tirto.id - Kejadiannya bermula seminggu sebelum perayaan suci Maria Magdalena, pada 14 Juli 1518, ketika udara musim panas menghangatkan Prancis. Dari lorong sempit di jalan pasar Kota Strasbourg, Alsace, perempuan bernama Frau Troffea mendadak keluar rumah dan mulai menari membabi buta. Tak ada musik atau jamuan, tetapi tubuhnya tak mau berhenti seolah dikendalikan oleh kekuatan magis.
Raut gembira tak menyemburat dari parasnya, meski rok terus berkibar di sekitar kakinya yang bergerak lincah. Dia masih mengenakan celemek dengan setelan topi linen putih yang lepek karena keringat. Pantaslah suaminya khawatir, sebab Troffea terus menari sepanjang hari.
Kendati bayangan memanjang dan halimun telah menenggelamkan mentari, Troffea sama sekali tak bisa menghentikan tubuhnya. Dia menari selama berjam-jam, kemudian jatuh pingsan lantaran kelelahan.
Namun, itu tak berlangsung lama. Lepas siuman, dia kembali menggila dan menari berhari-hari. Di hari ketiga, orang-orang yang penasaran berkerumun, tetapi hanya menonton, bukannya membantu. Para pedagang, pengemis, pendeta, biarawati, dan bahkan bangsawan, menganggap Troffea kesurupan.
Sepatu Troffea perlahan basah kuyup dengan darah. Peluh menetes dari wajahnya tanda lelah. Orang-orang tak berani mendekat. Beberapa di antaranya “menyalahkan” roh-roh gelisah, dan bahwa setan telah merangsek ke dalam tubuh serta menguasai jiwanya.
Di hari keenam, barulah Troffea ditandu dengan gerobak menuju ke Kuil Saverne, di gua lembap pegunungan Vosges. Jaraknya satu hari perjalanan (30 mil) dari rumahnya.
Langkah itu baru ditempuh ketika salah seorang bangsawan, Andreas Drachenfels, menganggap gejala yang menjangkit Troffea itu penyakit serius.
Fenomena tersebut belakangan disebut Wabah Menari 1518. Sekalipun terdengar seperti legenda horor atau cerita tutur sebelum tidur, peristiwa itu nyata, tercatat dalam arsip, serta memakan korban dan ada saksi matanya, dari rakyat biasa, pedagang, dokter, hingga pejabat kota.
Yang Pertama Menyadari Ada yang Tak Beres
Orang pertama, yang mendiagnosis gejala Frau Troffea adalah Theophrastus Bombast von Hohenheim atau yang beken dikenal Paracelsus dalam manuskrip Opus Paramirum (1531). Dia adalah dokter dan alkemis berkebangsaan Jerman-Swiss yang berperan aktif dalam revolusi medis di masa Renaisans Jerman.
Catatan Paracelsus itu kemudian disadur oleh John Waller, profesor Universitas Michigan yang berdedikasi menelusuri mosaik fenomena tersebut.
“Di rumah-rumah, aula, dan ruang publik, ketika ketakutan melumpuhkan kota dan anggota dewan penasihat Strasbourg putus asa, mereka terus menari dengan intensitas tanpa akal sehat,” tulisnya dalamA Time to Dance a Time to Die: The Extraordinary Story of the Dancing Plague of 1518(2008: 3).
Setelah berita menggilanya Troffea menggema ke penjuru negeri, gejala wabah makin memprihatinkan. Lebih dari 30 orang turun ke jalan, turut menari, melompat, dan berjingkrak di udara.
Pada bulan selanjutnya, jumlah korban terus meningkat hingga 400 orang. Sementara itu, dalam jurnal The Lancet(2009), John Waller menyebut setidak-tidaknya 15 nyawa telah melayang.
Wabah tersebut telah menjalar dan menular layaknya epidemi. Para korban tidak hanya merasakan epilepsi dan gemetar hebat. Mereka seolah-olah sengaja menari, padahal tidak ada bukti bahwa mereka ingin menari.
