tirto.id - Musim kemarau biasanya berlangsung selama periode bulan April hingga November. Pergerakan angin monsun turut menyebabkan musim kemarau atau hujan di Indonesia.
Pergerakan angin monsun dari Australia ke Asia yang melewati wilayah Indonesia menyebabkan berkurangnya curah hujan. Inilah yang mengakibatkan musim kemarau di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026. Sebagian besar wilayah di Indonesia terjadi selama 3 bulan tersebut.
Menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, puncak kemarau pada Juli 2026 mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26% luas daratan Indonesia, lalu 369 ZOM (48,84% luas daratan Indonesia) pada Agustus 2026, dan 169 ZOM (25,41% luas daratan Indonesia) pada September 2026.
Kendati puncak kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami cuaca panas hingga kekeringan pada Oktober 2026.

Penyebab Musim Kemarau 2026 Sangat Panjang
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, musim kemarau pada 2026 cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan melalui siaran pers tentang musim kemarau pada 10 Juni 2026 silam.
Ardhasena menyebut, musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini terjadi akibat adanya fenomena El Niño yang juga memengaruhi Indonesia.
“BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Namun demikian, dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” jelasnya, dikutip dari laman BMKG.
Sebelumnya, BMKG juga telah memproyeksikan bahwa musim kemarau 2026 secara umum akan lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5% luas daratan Indonesia) dan normal di 245 ZOM (35,1% luas daratan Indonesia).
Hanya 3 ZOM (0,4% luas daratan Indonesia) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah dari biasanya. Di samping itu, BMKG juga menambahkan bahwa musim kemarau akan berlangsung lebih lama dari biasanya di 57,2% wilayah Indonesia.

Melalui prediksi musim kemarau 2026 di Indonesia, BMKG juga menyebut bahwa jika dibandingkan klimatologisnya, puncak musim kemarau di Indonesia umumnya diprediksi sama terhadap normalnya di 377 ZOM (38,15% luas daratan Indonesia).
Kemudian, sebagian besar musim kemarau di Indonesia diprediksi berlangsung pada 10–21 dasarian di 388 ZOM (47,45% luas daratan Indonesia). Jika dibandingkan normalnya, durasi musim kemarau di Indonesia umumnya diprediksi lebih panjang dari normalnya pada 437 ZOM (48,77% luas daratan Indonesia).
Meskipun musim kemarau diprediksi lebih panjang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, tidak ada klaim dari BMKG bahwa musim kemarau tahun 2026 merupakan yang terparah dalam 30 tahun terakhir.
Hal ini turut dijelaskan oleh Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab. Selain lebih kering, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.
“Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun, perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun,” papar Fachri, dikutip dari Antaranews, (14/4/2026).
Kondisi tersebut dipengaruhi aktifnya fenomena El Niño yang mulai muncul akhir April hingga awal Mei 2026. Fenomena ini turut memengaruhi intensitas curah hujan yang berkurang di wilayah Indonesia.
“Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Niño, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Niño masih dalam kategori lemah,” jelas Fachri.

Sebagaimana dijelaskan dalam pamflet rilisan BMKG berjudul Variabilitas Iklim di Indonesia, El Niño merupakan pemanasan permukaan laut di atas rata-rata pada ambang tertentu di Samudra Pasifik tropis tengah dan timur.
Selama terjadi fenomena El Niño, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia cenderung menurun, tapi meningkat di Samudra Pasifik tropis dan timur. Secara umum, semakin hangat anomali suhu laut, semakin kuat El Niño.
Intensitas El Niño diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026. Tepatnya, yakni sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober sebagaimana analisis dari tim klimatologi BMKG.
Prediksi Musim Hujan 2026 & Puncaknya
Terkait periode musim kemarau yang lebih panjang, BMKG juga memprediksi bahwa awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia (529 ZOM atau 61,08% luas daratan Indonesia) akan mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologisnya.
Pasalnya, fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan.
BMKG menginformasikan, pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83 dengan indeks El Niño Southern-Oscillation (ENSO) periode Juli-Agustus-September sebesar +2,63.
Angka tersebut mengindikasikan El Niño sangat kuat. Sementara itu, di Samudra Hindia, indeks IOD bulan Agustus tercatat sebesar +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” terang Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman BMKG.

Menurut prediksi BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim hujan pada November 2026, mencakup 185 ZOM (24,66% luas daratan Indonesia). Kemudian, sebanyak 226 ZOM (17,31% luas daratan Indonesia) baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Musim hujan 2026 diprediksi diawali dari wilayah Sumatra bagian utara. Kemudian, musim hujan akan berlangsung secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Di sebagian besar wilayah Indonesia, sesuai penjelasan sebelumnya, awal musim hujan diprediksi lebih lambat atau mundur di 529 ZOM (61,08% luas daratan Indonesia). Sementara itu, di 26 ZOM (2,15% luas daratan Indonesia) awal musim hujan diprediksi sama dengan normalnya.
Adapun puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia (155 ZOM atau 36,94% luas daratan Indonesia) diprediksi akan terjadi pada Desember 2026. Kemudian, sebagian wilayah (162 ZOM atau 25,68% luas daratan Indonesia) diperkirakan terjadi pada Januari 2026 dan 190 ZOM (16,79% luas daratan Indonesia) pada Februari 2026.

Menurut prediksi, puncak musim hujan di sebagian besar Indonesia (332 ZOM atau 50,76% luas daratan Indonesia) akan terjadi lebih lambat atau mundur. Sementara itu, sebanyak 275 ZOM atau 39,69% luas daratan Indonesia akan mengalami puncak musim hujan sama dengan normalnya.
Di samping itu, sebagian besar wilayah Indonesia (482 ZOM atau 51,90% daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dari normalnya pada 2026/2027.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































