebih berat hingga menyebabkan komplikasi serius. Bakteri ini dapat menimbulkan diare, muntah, demam, nyeri perut, hingga dehidrasi.
“Hindari pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Pastikan telur dimasak hingga putih dan kuning telurnya matang. Untuk hidangan berbahan telur yang tidak dimasak sempurna, gunakan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan,” sebutnya.
Melansir laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Salmonellosis tergolong penyakit menular (zoonosis) yang menyerang sistem pencernaan, tepatnya bagian saluran usus.

Bakteri Salmonella ini dapat terkontaminasi makanan dan minuman melalui berbagai cara, termasuk dibawa oleh serangga. Tak hanya itu, hewan unggas juga rawan terinfeksi bakteri Salmonella. Apabila menghasilkan telur maka telur tersebut juga bisa ikut terinfeksi.
Bakteri ini akan berkembang biak di saluran usus. Setelah itu hipotalamus merespons dengan meningkatkan suhu tubuh dan terjadilah demam typhoid yang menimbulkan gejala berupa diare dan lainnya. Adapun intensitas reaksi mulai terinfeksi bakteri Salmonella akan terjadi sekitar 7 sampai 36 jam dan akan berlangsung selama 2 sampai 7 hari.
IDAI juga menjelaskan telur yang dimasak hingga matang menjadi sumber protein dan mengandung zat penting untuk pertumbuhan anak. Proses pemasakan yang tepat juga meningkatkan keamanan pangan dan daya cerna protein telur.
Telur dapat digunakan sebagai salah satu bahan MPASI yang teksturnya dapat disesuaikan dengan tumbuh kembang anak dan kesiapannya.
Laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyebut anak-anak di bawah usia 5 tahun cenderung memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit jika terinfeksi Salmonella.
Sebab, sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan, sehingga tubuh tidak mampu melawan kuman dan penyakit sebaik orang dewasa. Laman ini juga mengkategorikan telur mentah atau setengah matang (setengah cair), dan makanan yang mengandung telur mentah atau setengah matang sebagai pilihan yang berisiko.
Kapan Telur Matang Aman Dikenalkan kepada Bayi?
World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian makanan pendamping ASI setelah berusia enam bulan. MPASI tersebut harus diberikan secara aman sembari tetap melanjutkan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih.
Rekomendasi yang tertuang dalam Strategi Global untuk Pemberian Makan pada Bayi dan Anak atau Global Strategy for Infant and Young Child Feeding ini menekankan pentingnya memberikan MPASI yang memadai. Artinya makanan mengandung energi, protein, dan zat gizi mikro yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak yang sedang tumbuh.
Makanan harus disiapkan dan diberikan dengan cara yang aman guna meminimalkan risiko kontaminasi. Salah satu makanan MPASI yang kaya gizi yaitu telur. Pastikan memasak telur secara matang sempurna.
Lalu sajikan dengan tekstur lembut atau dihaluskan sesuai tahap perkembangan bayi. Pada usia 6-8 bulan, sajikan makanan dengan tekstur seperti bubur kental dan makanan yang dilumatkan halus. Berikan MPASI 2–3 kali makan per hari, ditambah sering menyusu ASI. Mulailah dengan 2–3 sendok makan per kali makan, ditingkatkan secara bertahap.

Pada usia 9-11 bulan, sajikan makanan yang dicincang halus atau dilumatkan, dan makanan yang dapat dipegang atau diambil sendiri oleh bayi. Berikutnya di usia 12–23 bulan, berikan makanan keluarga yang telah dicincang atau dilumat jika diperlukan.
Setelah menyajikan telur untuk menu MPASI, perhatikan kemungkinan reaksi alergi yang terjadi. Jika anak tampak aman menerima menu tersebut, maka telur dapat masuk dalam salah satu menu MPASI. Jika masih ragu, konsultasikan kepada dokter keluarga atau layanan kesehatan terdekat.
Agar lebih aman, masyarakat dapat memasak telur hingga matang sempurna yang ditandai dengan kuning dan putih telurnya padat. Selain itu, masyarakat juga dapat memilih hidangan telur yang dimasak hingga suhu bagian dalam mencapai 71-74°C.
Sementara itu, Kemenkes menyarankan telur matang aman dikonsumsi oleh bayi setelah berusia 1 tahun. Hal ini untuk menghindari risiko alergi pada telur dan kemampuan pencernaan bayi yang belum matang.
Setelah usia tersebut, telur menjadi sumber nutrisi yang baik bagi anak. Telur mengandung banyak nutrisi penting, termasuk protein berkualitas tinggi, vitamin B12, vitamin D, zat besi, dan selenium. Protein dalam telur membantu dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Dengan demikian, pengenalan telur pada bayi harus dilakukan dengan hati-hati dan sebaiknya diawasi oleh dokter atau ahli gizi. Pengenalan makanan baru harus dilakukan secara bertahap untuk mengidentifikasi adanya reaksi alergi. Selain itu, pastikan telur dimasak dengan benar untuk menghindari risiko infeksi makanan.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































