tirto.id - Fenomena El Nino disebut bisa semakin memperparah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Hingga kini, masalah karhutla masih saja terjadi di sejumlah wilayah. Dampak iklim akibat El Nino diprediksi masih berlanjut hingga 2027.
Berdasarkan hasil pemantauan kondisi iklim pada Dasarian III September 2026 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kondisi kering.
Hal tersebut selaras dengan perkembangan fenomena iklim global, yakni Indian Ocean Dipole (IOD) yang tercatat bernilai positif dengan indeks rata-rata bulanan pada September 2026 sebesar +0,72.

Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 periode Juli-Agustus-September mencapai +2,70. Angka ini mengindikasikan fenomena El Niño masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat.
Situasi yang menyebabkan pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia berkurang. Musim hujan di sebagian besar wilayah diprediksi mundur dan puncaknya baru akan terjadi pada Desember 2026.
Apa Itu El Niño dan Dampaknya?
El Niño merupakan salah satu fase dalam El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Melansir laman Earth Sciences New Zealand, fenomena iklim alami ini berpusat di Samudra Pasifik tropis.
Berbeda dengan La Niña, suhu permukaan laut di sebagian wilayah Pasifik tropis tengah dan timur menjadi lebih hangat dari rata-rata selama El Niño. Perubahan disertai dengan pergeseran atmosfer, termasuk perubahan tekanan udara, angin pasat, tutupan awan, dan pola curah hujan.
Fenomena El Niño telah menjadi perhatian sejak paruh pertama tahun 2026. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan BMKG pernah bekerja sama untuk mencegah kebakaran hutan di Indonesia.
Kendati demikian, upaya pemadaman karhutla hingga kini jauh dari kata berhasil, karena api masih tersebar di berbagai titik dan asap tebal kerap menyelimuti sejumlah wilayah.

Berdasarkan laporan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 21.00 WIB, tercatat sebanyak 793 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional yang terpantau melalui satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Sejumlah titik panas tersebar di berbagai wilayah. Di antaranya mencakup Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan kemungkinan yang sangat tinggi, hampir 100%, bahwa El Niño akan berlanjut hingga Februari 2027.
Didorong oleh kondisi laut yang sangat hangat di seluruh Pasifik tropis, El Niño diperkirakan akan semakin menguat hingga mencapai intensitas yang sangat kuat sebelum mencapai puncak menjelang akhir tahun 2026, dengan dampak iklim yang berlanjut hingga tahun 2027.

Melansir laman WMO, suhu permukaan laut di seluruh wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah-timur, wilayah yang menjadi pusat El Niño, sudah jauh di atas rata-rata dan terus meningkat.
Dampak El Niño sendiri bisa bervariasi di tiap wilayah dunia, tergantung lokasi dan musim. Ini juga dapat dimodifikasi oleh faktor-faktor iklim lain, termasuk kondisi di Samudra Hindia dan Atlantik.
Di samping itu, laman ElNinoLive sejak 2 Juli 2026 lalu juga telah memperkirakan potensi musim kemarau panjang yang mengkhawatirkan dalam sejarah. Alhasil, El Niño turut mengubah cuaca di Indonesia.
Alasan El Niño Bikin Karhutla di Indonesia Makin Parah
Secara sederhana, El Niño menyebabkan kekeringan di Indonesia. Hal ini turut dijelaskan di laman ElNinoLive bahwa Indonesia berada di bawah cabang naik sirkulasi Walker, mesin badai petir berbasis air hangat yang membawa hujan.
Selama El Niño, cabang naik tersebut bermigrasi ke timur menuju Pasifik tengah, meninggalkan udara yang lebih kering dan turun di atas kepulauan. Musim kemarau pun semakin dalam dan panjang, sungai dan waduk surut, dan hujan yang biasanya terjadi Oktober-November bisa tertunda.
El Niño kuat dinyatakan pada Juni 2026. Suhu air laut di atas 28°C memicu konveksi yang membawa hujan sepanjang tahun ke kepulauan bagian barat dan mendorong ritme kering Juni-September/basah Oktober-April di tempat lain.
Dengan begitu, udara yang naik digantikan oleh udara yang turun di atas Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Dampaknya pun terjadi secara berurutan.

Musim kemarau yang biasanya terjadi pada Juni-Oktober menjadi lebih keras. Kemudian, awal musim hujan datang terlambat. Selain itu, total curah hujan tahunan menurun, dengan defisit paling tajam dari Agustus hingga November.
Tak hanya itu, kerentanan khusus Indonesia terhadap fenomena El Niño terletak pada lapisan tanah di bawahnya. Hamparan luas Sumatra dan Kalimantan berada di atas lahan gambut.
Lahan gambut kaya akan karbon, dikeringkan di banyak daerah untuk pertanian, dan pada dasarnya tahan api hanya saat kondisi basah saja. Namun, musim kemarau El Niño mengubah lahan gambut menjadi bahan bakar yang terbakar di bawah tanah selama berminggu-minggu dan mengeluarkan asap dalam jumlah besar.
Selama El Niño berlangsung, tak hanya kebakaran hutan, kekeringan juga menyebabkan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Krisis air terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia selama beberapa bulan terakhir, sekaligus mengiringi karhutla.

Melansir AP News pada Jumat, 2 Oktober 2026, para ahli mengatakan bahwa masyarakat di Kalimantan menghadapi krisis air yang parah, karena El Niño super tahun 2026 dikombinasikan dengan degradasi lahan gambut yang vital secara ekologis di Pulau Kalimantan selama beberapa dekade.
Fenomena El Niño 2026 bahkan diperkirakan akan mencapai kondisi ekstrem baru berupa kekeringan, gelombang panas, banjir, dan gangguan terkait iklim lain di seluruh dunia.
Para ahli meteorologi pun memperkirakan, fenomena bisa melampaui rekor El Niño yang dimulai pada 1997. Tak hanya itu, hal tersebut juga memicu kerugian miliaran Dolar akibat gelombang panas, banjir, kekeringan, tornado, dan kebakaran hutan.
Dengan demikian, El Niño memperparah kebakaran hutan akibat berkurangnya lahan gambut yang merupakan lahan basah kuno yang sangat penting untuk penyimpanan karbon, pengaturan air, dan pengendalian polusi.

Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































