tirto.id - Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi kembali terjadi. Pada Kamis (8/10/2026), Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi salah satu sasaran serangan yang diklaim dilakukan kelompok tersebut. Insiden ini menyebabkan sebuah pesawat komersial milik maskapai nasional Arab Saudi, Saudia Airlines, mengalami kerusakan parah setelah terbakar ketika sedang terparkir di dekat terminal bandara.
Menurut tiga sumber yang mengetahui kejadian tersebut, pesawat diduga terkena serpihan hasil pencegatan rudal atau hantaman proyektil lainnya. Belum ada laporan pasti mengenai korban luka akibat insiden yang merusak pesawat tersebut.
Serangan itu merupakan bagian dari eskalasi konflik antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, di tengah meluasnya ketegangan regional akibat perang Amerika Serikat dan Iran.
Kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangan rudal ke Riyadh dan memperingatkan masyarakat serta pekerja agar menjauhi fasilitas energi yang mereka anggap sebagai sasaran militer.
Konflik Houthi dan Arab Saudi Makin Memanas
Konflik terbaru yang melibatkan kelompok Houthi dan Arab Saudi berakar pada perang saudara berkepanjangan di Yaman. Pertempuran yang sempat mereda setelah gencatan senjata pada 2022 kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir, seiring meluasnya konflik di Timur Tengah yang berkaitan dengan perang Amerika Serikat dan Iran.
Kelompok Houthi, yang didukung Iran, dilaporkan berhasil menguasai sejumlah wilayah di pesisir Laut Merah Yaman pada September 2026, termasuk kawasan strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Selat tersebut merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu akses utama perdagangan internasional.
Perluasan wilayah yang dikuasai Houthi serta ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas membuat Arab Saudi kembali terlibat secara lebih aktif dalam konflik. Pemerintah Arab Saudi mendukung pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Pada pekan pertama Oktober 2026, pasukan yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali sejumlah wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Namun, pertempuran di berbagai front juga membuat kelompok Houthi terus meningkatkan serangan terhadap sasaran di Arab Saudi, termasuk bandara dan fasilitas strategis lainnya.
Pada Rabu, 7 Oktober 2026, otoritas Arab Saudi menyampaikan bahwa serangkaian serangan terhadap Bandara Riyadh dan Bandara Abha di wilayah barat daya negara tersebut telah menewaskan tiga orang.
Insiden ini menjadi laporan korban jiwa pertama sejak Arab Saudi dan pasukan sekutunya di Yaman melancarkan operasi militer besar terhadap kelompok Houthi.
Serangan-serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keselamatan penerbangan sipil, terutama karena kelompok Houthi berulang kali menyatakan bahwa bandara, fasilitas militer, dan infrastruktur minyak Arab Saudi merupakan sasaran mereka.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang bertempur melawan Houthi menyatakan telah menghancurkan dua rudal balistik yang ditembakkan menuju Riyadh serta satu rudal balistik lainnya yang diarahkan ke Khamis Mushait, sebuah kota di wilayah barat daya Arab Saudi yang menjadi lokasi pangkalan udara penting.
Pada hari yang sama, juru bicara koalisi juga menyatakan bahwa pasukannya telah menghancurkan sebuah fasilitas peluncuran di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, yang menurut klaim koalisi digunakan untuk melancarkan serangan ke Riyadh.
Kronologi Serangan Houthi di Bandara King Khalid Arab Saudi
Ketegangan berlanjut pada Kamis (8/10) ketika sejumlah ledakan terdengar di Riyadh. Beberapa ledakan terjadi di ibu kota Arab Saudi, termasuk ledakan besar di kawasan Bandara Internasional King Khalid.
Suara dentuman juga terdengar pada Kamis pagi dan membuat sejumlah perusahaan multinasional yang berkantor di King Abdullah Financial District (KAFD), kawasan bisnis utama Riyadh, meminta karyawannya bekerja dari rumah.
Di tengah serangkaian ledakan tersebut, sebuah pesawat komersial milik Saudia Airlines mengalami kerusakan berat setelah terbakar ketika terparkir di dekat terminal Bandara King Khalid.
Berdasarkan informasi dari tiga sumber yang mengetahui insiden tersebut dan dikutip Reuters (8/10/2026), pesawat itu diduga terkena serpihan akibat pencegatan rudal atau hantaman proyektil lainnya.
Video yang diverifikasi Reuters memperlihatkan kobaran api dan kepulan asap hitam tebal membumbung dari kawasan bandara.
Ketiga sumber tersebut menyebutkan bahwa tidak ada penumpang yang diyakini berada di dalam pesawat ketika kejadian berlangsung. Namun, mereka belum dapat memastikan apakah terdapat orang yang mengalami luka akibat insiden tersebut.
Hingga laporan ini diterbitkan, pihak Saudia Airlines belum memberikan tanggapan atas kejadian tersebut di laman resmi dan media sosial mereka.
Di sisi lain, dilansir AP News (9/10/2026), kelompok Houthi mengklaim telah menyerang Bandara Riyadh menggunakan rudal balistik.
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan bahwa kelompoknya juga meluncurkan rudal balistik dan rudal jelajah ke bandara di Riyadh serta Najran, kota di wilayah barat daya Arab Saudi dekat perbatasan Yaman.
Serangan pada Kamis berdampak langsung terhadap operasional Bandara Internasional King Khalid. Platform pemantau penerbangan Flightradar24 melaporkan bahwa sejumlah penerbangan di bandara tersebut dibatalkan.
“Menyusul serangan hari ini terhadap Bandara Riyadh, sejumlah maskapai penerbangan telah membatalkan ratusan penerbangan. Beberapa di antaranya, seperti Lufthansa, menangguhkan layanan selama beberapa hari,” tulis Flightradar24 di akun Instagram @flightradar24.
Pihak bandara mengimbau para pelancong menghubungi maskapai masing-masing untuk memastikan status penerbangan sebelum berangkat. Imbauan ini penting karena jadwal penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan keamanan dan kebijakan operasional bandara.
Serpihan Rudal Merusak TK dan Fasilitas Medis
Selain kerusakan pesawat, serangan rudal yang diklaim diluncurkan Houthi juga menimbulkan dampak terhadap fasilitas sipil di Riyadh. Otoritas pertahanan sipil Arab Saudi melaporkan bahwa serpihan rudal yang berhasil dicegat jatuh dan merusak sebuah taman kanak-kanak serta kompleks medis.
Dalam laporan tersebut, otoritas tidak menyebutkan adanya korban jiwa akibat kerusakan pada kedua fasilitas itu. Namun, insiden tersebut menunjukkan bahwa dampak serangan dan proses pencegatan rudal dapat meluas ke kawasan yang digunakan masyarakat sipil, meskipun fasilitas tersebut bukan sasaran militer yang dinyatakan oleh pihak penyerang.
Houthi sendiri telah berulang kali mengklaim melancarkan serangan terhadap bandara, fasilitas militer, dan infrastruktur minyak Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir. Kelompok itu juga memperingatkan maskapai penerbangan internasional mengenai risiko beroperasi di wilayah udara Arab Saudi, yang mereka sebut sebagai kawasan operasi militer.
Dalam pernyataan terbarunya, Houthi kembali meminta masyarakat dan pekerja menjauhi fasilitas minyak yang dianggap sebagai sasaran pasukan mereka. Ancaman ini menjadi perhatian serius karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia dan memiliki peran penting dalam pasokan energi global.
Arab Saudi Meminta Dukungan Negara Sekutu Hadapi Houthi
Meningkatnya serangan membuat Arab Saudi berupaya memperkuat dukungan dari negara-negara sekutunya. Riyadh mencari bantuan yang dapat mencakup dukungan logistik, pertahanan udara, pertukaran intelijen, dan peralatan militer untuk menghadapi ancaman Houthi.
Turki menyatakan pada Rabu bahwa mereka mengirimkan dukungan teknis dan terutama bersifat defensif kepada Arab Saudi. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menjelaskan bahwa bantuan tersebut dapat mencakup peralatan militer, pertukaran intelijen, serta sistem persenjataan untuk membantu pertahanan Arab Saudi.
Turki juga menegaskan bahwa dukungan itu tidak dimaksudkan sebagai keterlibatan ofensif dengan mengirimkan pasukan untuk menyerang wilayah negara lain.
Pakistan turut mempertimbangkan kemungkinan memberikan bantuan pertahanan udara, peperangan elektronik, dan dukungan teknis berdasarkan pengaturan kerja sama trilateral. Kementerian Informasi Pakistan menyatakan bahwa otoritas terkait akan memberikan keterangan mengenai keterlibatan militer apabila diperlukan.
Di sisi lain, Suriah juga dilaporkan sedang mempertimbangkan pilihan untuk membantu Arab Saudi, termasuk bantuan pertahanan guna melindungi negara tersebut dari serangan atau kemungkinan pengerahan pasukan untuk menghadapi Houthi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































