Menuju konten utama

Orang Utan Pernah Hidup di Jawa dan Akhirnya Tak Tersisa

Punahnya orang utan Jawa diperkirakan terjadi pada akhir masa Pleistosen. Selain itu, perburuan manusia dan fragmentasi habitat turut mempengaruhi.

Orang Utan Pernah Hidup di Jawa dan Akhirnya Tak Tersisa
ilustrasi orang utan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Orang utan kerap dikenal sebagai primata endemik Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera. Akan tetapi studi fosil ordo primatologi yang dilakukan oleh pakar dari Universitas Gajah Mada (UGM) menemukan banyak fosil orang utan purba yang hidup di Pulau Jawa.

“Kebanyakan primata awalnya berada di Jawa. Dulu orang utan di Jawa sangat melimpah,” ujar peneliti Paleoantropologi FIB UGM, Drs. Rusyad Adi Suriyanto, M.Hum, dikutip dari laman ugm.ac.id (18/9/2019).

Dari hasil penelitian tersebut, sebaran paleoprimatologi di Indonesia paling banyak berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yakni daerah Sangiran, Trinil, dan Kudus. Sebagian besar lainnya ditemukan di Sumatera Barat dan sebagian daerah Sulawesi.

Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan orang utan di Jawa makin langka bahkan punah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari perubahan ekologi, perilaku manusia, hingga lanskap hutan Jawa yang kian sempit.

Migrasi Orang Utan ke Indonesia

Penelitian Orangutans Venture Out of The Rainforest and Into The Anthropocene karya Stephanie N. Spehar dan tim, menjelaskan wilayah sebaran orang utan. Catatan fosil hominid Pleistosen dari Kubah Sangiran di Jawa Tengah menjadi salah satu koleksi paleoantropologi terbesar di Asia Tenggara.

Fosil tersebut menjadi bukti penting terjadinya ekspansi Homo Erectus dan Pongo atau orang utan purba ke Paparan Sunda pada masa Pleistosen Awal. Spesies dari genus Pongo mulanya hidup di daratan Asia termasuk wilayah Indocina dan Tiongkok Selatan.

Di awal hingga pertengahan Pleistosen, primata ini bergerak migrasi ke selatan mengikuti bentangan hutan tropis dan koridor vegetasi daratan, seiring menurunnya permukaan laut akibat siklus glasial.

Peta Sundaland

Peta Sundaland. (Instagram/@archaeohistories)

Penurunan air laut tersebut membentuk jembatan darat yang menghubungkan Asia daratan dengan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, yang dikenal sebagai Sundaland atau Paparan Sunda. Melalui daratan tersebut, orang utan purba bereksplorasi bersama fauna purba lainnya dan meluas jalurnya hingga ke bagian tengah serta selatan Sundaland.

Pada masa peralihan Pleistosen ke Holosen (12.000 tahun yang lalu), tepatnya pada zaman es berakhir, Paparan Sunda kembali tergenang air laut dan membentuk Laut Jawa, Selat Karimata, serta Selat Sunda. Pada fase inilah keberadaan orang utan terisolasi di masing-masing wilayah yang ditempatinya, termasuk orang utan yang hidup di Jawa.

Melansir laman conservation.id, orang utan Jawa ini mudah beradaptasi di berbagai medan. Jika mereka menemukan buah-buahan dan biji-bijian, orang utan akan memakannya. Namun bila ketersediaan buah tidak memadai, orang utan bisa bertahan hidup dengan memakan pucuk daun muda, tunas, kulit pohon, burung, telur, atau mamalia kecil seperti: tikus, kukang, siamang.

Jejak Orang Utan di Pulau Jawa

Jejak orang utan di Pulau Jawa dapat teramati dari fosil yang tersisa. Berbagai literatur tidak banyak yang menyebut adanya catatan penelitian yang bertemu langsung dengan orang utan Jawa.

Peneliti Paleoantropologi UGM, Rusyad Adi Suriyanto, memperkirakan lebih dari 50 persen fosil primata ini ditemukan di Indonesia. Ia juga menjelaskan sekitar 30 persen dari fosil tersebut tersimpan di kampus UGM.

Dari analisis yang dilakukan, ia banyak menemukan fosil primata di Jawa yang mencakup orang utan, selain jenis kera dan monyet lain. Menurut pengamatannya, jumlah orang utan yang paling banyak berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yakni daerah Sangiran, Trinil, dan Kudus.

“Baru-baru ini kita temukan lagi sisa fosil orang utan yang berumur 7.000 tahun,” katanya.

Fosil orang utan yang ditemukan di Sangiran kini telah dikonservasi. Hasil penelitian Rusyad Adi Suriyanto juga menemukan fosil yang sama di daerah Tegal, Jawa Tengah.

Asupan tambahan jaga kesehatan orang utan terdampak asap

Satu individu orang utan (Pongo pygmaeus) bermain di Sekolah Orang Utan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.

Sebuah penelitian berjudul Geometric Morphometrics and Paleoproteomics Enlighten the Paleodiversity of Pongokarya Julide Kubat dan tim, menganalisis bentuk batas enamel-dentin pada geraham bawah dari Kubah Sangiran di Jawa, yang mencakup periode Pleistosen Awal hingga Tengah.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan fosil orang utan dari situs-situs Sangiran dan Punung mengelompok dalam morphospace yang sama dengan orang utan Kalimantan modern (Pongo pygmaeus). Namun orang utan jawa terpisah dari orang utan Sumatra (Pongo abelii) dan fosil-fosil daratan Asia (Vietnam/Tiongkok).

Pada struktur giginya, fosil dari Jawa dan Pongo pygmaeus sama-sama memiliki tanduk dentin (dentine horns) yang lebih rendah dan hypoconid yang kurang menonjol, dibandingkan sampel Pongo abelii dan fosil dari Asia Tenggara daratan.

Lapisan yang mengandung fosil hominid di Kubah Sangiran memiliki rentang usia antara 1,5 juta tahun yang lalu hingga 500 ribu tahun yang lalu berdasarkan penanggalan fission-track, dan Uranium-timbal (U–Pb).

Kajian ini juga mengungkapkan bahwa spesimen Punung mungkin mewakili campuran antara spesimen dari awal Pleistosen Akhir dan spesimen yang lebih muda (Pleistosen akhir hingga Holosen), yang berkerabat dekat dengan orang utan yang masih ada saat ini.

Hal ini mempertegas bahwa orang utan purba pernah tersebar luas di Pulau Jawa selama masa Pleistosen, sebelum akhirnya punah secara lokal dari Jawa. Tak hanya itu, perubahan iklim Pleistosen dan paparan dataran Sunda memfasilitasi pertukaran dan isolasi populasi orang utan antara Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan daratan Asia, yang terekam pada variasi struktur internal gigi fosil Jawa.

Mengapa Orang Utan Jawa Akhirnya Punah?

Penelitian Stephanie N. Spehar turut memaparkan dinamika populasi orang utan tidak hanya dibentuk oleh faktor iklim dan geologi saja. Namun interaksi jangka panjang dengan manusia selama kurun waktu 70.000 tahun terakhir juga turut dipertimbangkan.

Dalam kajian tersebut, penurunan populasi dan punahnya orang utan di Jawa sangat dipengaruhi oleh tekanan perburuan manusia serta fragmentasi habitat dari masa ke masa. Tekanan ganda akibat perubahan iklim dan perburuan oleh manusia menjadi penyebab penurunan drastis orang utan di Jawa.

Perubahan iklim global selama masa Pleistosen mengakibatkan iklim sempat mendingin, kemudian menghangat kembali secara berulang kali. Akibatnya tutupan hutan diperkirakan hilang pada periode yang lebih dingin dan kering, yang menyebabkan fragmentasi habitat, peningkatan variasi musiman, serta memengaruhi ketersediaan makanan.

Jika mengacu pada karakteristik orang utan yang pandai beradaptasi dengan perubahan iklim, Stephanie N. Spehar, menyangsikan jika punahnya orang utan Jawa hanya karena akhir masa Pleistosen.

"Orang utan berhasil melewati semua perubahan itu, jadi mengapa mereka tidak bisa menghadapi perubahan yang terakhir ini? Pasti ada faktor lain yang berperan," ujar Stephanie N. Spehar, dikutip dari laman, news.mongabay.com (11/10/2018).

Menhut meninjau sekolah Orang Utan di Palangka Raya

Dua anak Orang Utan subspecies Wurmbii (Pongo Pygmaeus Wurmbii) berada di tempat sekolah kawasan Rehabilitasi dan Konservasi Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (20/3/2025).ANTARA FOTO/Auliya Rahman/rwa.

Stephanie N. Spehar menganggap perburuan manusia menjadi faktor penting punahnya orang utan Jawa. Hal ini digambarkan secara cermat oleh Terry Harrison dari Universitas New York yang juga turut terlibat dalam penelitian.

"Pada masa Pleistosen, orang utan dan owa memiliki wilayah sebaran yang kurang lebih sama. Menariknya, owa berhasil mempertahankan sebagian besar wilayah sebaran tersebut hingga masa kini," ujar Terry Harrison.

Ia membandingkan keberadaan orang utan dan owa di masa itu. Orang utan cenderung terdampak oleh perburuan karena berukuran besar dan bergerak lambat. Sementara owa merupakan primata yang berukuran kecil, gesit, dan sangat bergantung pada kehidupan di pepohonan

"Mereka lebih mudah diburu, dan hasil buruannya pun memberikan lebih banyak daging dibandingkan owa," lanjut Terry Harrison.

Secara reproduksi orang utan cenderung lebih lambat dibandingkan primata yang lebih kecil seperti owa, sehingga jumlah populasinya tidak dapat pulih secepat itu.

Dalam catatan fosil sulit ditemukan adanya bukti perburuan orang utan di Jawa. Namun bukti perburuan orang utan di masa lampau dapat ditelisik dari peristiwa yang terjadi di Gua Niah, wilayah Kalimantan bagian utara.

Di era masa peralihan Pleistosen dan Holosen, ditemukan teknologi untuk memburu hewan penghuni pohon di Asia Tenggara, yaitu menggunakan tombak lempar ringan atau anak panah. Teknologi tersebut berkorelasi dengan peningkatan jumlah sisa-sisa primata arboreal termasuk orang utan.

Di dalam Gua Niah, ditemukan bukti aktivitas manusia yang berasal dari 50.000 tahun yang lalu. Di lokasi ini, terdapat pula bukti aktivitas memasak yang terlihat dari kondisi tulang yang hangus terbakar.

Hingga sekitar 35.000 tahun yang lalu, sekitar 15 persen dari sisa-sisa hewan yang ditemukan di gua tersebut berasal dari primata arboreal. Menjelang akhir masa Pleistosen, jumlahnya mencapai hingga 49 persen dari total keseluruhan.

Selain itu sebaran orang utan di lingkungan hutan yang tidak terlalu rapat, memungkinkan perburuan semakin mudah. Selain perburuan dan perubahan iklim, lanskap pulau Jawa yang makin terbuka juga berdampak pada habitat orang utan yang makin sempit.

Menurut peneliti Paleoantropologi terbaru yang dilakukan oleh Rusyad Adi Suriyanto dan tim, orang utan Jawa terakhir kali hidup sekira 7000 tahun lalu.

Baca juga artikel terkait ORANG UTAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama