tirto.id - Memasuki pertengahan Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia masih tersebar di berbagai daerah. Pulau Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua masih menjadi pulau dengan konsentrasi titik api tertinggi menurut pantauan citra satelit per Selasa (13/10/2026).
Seturut laman Sipongi yang dikelola Kementerian Kehutanan Indonesia, satelit NASA-TERRA/AQUA menangkap adanya 1.297 titik api di seluruh Indonesia pada Selasa.
Dari jumlah tersebut, 322 titik dikategorikan sebagai citra kebakaran dengan tingkat kepercayaan (confidence level) tinggi; diikuti dengan 906 titik dengan level kepercayaan sedang; dan dan 69 titik dengan level kepercayaan rendah.
Ditilik dari persebarannya, Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Papua menjadi tiga pulau dengan konsentrasi tertinggi sejauh ini. Titik api masih tampak mengerumuni wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua Selatan.
Akan tetapi, laporan pemantauan satelit yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa menunjukkan jumlah titik api yang jauh lebih rendah. Total, pemantauan citra satelit oleh BMKG menangkap adanya 302 titik api yang masih tersebar di Indonesia hari ini.
Meski begitu, konsentrasi persebaran titik api dari pemantauan BMKG menunjukkan pola yang serupa dengan data yang muncul di Sipongi. Kalimantan (195 titik), Sulawesi (14 titik), dan Papua (68) dicitrakan sebagai pulau dengan konsentrasi titik api tertinggi.
Perbedaan ini terjadi karena perbedaan metode pengambilan data yang digunakan oleh BMKG dan laman Sipongi. BMKG menggunakan metode deteksi titik api via sensor VIIIRS dan MODIS pada satelit polar. Hal ini membuat data yang diolah bersumber pada beberapa satelit sekaligus, termasuk NOAAA20, S-NPP, dan TERRA/AQUA.
“Observasi ini dilakukan pada siang dan malam hari untuk masing-masing satelit. Pada daerah yang tertutup awan atau blank zone, hotspot di wilayah tersebut tidak dapat terdeteksi,” tulis keterangan BMKG tentang metode yang digunakan.
Sementara itu, IQAir menyatakan bahwa terdapat 10 kebakaran aktif yang terjadi di Indonesia per Selasa. Sebanyak 10 kebakaran aktif itu tersebar di Pulau Kalimantan (4 titik), Sulawesi (3 titik), Ternate (1 titik), Ambon (1 titik), dan Nusa Tenggara Timur (1 titik).
Kendati begitu, data yang dihimpun IQAir mengungkap bahwa dampak karhutla terhadap kualitas udara masih terjadi secara luas. Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Papua Barat Daya masih mencatatkan indeks polusi udara yang tinggi di tengah fenomena karhutla yang terjadi.
Per Selasa sore, Jambi mencatatkan indeks polusi AQI 265, Palembang mencatatkan indeks AQI 412, Pontianak mencatatkan indeks AQI 287, Pangkalan Bun mencatatkan indeks AQI 462, Maros di Sulawesi Selatan mencatatkan indeks AQI 182, bahkan Sorong di Papua Barat Daya mencatatkan indeks AQI 203.
Indeks AQI merupakan indeks untuk mengukur kualitas udara berdasarkan konsentrasi polutan dalam udara di sekeliling manusia. Indeks sebesar 0-50 menunjukkan kualitas udara yang baik, indeks lebih dari 150 dianggap tidak sehat, dan indeks di atas 300 dianggap berbahaya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































