tirto.id - Beberapa hal perlu dipersiapkan guna mengantisipasi berbagai kemungkinan sebelum musim hujan datang. Misalnya mitigasi hingga pencegahan untuk kesehatan badan dan lingkungan.
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki awal musim hujan pada periode November 2026 (185 ZOM; 24,66% luas daratan Indonesia). Sebagaimana mengutip laporan BMKG, sekitar 266 Zona Musim atau 17,31% lainnya diperkirakan akan mengalami musim hujan yang datang lebih lambat atau mundur ke bulan Desember 2026.
Dalam perkiraan awal, keterlambatan datangnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia (mencakup 529 ZOM atau 61,08% luas daratan), diakibatkan efek fenomena El Nino yang cukup kuat, dengan laporan pada Juli-Agustus 2026 bahwa indeks ENSP (El Nino Southern Oscillation) menunjukan nilai sebesar +2,20 hingga +2,83. Kondisi tersebut diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun 2027.

Kendati diprediksi bakal dimulai dalam rentang November hingga Desember 2026, sejumlah wilayah di Indonesia sudah mengalami musim hujan, namun tingkat curah dan intensitas tidak terlalu masif atau jarang terjadi.
Berkaitan dengan prakiraan musim hujan, masyarakat senantiasa perlu mempersiapkan diri, dengan tujuan mitigasi terhadap potensi bencana, seperti banjir yang dipicu oleh curah hujan yang tinggi, maupun masalah kesehatan yang dapat terdampak akibat perubahan cuaca drastis.
Selain memperhatikan kesehatan tubuh, persiapan ekstra lainnya juga perlu diperhatikan, seperti memeriksa kondisi rumah, alat transportasi, hingga kondisi lingkungan sekitar yang berpotensi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sedia Aku Sebelum Hujan
"Sedia Payung Sebelum Hujan" menjadi salah satu peribahasa yang erat kaitannya dengan persiapan sebelum menghadapi musim hujan. Potensi terkena dampak akibat pergantian musim tersebut dapat teratasi dengan melakukan persiapan yang benar.
Beberapa hal yang cukup banyak disoroti adalah soal mitigasi terhadap potensi bencana yang disebabkan oleh musim hujan. Misalnya seperti banjir, tanah longsor, hingga wabah penyakit seperti Demam Berdarah (DBD) yang banyak dipicu oleh kelembaban udara dan genangan air kala musim penghujan.

Dalam jurnal berjudul "Kesiapsiagaan Rumah Tangga terhadap Bencana Banjir di Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun" yang diterbitkan Universitas Gadjah Mada, mitigasi bencana sebelum musim hujan perlu ditekankan terhadap daerah-daerah yang memiliki potensi munculnya bencana cukup tinggi.
Kabupaten Madiun menjadi salah satu contoh nyata karena menjadi wilayah rawan bencana banjir. Bahkan, tahun 2019 lalu, daerah tersebut termasuk kabupaten dengan tingkat bencana banjir paling parah selama 30 tahun terakhir.
Guna meminimalisir kerusakan maupun imbas musim hujan, kesiapsiagaan rumah tangga menjadi salah satu tindakan pencegahan dalam mitigasi ancaman bencana banjir. Penelitian tersebut mengungkap parameter yang digunakan untuk mengukur kesiapsiagaan, yaitu mengenai pengetahuan dan sikap terhadap bencana, rencana kesiapsiagaan keluarga, sistem peringatan bencana, serta kemampuan memobilisasi sumber daya.
Hasil dari penerapan mitigasi terbukti menunjukan sebesar 45,28% rumah tangga di Desa Babakan Lor dan 36,17% di Desa Jerukgulung termasuk "Sangat Siap" dalam menghadapi potensi banjir.
Dengan kata lain, meningkatkan rasa tanggung jawab dengan menerapkan metode kesiapsiagaan jadi langkah penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana saat musim hujan, terutama daerah-daerah rawan terjadi bencana, seperti pemukiman dekat sungai atau di wilayah perbukitan yang rawan tanah amblas.

