tirto.id - Kelompok Houthi Yaman baru saja melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di dekat ibu kota Riyadh, Minggu (11/10/2026). Akibat serangan tersebut, Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi melaporkan 12 orang tewas dan 309 orang terluka.
Houthi menyatakan bahwa pesawat komersial harus menghindari wilayah udara Arab Saudi. Sebab, Houthi telah menargetkannya sebagai zona operasi militer. Hal ini dilakukan setelah pemerintah Yaman yang didukung oleh pemerintah Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi beberapa hari sebelumnya.
Di tengah dinamika tersebut, menarik untuk mengetahui kekuatan militer Houthi vs Arab Saudi. Melansir laman Global Fire Power, kekuatan militer Arab Saudi menempati peringkat 25 dari 145 negara dengan skor 0,4473. Data ini diperbarui pada 22 Januari 2026.
Sementara itu, kekuatan militer Houthi tak bisa dipandang remeh. Per April 2025 kekuatan pasukan Houthi diperkirakan mencapai 350.000 personel. Sementara pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi memikili sekitar 300.000 personel.
Selain itu, Arab Saudi dilengkapi berbagai alustsista canggih. Namun, meski memiliki kekuatan militer yang mewah, Saudi masih kerepotan menghadapi serangan Houthi.
Rudal Houthi vs Arab Saudi
Kelompok Houthi secara resmi bernama Ansar Allah, kelompok bersenjata di Yaman asal Zaidi, yang merupakan kelompok minoritas Muslim Syiah di negara tersebut.
Houthi berhasil merebut kekuasaan di wilayah utara dan barat Yaman, mendesak mundur pasukan pemerintah, serta memicu perang melawan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi.
Persenjataan Houthi sendiri telah berkembang pesat sejak kelompok itu merebut kendali kota Sanaa dari pemerintah pada bulan September 2014. Kelompok ini memadukan drone dan rudal dengan berbagai kecepatan untuk mengecoh sistem pertahanan udara lawan.
Dalam sejarahnya, kelompok Houthi memanfaatkan berbagai jenis rudal balistik. Senjata tersebut diperkirakan berasal dari beberapa sumber seperti, pertama, dari stok persenjataan pemerintah Yaman. Sebagian besar peralatan awalnya dibeli dari Uni Soviet.
Kedua, berasal dari Iran, melalui berbagai jalur penyelundupan berbasis darat dan laut. Ketiga, berasal dari rampasan perang koalisi Arab. Dibanding lainnya, senjata dari sumber ini relatif sedikit.
Pasukan Houthi diperkirakan memperoleh sebagian besar rudal balistik pertama mereka dari inventaris pemerintah Yaman, yang mencakup rudal balistik warisan tipe Scud dan OTR-21 Tochka. Rudal Scud pertama kali dibeli oleh pemerintah Yaman dari Uni Soviet pada 1970-an.
Kelompok Houthi juga berhasil mengambil alih hampir 70 persen persediaan senjata militer Yaman. Adapun pemasok rudal Yaman berasal dari Iran, Korea Utara, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
Pasukan Houthi memperoleh peralatan militer dan senjata melalui pertempuran dengan pasukan koalisi serta milisi sekutu. Laporan tahun 2016 mencatat Houthi berhasil merebut setidaknya 16 peluncur roket C-90C dari pasukan Arab Saudi.
Selain itu, Houthi didukung oleh alutsista Iran. Teheran disebut merupakan penyokong utama kelompok Houthi, yang memberikan bantuan keamanan berupa pengiriman senjata, pelatihan, dan dukungan intelijen.
Sebagai contoh, pada bulan Juli 2025, Pasukan Perlawanan Nasional Yaman menyita pengiriman amunisi Iran terbesar yang pernah ada yang ditujukan bagi kelompok Houthi.
Pengiriman tersebut mencakup 750 ton senjata konvensional termasuk komponen drone canggih, hulu ledak rudal, dan sistem radar yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan yang dikenai sanksi AS dan memiliki kaitan dengan kementerian pertahanan Iran.
