Menuju konten utama
Horizon

Menjejal Blok M dari Masa ke Masa

Blok M punya sejarah panjang sejak Kebayoran Baru dibangun pada 1949. Dari Lintas Melawai, Little Tokyo, hingga era MRT, ia terus bertahan lintas generasi.

Menjejal Blok M dari Masa ke Masa
Suasana Pasar Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta, sekitar tahun 1980. (Sumber: pinterest/bintoro hoepoedio)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kalau kamu turun di Stasiun MRT Blok M BCA, lalu menemukan banyak kedai kopi kekinian, kerumunan Gen Z yang lagi antri stan foto, dan deretan lampion merah di kawasan Melawai, selamat, kamu baru saja menginjakkan kaki di salah satu kawasan ikonik sekaligus paling tahan banting di Jakarta: Blok M.

Tapi tahukah kamu, semua hiruk pikuk itu punya akar sejarah yang panjang banget, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka? Selain itu, istilah lintas melawai bukan cuma nostalgia kosong orang tua. Ia adalah bagian dari riwayat sosial yang sampai sekarang masih diteliti di jurnal-jurnal sejarah dan tata kota.

Blok M dan Namanya yang Terlampau Simpel

Kamu pernah bertanya-tanya, nggak, sih, kenapa Blok M dinamakan Blok M?

Faktanya, nama Blok M bukan berasal dari inisial nama orang atau legenda urban yang misterius. Maknanya jauh lebih simpel dan justru bikin kita sadar betapa terstruktur rencana pembangunan kawasan tersebut.

Semua bermula pada 1948, ketika Kebayoran Baru, tempat kawasan Blok M berada, dirancang sebagai kota satelit di selatan Jakarta untuk mengatasi kekurangan perumahan. Seturut Kebajoran: Een Viertal Artikelen (1950: 14), peletakan batu pertama wilayah tersebut dilakukan pada 18 Maret 1949 dan selesai dibangun pada 1955. Perancangnya adalah H. Moh. Soesilo, murid dari Thomas Karsten, arsitek Hindia Belanda yang juga berperan penting dalam perancangan Bandung, Bogor, dan Malang. Konsep yang dipakai ialah Garden City 'Kota Taman', sebuah gagasan kota hijau, terencana, dan manusiawi, tempat setiap permukiman disusun dalam sistem neighbourhood.

Pembangunan kawasan seluas sekitar 730 hektare itu dilaksanakan oleh Centrale Stichting Wederopbouw (CSW), lembaga pembangunan yang dibentuk pada masa pemerintahan Belanda. Lahan dibagi menjadi 18 blok yang dinamai dengan alfabetis: Blok A hingga Blok S.

Blok M, yang berada di posisi strategis, ditetapkan sebagai pusat kegiatan ekonomi sekaligus simpul transportasi. Jadi, “M” itu literally cuma huruf urutan ke-13. Meski simpel, ia justru paling diingat dibanding 17 blok lainnya.

Setelah kemerdekaan, perencanaan dan pembangunan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Blok M pun pelan-pelan berkembang menjadi pusat ekonomi terpadu yang hidup, lengkap dengan terminal bus yang menjadi titik temu mobilitas warga dari berbagai penjuru kota.

Era 1970–'90-an, frasa lintas melawai jadi semacam kode rahasia anak gaul di Jakarta pada masa itu. Kalau sekarang kita kenal Blok M lewat stan foto gemas, makanan viral, dan kafe-kafe estetik di M Bloc Space, generasi '70—'90-an mengenal Blok M dengan cara yang berbeda tapi sama serunya. Bahkan menurut sejumlah peneliti, kawasan itu disebut-sebut sebagai kawasan elite.

Pada paruh kedua 1970-an, tepatnya 23 Desember 1978, Aldiron Plaza, yang kini menjadi Blok M Square, berdiri sebagai salah satu ikon di kawasan itu. Lalu, pada dekade 1980–'90-an, menurut studi arsitektur dari Universitas Tarumanegara (2022), kawasan Kebayoran Baru yang berpusat di Blok M dipadati oleh ekspatriat Jepang.

Sejak itu, kawasan Melawai popular di kalangan anak muda sebagai tempat berkumpul, sampai-sampai lahir julukan Lintas Melawai. Sebutan itu merujuk pada visualisasi Blok M sebagai area elite, tempat anak muda memamerkan kendaraan mereka di sepanjang jalan.

Fenomena itu kemudian merembet pada budaya pop. Lagu “JJS (Jalan-Jalan Sore)" karya Denny Malik, salah satunya, jadi semacam soundtrack bagi kawasan Blok M. Novel remaja seperti Lupus dan Catatan Si Boy menggambarkan Blok M sebagai tempat keren bagi anak muda. Begitu juga film layar lebar berjudul Blok M (Bakal Lokasi Mejeng) yang dibintangi oleh Paramitha Rusady dan Desy Ratnasari.

Tanggal 3 Oktober 1992, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto meresmikan mal Blok M, pusat perbelanjaan unik karena letaknya tepat di bawah terminal bus. Mal seluas 3,5 hektare itu juga dipadukan langsung dengan taman kota di atasnya.

Tangga-tangga di pusat perbelanjaan, trotoar, hingga sudut terminal, jadi saksi pertemuan sosial anak muda yang nyaris tak pernah sepi.

Blok M era 80an

Bioskop New Garden Hall, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta, 1970an. (Sumber: pinterest/bintoro hoepoedio)

Kejayaan Blok M berlanjut hingga 2004, ketika Bus Transjakarta mulai beroperasi, dengan Terminal Blok M sebagai titik awal dan akhir koridor 1 (Blok M–Kota). Sedikitnya ada 150 ribu penumpang per hari yang hilir-mudik di terminal tersebut.

Di antara semua keunikan Blok M, satu hal yang benar-benar bikin orang-orang double take adalah kawasan Little Tokyo.

Yang membuat Little Tokyo di Blok M berbeda dari Little Tokyo di kota-kota lain adalah ia tumbuh secara alami, bukan dibangun sebagai proyek tematik pemerintah. Ia lahir dari pertemuan dua budaya yang berlangsung perlahan, dekade demi dekade, hingga menjadi identitas tak terpisahkan dari kawasan tersebut.

Semuanya bermula ketika banyak perusahaan Jepang membuka kantor di Jakarta, terutama antara pengujung 1980-an hingga awal 1990-an. Hal itu kemudian membuat para ekspatriat Jepang banyak yang menetap di kawasan Kebayoran Baru.

Kebutuhan mereka akan makanan dan hiburan khas kampung halaman melahirkan deretan restoran Jepang yang autentik, tempat karaoke, hingga toko produk impor. Restoran Kira Kira Ginza di Jalan Melawai Raya, yang sudah berdiri sejak 1986 dan masih hype hingga kini, merupakan bukti ketahanan yang jarang dimiliki bisnis kuliner di Jakarta.

Sempat Meredup, lalu Berbinar Lagi

Blok M sempat mengalami penurunan pamor pada awal 2000-an hingga 2010-an. Akan tetapi, itu bukan cuma soal tren yang berganti. Studi terbitan Jurnal Stupa (2022) menyorotinya beberapa faktor secara lebih spesifik.

Citra kawasan elite Lintas Melawai lambat laun mengalami degradasi yang cukup dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur MRT yang dimulai pada masa itu. Ditambah, lokasinya makin sulit dijangkau transportasi umum, sedangkan kawasan-kawasan lain yang lebih menarik bagi anak muda mulai bermunculan.

Penurunan itu berdampak berantai: kondisi ekonomi masyarakat sekitar ikut melemah, bersamaan dengan memburuknya kondisi sosial dan fisik kawasan.

Blok M era 80an

Pertokoan dan Mall di Jl Melawai V, Blok M, Jakarta, 1980. (Sumber: pinterest/bintoro hoepoedio)

Kalau Blok M diibaratkan sebagai idol K-pop, tahun 2019 merupakan tahun ketika mereka comeback dan memenangkan Daesang.

Uniknya, kebangkitan Blok M justru dipicu oleh proyek infrastruktur yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu faktor kemunduran: MRT.

Kawasan yang sempat sepi tersebut kembali dipadati pengunjung. Akses mudah, nyaman, dan murah, membuat Blok M kembali relevan bagi warga Jabodetabek. Terlebih, tak lama berselang, M Bloc Space, ruang kreatif yang lahir dari bekas gedung percetakan uang milik peruri, direvitalisasi menjadi magnet baru bagi komunitas seni, musik, dan UMKM.

Pengamat tata kota Yayat Supriatna, dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia, menyebut kebangkitan Blok M tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, hal itu terjadi tak lepas dari memori kuat di benak masyarakat tentang Blok M sebagai pusat pertemuan dan simpul transportasi.

Kendati demikian, identitasnya kini sedikit bergeser: jika dulu Blok M dikenal sebagai pusat UMKM aksesori dan pertokoan lawas, kini ia identik dengan wisata kuliner nusantara, kafe viral, dan budaya populer anak muda. Sasarannya sudah jelas Gen Z.

Kini Blok M kembali menjadi salah satu simpul transportasi penting dengan berbagai layanan Transjakarta, Transjabodetabek, MRT Jakarta, dan angkutan pengumpan yang menghubungkannya dengan Jakarta serta sejumlah wilayah penyangga.

Blok M adalah bukti bahwa ruang kota bukan sekadar bangunan, ruang hijau, dan jalanan. Ia adalah memori kolektif yang terus hidup dan, kalau perlu, "disuntik" ulang lewat kebijakan dan desain.

Dari kota taman rancangan kolonial pada akhir 1940-an, "era Lintas Melawai" yang elite, mal bawah tanah legendaris, Little Tokyo yang tumbuh organik, masa redupnya yang menarik bagi para peneliti, hingga ruang kreatif Gen Z masa kini, Blok M terus membaca zamannya dan beradaptasi.

Setiap generasi datang dan pergi, tapi Blok M selalu menemukan cara untuk tetap relevan.

Baca juga artikel terkait BLOK M atau tulisan lainnya dari Cheisa Aulia

tirto.id - Horizon
Kontributor: Cheisa Aulia
Penulis: Cheisa Aulia
Editor: Fadli Nasrudin