tirto.id - Kelompok bersenjata Houthi dari Yaman melakukan serangan beruntun pada bandara Arab Saudi pada Sabtu (10/10/2026) dan Minggu (11/10), menyebabkan total belasan orang terbunuh.. Koalisi militer pimpinan Saudi menyatakan siap membalas serangan tersebut.
Serangan Houthi terbaru pada Minggu, terjadi di Bandara Internasional King Khalid di Ibu Kota Riyadh. Menukil CNN, serangan itu dilaporkan telah membunuh satu orang yang sempat dirawat secara medis.
Korban tewas dalam serangan itu diidentifikasi sebagai seorang warga Pakistan, menurut Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi. Selain seorang warga Pakistan yang tewas, lembaga tersebut juga menyatakan ada 11 orang terluka akibat serangan.
Menurut laporan Al Arabiya, serangan Houthi para Minggu tersebut menargetkan Terminal 4 dari bandara. Hal itu dilaporkan memicu kebakaran dan unit pemadam harus turun tangan untuk memadamkannya.
Akan tetapi, beberapa menit setelah laporan terkait serangan itu dirilis, juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menyebut sistem pertahanan Saudi kembali mendeteksi serangan. Serangan rudal disebut al-Maliki berhasil dicegat dan dihancurkan di sekitar bandara.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi kemudian mengonfirmasi bahwa serangan tersebut telah menyebabkan korban luka. Namun, lembaga tersebut belum merilis jumlah orang yang terluka akibat serangan.
Sementara itu, kedutaan besar India di Arab Saudi juga baru saja mengumumkan pada Minggu bahwa seorang warga India yang sebelumnya terluka akibat serangan Houthi di Saudi pada Sabtu, telah meninggal dunia.
“Seorang warga negara India yang terluka dalam serangan Riyadh sayangnya telah meninggal dunia hari ini. Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada keluarga almarhum,” kata kedutaan besar dalam sebuah pernyataan yang diposting di X.
Warga India ini sebelumnya merupakan salah satu dari ratusan orang yang terluka akibat serangan Houthi pada Sabtu. Serangan itu juga dilancarkan Houthi dengan menargetkan Bandara Internasional King Khalid.
Sistem peringatan ancaman Saudi dilaporkan Reuters gagal merespons serangan ini, sehingga memperbesar skala dampak serangan tersebut. Sebanyak 12 orang dilaporkan terbunuh dan 309 lainnya terluka. Kini, jumlah korban tewas menjadi 13 orang terkait serangan Sabtu.
Korban terbunuh dalam serangan Houthi akhir pekan itu terdiri dari warga sejumlah negara berbeda. Selain India, warga Bangladesh, Saudi, Amerika Serikat (AS), Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir turut jadi korban.
Koalisi Pasukan Saudi Siap Balas dan AS Beri Respons
Terkait rangkaian serangan Houthi di Riyadh pada akhir pekan ini, Mayor Jenderal Turki al-Maliki menyebutnya sebagai “kejahatan perang”. Ia mengatakan bahwa pihaknya bersumpah untuk membalasnya secara tegas.
Dalam keterangannya, al-Maliki menggambarkan serangan Houthi tersebut sebagai “serangan teroris pengecut”. Ia menyatakan bahwa Houthi telah secara terang-terangan menargetkan fasilitas sipil dan menjadikan serangan itu “kejahatan perang sepenuhnya”.
“Oleh karena itu, Komando Gabungan Koalisi akan menanggapi teroris ini dengan tegas,” kata al-Maliki, dikutip dari Al Arabiya, Minggu.
Sementara itu, serangan pada akhir pekan tersebut juga telah direspons oleh Presiden AS Donald Trump. Dalam keterangannya pada Sabtu, Trump menyatakan bahwa serangan itu “tidak dapat diterima”.
Lebih jauh, Trump menyebut “akan berbicara” dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, terkait serangan ini. Meski begitu, Trump tak menjelaskan secara langsung apakah AS akan ikut terlibat dari pertempuran yang kini tengah berlangsung antara Houthi dan Saudi.
Menukil NPR, Trump mengatakan bahwa Washington kini tengah mempertimbangkan peluang ikut serta dalam pertempuran. Ketika ditanya tentang peluang tersebut, Trump menyebutnya “mungkin”.
“Mungkin. Kami akan mempertimbangkannya,” katanya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