Menurut Santi Yatnikasari, Muhammad Noor Asnan, dan Fitriyati Agustina melalui jurnal berjudul "Kesiapsiagaan Rumah Tangga terhadap Bencana Banjir di Kelurahan Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda" yang diterbitkan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, banyak korban dan kerugian besar akibat banjir musim hujan menggambarkan masyarakat kurang memiliki pengetahuan mengenai pentingnya kesiapsiagaan rumah tangga dalam menerapkan langkah-langkah penting untuk mitigasi bencana.
Hasil penelitian dipusatkan di Kelurahan Gunung Linggai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda. Isinya menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi banjir sebagian besar ditentukan oleh pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap potensi bencana akibat musim hujan.
Namun, hal penting yang perlu diterapkan adalah mobilisasi sumber daya serta sistem peringatan bencana yang dapat jadi salah satu langkah awal untuk meminimalisir berbagai kemungkinan.
Peringatan dini yang dimaksud adalah tanda peringatan dan distribusi informasi jika terjadi bencana. Tingginya pengetahuan dan ketersediaan teknologi yang menunjang turut berdampak pada masyarakat yang "siap" atau memahami apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan potensi banjir maupun cara mencegah.
Selain potensi bencana untuk daerah-daerah yang memiliki kerentanan banjir dan longsor, penting pula memahami dampak krusial lainnya yang dapat ditimbulkan oleh musim hujan. Salah satunya muncul wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang diakibatkan suhu lembab dan genangan air banjir.

Penelitian lain yang berjudul "Hubungan Perilaku 3M Plus dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Plered Kabupaten Cirebon" yang diterbitkan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara menerangkan, penyakit DBD dapat menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Sejumlah pakar melaporkan bahwa nyamuk jenis ini dapat berkembang biak dengan sangat cepat, terutama karena faktor suhu udara yang hangat serta banyaknya genangan air bersih.
Musim hujan biasanya akan meninggalkan banyak genangan air baik di jalan, maupun di tempat lain. Genangan kerap menjadi lokasi ideal nyamuk betina untuk bertelur. Terlebih, saat musim hujan, udara berubah menjadi agak lembab, yang membuat nyamuk bisa bertahan lebih lama.
Selain itu, nyamuk DBD juga dapat muncul di berbagai lokasi lain, seperti bak mandi, vas bunga, barang bekas di dekat rumah, hingga talang air tersumbat. Dengan kata lain, risiko muncul wabah penyakit cukup tinggi. Maka itu, pemahaman soal mitigasi terhadap potensi penyebaran penyakit juga terbilang penting dilakukan sebelum musim hujan.
Mitigasi yang dapat dilakukan sebelum musim hujan datang adalah mengidentifikasi tempat penampungan akhir (TPA) di lingkungan sekitar, membuang barang bekas, menggunakan obat nyamuk, tidak menggantung pakaian, serta menindaklanjuti sampah agar tidak membiarkan menggunung di dekat rumah.
Di samping itu, terdapat beberapa langkah sederhana lain yang dilakukan secara mandiri sebagai upaya persiapan sebelum menghadapi musim hujan. Tujuan utamanya menjaga kesehatan serta meminimalisir terjadi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu aktivitas keseharian. Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan sebagai persiapan jelang musim hujan:
1. Penuhi Perlengkapan Diri
Mengutip laman Rentokil, langkah pertama yang penting dilakukan dalam mempersiapkan diri sebelum menghadapi musim hujan adalah menyiapkan berbagai macam perlengkapan yang dapat menunjang aktivitas selama musim hujan. Misalnya payung, mantel hangat, tas waterproof, hingga jas hujan.Selain itu, cuaca selama musim hujan juga tak jarang membawa gangguan mendadak, seperti pemadaman listrik, jalan terblokir, hingga banjir. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, siapkan senter dan baterai cadangan jika sewaktu-waktu terjadi pemadaman listrik akibat adanya gangguan, atau nomor kontak darurat dan layanan kesehatan jika terjadi masalah yang lebih serius.
Persiapan lain, obat-obatan dan perlengkapan pertolongan pertama bakal bertindak sebagai komponen krusial, karena dapat jadi solusi ketika mengalami cedera atau penyakit ringan. Sehingga, ketersediaan barang-barang tersebut bisa meminimalisir dampak fatal yang ditimbulkan.

