Seluk Beluk Para Habib

Habib Kwitang, Baswedan, dan Menantu Mualaf

Oleh: Petrik Matanasi - 13 Februari 2017
Dibaca Normal 4 menit
Kisah seorang ulama besar yang sangat dihormati di Betawi.
tirto.id - Sudah biasa makam Habib Ali Kwitang ramai diziarahi. Apalagi di "musim politik" seperti sekarang. Makam yang terletak di Jalan Kembang Nomor 6 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, ini pada 30 Oktober 2016 disambangi calon Wakil Gubernur nomor urut 3, Sandiaga Uno alias Sandi. Dia datang dengan bersarung, baju koko dan berpeci. Tak lupa dia berbincang dengan keturunan Habib Ali, yakni Habib Abdurrahman Muhammad Al Habsyi, sebelum mengunjungi makam.

Tak hanya Sandi yang berpasangan dengan Anies Baswedan saja yang datang berkunjung. Ayah dari calon Gubernur DKI nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga berkunjung. Sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), juga datang berpeci dan berbaju koko. Berhubung hari Jumat, Presiden RI ke-6 yang datang dikawal Paspampres itu juga menyempatkan ikut menunaikan salat Jumat di masjid yang tak jauh letaknya dari kediaman keluarga Habib Kwitang. Tentu sambil menitip doa agar putra sulungnya mendapat barokah dalam Pilgub 2017 ini.

Kehadiran dua politisi yang terlibat dalam pertarungan Pilgub DKI itu sudah tentu akan memancing perhatian banyak pihak. Entah wartawan atau orang awam yang berziarah ke makam salah satu ulama penting dalam sejarah Islam di Jakarta ini.

Ia memang ulama yang sangat dihormati pada masanya. Ilmu agama yang ia kuasai membuatnya mendapatkan respek tidak hanya dari sesama keturunan Hadramaut, namun juga dari warga Batavia.

Saking dihormatinya, ketika dapat kabar dari telepon bahwa Habib Ali akan datang ke Hadramaut School, dua jam setelah telpon berdering maka direktur sekolah pun memberi instruksi dadakan kepada siswanya untuk memakai sarung. Padahal, sehari-harinya para murid bercelana. Hal ini dilakukan karena rasa hormat yang begitu tinggi pada Habib Ali Kwitang ini.

Abdul Rahman Baswedan, yang masih muda dan menjadi guru di sekolah itu, menganggap tak masalah dengan celana yang dikenakan jelang kedatangan sang Habib. Namun, penjelasan direktur sekolah tak dapat diterima oleh A.R. Baswedan muda, kakek dari Anies Baswedan ini. Sang direktur bersikukuh. Ia memberi ketentuan, hanya yang bersarung yang boleh bertemu Habib, jika tidak mau bersarung tak usah bertemu.

A.R. Baswedan memilih bersikukuh dengan pendiriannya. Ia memilih mengurung diri di kamar saja. Begitu terang Sutarmin dalam buku Abdul Rahman Baswedan: Karya dan Pengabdiannya (1989) yang diterbitkanan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

A.R. Baswedan di kemudian hari memang semakin kukuh dengan pendiriannya tentang setiap orang setara, tanpa memandang asal usul dan derajat keturunan. Termasuk terhadap para sayid, mereka yang merupakan keturunan Nabi Muhammad dari garis Hussein yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan. Perbedaan tentang cara pandang terhadap para sayid ini menjadi salah satu isu penting dalam pergerakan orang-orang Arab di Indonesia. A.R. Baswedan memang juga berdarah Hadramaut, namun ia bukan keturunan sayid (lebih lengkap baca laporan: Perseteruan Orang-Orang Arab di Indonesia).

Tirto menurunkan 11 naskah yang melaporkan seluk beluk dan dinamika para keturunan Rasulullah di Indonesia. Baca serial sejarah habib di sini: Mereka yang Habib dan Bukan Habib.

