Menuju konten utama

World Mental Health Day & Kenapa Suara Penyintas Wajib Didengar?

Pengalaman penyintas penting bagi peningkatan layanan penanganan kesehatan mental. Hapus stigma dan dengarkan pengalaman mereka.

World Mental Health Day & Kenapa Suara Penyintas Wajib Didengar?
Ilustrasi World Mental Health Day. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day tahun 2026 diperingati pada 10 Oktober 2026. Ini menjadi momen masyarakat dunia untuk memahami kesehatan mental dan kebutuhan para penyintas.

Kesehatan mental, sebagaimana dijelaskan World Health Organization (WHO), merupakan kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi kepada masyarakat.

Orang dengan kondisi kesehatan mental sering mengalami stigma, diskriminasi, hingga pelanggaran hak asasi manusia. Padahal, kondisi yang tengah mereka alami bukan suatu hal yang mustahil untuk menimpa orang lain pula.

Maka, pengalaman penyintas gangguan mental juga berharga dan perlu didengarkan. Hal ini berkaitan dengan penanganan kesehatan mental.

Oleh sebab itu, WHO mencanangkan tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” (Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata) untuk kampanye Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026.

Penyintas Bukan Sekadar Bercerita

Penyintas merupakan orang dengan kondisi kesehatan mental tertentu yang berusaha mengatasinya dan bertahan hidup. Mereka mengalami serangkaian pengalaman panjang yang membentuk diri dan kondisi mentalnya.

Tak heran jika penyintas juga sering disebut “orang dengan pengalaman langsung” atau “people with lived experience”. Melansir laman WHO, mereka membawa pengetahuan yang tidak dapat diperoleh hanya dari pelatihan profesional atau penelitian.

Saat ini, layanan penanganan kesehatan mental tidak hanya melalui institusi atau lembaga psikiatri jangka panjang. Perawatan kesehatan mental berbasis komunitas dan berpusat pada individu menjadi prioritas penting bagi penyintas.

Pasalnya, lembaga cenderung mengisolasi dan terlalu sering dikaitkan dengan perawatan berkualitas rendah, pemaksaan, hingga pelanggaran hak asasi manusia.

Ilustrasi kesehatan mental

Ilustrasi kesehatan mental. FOTO/iStockphoto

Penyintas dengan pengalaman dapat turut andil dalam membagikan pengetahuan atau wawasan sehingga bisa berguna bagi masyarakat luas. Kendati bukan pakar, mereka merupakan orang dengan pengalaman yang bisa disetarakan sebagai sebuah keahlian.

Mengutip WHO, orang dengan pengalaman langsung atau penyintas pernah mengalami kesulitan kesehatan mental sehingga mereka membawa keahlian yang tidak ditawarkan dalam kursus atau buku teks mana pun.

“Keahlian yang berasal dari pengalaman hidup sama pentingnya dengan bentuk keahlian lain, seperti keahlian klinis, sosial, dan kebijakan,” jelas Michael Ryan, Kepala Keterlibatan dan Pemulihan Kesehatan Mental di Eksekutif Layanan Kesehatan Irlandia.

Maka, pengalaman penyintas bukan sekadar cerita. Mereka tidak hanya berbagi cerita, tapi juga pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat luas sehingga patut untuk selalu didengarkan.

Mendengar Pengalaman, Memperbaiki Penanganan

Michael Ryan juga menjelaskan bahwa pengalaman hidup atau apa yang telah dijalani para penyintas merupakan pengetahuan penting. Ini berguna dalam menciptakan sistem kesehatan yang memberikan kesempatan maksimal kepada orang-orang yang menggunakan layanan tersebut untuk pulih dan menciptakan kehidupan sesuai pilihan mereka sendiri.

Artinya, pengalaman para penyintas berperan penting dalam peningkatan pelayanan kesehatan mental. Mereka membantu orang lain dalam pemulihan atau dengan mendukung mereka untuk menavigasi jalur perawatan.

Tak hanya itu, mereka juga bisa memberi nasihat kepada organisasi dan pembuat kebijakan mengenai efektivitas kebijakan kesehatan mental dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Para penyintas atau orang dengan pengalaman nyata bisa mengidentifikasi hambatan yang mungkin diabaikan orang lain. Mereka juga bisa membantu memastikan bahwa kebijakan, layanan, dan program menanggapi kebutuhan dan keadaan nyata masyarakat.

Ilustrasi bercerita di depan kelas

Ilustrasi bercerita. (FOTO/Evanto)

Lebih lanjut, hal ini sekaligus berarti merupakan bentuk penanganan kesehatan mental yang lebih manusiawi. Tidak hanya efektif, sistem kesehatan mental yang dibangun juga penuh kasih sayang dan berorientasi pada pemulihan, dengan menempatkan individu sebagai pusatnya.

“Manfaat utama dari keahlian berdasarkan pengalaman hidup adalah memberikan harapan kepada mereka yang berjuang dengan tantangan kesehatan mental: harapan bahwa pemulihan adalah hal yang mungkin bagi setiap orang,” terang Michael Ryan.

Inilah yang juga dimaksud dengan perawatan kesehatan mental berbasis komunitas. Masyarakat di sekitar penyintas ikut berperan dalam penanganan kesehatan mental, mengingat kondisi itu bisa dialami semua orang.

Sistem kesehatan mental cenderung lebih berpusat pada individu. Masyarakat sekitar, mulai dari orang biasa, praktisi, hingga pembuat kebijakan, tidak mengabaikan hak penyintas.

Lebih Banyak Mendengar, Mengurangi Stigma

Selama ini, orang dengan kondisi gangguan kesehatan mental cenderung dilekatkan dengan stigma atau citra buruk. Dalam masyarakat yang belum memahami konsep kesejahteraan mental, penderitaannya seolah dianggap angin lalu dan sepele belaka.

Tak hanya stigma, mereka juga kerap mengalami diskriminasi hingga tidak mendapatkan hak dasarnya sebagai manusia. Padahal, bukan tidak mungkin orang lain akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami seseorang dengan kondisi mentalnya.

Stigma terhadap penyintas membuat seolah pengalaman yang mereka miliki tidak berharga dan penting bagi peningkatan layanan penanganan kesehatan mental. Sering kali pengalaman mereka, yang merupakan pengetahuan atau wawasan, diabaikan.

WHO menjelaskan bahwa pendekatan yang paling efektif untuk mengurangi stigma adalah kontak sosial dengan orang yang memiliki pengalaman langsung dengan kondisi kesehatan mental.

Ketika mereka berbagi pengalaman, masyarakat dapat melihat mereka sebagai individu yang memiliki kendali atas hidupnya, memahami proses pemulihan mereka, dan mengembangkan empati.

Senada dengan WHO, penelitian Intergroup Contact and Mental Health Stigma: A Comparative Effectiveness Meta-Analysis mengungkapkan hal serupa.

Penelitian ini menganalisis 101 studi dari 24 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa interaksi dengan orang yang memiliki kondisi kesehatan mental berkaitan dengan penurunan stigma, baik segera setelah intervensi maupun dalam pengamatan jangka pendek dan menengah.

ilustrasi ngobrol

ilustrasi ngobrol. foto/istockphoto

Tak hanya itu, ada juga Key Components of Effective Contact Interventions for Reducing Public Mental Health Stigma: An Updated Meta-Analysis, sebuah meta-analisis yang mencakup 209 artikel penelitian.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kontak sosial secara signifikan mengurangi stigma setelah intervensi, termasuk dalam jangka pendek dan menengah. Dampaknya cenderung lebih besar ketika kontak sosial dipadukan dengan informasi edukatif.

Mendengarkan pengalaman orang dengan gangguan kesehatan mental bukan sekadar memberi mereka ruang untuk bercerita. Cara ini juga dapat membantu mengurangi stigma yang selama ini melekat pada mereka.

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan layanan kesehatan mental dengan prioritas perawatan berbasis komunitas, WHO memiliki road map yang menguraikan tindakan-tindakan penting bagi negara-negara untuk mengintegrasikan pengalaman hidup nyata penyintas ke dalam sistem dan layanan kesehatan mental.

Negara-negara perlu memperkuat kebijakan nasional untuk secara resmi memasukkan peran pengalaman hidup. Kemudian, membangun kesiapan organisasi untuk integrasi yang bermakna.

Kolaborasi juga diperlukan dalam perancangan dan penyampaian layanan. Selain itu, diperlukan standardisasi pelatihan dan pengembangan profesional. Tak kalah penting, masyarakat dunia perlu mendukung para praktisi melalui supervisi dan praktik reflektif, serta memperluas jangkauan menggunakan inovasi digital.

Tindakan-tindakan tersebut bisa dimulai dengan hal sederhana, yakni mendengarkan pengalaman para penyintas. Jadilah ruang aman bagi mereka dengan tidak buru-buru memberi penilaian atau nasihat jika tidak diperlukan. Hal ini selain bisa meringankan beban emosi mereka, juga sekaligus menjadi wawasan bersama dalam penanganan kesehatan mental.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - GWS
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora