tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, tak terkecuali Papua. Sekian hektare hutan terbakar sepanjang tahun 2026, bahkan lebih luas dari tahun lalu.
Kementerian Kehutanan memiliki Sistem Pemantauan Karhutla yang dikenal dengan SiPongi+. Laman web ini salah satunya menyediakan informasi pemantauan titik panas atau hotspot.
Pemantauan hotspot ini menyajikan data dan informasi titik panas secara real-time dan bersumber dari data beberapa satelit, seperti NOAA, Terra/Aqua, dan SNPP. Selain pemantauan hotspot, laman ini juga menyediakan deteksi dini dan pencegahan serta data emisi dan luas terbakar akibat karhutla.
Kementerian Kehutanan melalui laman SiPongi+ merilis angka 202.004,30 ha kebakaran yang terjadi selama Januari–Juli 2026.
Jika dibandingan dengan kebakaran pada 2025, angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 69 persen, yakni seluas 82.791,04 ha. Peningkatan ini sebagian besar dipicu oleh kegiatan masyarakat dan perusahaan dalam pembukaan lahan dengan cara membakar hutan karena cara ini mengeluarkan biaya yang murah.
Berapa Hektare Hutan Papua yang Terbakar Sepanjang 2026?
Papua memiliki 6 provinsi, yakni Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan. Hampir seluruh wilayah provinsi tersebut memiliki riwayat karhutla sepanjang tahun 2026.
Sepanjang tahun 2026, ratusan hingga ribuan hektar hutan terbakar di berbagai provinsi di Pulau Papua. Laman SiPongi+ mencatat data luas areal karhutla di wilayah ini sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Selengkapnya, berikut ini rincian luas hutan Papua yang terbakar sepanjang 2026, berdasarkan data SiPongi+:
Provinsi Papua
Di Provinsi Papua, total luas karhutla yakni sebanyak 544,61 ha untuk periode Januari-Juli 2026. Angka ini tercatat lebih tinggi dari tahun sebelumnya (2025) yang hanya 199,74 ha luas karhutla. Wilayah paling luas sebaran karhutla yakni di Kabupaten Jayapura dengan angka 442,21 ha. Sementara itu, Kota Jayapura menyusul dengan luas kebakaran sekitar 63,36 ha.Di Kabupaten Keerom, Papua, sekitar 31,96 ha luas karhutla, diikuti dengan 4,79 ha di Kabupaten Kepulauan Yapen dan 2,29 ha di Kabupaten Sarmi.
Provinsi Papua Barat Daya
Adapun pada periode Januari-Juli 2026 di Provinsi Papua Barat Daya, luas hutan terbakar lebih banyak dari Provinsi Papua, yakni sekitar 716,70 ha. Seluruh kabupaten/kota di provinsi ini memiliki riwayat karhutla pada perioder tersebut.Terbanyak, yakni Kabupaten Tambrauw dengan luas karhutla pada 2026 yakni 588,35 ha. Di Kabupaten Sorong, luas karhutla tercatat 33,09 ha dan Kabupaten Sorong Selatan sebanyak 30,56 ha.
Sementara itu, di Kota Sorong, luas karhutla tercatat 28,47 ha dan Kabupaten Rajaampat seluas 27,87 ha. Paling sedikit, tercatat 8,36 ha luas karhutla terjadi di Maybrat sepanjang 2026 setelah pada 2020 wilayah ini dilanda karhutla yang meluas hingga 1.433 ha.

Papua Pegunungan
Wilayah karhutla di Papua Pegunungan selama Januari hingga Juli 2026 tercatat seluas 1.681,43 ha. Paling luas, yakni Kabupaten Jayawijaya dengan 1.100 ha, disusul dengan Kabupaten Lanny Jaya dengan luas karhutla 360,08 ha.Kemudian, Kabupaten Tolikara tercatat mengalami karhutla seluas 121,14 ha dan Kabupaten Yahukimo seluas 65,36 ha. Selain itu, Kabupaten Mamberamo Tengah mengalami karhutla seluas 22,74 ha dan Pegunungan Bintang seluas 12,11.
Adapun Kabupaten Yalimo dan Nduga tercatat tidak mengalami karhutla sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Papua Barat
Dibanding wilayah lainnya, Provinsi Papua Barat mengalami karhutla yang lebih luas, mencakup 2.486,39 ha sepanjang Januari–Juli 2026 atau mencapai 2 kali lipat dari tahun lalu yang tercatat seluas 1.228,71 ha.Wilayah yang paling terdampak karhutla adalah Kabupaten Fak-Fak dengan 2.171,05 ha, disusul dengan kabupaten Telukbintuni dengan 223,50 ha. Kemudian, wilayah Pegunungan Arfak tercatat mengalami kebakaran hutan seluas 36,51 ha.
Tak jauh dari angka terakhir, wilayah Kabupaten Manokwari Selatan tercatat mengalami karhutla seluas 34,35 ha dan Kabupaten Manokwari seluas 30,98 ha. Sementara itu, wilayah Kabupaten Telukwondama dan Kabupaten Kaimana tercatat tidak mengalami karhutla selama Januari–Juli 2026.
Papua Tengah
Angka luas wilayah karhutla di Papua Tengah tercatat lebih tinggi dari Papua Barat. Seluas 2.519,88 ha wilayah ini mengalami karhutla dari Januari hingga Juli 2026. Dibanding tahun sebelumnya, yakni 242,18 ha, angka tersebut terbilang tinggi.Wilayah dengan kahutla paling luas adalah Kabupaten Paniai dengan 1.220,29 ha, lalu Kabupaten Dogiyai dengan 919,50 ha. Sedangkan, wilayah lain, yakni Kabupaten Puncak Jaya mengalami karhutla seluas 119,23 ha dan Kabupaten Puncak seluas 118,87 ha.
Adapun Kabupaten Deiyai mengalami karhutla seluas 64,45 ha, diikuti dengan Kabupaten Nabire seluas 39,15 ha dan Kabupaten Intan Jaya seluas 38,39 ha. Hanya Kabupaten Mimika yang tercatat nihil karhutla.
Papua Selatan
Wilayah Papua Selatan tercatat sebagai wilayah dengan karhutla paling parah sepanjang Januari–Juli 2026. Pasalnya, kebakaran hutan di provinsi ini mencapai total 25.838,53 ha atau 3 kali lipat dari tahun sebelumnya seluas 8.107,91 ha.Kabupaten Merauke menjadi wilayah yang paling luas mengalami karhutla, yakni seluas 25.035,87 ha, disusul Kabupaten Mappi dengan 784,45 ha. Kemudian, Kabupaten Asmat tercatat mengalami karhutla seluas 18,21 ha, sedangkan Kabupaten Boven Digoel nihil karhutla tahun ini.
Peta Titik Api Karhutla Papua Hari Ini
Berdasarkan laporan SiPongi+ pada Selasa (13/10/2026) pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 105 titik api di Papua Selatan melalui satelit NASA-Terra/Aqua dan 1.118 titik api melalui satelit NASA-NOAA20.
Sebaran titik api melalui satelit Terra/Aqua tercatat 7 titik level rendah, 78 sedang, dan 20 lainnya level tinggi. Sedangkan, melalui satelit NOAA20, sebanyak 1116 titik api level sedang dan 2 titik level tinggi.
Adapun di Papua Tengah, tercatat sebanyak 1 titik api level sedang melalui satelit Terra/Aqua dan 36 titik api level sedang melalui satelit NOAA20. Sementara itu, di Papua Barat tercatat sebanyak 4 titik api level sedang melalui satelit Terra/Aqua dan 37 titik api level sedang melalui satelit NOAA20.

Di Papua Pegunungan, melalui satelit Terra/Aqua titik api tercatat sebanyak 1 titik level tinggi dan 5 titik level sedang. Kemudian, melalui satelit NOAA20, tercatat sebanyak 20 titik api level sedang.
Wilayah Provinsi Papua hanya tercatat sebanyak 3 titik api level sedang melalui satelit NOAA20. Sementara itu, di wilayah Papua Barat Daya, tidak ada sebaran api yang tampak melalui satelit.
Apa Dampak Karhutla di Papua?
Puluhan ribu hektare hutan terbakar di Papua sepanjang 2026. Karhutla ini, mengutip laman Mongabay, mengancam lingkungan karena menghanguskan hutan dan ekosistem lahan basah yang memiliki fungsi ekologis penting.
Tak hanya berdampak pada hutan dan ekosistem lingkungan, karhutla juga berimbas langsung terhadap warga, khususnya pada masyarakat adat yang ruang hidupnya bergantung pada alam.
Lebih lanjut, karhutla juga berisiko menyusutkan ruang sosial dan budaya yang sekaligus menjadi tempat masyarakat berinteraksi, menjalani kehidupan, dan mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi.

Secara umum, karhutla yang baru-baru ini terjadi juga menyebabkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kepala Dinkes Manokwari, Alexander Takdare, menyatakan, jumlah kasus ISPA meningkat hingga pada minggu ke-39 tahun 2026 ini tercatat 707 kasus.
“Kasus sempat naik jadi 628 pada minggu ke-36, kemudian turun jadi 626 pada minggu ke-37, sebelum kembali meningkat jadi 658 pada minggu ke-38,” terang Alexander Takdare, dikutip dari Antara Papua Tengah (9/10/2026).
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