“Sebaliknya,” tambah John Waller, “mereka mengungkapkan ketakutan dan keputusasaan,” tulisnya, mengutip laporan dewan kota dalam majalah Bulletin de la Société pour la Conservation des Monuments Historiques d’Alsace (1897: 12)
Sketsa mengenai estetika sekaligus histeria tarian itu terpampang dalam lukisan Pieter Brueghel bertajuk "Die Epileptikerinnen von Meulebeeck" (1564). Mereka menunjukkan raut wajah linglung, kesakitan, seperti jiwa-jiwa malang yang tengah kesusahan.
Pendapat yang Menstigma Perempuan
Hingga kini, belum ada kesimpulan pasti penyebab utama orang-orang di Strasbourg menari, bahkan sampai menyebabkan kematian.
Pendapat paling lemah tentu soal kutukan dan sihir jahat. Paracelsus, sekalipun seorang dokter, menyebut dalam catatannya bahwa roh Mager dari kepercayaan paganisme telah menipu daya korbannya.
Roh tersebut menginfiltrasi psikologis manusia, utamanya perempuan. Ia berhipotesis, perempuan dikatakan rentan terhadap kerasukan setan karena memiliki pikiran dan moral lebih lemah.
“Sihir berasal dari nafsu berahi yang tak terpuaskan pada perempuan” tegas para penulis Malleus Maleficarum yang bertugas memburu penyihir pada 1496. "Sifat penuh nafsu, kata mereka, mendorong perempuan melakukan dosa-dosa keji; hal ini pada gilirannya menarik setan ke dalam jiwa mereka.”
Karya itu, sekalipun lemah dan belum diuji keabsahannya, telah diterbitkan ulang pada 1517 dengan judul Demonic Possession is a Horrible Punishment Inflicted by God.
Tentu argumentasi semacam itu menimbulkan justifikasi bias gender. Namun perlu diingat, dengan keterbatasan informasi dan pengetahuan fenomena supranatural pada abad ke-16, akan lebih mudah dipahami awam jika iblis dan setan menjadi pihak yang dikambinghitamkan.
Penjelasan mengenai Wabah Menari yang dikemukakan Paracelsus dan rekan-rekan sezamannya boleh jadi sudah kolot dan tak relevan.
Pendapat yang Berkaitan dengan Zat Halusinogen
Beberapa penulis modern, misalnya Eugene Louis Backman, telah mencari asal-usul kimiawi atau biologis dari epidemi tersebut.
“Kandidat utamanya adalah ergot, sejenis jamur yang tumbuh subur pada batang gandum hitam yang lembap,” tulis Backman dalam Religious Dances in the Christian Church and in Popular Medicine (1952: 303-321).
Senyawa ergotamin yang dihasilkan ergot dapat memicu delusi, kedutan, dan gerakan tiba-tiba yang hebat. Karenanya, jamur ini termasuk ke dalam zat psikotropika sehingga dapat memicu efek halusinasi.
Para penggiling di Alsace tampaknya menyadari risiko tersebut. Mereka menemukan bahwa ujung pipa kayu yang digunakan untuk menuang tepung ke dalam karung-karung di lumbung bentuknya “terdistorsi”. Kuat dugaan, tepung sebagai bahan utama roti telah terkontaminasi ergotamin.
Namun, belum ada bukti penelitian lebih lanjut yang memastikan bahwa ergotamin menyebabkan gerakan ritmis yang berlangsung selama berhari-hari.
Terlebih, John Waller menyanggah analisis tersebut di buku yang sama (hlm. 12), “Ada dua alasan tambahan untuk menolak hipotesis ergotisme. Pertama, tidak mungkin orang bereaksi dengan cara aneh yang sama terhadap keracunan ergot. Kedua, meskipun ergot dapat menyebabkan delusi dan kejang, ergot jauh lebih sering menyebabkan berkurangnya suplai darah ke anggota tubuh, yang pada gilirannya menimbulkan sensasi terbakar mengerikan, gangren, dan seringkali kematian yang menyakitkan.”
Ivan Crozier, dosen di Unit Studi Sains University of Edinburgh, sepenuhnya setuju dengan kesimpulan Waller.
"Penjelasan budayanya [Waller], yang dipadukan dengan pandangan kontekstual mengenai kondisi kehidupan masyarakat pada masa itu di sepanjang Sungai Rhine dan Mosel, sangat meyakinkan dan lebih kuat daripada argumen-argumen mengenai ergot, yang merupakan senyawa serupa LSD," kata Crozier.
"Ergot membuat orang mengalami halusinasi, bukan memberi energi untuk menari," tambahnya.
Tekanan Psikologis Memantik Histeria
Pendapat lain yang lebih masuk akal, tetapi kurang populer, adalah bahwa Wabah Menari merupakan bentuk histeria massal, ekspresi fisik dari tekanan psikologis.
“Tes darah, EEG, MRI, dan Pemindaian PET tidak menunjukkan adanya infeksi, lesi, atau kerusakan struktural. Namun, dokter menemukan [di sebagian pasien] riwayat depresi, trauma, atau pelecehan,” tambah John Waller, sebagaimana ia melabelisasi gejala tersebut sebagai “gangguan konversi” (hlm. 188).
Itu didukung oleh Per Fink, Morten Steen Hansen, dan Lene Sondergaard, dalam tulisannya di jurnal Psychosomatics (2005, Vol. 46: 540-548). Bahwasanya sekitar 35 persen pasien yang dirujuk ke klinik neurologi mengalami gangguan tanpa dasar medis yang jelas.
Antara 1 hingga 2 persen dari jumlah tersebut memperlihatkan disfungsi motorik atau sensorik yang tampaknya berasal dari faktor psikologis.
Selama beberapa waktu sebelum musim panas 1518, situasi di Alsace memang tengah kacau. Serangkaian problem kelaparan melanda di mana-mana, tersebab musim dingin membeku hingga musim panas yang terik mencekik.
Belum lagi penyakit cacar, sifilis, kusta, dan “the English sweat” (penyakit menular mematikan yang baru dikenali), yang melibas daratan Alsace.
Alhasil, rumah sakit tua, yang diperuntukkan bagi para pensiunan miskin, makin kewalahan. Tempat yang biasanya menampung sekira 100 pasien, tiba-tiba membludak jadi 500 orang, termasuk anak-anak.
Sementara itu, ratusan ibu dan ayah meminta belas kasihan kepada panti asuhan kota, dengan harapan mereka mau menampung anak-anaknya.
Peter Wickgram, juru khotbah katedral, mencatat bahwa pada 1518 sebanyak 300 anak yatim piatu dirawat di rumah sakit. Kondisi itu menciptakan situasi serba salah.
Pihak rumah sakit dengan hormat menolak untuk menekan pengeluaran. Sementara itu, para orang tua melakukan hal di luar nalar.
“Dalam kondisi seperti itu, wanita-wanita miskin mencekik bayi mereka dan melemparkannya ke Sungai Ill untuk memberi kesempatan kepada saudara mereka yang lebih tua .... Wickgram menghitung bahwa ada 2.200 penerima sedekah pada tahun 1518, tidak termasuk sekitar 800 penghuni panti asuhan dan rumah sakit kota,” tulis Paul Adam, dalam Charité et Assistance en Alsace au Moyen Age (1982: 93 dan 103), menyadur keterangan Peter Wickgram.
Orang-orang yang selamat dari Wabah Menari terpaksa menyembelih sisa hewan ternaknya, mengemis dan berutang, hingga menggelandang di jalan.
Itulah yang mendasari argumen Waller bahwa wabah tersebut disebabkan oleh tekanan psikologis, baik terkait krisis pangan, kemiskinan, maupun kasus kematian bertubi.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