Sejumlah ahli memperkirakan bahwa dukungan militer Iran bagi kelompok Houthi telah bermula sejak tahun 2009, di tengah perang pertama kelompok tersebut melawan pemerintah Yaman.
Melansir laporan Aljazeera, Houthi juga memiliki rudal canggih bernama Palestine-2. Rudal balistik jarak menengah ini berbahan bakar padat dua tahap yang diyakini memiliki jangkauan 2.000 km dengan kemampuan hipersonik. Mereka juga memiliki Toufan, rudal Ghadr buatan Iran yang telah berganti nama ini memiliki jangkauan antara 1.350 km hingga 1.950 km.
Kelompok Houthi juga memiliki sejumlah rudal jarak pendek, seperti seri Burkan dan Badr. Rudal-rudal ini diyakini berasal dari Iran dan telah digunakan dalam serangan lintas batas ke wilayah Arab Saudi.
Adapun sistem rudal balistik Houthi mencakup Asif, Burkan (versi 1-3), Hatem (1-2), Karar, Mohit, dan Toofan. Sistem rudal jelajah Houthi mencakup al-Mandab-1 dan Quds (1-4). Sistem UAV Houthi mencakup Qasef (versi 1 dan 2k), Sammad (2-4), dan Waid (1-2). Houthi juga telah mendiversifikasi jalur pasokan mereka dengan mencari komponen serta bantuan dari Tiongkok dan Rusia.

Sementara itu, Arab Saudi disebut mulai pembangunan produk rudal balistik secara mandiri yang disinyalir dibantu oleh Tiongkok mulai tahun 2019. Rekam jejak Arab Saudi dan Cina sudah tercatat sejak 1987 atau 1988 saat Arab Saudi pertama kali membeli rudal dari Tiongkok.
Terkait dengan produksi rudal balistik, tercatat, sejak 2021 Saudi sudah berhasil memproduksi rudal balistik sehingga memperluas kekuatan rudal mereka. Selain itu, Arab Saudi memiliki sistem pertahanan rudal Patriot dan THAAD.
Tak hanya memproduksi sendiri, menurut laporan Defense Security Cooperation Agency (DSCA) Amerika Serikat pada Januari 2026, Arab Saudi mengajukan permintaan untuk membeli 730 rudal pencegat Patriot Advanced Capability-3 Missile Segment Enhancement (PAC-3 MSE) dengan estimasi nilai mencapai 9 miliar dolar AS atau sekitar Rp150 triliun.
Menurut DSCA, pembelian ini bertujuan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk menghadapi ancaman saat ini maupun pada masa mendatang melalui penguatan sistem pertahanan udara dan rudal terintegrasi (Integrated Air and Missile Defense/IAMD). Sistem tersebut juga diharapkan membantu melindungi pasukan Arab Saudi, Amerika Serikat, dan sekutu regionalnya.
Drone Houthi Bisa Jangkau Israel, Bagaimana dengan Saudi?
Kelompok Houthi Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan pesawat nirawak terhadap Bandara Ramon Israel, di dekat kota Eilat di tepi Laut Merah, yang melukai dua orang pada 2025.
Serangan mengejutkan ini menandai bahwa Houthi juga dipersenjatai pesawat nirawak canggih yang mampu menjangkau negara tetangga.
"Sebuah pesawat nirawak menyasar Bandara Ramon; atas izin Allah, pesawat itu menghantam bandara secara langsung dan menyebabkan penutupan bandara serta penghentian lalu lintas udara," ujar juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dikutip dari Aljazeera, (7/9/2025).
Sebelumnya, militer Israel menyatakan bahwa angkatan udara mereka telah mencegat tiga pesawat nirawak yang diluncurkan dari Yaman. Disebutkan bahwa dua di antaranya berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah Israel. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai status pesawat nirawak yang ketiga.
Serangan Houthi kepada Israel tak membuat Arab Saudi gentar. Negara ini memilih memproduksi drone buatan sendiri bergaya shahed. Drone tersebut bernama Skywasp, drone dengan jangkauan 1.500 km.

Drone yang dikembangkan oleh oleh SR2Vector ini memungkinkan menyerang target jauh di balik garis pertahanan musuh. Dalam operasionalnya, Skywasp mengikuti titik jalan (waypoint) yang telah diprogram sebelumnya selama fase terminal, sehingga mengurangi kebutuhan komunikasi dan kompleksitas sistem.
Guna mempertahankan operasional di lingkungan yang mengalami gangguan elektronik, Skywasp dilengkapi dengan sistem navigasi inersia (INS), Global Navigation Satellite System (GNSS), dan teknologi anti-jamming.
"Drone ini diproduksi di Arab Saudi dalam skala besar dengan efisiensi dan kedisiplinan dari grup manufaktur teknologi pertahanan canggih sektor swasta terkemuka di Kerajaan tersebut," demikian pernyataan SR2Vector.
Skywasp dirancang untuk mendukung Visi Saudi 2030, yang berupaya meningkatkan porsi pengadaan militer dari industri pertahanan dalam negeri hingga mencapai 50 persen pada akhir dekade ini.
Strategi Perang Houthi vs Arab Saudi
Di atas kertas, kekuatan militer Arab Saudi jauh mengungguli kemampuan Houthi. Namun, negara yang menempati peringkat 25 kekuatan militer dunia justru kewalahan membendung ancaman kelompok tersebut.
Sama halnya dengan Iran saat berhadapan dengan AS-Israel, Houthi juga menggunakan strategi asimetris untuk menghadapi Arab Saudi. Strategi ini dijalankan bukan berhadapan langsung dengan kekuatan musuh, melainkan mengganggu keunggulan musuh.
Bagi Houthi, yang lebih penting yaitu membuat perang tersebut memakan biaya tinggi bagi Arab Saudi untuk jangka waktu yang panjang. Meski Arab Saudi tampak lebih digdaya, struktur militernya memiliki kelemahan yang mudah dimanfaatkan lawan.
Secara umum, angkatan bersenjatanya Arab Saudi diorganisasikan sebagian untuk melindungi keluarga kerajaan dan mencegah kudeta. Hal ini tampak dari unit terpisah seperti Garda Nasional dan Garda Kerajaan.

Strategi ini dapat mengurangi adanya risiko satu kekuatan tunggal yang dapat mengancam kekuasaan keluarga kerajaan.
Di sisi lain, pemisahan ini melemahkan efektivitas militer, memicu persaingan antarunit, serta menghambat pertukaran informasi intelijen dan rencana operasional.
Sementara, di waktu yang bersamaan kekuatan militer Houthi bertransformasi menjadi organisasi militer yang tangguh. Meskipun tidak memiliki angkatan udara reguler, senjata Houthi terbukti mampu menembus pertahanan Arab Saudi.
Laporan Forbes.com menyebut Arab Saudi mengalokasikan sekitar 83 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.485,7 triliun untuk anggaran pertahanan pada tahun 2025. Arab Saudi juga menempati urutan kedelapan dunia sebagai negara yang memiliki belanja militer terbesar.
Dana tersebut digunakan Saudi untuk membeli perangkat keras militer yang besar dan canggih, seperti jet tempur F-15 dan Eurofighter Typhoon. Saudi juga dilindungi oleh sistem rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), serta baru saja mendapatkan persetujuan untuk pengadaan 48 jet siluman F-25.
Sementara Houthi, tidak diketahui secara pasti berapa besar anggaran militernya, Namun total pendapatan kelompok tersebut diperkirakan mencapai 2,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp44,78 triliun yang berasal dari pajak dan bea cukai, ditambah 2 miliar AS dari penjualan minyak ilegal. Angka tersebut masih jauh dari kemewahan sumber daya Arab Saudi.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































