Menuju konten utama

Tanda Tanya Kematian Peneliti Laboratorium Pes di Siberia

Peneliti di Laboratorium Pes Siberia meninggal dunia diduga akibat pes. Bagaimana penjelasan Rusia dan respons WHO, termasuk Indonesia?

Tanda Tanya Kematian Peneliti Laboratorium Pes di Siberia
Ilustrasi laboratorium. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kematian seorang teknisi laboratorium, Darya Shipilova (28) di Institut Penelitian Antipes (Antiplague Research Institute/APRI) di Irkutsk, Siberia, pada 2 Oktober 2026, memicu kekhawatiran global soal penyebaran wabah.

Apalagi, sekitar 200 orang yang sempat melakukan kontak langsung dimasukkan ke dalam pemantauan medis atau karantina. Lantas, mungkinkah adanya kebocoran patogen di laboratorium tersebut?

Sebagaimana dikutip Reuters, kasus kematian Darya Shipilova menyisakan tanda tanya besar karena penyebab kematiannya yang masih misterius. Akibat kondisi tersebut, pihak berwenang Rusia juga langsung menerapkan serangkaian langkah pencegahan anti-epidemi yang dikhawatirkan soal indikasi penyebaran wabah Pes.

Berdasarkan laporan awal, peneliti tersebut tidak sengaja memecahkan tabung reaksi yang diduga berisi materi biologis atau bakteri Yersinia pestis (penyebab penyakit Pes) ketika mengambil sampel. Namun, Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, membantah bahwa Darya meninggal akibat jenis pneumonia yang tidak diketahui.

Buntut kasus tersebut, pihak berwenang di Rusia juga mengkarantina sekitar 200 orang yang diduga pernah melakukan kontak secara langsung dengan Darya. Dalam laporan terbaru, 90% dari orang-orang tersebut dibebaskan setelah menjalani hampir 5.000 tes laboratorium, dan dinyatakan tidak ada kasus wabah yang terdeteksi pada siapapun.

Meskipun pemerintah Rusia telah memberikan bantahan soal indikasi penyebaran wabah Pes, hingga kini belum ada konfirmasi jelas tentang bagaimana Darya Shipilova jatuh sakit hingga menyebabkannya meninggal dunia secara misterius.

Terlebih, Rospotrebnadzor menyebut bahwa tidak menemukan patogen pada hasil tes orang-orang yang dikarantina, namun 60 di antaranya justru tetap diisolasi di dalam gedung serta beberapa rumah sakit tetap tutup tanpa penjelasan.

Kronologi Kematian Peneliti Laboratorium Siberia

Mengutip Euronews, staf laboratorium di Irkutsk, Darya Shipilova meninggal dunia pada 2 Oktober 2026 di ruang perawatan intensif rumah sakit distrik di Kota Shelekov. Menurut laporan media lokal, Darya meninggal setelah tertular wabah jenis pneumonia misterius usai sebuah tabung reaksi pecah di laboratorium.

Dalam laporan lainnya, Darya diduga jatuh sakit setelah bepergian ke Thailand atau Moldova, atau ke daerah dekat perbatasan dengan Mongolia. Sayangnya, dugaan tersebut belum dikonfirmasi kebenarannya. Bahkan, badan pengawas kesehatan Rusia juga cenderung membantah rumor-rumor tersebut.

Ilustrasi laboratorium

Ilustrasi laboratorium. FOTO/iStockphoto

Sementara itu, pada tanggal 2 Oktober 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengetahui melalui laporan media mengenai kematian seorang pegawai Irkutsk APRI di wilayah Siberia dan Timur Jauh, Federasi Rusia.

Pada tanggal 3, 5, 6, dan 7 Oktober, WHO menghubungi otoritas kesehatan Federasi Rusia untuk memverifikasi informasi yang dilaporkan oleh media termasuk dugaan adanya kasus kedua.

Berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional (2005) (IHR), WHO juga meminta informasi lebih lanjut untuk menilai potensi implikasi kesehatan masyarakat internasional sebagaimana diatur dalam Pasal 6 IHR.

Namun, Federasi Rusia mengonfirmasi bahwa kasus kematian Darya Shipilova tidak ada kaitannya dengan kasus wabah penyakit yang terdaftar baru-baru ini di Oblast Irkutsk.

Selain itu, usai kematian pekerja laboratorium tersebut, pihak berwenang mengklaim telah melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian sesuai undang-undang sanitasi nasional. Mereka juga melaporkan bahwa tidak ada insiden biosekuriti yang terjadi di laboratorium, seperti yang banyak diberitakan di media-media.

Misteri Penyebab Kematian, karena Pes atau Bukan?

Darya Shipilova diduga meninggal dunia setelah secara tidak sengaja menjatuhkan tabung reaksi yang berisi patogen bakteri penyebab Pes (Yersinia pestis). Meskipun belum ada konfirmasi mengenai alasan utama penyebab pekerja tersebut meninggal, seorang gubernur regional justru mengatakan bahwa Shipilova "mungkin" saja meninggal karena hal tersebut.

Menurut lembaga pengawas kesehatan Rospotrebnadzor, menyebut bahwa Shipilova diduga meninggal akibat terpapar jenis pneumonia yang tidak diketahui.

Kekhawatiran publik tampak tinggi mengingat pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri Yersinia pestis, penyebab penyakit pes yang dalam bentuk tertentu dapat berkembang menjadi pes pneumonik. Sekitar tahun 1300-an silam, di lebih dari 50 juta orang tewas di Eropa karena wabah Pes, yang kemudian dikenal sebagai "Black Death".

Penyakit pes paru-paru jadi jenis yang sangat menular. Bahkan, menurut WHO, bakteri tersebut "dapat memicu epidemi parah melalui penularan dari orang ke orang melalui partikel pernapasan".

Kantor WHO

Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). FOTO/iStockphoto

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun meminta National Focal Point (NFP) Federasi Rusia mengonfirmasi kematian tersebut.

NFP menyampaikan bahwa tidak ada kasus pes yang tercatat baru-baru ini di Oblast Irkutsk. Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian juga telah diterapkan sesuai dengan peraturan nasional. Selain itu, pemeriksaan laboratorium terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan korban menyatakan tidak ditemukan patogen berisiko tinggi.

Pihak berwenang juga melaporkan bahwa tidak terjadi insiden biosecurity di laboratorium, dengan kata lain membantah informasi yang menyebut adanya kebocoran patogen. Mereka menyatakan tidak ada kasus pneumonia berat lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

NFP menginformasikan kepada WHO bahwa Shipilova dan seluruh kontaknya telah diperiksa terkait berbagai mikroorganisme, termasuk patogen berisiko tinggi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ditemukan patogen berisiko tinggi yang diuji.

Seluruh orang yang melakukan kontak dengan Shipilova telah menjalani pemantauan medis di fasilitas pelayanan kesehatan atau di rumah. Mereka tetap tidak menunjukkan gejala selama masa pemantauan. Langkah karantina juga diberlakukan di rumah sakit tempat pasien dirawat.

Berdasarkan informasi yang disampaikan NFP, WHO belum menemukan bukti adanya penularan yang berkelanjutan terkait peristiwa ini. Namun, masih terdapat satu ketidakpastian utama, yakni belum adanya diagnosis yang terkonfirmasi pada pekerja laboratorium yang meninggal dunia tersebut.

Menurut WHO, pihaknya akan terus memantau situasi dan menilai potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat seiring dengan tersedianya informasi lebih lanjut.

"Kami ingin menyampaikan informasi yang adil dan faktual, dan ketika kami tidak memiliki jawaban, kami akan mengatakannya," ungkap Maria Van Kerkhove, Pemimpin Departemen Epidemi dan Pandemi di WHO soal diagnosis, dikutip United Nations.

Tentang Penyakit Pes & Respons Kasus di Indonesia

Usai munculnya indikasi soal penyebaran wabah pes di Rusia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung memberikan respons waspada dengan memantau pelaku perjalanan yang terdeteksi masuk ke Indonesia. Namun, tingkat kewaspadaannya akan dilandaskan pada perkembangan situasi dan penanganan kasus di Rusia.

Kendati belum menerapkan pembatasan perjalanan, Kemenkes tetap meminta Balai Karantina Kesehatan, Laboratorium Kesehatan Masyarakat, rumah sakit, serta dinas kesehatan agar tetap waspada serta meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi.

Selain itu, Kemenkes juga akan mengamati tanda dan gejala pada setiap pelaku perjalanan melalui analisis deklarasi kesehatan pada All Indonesia-SSHP. Jika tanda-tandanya menunjukan gejala tertentu, petugas kesehatan di bandara disebut akan merujuk kasus ke RS rujukan penyakit infeksi guna mendapatkan penanganan lanjutan.

Ilustrasi Masker Buff

Ilustrasi Masker. foto/istockphoto

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat agar senantiasa memantau perkembangan situasi kesehatan global maupun nasional, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat guna meminimalisir terpaparnya bakteri atau virus menular mematikan.

Mengutip Washington State Department of Health, Pes merupakan penyakit menular yang terjadi pada hewan dan manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang biasanya terdapat pada hewan pengerat liar dan kutunya.

Penyakit Pes dapat tertular dengan cepat ketika bakteri Yersinia pestis terhirup melalui udara. Gejala utama dari penyakit ini yaitu demam, sakit kepala, lemas, serta batuk berdarah atau berdahak akibat infeksi paru-paru (pneumonia).

Baca juga artikel terkait WABAH PES atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - GWS
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora