Menuju konten utama

Irama Sepanjang Rel: Bagaimana Venue Musik Tumbuh di Jalur MRT

Transportasi publik berperan penting dalam memberi akses ke berbagai venue musik. Penonton datang dari jauh, venue musik tumbuh dan terus berkembang.

Irama Sepanjang Rel: Bagaimana Venue Musik Tumbuh di Jalur MRT
Grup musik Blueboy tampil pada festival musik Joyland 2024 hari ketiga di Jakarta, Minggu (24/11/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ingatan tujuh tahun silam itu masih lekat: Musim gugur di London yang basah, dingin, tapi penuh dengan jazz.

Suatu malam di penghujung November 2019, saya perlahan turun dari lantai dua British Library, setelah tiga jam berkutat dengan tumpukan koran dan majalah lama, untuk riset tentang festival musik di Britania Raya.

Saya membuka peta dan mengetik Karamel N22, sebuah restoran sekaligus klub jazz yang terletak di Coburg Road.

Pada bulan itu, ada London Jazz Festival yang berlangsung dari tanggal 15 hingga 24. Festival ini besar bukan hanya karena menampilkan lebih dari 2.000 penampil. Melainkan juga cakupan daerahnya: ada 350 pertunjukan yang tersebar di lebih dari 70 venue di seantero London. Mulai Royal Festival Hall di Southbank Centre yang bisa menampung sekitar 2.000 penonton, venue legendaris seperti Ronnie’s Scott, hingga yang skala mini dengan atmosfer hangat nan intim seperti Karamel N22 yang akan saya datangi.

Dari British Library, saya tinggal jalan kaki sekitar lima menit ke Stasiun King's Cross St. Pancras, ambil kereta jurusan Piccadilly ke arah Cockfosters, lalu turun di Stasiun Wood Green. Secara lokasi, kawasan ini masuk dalam Zona 3, relatif di pinggiran kota London, berjarak sekitar 12 atau 13 kilometer dari pusat kota. Namun karena naik kereta, perjalanan cukup ditempuh dalam waktu 15 menit, dan dilanjut jalan kaki sekitar 10 menit.

Sesampainya di Karamel N22, saya duduk di area bar, memesan Old Mout Cider rasa kiwi dan lime, lalu menikmati band yang tampil malam itu. Saya tak tahu siapa mereka dan belum pernah mendengar musiknya. Namun, saya menikmati permainan kuartet yang terdiri atas pianis, drummer, pemain bas betot, dan vokalis itu. Permainannya kalem, luwes, dengan improvisasi yang terasa pas. Mereka juga beberapa kali mengajak penonton mengobrol.

"Kalau cuma mau minum bir, kalian tentu gak perlu jauh-jauh ke sini. Jadi terima kasih buat kalian semua yang mau datang menonton kami," kata vokalisnya sembari tertawa renyah, sembari diikuti musik.

Ah, "Autumn Leaves"...

Konser di Karamel

Malam itu, meski angin dingin musim gugur berhembus cukup kencang, hati saya hangat. Itulah perasaan yang muncul karena gigs yang asyik.

Namun, ada hal lain yang terlintas di kepala: saya bisa mencapai sebuah venue kecil di pinggiran London dengan perjalanan yang relatif mudah. Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang hubungan transportasi publik dan keberlangsungan ruang pertunjukan musik, terutama grassroots music venues (GMV).

Istilah yang digunakan Music Venue Trust, organisasi nirlaba di Britania Raya, ini merujuk pada tempat yang menjadikan musik dan program musik sebagai inti kegiatannya. Dengan kata lain, musik bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian utama dari bisnis dan identitas venue tersebut. Musik sebagai raison d’être.

Transportasi publik tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan hidup-matinya venue musik. Namun, akses transportasi yang baik bisa mengurangi hambatan bagi penonton yang mau datang, sekaligus memperluas kemungkinan sebuah venue menjangkau audiensnya.

Maka postulat saya: sebuah kota dengan ekosistem musik yang hidup, pasti punya transportasi publik yang baik. Pasti.

Simak beberapa kota global yang dikenal punya ekosistem musik yang hidup dan dinamis, seperti Austin, Nashville, Tokyo, Berlin, London, Los Angeles, New York, Paris, dan Melbourne, menawarkan konteks menarik untuk melihat hubungan tersebut. Meski sistem transportasi dan tantangan tiap kota berbeda, akses menuju tempat pertunjukan menjadi bagian penting dari pengalaman menonton musik.

Lantas, bagaimana dengan Jakarta? Apakah perkembangan transportasi publik, khususnya MRT, bisa membantu memperkuat ekosistem musik di ibu kota?

MRT, Sebuah Studi Kasus Menarik

"Game changer di Blok M itu ya kehadiran MRT," ujar Wendi Putranto pada saya.

Pria yang merupakan co-founder dan sekarang menjabat sebagai Chief Marketing Officer dari M Bloc Group menyebut bahwa kehadiran MRT di Jakarta pada Maret 2019, hampir berbarengan dengan lahirnya M Bloc di September 2019, yang sejak awal memang diniatkan untuk membuka ruang kreatif, sekaligus memanfaatkan lahan tidur milik Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri).

Menurut Wendi, kawasan Peruri saat itu adalah kawasan "introvert", dalam arti ia adalah kawasan obyek vital nasional yang tidak bisa dikunjungi secara bebas oleh publik. Blok M sempat mengalami kemunduran serius sejak tahun 2000 hingga 2010-an karena berbagai faktor. Namun kehadiran MRT sekaligus M Bloc ini membuat kawasan ini terlahir kembali.

M Bloc yang punya konsep terbuka, memadukan arsitektur jengki khas 1950-an dan segala pesona era kiwari, dengan segera menjadi ruang temu industri kreatif. Berbagai acara seni hadir di sana, mulai dari konser musik, pameran seni rupa, diskusi, hingga pemutaran film. Perkembangan pesat ini juga didukung oleh MRT karena sejak awal M Bloc menggunakan konsep tidak menyediakan tempat parkir untuk kendaraan pribadi.

"Campaign M Bloc Space sejak awal adalah tidak menyediakan lahan parkir, dan juga tidak punya lahan parkir. Jadi orang yang mau berkunjung, kami sarankan menggunakan kendaraan umum, dalam hal ini salah satunya adalah MRT," kata Wendi. "Jadi solusinya saat itu ya orang-orang memakai transportasi publik."

Di Jakarta, kehadiran MRT, singkatan dari Moda Raya Terpadu, membuat kita bisa melihat hubungan antara akses transportasi dengan venue pertunjukan musik. Kegiatan mobilitas menuju/dari tempat konser ini tak ayal merupakan bagian dari ekosistem pertunjukan itu sendiri. Karena ada banyak studi yang menunjukkan bahwa transportasi (termasuk akses dan ketersedian moda) merupakan salah satu faktor yang menentukan orang untuk datang ke sebuah pertunjukan musik.

Jalur MRT yang menghubungkan Lebak Bulus dengan Bundaran Hotel Indonesia sejauh 16 kilometer ini bukan hanya menawarkan alternatif transportasi yang meluncur mulus di atas (atau di bawah) kemacetan, tetapi juga akses melewati sejumlah kawasan komersial dan ruang kreatif yang menjadi bagian dari kehidupan kota --sekaligus kelak melahirkan banyak venue musik karena potensi bisnis yang besar, maupun memudahkan orang untuk menjangkau venue musik.

Gagasan pembangunan MRT Jakarta sebenarnya sudah muncul sejak 1985/1986, ketika kebutuhan sistem transportasi massal modern mulai dikaji. Proyek ini kemudian ditetapkan sebagai proyek nasional pada 2005, disusul pembentukan PT MRT Jakarta pada 2008.

Pembangunan fisik fase pertama dimulai pada Oktober 2013, sebelum layanan tersebut resmi beroperasi pada 24 Maret 2019. Jalur sepanjang sekitar 16 kilometer itu menjadi langkah awal pengembangan jaringan transportasi massal yang lebih luas di Jakarta, termasuk fase pembangunan MRT yang akan terus hingga ke arah Jakarta Kota.

Sejak saat itu, pembicaraan tentang MRT perlahan berkembang melampaui urusan mobilitas. Stasiun dan kawasan di sekitarnya juga menjadi bagian dari rencana penataan kota, termasuk pengembangan ruang publik, area komersial, ruang kreatif, dan transit oriented development (TOD) alias kawasan berorientasi transit.

Sejak pertama beroperasi, perjalanan dan penumpang MRT terus berkembang. Data terbaru dari Jakarta MRT, ada 4,5 juta penumpang sepanjang Juni 2026. Jumlah ini akan terus bertambah seiring pengembangan MRT dan kawasan-kawasan transitnya. Terbaru, MRT dan Pemerintah Provinsi Jakarta akan mengembangkan konsep Blok M Ultimate.

Ada lima transformasi utama yang mencakup Blok M Ultimate, yaitu revitalisasi terminal, pengembangan kawasan mixed-use, destinasi komersial baru, peningkatan aksesibilitas dan integrasi antarmoda, dan perluasan ruang terbuka publik hingga lima kali lipat dibanding sekarang. Pembangunan terminal, kawasan retail, dan podium ditargetkan selesai dan bisa beroperasi pada 2029.

"Pada saat nanti kita lakukan pembangunan, sebelum groundbreaking, kami menjamin semua tenant, ada 332, itu kami lakukan transisi. Transisi nanti tempatnya kami lakukan di satu tempat posisinya. Jadi tidak pernah lepas, tetap melakukan operasi itu," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat.

Segala perubahan yang terjadi karena MRT ini berkorelasi dengan kehadiran maupun perkembangan venue musik di sepanjang jalur MRT, dan tak ayal turut mengubah bagaimana warga-wargi pergi menuju pertunjukan musik.

Rahayu (33), mengungkapkan bahwa MRT memang mempermudahnya melakukan mobilitas sosial, sebuah istilah yang dia lontarkan sambil tertawa. Dalam kehidupannya, mobilitas sosial itu bukan pergi dari tempat tinggal menuju kantor, vice versa. Melainkan dari tempat tinggal, menuju konser atau nongkrong.

Setahun sekali, dia nyaris tidak pernah absen untuk menonton salah satu festival musik favoritnya, Joyland Festival, yang pertama hadir pada 2012 dan selalu berlokasi di kawasan Gelora Bung Karno. Sebelum kehadiran MRT, sudah hampir pasti dia naik taksi atau sharing ride dari tempat tinggalnya di sekitar Kebon Melati, Jakarta Pusat.

"Kalau sekarang tinggal jalan kaki sekitar 10 menitan ke Stasiun MRT Bundaran HI, turun di Senayan, lanjut jalan kaki lagi," katanya.

"Selain mudah, juga murah," tambah Rahayu.

Pendapat senada juga dicetuskan oleh Damianus Andreas, seorang pekerja swasta yang tinggal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Ia bilang, sejak awal tinggal di Jakarta, dia tidak pernah punya kendaraan pribadi. Karenanya, dia memilih tinggal di pusat Jakarta dan spesifik dekat dengan jalur MRT agar memudahkan mobilitasnya.

"Jadi ya kalau nonton konser, selalu pilih naik transportasi umum. Khususnya MRT, apalagi kalau nonton di daerah sekitar Blok M," tutur Damianus.

Blok M yang sempat menghadapi masa sulit selama belasan tahun, kini hidup penuh gairah. M Bloc, ujar Wendi, kini dikunjungi antara 110 hingga 120 ribu pengunjung setiap bulan. Grafik pengunjung harian di hari kerja berkisar 8-10 ribu. Sedangkan di akhir pekan, atau jika sedang ada pertunjukan musik, jumlah penonton bisa melonjak hingga dua kali lipat.

"Seperti waktu ada Soundrenaline itu, pengunjungnya per hari lebih dari 20 ribu, tuh," kata Wendi.

Tantangan MRT dan Transportasi Publik

Bagi penonton pertunjukan musik, harga tiket bukan satu-satunya pengeluaran yang perlu dipertimbangkan. Penonton juga harus menghitung biaya perjalanan, makan, parkir, atau ongkos transportasi daring ketika pertunjukan berakhir larut malam. Jika lokasi venue sulit dijangkau, biaya tambahan tersebut bisa membuat menonton pertunjukan musik terasa semakin mahal.

Dalam situasi ini, transportasi publik berpotensi mengurangi hambatan bagi penonton. Venue yang berada dekat stasiun MRT memungkinkan orang datang tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Bagi mereka yang tinggal atau bekerja di sepanjang jalur tersebut, akses yang lebih mudah juga bisa membuka kesempatan untuk menghadiri pertunjukan pada hari kerja atau datang ke acara yang diputuskan mendadak.

Namun, kemudahan ini jelas dibarengi tantangan.

Layanan MRT, misalkan, tidak bisa dengan mudah dirasakan oleh semua orang. Penonton yang tinggal di luar jangkauan MRT masih perlu berganti moda transportasi. Ini memang harus dilakukan secara bertahap, karena pengembangan MRT jelas memakan biaya besar. Pengembangan ini terus berjalan sesuai rencana dan diharapkan bisa mempermudah akses mobilitas warga.

Dalam catatan Tirto per November 2025, misalkan, pembangunan MRT Fase 2A Bundaran HI-Harmoni sudah mencapai 88,9 persen. Selain jalur Bundaran HI-Harmoni, ada juga pengembangan jalur Harmoni-Mangga Besar yang terus dikebut.

Selain soal jalur, tantangan penonton pertunjukan musik adalah mereka yang baru selesai menonton pertunjukan musik lewat dari jam operasional MRT. Itu artinya, mereka harus mencari alternatif moda transportasi, yang seringkali butuh ongkos lebih besar.

Opsi yang sering dipakai adalah kombinasi antara menggunakan transportasi publik untuk berangkat, dan moda kendaraan lain untuk pulang. Ini dilakukan oleh Damianus.

Menurutnya, pulang menonton pertunjukan musik tengah malam dan ketiadaan transportasi publik itu memang sepaket risiko yang harus ditanggung. Ia mengakalinya dengan berangkat lebih awal agar biaya transportasi bisa ditekan.

"Jadi kayak alokasi bujet untuk pulang itu tuh bisa kayak kita press, lah. Ada perasaan senang gitu, kalau bisa manage berangkat lebih murah (karena naik MRT), karenanya bisa lebih legowo kalau pulangnya ongkos transportasi agak mahal," ujar Damianus.

Ada satu laporan menarik tentang bagaimana transportasi menjadi salah satu faktor penentu bagi mereka yang menonton pertunjukan musik. Disusun oleh Departemen Culture, Media and Sport Committee dari House of Commons, Fan-Led Review of Live and Electronic Music (April, 2026) memotret berbagai review warga terkait berbagai aspek pertunjukan live musik di United Kingdom (UK, Perserikatan Kerajaan Britania Raya dan Irlandia).

Salah satunya adalah perkara transportasi.

Menurut mereka, ketersediaan, keamanan, dan keandalan transportasi publik jadi faktor penting yang menentukan apakah penonton bisa datang ke pertunjukan musik. Juga ada tantangan terkait jam operasional yang seringkali bertumbukan dengan jam selesai konser.

Dari survey yang diadakan Music Fans Voice (2025), 53% responden bilang bahwa kalau ada opsi transportasi lebih baik dan jam operasional yang lebih panjang, itu membuat mereka bisa menonton lebih banyak pertunjukan musik. Senada dengan itu, survey UK Music mengatakan bahwa 50 persen responden kemungkinan besar akan menonton acara musik jika transportasi publiknya bisa beroperasi lebih panjang.

Temuan dari UK tentu ini tidak bisa begitu saja dibandingkan dengan kondisi Jakarta. Namun, persoalan yang disorotnya relevan untuk menjadi bahan perbandingan: akses menuju venue perlu diperhitungkan bersama akses untuk pulang, terutama ketika pertunjukan berlangsung hingga malam.

Bagi pengelola venue, jam operasional transportasi juga berkaitan dengan cara mereka mengatur acara. Wendi menyebut bahwa selama ini, yang dilakukan oleh M Bloc adalah adaptasi, baik dengan lingkungan sekitar maupun dengan jam operasional transportasi publik. Ia mencontohkan kalau ada check sound di lokasi Taman Peruri, itu baru bisa dilakukan setelah jam pulang kantor di sekeliling lokasi.

"Makanya jam konser atau jam sewa di M Bloc itu maksimal jam 23," tutur pria yang akrab dipanggil Wenz itu.

Di sisi lain, pengelola transportasi publik juga dapat menyesuaikan layanan pada acara berskala besar. MRT Jakarta pernah memperpanjang jam operasional ketika Coldplay menggelar konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 15 November 2023. Kebijakan seperti ini memperlihatkan peluang kerja sama antara penyelenggara acara dan operator transportasi, meski praktiknya tentu perlu pertimbangan kebutuhan operasional serta kondisi tiap acara.

Peluang ini layak didiskusikan lebih lanjut karena pertunjukan musik juga merupakan bagian dari kegiatan ekonomi kreatif. Berdasarkan studi PwC Indonesia, pendapatan pertunjukan musik di Indonesia mencapai USD157 juta pada 2024 dan diperkirakan menjadi USD173 juta pada 2029. Angka tersebut menggambarkan potensi sektor pertunjukan musik.

Di masa depan, untuk mendukung Jakarta sebagai kota global dengan kehidupan ekonomi kreatif yang aktif dan tak pernah tidur, penyedia transportasi publik perlu berperan lebih jauh. Pengembangan stasiun dan juga jalur tentu penting. Tapi jangan lupakan juga perhatian terhadap akses venue pertunjukan musik, integrasi antar moda transportasi, hingga jam operasional.

MRT dan Venue Musik dalam Visualisasi Data

Untuk melihat bagaimana akses MRT bisa berhubungan dengan kehadiran venue musik di Jakarta, saya mencoba membuat visualisasi data sederhana berisi lokasi venue yang berada di sepanjang jalur MRT atau relatif mudah dijangkau dari stasiun terdekat.

Sebagai catatan: peta visual ini tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa semua venue yang tercantum lahir karena kehadiran MRT.

Ada venue yang aktif jauh sebelum MRT hadir, misalkan Jaya Pub yang sudah aktif sejak 1975, atau Rossi Musik, venue legendaris di Jalan Fatmawati yang bermula sebagai toko musik sejak 1986 dan bersulih rupa jadi venue musik sejak 2005.

Namun ada pula yang hadir setelah kemunculan MRT. Mulai dari Krapela yang jadi ruang modular terbuka paling hits di Jakarta saat ini, hingga Twin House yang kerap dipakai menghelat gigs, semisal SWAG (Start With a Gig), gigs mingguan yang diprakarsai duo Ryan "Ncek" Kampua serta Eno Dimedjo dan sudah berlangsung lebih dari 150 edisi.

Dari penelusuran singkat, saya memasukkan 11 lokasi venue musik yang berada tidak jauh dari stasiun MRT. Ada yang berupa venue indoor, ada juga yang outdoor --seperti Taman Peruri yang beberapa waktu lalu jadi lokasi festival musik Soundrenaline, atau kawasan Gelora Bung Karno yang kerap dijadikan lokasi perhelatan festival, termasuk Joyland Festival.

Karena keterbatasan waktu dan pengetahuan, alpa memasukkan venue adalah suatu kewajaran. Maka, saya dengan senang hati akan memperbarui info jika ada masukan tambahan venue dari rekan dan sidang pembaca sekalian.

Peta interaktif ini menampilkan venue dan jarak dengan stasiun MRT (juga bus) terdekat, lengkap dengan durasi jalan kaki. Kalau kamu merasa bingung, tinggal klik tombol Rute transportasi umum yang akan mengarahkanmu ke Google Map untuk pencarian lebih lanjut.

Tentu, peta ini belum mencakup seluruh tempat pertunjukan musik di Jakarta. Daftar ini hanya upaya awal untuk melihat akses transportasi menuju sejumlah venue, bukan pemetaan lengkap ekosistem musik ibu kota. Masukan dari pembaca mengenai venue lain yang layak dimasukkan akan membantu memperbarui data ini.

Yang kemudian perlu diberi garis tebal: keberadaan transportasi publik yang baik tidak otomatis melahirkan ekosistem musik yang hidup. Venue tetap membutuhkan penonton, mengharuskan adanya pengelola yang mampu menjaga keberlangsungan usaha, menghadirkan program menarik, serta ekosistem sekitar yang memungkinkan pertunjukan berlangsung secara berkelanjutan.

Namun, akses transportasi bisa menjadi salah satu fondasinya. Jika perjalanan ke venue pertunjukan lebih mudah dan murah, maka itu bisa mengurangi hambatan calon penonton. Ketika jam operasional lebih panjang, penonton juga bisa pulang dengan lebih nyaman dan berbiaya terjangkau.

Pengalaman di Karamel N22 tujuh tahun lalu seperti memanggil ketika menulis artikel ini. Bikin saya membatin: musik yang lekat di ingatan seringkali yang dimainkan di ruang kecil yang intim. Agar ruang seperti itu bisa terus hidup, kita juga harus memikirkan ekosistem yang berjalan dengan baik, termasuk soal transportasinya.

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Insider
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nuran Wibisono