2. Cek Kondisi Rumah
Mengecek kondisi rumah terbilang cukup penting dilakukan sebelum musim hujan. Inspeksi rumah dapat mencakup memeriksa atap. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah ada retakan atau sambungan yang longgar. Jika atap tidak terkontrol, kemungkinan bocor saat hujan bisa saja terjadi.Kebocoran lebih serius jika tidak segera ditangani karena dapat berpotensi jadi sarang penyakit, atau membuat suhu rumah jadi lebih lembab atau dingin. Selain itu, pemeriksaan talang juga sangat penting. Sebab, jika talang tersumbat oleh dedaunan dan puing-puing, endapan air akibat hujan bisa jadi sarang nyamuk DBD.
Beberapa tips lain yang dapat dilakukan dalam tahap persiapan ini adalah mengatur ulang furnitur untuk meningkatkan aliran udara, menambahkan pencahayaan di sudut-sudut gelap untuk mencegah jamur dan lumut, membersihkan ruang penyimpanan dan area yang jarang dikunjungi, serta memeriksa struktur kayu dan langit-langit soal kemungkinan rusak akibat rayap.

3. Periksa Alat Transportasi Pribadi
Alat transportasi pribadi penting untuk diperiksa sebelum memasuki musim hujan. Tujuannya mencegah kerusakan mesin, menjaga keselamatan di jalan yang licin, serta menghindari risiko kecelakaan akibat jarak pandang yang buruk.Kondisi alur ban yang sudah gundul kerap jadi penyebab utama terjadi kecelakaan saat musim hujan lantaran kondisi jalanan yang basah. Selain itu, lampu atau wiper (pembersih kaca) juga perlu dipastikan berfungsi normal, agar pengemudi tetap bisa melihat jalan dengan jelas meskipun berkendara saat hujan atau di malam hari.
Inspeksi mesin atau service tak kalah penting. Sebab, ketika musim hujan biasanya kerap memicu genangan air hingga banjir di jalanan. Jika kondisi mesin, terutama komponen kelistrikan, saluran udara, serta knalpot tidak berfungsi, kendaraan berpotensi mengalami mogok.

4. Antisipasi Kesehatan Badan
Sebelum menghadapi musim hujan, kesehatan badan perlu diperhatikan. Di antaranya menyiapkan suplemen atau vitamin dan obat pribadi, pakaian ganti cadangan jika berada di luar rumah, atau menyiapkan pakaian hangat semacam sweater atau syal untuk meminimalisir imun tubuh drop akibat perubahan suhu yang drastis.Pada saat memasuki musim hujan, tips tetap menjaga imunitas tubuh adalah minum air putih minimal 2 liter per hari guna meminimalisir dehidrasi akibat cuaca yang tidak menentu, memperhatikan kebersihan (seperti mencuci tangan) agar menghindari virus atau bakteri yang dapat berkembang pesat di kondisi lembab, serta mengatur pola tidur yang dapat menguatkan imun tubuh.

5. Kondisi Lingkungan dan Keamanan Sekitar
Musim hujan kerap membawa risiko jika tidak dipersiapkan dengan benar, salah satunya muncul wabah penyakit DBD akibat kondisi lingkungan dan keamanan di sekitar rumah yang tidak baik.Terdapat beberapa langkah yang bisa diterapkan sebelum datang musim hujan. Misalnya memastikan saluran air dalam kondisi lancar, membersihkan sumbatan pada sistem drainase, hingga sistem kelistrikan yang bisa saja terganggu air hujan jika tidak dicek ulang.
Tidak membiarkan adanya genangan pada barang-barang bekas juga terbilang penting karena hal tersebut dapat jadi sarang nyaman bagi nyamuk DBD. Di dalam rumah, menutup bak mandi atau penampungan air adalah solusi terbaik guna mengantisipasi kemungkinan muncul penyakit.

Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































