Menuju konten utama

Mengenal Gastroparesis: Kenapa Makan Bikin Begah dan Mual?

Kenali gastroparesis, gangguan yang menyebabkan makanan terhambat di lambung, membuat penderita terlalu mudah kenyang, disertai mual dan muntah.

Mengenal Gastroparesis: Kenapa Makan Bikin Begah dan Mual?
ilustrasi gangguan lambung. (FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gastroparesis merupakan gangguan lambung seperti maag dan gerd. Namun demikian kondisi gastroparesis disebabkan oleh hal berbeda dari 2 gangguan tersebut.

Melansir laman RS Pondok Indah (25/6/2025), gastroparesis biasanya terdeteksi sebagai komplikasi dari penyakit lain, termasuk diabetes. Berdasar penelitian, sekitar 41 persen penderita diabetes mengalami gastroparesis.

Gastroparesis menunjukkan gejala seperti perut terasa kenyang meski hanya makan sedikit. Tak hanya itu, penderita juga mengalami mual, hingga memuntahkan makanan yang belum dicerna lambung.

Rasa sakit juga kerap terjadi pada perut bagian atas. Tidak sedikit penderita yang mengalami konstipasi atau sembelit. Selain itu, penyakit ini juga mengakibatkan heartburn atau sensasi panas seperti terbakar di dada.

Apa Itu Gastroparesis dan Kenapa Lambung Bisa Mogok Kerja?

Gastroparesis merupakan gangguan lambat atau penghentian pergerakan makanan dari lambung ke usus kecil, meskipun tidak ada penyumbatan di lambung maupun usus.

Merujuk laman Halodoc (7/5/2026), gastroparesis berasal dari kata “gastro” yang berarti lambung, lalu “paresis” berarti kelumpuhan sebagian.

Secara medis, gastroparesis merupakan gangguan ketika pergerakan otot-otot lambung melemah atau berhenti sepenuhnya, sehingga makanan bertahan di lambung dan menyebabkan komplikasi.

Gangguan gastroparesis, mengutip laman National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease (NIDKK), disebut juga sebagai delayed gastric emptying atau pengosongan lambung tertunda.

Normalnya pada orang sehat, sebagaimana dijelaskan di laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (25/8/2025), kontraksi otot yang kuat bisa mendorong makanan melalui saluran cerna.

Namun pada penderita gastroparesis, kecepatan pergerakan lambung bisa mengalami penurunan atau tidak terjadi sama sekali. Kondisi ini kemudian menghambat pengosongan lambung.

Header Diajeng Asam lambung

Header Diajeng Asam lambung. FOTO/iStockphoto

Artikel ilmiah Camilleri, dkk. yang berjudul ACG Clinical Guideline: Gastroparesis (2022) menjelaskan, gastroparesis adalah gangguan gerakan lambung motilitas yang ditandai dengan gejala dan dokumentasi objektif keterlambatan pengosongan lambung makanan padat tanpa obstruksi mekanis.

Gejala kronis yang dialami penderita gastroparesis bisa dikaitkan dengan memburuknya gejala setelah asupan makanan oral. Di antaranya, gejala bisa berupa rasa kenyang setelah makan, mual, muntah, dan nyeri perut bagian atas.

Gejala lain yang ditunjukkan penderita gastroparesis, yakni perut kembung, merasa kenyang lama setelah satu kali makan besar, refluks asam, hingga perubahan kadar gula darah. Selain itu, penderita juga kerap tidak nafsu makan sehingga mengalami penurunan berat badan dan kekurangan nutrisi (malnutrisi).

Ketahui Pemicu Utama Gastroparesis

Laman Mayo Clinic menyebut penyebab gastroparesis tidak selalu bisa dipastikan. Biasanya, gangguan ini berkaitan dengan diabetes. Namun demikian beberapa penderita juga mengalami akrena efek setelah operasi, atau karena mengidap penyakit akibat virus.

Di samping itu gangguan juga bisa berasal dari obat-obatan tertentu, seperti pereda nyeri, beberapa antidepresan, obat-obatan untuk tekanan darah tinggi, penurunan berat badan, serta alergi, semua itu dapat memperlambat pengosongan lambung.