Meski bukan orang yang pertama kali menyebarkan Islam di Betawi, Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau Habib Kwitang adalah orang yang berjasa dalam bidang pendidikan Islam di Betawi. Pengajiannya, yang disebut Majelis Taklim Kwitang, menjadi salah satu media dakwan yang menjadi cikal bakal banyak organisasi keagamaan di Batavia atau Jakarta. Majelis ini sudah dimulai sejak 1911 ketika Sarekat Islam mulai berkembang pesat.

Lokasi pengajiannya terletak di The Islamic Center Alias Masjid Habib Kwitang. Letaknya tepat di depan rumah sutradara ternama Alwi Shahab, Jalan Kramat III, Gang Kembang, tak jauh dari makam Habib Ali. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1969. Jika sedang berlangsung pengajian, jamaahnya penuh. Hingga banyak yang harus rela menyimak dari luar masjid itu. Saat ini kabarnya majelis taklim ini punya jamaah sekitar 15 ribu orang.

Menurut Habib Abdurrahman Al Habsyi, yang kini menjadi pengurus Yayasan Cikini, Habib Ali merupakan putra dari Habib Abdurrahman Alhabsyi alias Habib Cikini dan Nyai Salmah, seorang nyai Betawi asal Jatinegara (yang kala itu masih bernama Meester Cornelis).

Menurut catatan Abdurrahman bin Muhammad al-Habsyi dan Prasetyo Sudrajat dalam Sumur yang Tak Pernah Kering: Dari Kwitang Menjadi Ulama Besar: Riwayat Habib Ali Alhabsyi Kwitang (2010), habib Ali lahir pada 20 April 1870. Sang ayah yang berasal dari Semarang, pernah menikahi dengan Syarifah Rogayah, adik termuda dari maestro seni rupa Raden Saleh yang tinggal di Cikini, tak jauh dari Kwitang. Setelah tak punya keturunan dari perkawinan tersebut, sang ayah kawin lagi dengan ibu Habib Ali.

Habib Ali tak jadi pedagang seperti kebanyakan orang-orang Arab. “Salah satu habib mengatakan, Kamu (Habib Ali) bukan tidak cocok berdagang, kamu harus duduk di Majelis,” cerita Habib Abdurrahman. Menurut Abdurrahman bin Muhammad al-Habsyi, Habib Ali kemudian mulai berguru ke luar negeri sejak umur 11 tahun. Dia belajar agama hingga ke Hadramaut (1881-1886) dan Mekkah (1887-1889).

Habib Ali belajar Islam pada banyak guru. Di Mekah, dia belajar pada Syech Muhammad Said Babsail, Syech Umar Hamda, Sayid Abu Bakr al-Bakri Syatha al-Dimyati, Habib Muhammad bin Husain al-Habshi yang jadi seorang Mufti di Mekkah, Habib Abdullah bin Muhsin Alatas dari Bogor, Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar dari Bondowoso dan Habib Usman bin Yahya yang menjadi Mufti di Betawi.

Menurut Nico Kaptein dalam The Arabs in the Netherlands East Indies and The House of Orange, Habib Usman bin Yahya yang hidup pada kurun waktu 1822 hingga 1914 ini adalah penasihat kehormatan pemerintah kolonial. Dia dekat dengan penasihat urusan pribumi dalam pemerintah kolonial Belanda yang cukup disegani, seperti C. Snouck Hurgronje, KF Holle, dan LWC van den Berg.

Setelah banyak berguru sana-sini, dalam waktu yang tidak singkat, barulah Habib Ali membangun pengajian dan madrasah. "Ia mendirikan Madrasah Al Unwanul Falah yang didirikan oleh Habib Ali Al Habsyi Kwitang pada tahun 1905,” menurut Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadatnya (1997).

Menurut Alwi Shahab, dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2002), Madrasah Al Unwanul Falah menerapkan sistem pendidikan modern, para ulama dan kyai generasi tua di ibukota umumnya merupakan murid-murid Habib Ali. Di antara muridnya yang sangat tekun mengikuti dan menjadi pembicara di majelisnya adalah Kyai Haji Abdullah Syafii dan Kyai Haji Tohir Rohili.

Mengenai pandangan politiknya, menurut catatan Windoro Adi dalam Batavia, 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010), Habib Ali di masa kolonial Hindia Belanda sering berlawanan dengan kepentingan pemerintah kolonial. Di masa kemerdekaan, ketika musim Pemilu 1955, menurut Alwi Shahab, “Habib Ali tidak sekali pun menampakkan berpihak pada salah satu partai dan tidak pernah mengemukakan pilihannya pada orang lain, tapi lebih dekat ke Nahdatul Ulama (NU)... Ketika NU mengadakan Muktamar di Lapangan Ikada (Monas) Jakarta, Habib Ali diminta membaca doa. Ia juga banyak memiliki murid orang-orang NU, termasuk Ketua Umumnya K.H. Idham Chalid, yang sering datang ke majelisnya.”

Uniknya, Abdullah Syafei, salah satu muridnya, justru menjadi tokoh Masyumi Jakarta di tahun 1955. NU yang merupakan pecahan Masyumu bersaing ketat dalam Pemilu 1955 dan keduanya tampil sebagai empat besar pemenang Pemilu tersebut bersama PNI dan PKI. Murid lainnya yang bergabung di Masyumi adalah Ustadz Salim Bahfen.

“Mejelis Taklim Habib Ali terbuka untuk siapapun,” tulis Alwi. Mengutip pendapat Mohamad Asad, penulis yang mengenal Habib Ali, “mejelis taklim Kwitang bertahan hampir satu abad karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berlandaskan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial dan ahlakul karimah. Ia tidak pernah menanamkan ideologi kebencian, hasad, dengki, ghibah, fitnah dan namimah.”

Infografik Habib Ali Kwilang


Keluarga Habib Ali punya seorang mualaf, yakni menantunya sendiri. Tentu cerita ini terkait dengan menikahnya Habib Ali dengan Syarifah Aisha binti Ali Assegaf asal Gedong Hijau Jakarta Selatan, di usia 20 tahun Dari perkawinan itu, lahir Abdurahman alias Wan Derahman, Rogayah, Fatimah, Khadijah, Maryam, Mahani, Zainab, Zahra, Sa’diyah dan Muhammad. Anak laki-laki tertuanya, Derahman menikahi seorang perempuan Indo-Belanda. Perempuan yang semula Katolik itu pun menjadi mualaf dan kawin dengan anak Habib Kwitang itu.

Sang menantu mualaf adalah putri dari Meneer van Engels yang beristrikan gadis Wonosobo pribumi, yang diperistri ketika sang meneer jadi karyawan di sebuah perkebunan teh di Wonosobo, Jawa Tengah. Ketika putrinya beranjak dewasa, keluarga Meneer van Engels tinggal di Betawi. Maria, salah satu putrinya, bekerja di toko penjahit di sekitar Noordwijk (yang kini menjadi Jalan Djuanda). Ketika sedang mengunjungi kawan-kawannya di Gang Abu, yang banyak orang Arabnya juga, Derahman bertemu dengan gadis cantik berkulit putih dan tinggi semampai itu. Singkat kata Derahman dan Maria pun lengket. Akhirnya mereka pun menikah. Dengan terlebih dahulu Maria bersyahadat. Nama Maria pun jadi Mariam.

Menurut cerita Alwi Shahab dalam Maria van Engels: Menantu Habib Kwitang (2006), “Konon, menjelang pernikahan mereka di kediaman Habib Ali Kwitang (kini jadi Majelis Taklim) tersiar isu serombongan tentara Belanda siap mendatangi kampung Kwitang untuk menggagalkannya... Jamaah Kwitang tak kalah gesitnya. Sejumlah jagoan dan jawara, seperti Haji Sairin, Haji Saleh dan banyak lagi, bersiap... Bersenjatakan golok sambil berkerodong kain sarung, mereka siap menyambut kedatangan serdadu Belanda yang akhirnya urung datang.

Baca juga artikel terkait HABIB KWITANG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan
DarkLight