Menuju konten utama

Tatapan Kosong dan Cara Otak Menggali Ingatan yang Tersembunyi

Fenomena tatapan kosong saat mengingat membantu otak menemukan jalur alternatif mencapai ingatan. Cara ini dilakukan untuk memutus distraksi lingkungan.

Tatapan Kosong dan Cara Otak Menggali Ingatan yang Tersembunyi
Ilustrasi. Melamun. Foto/iStock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saat berupaya mengingat kembali gambaran kejadian atau ingatan yang sudah lalu, mata kita sering mengalihkan pandangan, baik menerawang ke langit-langit maupun memejamkan mata. Fenomena nyaris serupa terjadi ketika seseorang melamun atau tengah terhanyut dengan ingatan dan imajinasinya.

Hal ini erat kaitannya dengan cara kerja otak. Ketika mencoba mengingat, secara otomatis otak bakal berupaya mengurangi gangguan dari lingkungan sekitar, untuk mengalihkan fokus sumber daya otak. Hal ini bertujuan mengurangi beban kognitif, demi mengoptimalkan menggali memori atau retrieval.

Mengalihkan pandangan atau gaze aversion berdampak pada berkurangnya kemampuan untuk memantau lingkungan sekitar. Agar situasi tak berlarut, Anda dapat mencoba beberapa langkah untuk membantu otak mengingat secara cermat.

Kenapa Kita Menatap Kosong Ketika Mengingat?

Fenomena mengalihkan pandangan (gaze aversion) dianggap dapat meningkatkan performa otak ketika berupaya mengingat. Pengalihan pandangan tersebut dapat berupa menutup mata atau melihat ke arah lain secara terpusat.

Saat mata mengirimkan data visual ke otak, maka otak akan bekerja memproses warna, gerakan, hingga bentuk. Guna menggali ingatan-ingatan yang lampau, otak secara otomatis bakal mengurangi sensori luar, lalu beralih fokus pada sumber daya otak sekaligus mengurangi beban kognitif.

Merujuk studi berjudul Reduction of Environmental Distraction to Facilitate Cognitive Performance (2014) karya Annelies Vredeveldt dan Timothy J. Perfect, yang dimuat di laman Frontiers. Menyebut dalam situasi mengingat, mata kita kerap menerawang ke langit-langit.

Tindakan ini bukan untuk mencari sesuatu yang hilang, melainkan mendukung otak untuk bekerja meningkatkan ketersediaan sumber daya memproses informasi yang relevan.

ILUSTRASI MELAMUN

Ilustrasi. Melamun. Foto/iStock

Secara teoritis, Glenberg, Schroeder, dan Robertson (1998) menganggap bahwa sistem kognitif manusia perlu terikat pada lingkungan. Akan tetapi untuk tetap bertahan hidup, tindakan seseorang harus dilakukan dengan mempertimbangkan batasan-batasan tertentu.

Teori ini menyatakan bahwa pemantauan lingkungan dan tugas-tugas kognitif saling bersaing dalam memperebutkan sumber daya otak. Oleh karenanya dengan melepaskan diri dari lingkungan, seseorang bakal mengalokasikan sumber daya kognitif lebih besar untuk menyelesaikan tugas yang sedang dihadapi, sehingga bakal meningkatkan kinerja.

Cara otak melepaskan diri dengan gangguan lingkungan dapat berupa memejamkan mata, tatapan kosong atau melihat ke langit-langit. Tapi hal ini dibarengi dengan konsekuensi berkurangnya kemampuan memantau lingkungan sekitar.

Penelitian berjudul Averting the Gaze Disengages the Environment and Facilitates Remembering karya Glenberg, Schroeder, dan Robertson (1998) yang dimuat di Memory & Cognition, menjelaskan gangguan lingkungan dianggap dapat memengaruhi kinerja kognitif.

Jika lingkungan terus memegang kendali penuh atas konseptualisasi, maka proses mengingat kembali bakal lebih sulit.

Tatapan kosong juga dianggap dapat meningkatkan kemampuan mengingat informasi, baik yang bersifat visual maupun auditori. Pengalihan pandangan cukup berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas kognitif yang dihadapi otak pada saat itu. Mengalihkan pandangan menjadi cara yang relatif mudah, dan tidak terlalu membebani otak untuk melepaskan diri dari lingkungan.

Apa yang Dilakukan Otak saat Menggali Ingatan?

Aktivitas dalam jaringan neuron bekerja secara sistematis ketika proses menggali memori atau retrieval. Secara umum, peristiwa yang bermuatan emosional sering kali diingat dengan akurasi yang lebih tinggi dan lebih jelas dibandingkan dengan peristiwa yang tidak memiliki komponen emosional.

Sebuah penelitian berjudul Retrieval of Emotional Memories (2007) karya Tony W Buchanan yang dimuat di National Library of Medicine, menjelaskan kerja otak dalam proses retrieval.

