tirto.id - Ketika berada di situasi terancam, pernahkah tubuh Anda tiba-tiba terasa kaku dan tidak bisa bergerak? Fenomena ini disebut dengan istilah freeze response atau tubuh mendadak membeku.
Freeze response merupakan bentuk respons stres yang membantu seseorang bereaksi terhadap ancaman yang dipersepsikan. Dengan kata lain, freeze response menjadi pertahanan biologis alami saat tubuh menghadapi ancaman.
Meski demikian tubuh yang membeku tersebut juga bisa terjadi dalam situasi yang sebenarnya tidak mengancam, tetapi dipicu oleh trauma dan kecemasan. Lantas apa yang sebenarnya terjadi ketika tubuh mengalami freeze response, dan bagaimana menyikapinya?
Apa yang Terjadi di Otak dan Tubuh Ketika Ancaman Datang?
Respons membeku umumnya terjadi ketika mengantisipasi ancaman, yang ditandai dengan tidak ada gerakan tubuh serta penurunan denyut jantung. Hal ini melibatkan respons otak yang kompleks.
Mengutip laman healthline, secara naluriah manusia akan merespons ancaman dengan istilah fight-flight-freeze (lawan, lari, atau diam mematung). Ketiga hal tersebut bukanlah keputusan sadar. Ini merupakan reaksi otomatis yang tidak bisa dikendalikan. Adapun cara bereaksi seseorang dalam menghadapi ancaman bergantung pada sistem mana yang mendominasi respons pada saat itu.
Saat menghadapi ancaman, struktur otak bagian amigdala (otak yang bertanggung jawab atas persepsi rasa takut) mengirimkan sinyal ke hipotalamus, bagian mengatur kimia tubuh dan otak.
Hipotalamus kemudian merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stres seperti adrenalin. Hal ini kemudian menstimulasi sistem saraf otonom atau autonomic nervous system.

Bagian sistem saraf otonom terdiri dari saraf simpatis dan parasimpatis. Sistem saraf simpatis akan bekerja mengendalikan tindakan, termasuk respons fight-or-flight. Saat sistem saraf simpatis mendominasi, seseorang merasakan lonjakan energi yang mendorong dirinya untuk bergerak mendekati ancaman atau lari menjauhinya
Sementara sistem saraf parasimpatis bekerja sebaliknya. Tugasnya membantu seseorang menjadi tenang dan memulihkan diri setelah ancaman berlalu. Artinya, saat sistem parasimpatis mendominasi, ia justru membuat seseorang tetap diam dan memicu respons mematung atau freezing.
Studi berjudul Visuocortical Changes During a Freezing-like State in Humanskarya Maria Lojowska dan tim, menjelaskan saat mengalami respons freeze, otak dan tubuh bekerja untuk menilai ancaman yang ada.
Ini adalah padanan naluriah dari tindakan menekan tombol jeda atau menarik napas dalam-dalam sebelum seseorang bertindak. Situasi ini terjadi dalam sepersekian detik, sebelum bagian otak yang rasional mulai terlibat lalu menganalisis situasi secara lebih logis.
Dominasi sistem saraf parasimpatis berfungsi sebagai rem bagi sistem motorik, untuk menilai ancaman dan pengambilan keputusan mengenai perilaku yang paling adaptif dalam situasi yang mengancam.
Dalam sejarahnya, istilah fight or flight dicetuskan oleh ahli fisiologi Walter Bradford Cannon pada tahun 1915. Istilah ini merujuk 2 naluri utama yang dimiliki hewan (termasuk manusia) saat mendeteksi ancaman, yaitu melawan atau melarikan diri.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, ditemuka reaksi ketiga saat menghadapi ancaman, yaitu diam mematung atau freeze. Respons mematung mendapat perhatian serius pada tahun 1970-an, saat psikolog Gordon G. Gallup Jr. mengaitkan tonic immobility dengan respons terhadap rasa takut, yaitu kondisi hewan yang mematung saat menghadapi predator, sebagaimana dikutip dari mentalfloss.com.
Freeze Response, Strategi Bertahan Hidup Dunia Hewan hingga Manusia
Pernahkan Anda melihat hewan yang pura-pura mati saat didekati atau ditangkap oleh predator? Secara istilah, kondisi ini disebut tonic immobility, yaitu respons alami berupa kondisi membeku atau pura-pura mati. Tujuannya untuk meminimalisir serangan berulang, mengurangi risiko cedera, hingga memanfaatkan kelengahan predator untuk melarikan diri.
Tonic immobility juga terjadi pada manusia ketika situasi terancam. Imobilitas tonik ditandai dengan ketidakmampuan bergerak secara fisik, kekakuan otot, dan tidak adanya respons terhadap rangsangan.
Sebuah penelitian Tonic Immobility as an Evolved Predator Defense: Implications for Sexual Assault Survivorskarya Brian P. Marx dan tim, menjelaskan kondisi tonic immobility terhadap korban kekerasan seksual.
Ketika terjadi kekerasan seksual, seseorang cenderung merasa takut dan terancam. Akibatnya, respons otak yang dominan pada sistem saraf parasimpatis menerapkan mode freeze respons sebagai reaksi biologis yang tidak dapat dihindari oleh korban.

Freeze respons bukan berarti tanda persetujuan kekerasan dan bukan pula keputusan sadar untuk menyerah. Kelumpuhan atau diam mematung adalah mekanisme pertahanan otomatis tubuh menghadapi ancaman.
Hasil penelitian menyebutkan membeku saat mengalami kekerasan seksual adalah mekanisme pertahanan neurobiologis yang normal terhadap ancaman ekstrem, bukan bentuk persetujuan atau kelemahan karakter.
Kondisi freeze response dapat dialami oleh siapapun. Tapi orang dengan riwayat trauma masa kecil atau gangguan kecemasan lebih rentan mengalaminya. Setelah peristiwa traumatis, seseorang cenderung mengembangkan respons stres yang berlebihan. Kondisi ini melibatkan pola reaksi berulang yang berkaitan dengan peristiwa awal tersebut.
Sebagai contoh, jika seseorang pernah mengalami trauma akibat kecelakaan mobil, suara klakson mobil dapat mengingatkannya terhadap peristiwa tersebut. Akibatnya, ia mungkin mengalami respons stres saat mendengar suara klakson.
Berikutnya, kecemasan atau perasaan takut dan gugup terhadap situasi, juga dapat memicu stres dan rasa terancam yang sebenarnya tidak berbahaya.
Respons lawan, lari, dan membeku, tidak selalu dipicu oleh bahaya nyata. Terkadang, sekadar memikirkan situasi yang penuh tekanan saja sudah cukup untuk memicunya, karena amigdala menganggap hal tersebut sebagai ancaman nyata yang membahayakan.
Cara Mengatasi dan Mengelola Reaksi Membeku
Respons fight, flight, dan freeze bukanlah sebuah keputusan sadar. Saat menghadapi ancaman yang dipersepsikan, otak menganggap sedang dalam bahaya. Hal ini karena otak telah menilai situasi tersebut sebagai ancaman yang membahayakan nyawa.
Akibatnya, tubuh secara otomatis bereaksi dengan respons fight-flight-freeze demi menjaga keselamatan. Saat terjadi respons freeze, terjadi peningkatan sensitivitas visual, khususnya terhadap informasi visual yang bersifat kasar. Pupil mata juga melebar dan membiarkan lebih banyak cahaya masuk untuk membantu melihat dengan lebih jelas.
Selain itu, denyut jantung lebih cepat untuk menyalurkan oksigen ke otot-otot utama. Berikutnya, kulit mungkin memproduksi lebih banyak keringat atau terasa dingin. Seiring meningkatnya aliran darah ke otot-otot utama, tangan dan kaki mungkin terasa dingin.
Meski begitu terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi respons freeze. Menukil laman naseeha.org, beberapa langkah ini membantu mengaktifkan kembali tubuh dan memberi sinyal kepada otak bahwa situasi aman.

Pertama, hentakkan kaki ke tanah, menggoyangkan lengan, atau melakukan peregangan sederhana. Tindakan fisik penting untuk menstimulus otak bahwa kondisi telah aman untuk bergerak.
Kedua, melakukan pernapasan dengan teknik tarik napas perlahan selama 5 detik, tahan sejenak, lalu embuskan napas selama 5 detik. Ulangi pola ini secara terus-menerus tanpa jeda. Hal ini membantu menjaga sirkulasi oksigen, mencegah kepanikan, dan menjaga otak tetap fokus.
Ketiga, latihan grounding atau menjejakkan diri. Caranya dengan merhatikan 5 hal yang bisa Anda lihat, 4 hal yang bisa Anda sentuh, 3 hal yang bisa Anda dengar, 2 hal yang bisa Anda cium aromanya, dan 1 hal yang bisa Anda rasakan kecapannya.
Keempat, lakukan aktivitas flow state yang melibatkan tindakan menuntut fokus serta penggunaan tangan atau tubuh, sehingga membantu mengalihkan perhatian dari pikiran menuju indra. Caranya dengan menulis, menggambar, melukis, merajut, atau bentuk seni apa pun.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id






