Mengacu informasi di laman RS Pondok Indah, penyebab gastroparesis salah satunya adalah kerusakan pada saraf vagus. Dalam pencernaan, saraf tersebut berfungsi merangsang produksi asam lambung, enzim pencernaan, pergerakan usus, serta mendukung proses penyerapan nutrisi.

Pada kondisi normal, makanan yang berada di lambung bakal didorong masuk ke usus halus oleh saraf vagus atau saraf yang mengendalikan otot perut.

Akan tetapi saraf vagus pada penderita gastroparesis mengalami kerusakan kemudian mengganggu fungsi otot lambung. Kondisi ini mengakibatkan gerakan otot lambung berkurang, atau bahkan tidak bergerak sama sekali. Lambung tidak mampu mendorong makanan ke usus dan mengosongkan isinya.

Kondisi gastroparesis menyebabkan makanan tertinggal lebih lama di dalam lambung. Hal ini turut menghambat proses pencernaan.

Asam Lambung

Ilustrasi Asam Lambung. Foto/paleofoundation.com

Biasanya kerusakan saraf vagus terjadi pada penderita diabetes serta orang yang pernah menjalani operasi lambung. Kendati begitu, banyak juga penderita gastroparesis mengalami kondisi ini tanpa diketahui penyebab pasti.

Selain penderita diabetes baik tipe 1 atau tipe 2 yang tidak terkontrol, gastroparesis juga dialami oleh orang yang mengalami gangguan lain yang meningkatkan risiko kondisi ini.

Misalnya penderita skleroderma atau penyakit autoimun yang menyerang jaringan ikat. Penderita memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gastroparesis.

Penderita gangguan saraf seperti penyakit parkinson atau multiple sclerosis juga rentan mengalami gastroparesis. Kondisi lain yang meningkatkan risiko gastroparesis adalah terinfeksi virus, seperti norovirus dan rotavirus.

Seseorang yang menjalani perawatan kanker tertentu, seperti terapi radiasi pada dada atau lambung juga berisiko untuk mengalami gastroparesis. Selain itu seperti yang sudah dijelaskan, orang yang menjalani operasi pada lambung atau esofagus juga bisa mengalami kondisi ini.

Penyebab lain gastroparesis adalah amiloidosis atau penyakit akibat penumpukan zat amiloid di jaringan tubuh, peradangan pada dinding lambung dan usus, serta hipotiroidisme atau kondisi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi cukup hormon tiroid.

Cara Mencegah Gastroparesis

Jika merujuk pada informasi di laman Alodokter, gastroparesis tak bisa dicegah secara pasti. Namun kita bisa mengurangi risiko kemungkinan terjadi kondisi ini, yakni dengan melakukan perbaikan pola makan.

Risiko gastroparesis juga bisa diminimalisir dengan melakukan olahraga secara rutin. Langkah lain juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi suplemen vitamin harian, namun terlebih dulu perlu berkonsultasi dengan dokter.

Pada penderita diabetes, meminimalisir risiko gastroparesis bisa dilakukan dengan melakoni pola makan sehat dan pengobatan sesuai anjuran dokter, agar kadar gula darah dalam tubuh selalu terkontrol.

Melansir laman RS Pondok Indah, risiko gastroparesis bisa dikurangi dengan menjaga pola makan sehat dan teratur. Batasi pula konsumsi makanan yang bisa memperlambat pengosongan lambung, seperti makanan tinggi lemak.

ilustrasi organ lambung

ilustrasi organ lambung. FOTO/iStockphoto

Pastikan kebersihan makanan agar mencegah infeksi saluran cerna. Tak hanya itu, sebagai pencegahan sebaiknya hindari konsumsi minuman beralkohol.

Mengingat gastroparesis salah satunya disebabkan oleh konsumsi obat-obatan, sebaiknya tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat memicu gangguan lambung tanpa resep dokter. Misalnya, opioid, progesteron, atau antikolinergik.

Bagi penderita diabetes, sebaiknya rutin mengontrol kadar gula darah. Pada penderita diabetes, gejala gastroparesis bisa berupa kadar gula darah yang selalu berubah-ubah.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - GWS
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Oryza Aditama