Proses retrieval merujuk kepada akses, pemilihan, pengaktifan kembali, atau rekonstruksi representasi internal yang tersimpan. Selama proses retrieval, amigdala bersama dengan hipokampus dan korteks prefrontal, memainkan peran penting menggali kembali ingatan tentang peristiwa yang bermuatan emosional.

Amigdala memengaruhi penyandian (encoding) dan teraktivasi kembali untuk merangkum jejak ingatan peristiwa emosional. Berikutnya, bagian hipokampus bekerja merekonstruksi isi detail memori deklaratif atau episodik. Sementara area korteks prefrontal bertugas mengatur kendali kognitif, evaluasi konteks, dan pengorganisasian kembali informasi saat diakses.

ILUSTRASI MELAMUN

Ilustrasi. Melamun. Foto/iStock

Di otak manusia, memori tidak dianggap tersimpan dalam bentuk ada atau tidak ada sama sekali, melainkan sebagai sekumpulan atribut. Atribut-atribut ini dapat mencakup waktu dan tempat terjadinya suatu pengalaman, fonem awal dari sebuah kata, atau muatan emosional yang terkandung dalam suatu kata. Akses terhadap atribut-atribut ini yang menjadi kunci apakah suatu memori berhasil diingat kembali.

Pada proses pemanggilan memori tersebut, seseorang terkadang merasa tahu suatu kata tetapi tidak bisa langsung mengucapkannya. Istilah ini sering disebut ujung lidah atau tip-of-the-tongue yang merujuk pada kondisi ingatan nyaris didapatkan.

Situasi inilah yang kemudian memicu fenomena tatapan kosong untuk membantu kerja otak menemukan jalur alternatif mencapai ingatan. Dengan kata lain, tatapan kosong saat retrieval menjadi mekanisme diri untuk lepas dari gangguan lingkungan, agar proses pencarian ingatan dapat berjalan lebih efisien.

Langkah Praktis Membantu Otak Mengingat

Sejumlah langkah praktis dapat dilakukan untuk memudahkan otak mengingat kembali memori. Melansir penelitian Visual Distraction During Word-list Retrieval Does Not Consistently Disrupt Memory (2014) karya Pamela J. L. Rae dan Timothy J. Perfect yang dimuat di laman Frontiers, alihkan pandangan dari lingkungan sekitar dengan cara mata terpejam atau menatap langit-langit, untuk menekan efek gangguan saat proses mengingat.

Agar proses mengingat berjalan optimal, cari situasi yang tenang dan menepi sejenak untuk membantu kerja otak. Berikutnya beri waktu yang lebih panjang bagi otak untuk mengingat sesuai peristiwa atau ingatan, lengkap dengan berbagai atribut yang menyertainya.

Studi Eye Closure Helps Memory by Reducing Cognitive Load and Enhancing Visualisationkarya Annelies Vredeveldt menjelaskan mengalihkan pandangan selama mengingat dapat membantu mengurangi beban kognitif dan memfokuskan perhatian ke dalam ingatan masa lalu. Memejamkan mata juga dapat menghindari distraksi visual ruangan.

Kondisi ini membuat proses retrieval menjadi jauh lebih fokus dan bersih dari gangguan luar. Selain itu, menutup mata secara refleks saat momen tip-of-the-tongue bakal menurunkan beban kognitif seketika dan memberi ruang bagi otak untuk menarik memori tersebut keluar.

Ilustrasi Otak manuasia

Ilustrasi Otak manuasia. foto/istockphoto

Menutup mata merupakan cara biologis paling instan dan ampuh untuk memperjelas visualisasi, membuat bayangan yang tercipta di dalam pikiran menjadi lebih kuat melekat di memori jangka panjang.

Melansir laman Mayo Clinic, langkah praktis yang dapat membantu otak mengingat yaitu dengan

gaya hidup sehat dan mengelola stres. Pastikan tidur yang cukup dan berkualitas sebagai prioritas. Sebab, kurang tidur dikaitkan dengan penurunan daya ingat.

Konsumsi makanan sehat untuk otak seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh. Pilih sumber protein rendah lemak, seperti ikan, kacang-kacangan, dan daging unggas tanpa kulit. Batasi konsumsi alkohol, karena dapat menyebabkan kebingungan dan penurunan daya ingat.

Berikutnya, kelola kondisi kesehatan kronis. Sebab, semakin baik seseorang merawat diri sendiri, semakin baik pula daya ingat yang dimiliki. Tinjau secara berkala obat-obatan yang Anda konsumsi bersama tenaga medis profesional, karena beberapa jenis obat dapat memengaruhi daya ingat.

Timothy J. Perfect dan tim melakukan studi kualitas memori terhadap 48 peserta. Pada penelitiannya yang berjudul Environmental Visual Distraction during Retrieval Affects the Quality, Not the Quantity, of Eyewitness Recall (2011) dimuat di Applied Cognitive Psychology, menemukan bahwa memejamkan mata saat proses mengingat kembali informasi, mampu membangkitkan lebih banyak detail visual dan auditori yang akurat.

Efek ini diduga muncul karena memejamkan mata dapat mengurangi gangguan dari lingkungan sekitar saat proses mengingat berlangsung.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama